LOGINLangit tidak langsung menjawab pertanyaan Arumi. Ia hanya menyandarkan punggung, melepas kacamata hitam yang sejak tadi bertengger di pangkal hidung, lalu menoleh sepenuhnya ke arah perempuan itu.“Udara di sini bagus. Saya rasa … kita berdua butuh oksigen segar setelah tadi hampir kehabisan napas di mobil,” ujar Langit dengan nada suara yang kini sudah sepenuhnya tenang, tanpa ada sisa ketajaman di dalamnya.Arumi menunduk, memainkan sisa es krimnya. Aroma khas pohon pinus yang segar mulai menyusup lewat celah ventilasi mobil. Membawa rasa damai yang asing ke dalam batinnya yang tadi sempat porak-poranda karena suara keras sang suami.“Maafin Arum ya, Om? Soal … yang tadi,” bisik Arumi lirih. Ia merasa inilah saatnya untuk benar-benar bicara, mumpung suasana sedang mendukung. “Arum cuma ... cuma takut aja, Om,” sambungnya.Langit terdiam sejenak, memandangi wajah istrinya yang tampak sangat kontras dengan latar belakang hutan yang liar.“Takut? Takut apa? Takut saya pergi? Atau tak
Arumi menggelengkan kepala, sebuah isyarat jika ia menolak permintaan Langit. Tadi disuruh diam kan?“Hei …,” Langit menarik pelan tangan Arumi.“Hmm eum ….” Arumi berdehem kesal.“Udah bisu ya? Nggak bisa lagi bicara?” tanya Langit dengan sudut bibir yang sedikit tertarik ke atas.Mendengar kata-kata Langit, perlahan Arumi pun menurunkan tangannya. Menoleh ke arah suaminya itu dengan tatapan ragu, seolah ingin memastikan apakah pria di sampingnya ini masih memiliki sisa kemarahan atau tidak. Namun penampakan yang terlihat oleh Langit justru wajah sembab, hidung memerah, dan mata yang menunjukkan kerapuhan luar biasa. “Maaf kalau suara saya tadi terlalu tinggi,” ucap Langit pelan saat pandang mereka sudah bertemu. “Tapi diam kamu itu lebih mengganggu saya ketimbang pertanyaan konyol kamu tadi.”Langit mengulurkan tangan perlahan. Jemarinya yang hangat mengusap sisa-sisa air mata di pipi Arumi dengan gerakan yang sangat lembut—berbanding terbalik dengan kasarnya cara ia membanting s
Suaranya menggelegar di dalam ruang kabin mobil yang sempit itu. Sehingga membuat Arumi tersentak dan spontan menciut di kursinya. Jujur saja, ini adalah kali pertama Langit menaikkan nada bicara setinggi itu kepadanya.Di sisi lain, Langit memukul kemudi satu kali sebagai ekspresinya dalam menyalurkan kekesalannya. Kemudian menoleh ke arah Arumi dengan tatapan yang menyala—campuran antara kemarahan, luka, dan frustrasi yang sudah sangat membuncah.“Kamu pikir saya ini apa, Arumi? Robot yang tidak punya perasaan? Atau pria tanpa harga diri yang mau menikahi anak dari wanita yang sudah mengkhianatinya hanya karena ‘logis’?” Langit bertanya dengan nada sarkasme yang dalam.Arumi masih terdiam dengan kepala yang menunduk. Terus melihat jari-jari tangannya yang saling mencubit sejak tadi di atas pangkuannya.“Kamu terus-menerus membandingkan diri kamu dengan Mama kamu. Kamu terus-menerus menyiksa diri dengan bayangan itu! Apa selama ini perhatian saya, semua yang saya berikan, tidak ada a
Mendengar suara Langit, lamunan Arumi seketika buyar tak bersisa. Dengan gerakan spontan, ia menoleh ke arah suaminya yang masih fokus menyetir, mencoba menata kembali detak jantungnya yang sedikit berpacu karena terkejut dari alam bawah sadarnya.“Eh, nggak Om. Nggak ada apa-apa,” jawab Arumi seraya tersenyum canggung.“Saya pikir kamu melihat sesuatu,” ujar Langit.“Nggak kok, Om.” “Ya sudah, kamu istirahat saja kalau lelah. Nanti saya bangunkan kalau sudah sampai.”Arumi pun mengangguk patuh. Lalu kembali menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi mobil yang empuk. Namun, alih-alih memejamkan mata, pandangannya justru terlempar kosong ke arah deretan ruko yang mulai ramai oleh aktivitas manusia di bawah terik matahari pagi yang kian menyengat. Batinnya bergejolak hebat. Bayangan sosok ibunya di tepi jalan tadi terus menghantui, seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang di kepalanya.Ya, Arumi kembali melihat Andini. Sama seperti saat ia melihat bayangan perempuan itu di m
Arumi membuka kotak tersebut dan melihat isinya. Sontak saja ia terkejut sekaligus bahagia, sebab benda yang ada di dalam kotak itu adalah sebuah kalung berlian yang sangat indah. Sebagai seorang wanita, tentu saja perhiasan seperti ini sangat diingini.“Astaga, Bunda, Ayah, ini ... apa?” tanya Arumi menggantung. Ia sampai tak bisa berkata-kata. Seribu tanya terukur jelas di raut wajahnya.“Ini kalung, Arumi. Untuk kamu,” jawab Langit.Arumi menoleh ke arah Langit. “Ini beneran untuk Arumi, Om?” tanya Arumi lebih ingin yakin lagi. Sebab jika dilihat dari ukuran berlian yang tersemat di kalung tersebut, pasti harganya sangat mahal. Mungkin sekitar miliyaran rupiah.“Iya, Arumi. Kalung ini hadiah dari ayah dan bunda,” jelas Viola.“Sebenarnya kami mau kasih ini waktu kalian baru menikah. Tapi ternyata kalungnya belum jadi dibuat,” ucap Erlangga.Arumi tertegun sejenak. Melihat kepada Langit, lalu berpindah lagi melihat kepada Viola dan Erlangga. “Maksudnya, Ayah?” tanyanya.“Maksud ayah
Pagi kembali menjelang. Arumi bangun seperti biasa dan langsung melirik ke arah jarum jam di dinding kamar. Sudah pukul tujuh pagi. Ia lihat Langit sudah tak lagi ada di tempat tidur. Kemana laki-laki dewasa itu pergi?“Kamu udah bangun?” tanya Langit tiba-tiba.Baru saja Arumi bertanya, pria itu sudah muncul dari balik pintu kamar. Memakai setelan olahraga berwarna navy dari merek ternama.Wajahnya tampak segar, dengan butiran keringat tipis yang membasahi pelipis. Ia memegang sebotol air mineral yang tinggal separuh.“Udah, Om. Om dari mana?” tanyanya.“Lari,” jawab Langit santai, suaranya terdengar sedikit berat khas orang yang baru saja memacu fisik. “Udara di sekitar sini cukup bagus untuk jogging. Saya tadi sempat putar kompleks sekali.”“Oh … kok nggak ngajak-ngajak?” tanya Arumi dengan suara yang nyaris tak terdengar. Ia masih mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum kembali sepenuhnya. Langit berjalan mendekati ranjang. Meletakkan botol minumnya di atas n







