MasukHari berlalu, namun Grace masih dengan diamnya seolah tidak tahu apa-apa. Sementara Ray terus memainkan peran suami pura-puranya pada Selena. Setiap pagi, pemandangan yang Grace lihat adalah kemesraan penuh kepalsuan dari tante dan mantan dosennya itu. Tentang bagaimana Selena menyambut Raymond dengan senyuman manis, menyendokan makanan ke piring pria itu, atau mendengar tawa renyah yang dibuat-buat hingga perut Grace mendadak mual.Pagi ini di meja makan saat mereka tengah sarapan, Selena membuka percakapan seperti biasa. “Sayang, nanti sore kamu ada jadwal ke kampus lagi, nggak?” tanya Selena lembut sembari menuangkan secangkir kopi hitam ke cangkir suaminya. Jemari lentiknya dengan sengaja membelai bahu Raymond sekilas. “Kalau nggak ada, temani aku ke butik sebentar ya. Ada gaun baru yang harus aku fitting untuk acara amal minggu depan.”Raymond mengaduk kopinya tanpa terburu-buru. Wajahnya datar, menyembunyikan seringai dingin yang hanya bisa ditangkap oleh Grace yang duduk te
“Hhmmpp—” Desahan pelan mulai terdengar keluar dari mulut Grace. Ketika Raymond perlahan menyudahi ciumannya, ia menyandarkan dahi ke bahu Grace, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis yang kini berada penuh dalam penguasaannya itu. Napas mereka bersahutan teratur di dalam keheningan apartemen.“Ingat ini, Grace,” bisik Raymond serak namun mantap tepat di samping daun telinga gadis itu. “Mulai hari ini, kamu tidak perlu takut lagi menyimpan rahasia kita sendirian. Ada saya bersama kamu.” Mendengar itu, Grace pun menjatuhkan kepalanya pada bidang dada Ray yang datar, jemarinya mengelus-ngelus kemeja satin pria itu. Tak lama kemudian, ponsel Ray yang ada di atas meja berpendar, sebuah panggilan masuk. Grace melepaskan pelukannya dan kembali duduk dengan tegak. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ciuman panas mereka barusan. “Sebentar.” Ray meraih ponselnya dan melihat nama kontak yang tertera di sana. Selena. Ray membuang napas berat, dahinya berkerut halus nam
Bukannya merespon ucapan Ray, Grace justru terdiam dan terpaku cukup lama. Dua netranya terus menatap pria itu dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Grace …,” panggil Ray pelan. “Heuh?” sahut Grace bingung. “Kok malah melamun?”“Eh, maaf, Pak.” Grace buru-buru mengalihkan pandangannya. Melihat gelagat gugup wanita yang pernah menghabiskan malam panas bersamanya dua tahun lalu, Ray pun tersenyum geli. Ia bahkan terkekeh pelan, tawa renyah yang terdengar teramat langka namun begitu merdu di telinga Grace.“Ke–kenapa Bapak tertawa?” tanya Grace polos dan kembali menundukkan wajah. Bukannya menjawab, Ray justru mengulurkan satu tangannya, mengusap lembut puncak kepala Grace sebelum jemari hangatnya bergerak turun menyapu rahang gadis itu, memandu wajah Grace agar kembali menatapnya.“Kenapa? Kamu terkejut mendengarnya?” bisik Raymond dengan nada suara yang begitu lembut, matanya berbinar jenaka sekaligus menyiratkan afeksi yang amat pekat. “Atau ... kamu justru bahagia dengan peng
Pintu apartemen Ray terbuka, pria itu mempersilahkan Grace masuk lebih dulu. Tatapan matanya yang berbeda dari biasanya seketika membuat Grace runtuh dalam sekejap. Ray tahu jika pernikahannya tak wajar, tapi kenapa justru ia yang begitu peduli pada Grace? Bukankah harusnya ia yang dihibur?Grace melangkah masuk dengan langkah pelan, nyaris diseret. Di belakangnya Raymond menyusul dan langsung menutup pintu. “Silahkan duduk dulu. Saya buatkan kamu minuman,” ucap Ray. Grace tidak menjawab, masih mematung di tempatnya. Tatapannya terus melekat pada punggung Raymond yang melangkah ke arah mini kitchen apartemennya. Setelah pria itu hilang di balik pantry, barulah ia duduk. Tak lama, Raymond sudah kembali dari dapur dengan membawa secangkir teh hangat yang asap tipisnya masih membumbung pelan. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja kaca di hadapan Grace, lalu duduk di samping gadis itu tanpa mengikis seluruh jarak yang ada.“Minum dulu. Kamu pasti butuh sesuatu untuk menenangkan pikir
“Nanti saya beritahu,” jawab Ray menggantung. “Sekarang lebih baik kita pulang. Bahaya, kalau sampai Selena tahu kamu sudah tahu tentangnya. Saya tidak mau kamu kenapa-kenapa.”Mendengar itu, hati Grace seperti ditampar. Ia tertegun sejenak, seraya terus menatap Raymond yang terus melihat ke arah Selena untuk kemudian melangkah tanpa perempuan itu lihat. “Pak …,” lirih Grace tiba-tiba. “Iya, kenapa?” tanya Ray tanpa memutar tubuh sepenuhnya, ia hanya menoleh sedikit ke arah Grace, memperlihatkan profil rahangnya yang tegas berlatar remang cahaya lorong kafe. Sepasang iris matanya yang tajam menatap Grace lurus-lurus, menunggu lanjutan kalimat dari bibir gadis itu yang masih gemetar.Grace mengepalkan jemarinya kuat-kuat di samping tubuh. Hatinya berkecamuk hebat—berperang antara rasa tidak percaya dan ketakutan yang merayapi seluruh tubuhnya. “Bapak ... Bapak lagi nggak bohongin aku kan?” lirih Grace lagi, suaranya hampir tenggelam oleh desir angin yang membentur dinding kafe. R
Raymond melumat bibir Grace dengan kehangatan yang dalam dan mendominasi. Ia menahan bagian belakang kepala gadis itu agar tidak bisa berpaling. Ciumannya tidak lagi terasa mengintimidasi kasar seperti biasanya. Justru terasa begitu mengikat dan penuh intonasi keharusan yang memutus seluruh napas keponakan istrinya itu. Grace mencoba meronta, jemarinya memukul dada tegap Raymond dengan sisa tenaganya yang kian terkikis. Namun, bukannya melepaskan, Raymond justru menarik pinggang Grace semakin rapat, membiarkan tubuh molek gadis itu menempel sempurna pada lekuk tubuhnya di balik pilar yang remang.“Mmhhpp ... Pak ... le–lepas …!” bisik Grace terputus-putus saat Raymond perlahan mengurai ciuman panasnya, menyisakan jarak tipis tempat napas mereka yang berpacu saling bersahutan.“Bapak kenapa, sih? Kenapa terus ngelakuin ini ke aku?” tanya Grace putus asa. “Dengar saya baik-baik, Gracia,” bisik Raymond serak dengan iris mata tajam yang menancap kuat ke dalam iris mata Grace. Tangannya







