เข้าสู่ระบบPintu apartemen Ray terbuka, pria itu mempersilahkan Grace masuk lebih dulu. Tatapan matanya yang berbeda dari biasanya seketika membuat Grace runtuh dalam sekejap. Ray tahu jika pernikahannya tak wajar, tapi kenapa justru ia yang begitu peduli pada Grace? Bukankah harusnya ia yang dihibur?Grace melangkah masuk dengan langkah pelan, nyaris diseret. Di belakangnya Raymond menyusul dan langsung menutup pintu. “Silahkan duduk dulu. Saya buatkan kamu minuman,” ucap Ray. Grace tidak menjawab, masih mematung di tempatnya. Tatapannya terus melekat pada punggung Raymond yang melangkah ke arah mini kitchen apartemennya. Setelah pria itu hilang di balik pantry, barulah ia duduk. Tak lama, Raymond sudah kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat yang asap tipisnya masih membumbung pelan. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja kaca di hadapan Grace, lalu duduk di samping gadis itu tanpa mengikis seluruh jarak yang ada.“Minum dulu. Kamu pasti butuh sesuatu untuk menenangkan pikir
“Nanti saya beritahu,” jawab Ray menggantung. “Sekarang lebih baik kita pulang. Bahaya, kalau sampai Selena tahu kamu sudah tahu tentangnya. Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa.”Mendengar itu, hati Grace seperti ditampar. Ia tertegun sejenak, seraya terus menatap Raymond yang terus melihat ke arah Selena untuk kemudian melangkah tanpa perempuan itu lihat. “Pak …,” lirih Grace tiba-tiba. “Iya, kenapa?” tanya Ray tanpa memutar tubuh sepenuhnya, ia hanya menoleh sedikit ke arah Grace, memperlihatkan profil rahangnya yang tegas berlatar remang cahaya lorong kafe. Sepasang iris matanya yang tajam menatap Grace lurus-lurus, menunggu lanjutan kalimat dari bibir gadis itu yang masih gemetar.Grace mengepalkan jemarinya kuat-kuat di samping tubuh. Hatinya berkecamuk hebat—berperang antara rasa tidak percaya dan ketakutan yang merayapi seluruh tubuhnya. “Bapak ... Bapak lagi nggak bohongin aku kan?” lirih Grace lagi, suaranya hampir tenggelam oleh desir angin yang membentur dinding kafe. R
Raymond melumat bibir Grace dengan kehangatan yang dalam dan mendominasi. Ia menahan bagian belakang kepala gadis itu agar tidak bisa berpaling. Ciumannya tidak lagi terasa mengintimidasi kasar seperti biasanya. Justru terasa begitu mengikat dan penuh intonasi keharusan yang memutus seluruh napas keponakan istrinya itu. Grace mencoba meronta, jemarinya memukul dada tegap Raymond dengan sisa tenaganya yang kian terkikis. Namun, bukannya melepaskan, Raymond justru menarik pinggang Grace semakin rapat, membiarkan tubuh molek gadis itu menempel sempurna pada lekuk tubuhnya di balik pilar yang remang.“Mmhhpp ... Pak ... le–lepas …!” bisik Grace terputus-putus saat Raymond perlahan mengurai ciuman panasnya, menyisakan jarak tipis tempat napas mereka yang berpacu saling bersahutan.“Bapak kenapa, sih? Kenapa terus ngelakuin ini ke aku?” tanya Grace putus asa. “Dengar saya baik-baik, Gracia,” bisik Raymond serak dengan iris mata tajam yang menancap kuat ke dalam iris mata Grace. Tangannya
PRANG! Bunyi nyaring dari kaleng tempat sampah yang terguling memecah keheningan sudut kafe tersebut. Selena dan Saveya seketika menoleh serentak ke arah sumber suara dengan raut wajah terperanjat. “Apa itu?” tanya Selena terkejut. “Tidak tahu, Sayang,” jawab Saveya. Mereka lalu sama-sama bangkit dan melangkah ke arah asal suara yang muncul. Grace mematung, seluruh tubuhnya langsung gemetar hebat. Jantungnya serasa mau melompat keluar dari dada sewaktu mendengar derak langkah kaki Selena yang mulai mengikis jarak menuju area tanaman gantung. Ketakutan yang membakar membuat kakinya seolah tertanam di tanah, tak sanggup digerakkan untuk melarikan diri. “Mati aku ... mati aku …,” bisik Grace panik dalam hatinya. Namun, sebelum Selena sempat menyibak dedaunan dan menyingkap keberadaannya, tiba-tiba saja sebuah lengan kekar berbalut kemeja hitam tiba-tiba saja muncul dan langsung menyergap tubuhnya dari belakang. Sebuah telapak tangan hangat dan besar menutup rapat
Hari berlalu, tapi Grace masih dengan rasa penasarannya. Benarkah Selena mengkhianati Ray, sang mantan dosen yang sudah merenggut kesuciannya itu? Grace tak tahu. Namun, ia tetap akan berusaha untuk mencari tahu. Hingga di suatu pagi, tanpa sengaja Grace mendengar percakapan Selena dengan seseorang di telepon. Wanita dewasa itu hendak bertemu dengan seseorang yang ia panggil dengan sebutan ‘Sayang’. Mungkinkah itu selingkuhannya? Saat Selena menutup panggilan dan melangkah keluar rumah, Grace pun mengikutinya. Ia menggunakan taksi untuk membuntuti mobil sang tante guna mencari tahu apa yang sebenarnya perempuan itu sembunyikan. Jantung Grace berdegup kencang menghantam dadanya. Tangannya yang dingin meremas kain celananya kuat-kuat, berusaha menahan gelombang kecemasan yang makin memuncak seiring roda taksi bergulir membelah jalanan Ibu Kota yang cukup padat. “Tolong ikuti mobil hitam di depan itu terus ya, Pak. Jangan sampai kita kehilangan jejak,” bisik Grace lirih pada
Pagi menjelang. Grace bangun dan langsung mandi seperti biasa. Setelah memakai pakaiannya, ia pun segera turun untuk sarapan. Namun, saat membuka pintu kamar, tiba-tiba saja ia melihat Selena sudah berdiri di tepi tangga dengan posisi membelakanginya. Wanita dewasa itu tampak sedang berbicara dengan seseorang di dalam telepon. “Iya, Sayang. Aku tahu. Ini semua cuma formalitas. Mana mungkin aku tertarik sama dia,” ucap Selena dengan nada serius. Dahi Grace bertaut. ‘Sayang?’ Siapa yang Selena panggil dengan sebutan sayang itu? Apa itu Raymond? Jika iya, kenapa mereka berbicara melalui telepon? Kenapa tidak bicara langsung saja? Bukankah Raymond ada di sini? Di rumah ini?Grace terus memperhatikan Selena. Perempuan dewasa itu masih menempelkan ponsel di daun telinganya. “Pokoknya kamu nggak perlu takut. Aku cintanya cuma sama kamu.”Deg! Mata Grace membelalak pelan di balik bayang-bayang pintu kamarnya. Rasa ingin tahunya membuncah, mengalahkan bayang-bayang ketakutan dari kejadian







