Pria dingin itu sudah menarik handle pintu kamar dan membukanya. Memerintahkan Arumi untuk melangkah lebih dulu dengan gerakan retina matanya. Tak ada bantahan, Arumi pun segera melangkah masuk meski dengan perasaan yang campur aduk. Takut, gugup, malu semua menumpuk, membuat dadanya menjadi begitu sesak. Rasanya, ingin ia melarikan diri saja daripada harus menghabiskan malam bersama laki-laki yang seharusnya ia panggil 'Papa' ini. “Kenapa kamu?” Langit bertanya dengan nada ketus. Ia bisa melihat kekhawatiran dari raut wajah Arumi. “Heuh? Eh, nggak, Om. Arum … nggak kenapa-kenapa kok.” Arumi tersenyum canggung. “Ya sudah, kamu tidur di ranjang, biar saya tidur di sofa,” ucap Langit memberi solusi dari kegundahan hati Arumi. “Eh, jangan, Om. Biar ... biar Arum aja yang di sofa. Nggak apa-apa kok.” Gadis lugu itu segera mengambil bantal dan selimut, hendak melangkah ke arah sofa yang ada di sudut ruang kamar Langit. Namun, belum juga kakinya melangkah, tangan Langit sudah lebih du
Last Updated : 2025-10-15 Read more