Share

191 Live Ended

Author: Eliyen Author
last update publish date: 2026-10-06 18:24:29

Tinju Arvin terkepal kencang. Dia berdiri sangat cepat, sampai kursi yang didudukinya terguling. Matanya nanar memelototi layar laptop yang terhubung dengan kamera di bros Lala.

Istrinya terlihat didekati Timothy. Bule asal Amerika itu berkali-kali menyentuh istrinya dan berkali-kali pula Lala menepisnya dengan halus.

“Arvin, tahan!” Dilan membentak. “Kita harus percaya sama Lala.”

“Si brengsek itu sentuh Lala terus,” geram Arvin. “Nggak bisa. Aku harus ke sana.”

Arvin keluar dari private
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   193 Bagian Bawah Perut yang Keras

    “Kenapa kamu ngeyel, sih? Disuruh istirahat, malah nekat keluyuran ke kantor. Kan, aku udah ajukan cuti sakit ke HRD.” Lala ngomel-ngomel. Begitu mendapat kabar suaminya pingsan dan dibawa ke IGD, dia langsung pergi ke rumah sakit.“Aku harus ketemu Gangga,” balas Arvin lirih.Lala mendelik kesal. “Gangga bisa ketemu Dilan.”Arvin meringis. Dia hendak bergerak, tetapi langsung mematung. “Gimana? Enak? Kamu kan, takut jarum suntik. Sekarang malah diinfus gini.” Lala masih mengomel.“Sayang, aku sakit. Yang lembut ke aku.” Arvin memegang ujung lengan blus Lala.Wanita itu menghembuskan napas panjang. “Aku beneran kegocek deh, Vin. Tadi kamu anteng di apartemen. Ternyata setelah aku berangkat, kamu ikutan ke kantor juga.”Arvin hanya diam. Dia membiarkan istrinya mengomel karena tahu, wanita itu hanya ingin meluapkan kekesalannya saja.Hingga pintu kamar menjeblak terbuka dan Tante Ami, Bibi Laras, serta Arlo menghambur masuk. Tiga orang itu langsung memberondong Arvin yang tengah dira

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   192 Morning Sickness

    “Hoek! Hoek!” Lala menepuk-nepuk punggung Arvin. Satu tangannya yang lain memijat lembut tengkuk suaminya. “Vin, cuti aja, ya?” “Nggak. Pagi ini ada meeting pen-hoeeek!” Lala meringis. Dia melongok ke dalam toilet. Tak ada apa-apa. Butuh tiga menit penuh sampai suaminya bisa kembali ke tempat tidur. Keringat membasahi kemeja Arvin yang sudah rapi terkancing. Peluh sebesar biji jagung menghiasi dahinya. Ditambah wajah yang pucat pasi sudah cukup jadi alasan bagi Lala untuk memintakan cuti sakit. “Mbak Selma, Pak Arvin nggak masuk. Masuk angin kayaknya. Muntah terus dari tadi-Vin, diam. Nggak usah berangkat.” Lala menatap tajam suaminya yang mengendap-endap turun dari tempat tidur. “Eh, iya, Mbak. Pak Arvin bandel banget. Tadi katanya mau ada meeting penting? Ada yang bisa handle gak?” Lala mendengarkan penjelasan dari Selma. Sekretaris suaminya menceritakan fakta yang tidak diberi tahu oleh Arvin. “Oh, jadi meeting penting itu ketemuan sama Gangga dari Dewangga Architecture?”

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   191 Live Ended

    Tinju Arvin terkepal kencang. Dia berdiri sangat cepat, sampai kursi yang didudukinya terguling. Matanya nanar memelototi layar laptop yang terhubung dengan kamera di bros Lala. Istrinya terlihat didekati Timothy. Bule asal Amerika itu berkali-kali menyentuh istrinya dan berkali-kali pula Lala menepisnya dengan halus. “Arvin, tahan!” Dilan membentak. “Kita harus percaya sama Lala.” “Si brengsek itu sentuh Lala terus,” geram Arvin. “Nggak bisa. Aku harus ke sana.” Arvin keluar dari private room di restoran hotel tempat mereka bersembunyi. Dilan, Raka, Bagas, dan Niko hanya mampu ternganga lebar. Otak encer mereka mendadak jadi buffer parah saat melihat Arvin melesat keluar ruangan. “Kejar! Kejar!” Dilan tergopoh-gopoh mengikuti. Sementara berjarak lima meter di depan, napas Arvin terengah-engah. Jantungnya serasa mau copot. Dalam hati, pria itu berdoa sekuat tenaga agar tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap istrinya. Begitu masuk lift, Arvin menekan tombol seperti orang kes

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   190 Live Streaming

    “Nggak boleh, Lala! Kamu nggak boleh bertemu Timothy!” Arvin berseru keras. “Kamu bujuk aku pun, keputusannya tetap sama. Kamu dilarang pergi!”Ini pertama kalinya dalam kehidupan pernikahan mereka, Arvin bicara dengan nada tinggi. Bahkan pria itu nyaris membentak. Di depannya Lala duduk dengan tenang. Wanita itu sama sekali tak terpancing emosi. Sementara di balik pintu, semua anggota tim duduk tegang mendengar suara Arvin.“Udah marah-marahnya?” tanya Lala dengan nada lembut.Arvin melonggarkan dasi. Napasnya memburu. Dia menghantam kosen jendela dengan tinjunya. Pria itu menolak menatap Lala.“Aku belum jelaskan–”“Nggak ada yang harus dijelaskan!” bentak Arvin memotong perkataan Lala. “Arvin, ini nggak adil kalau cuma kamu yang boleh ngomong.” Lala berdiri perlahan.Langkahnya berhati-hati mendekati Arvin. Dia melingkarkan lengan memeluk badan Arvin dari belakang.“Aku tahu, kamu cemas sama aku,” bisik Lala lembut. “Aku juga tahu, kamu masih capek karena semalaman lembur di kant

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   189 Perlindungan Tim

    “Brown Security tahu detail yang lo selipin?”Lala mengangguk. Malam itu mereka semua berkumpul di halaman belakang rumah kerja. Kecuali Arvin dan Dilan yang sedang mengurus hal penting entah apa di kantor, anggota tim yang tersisa bisa menikmati waktu istirahat setelah berjam-jam terkurung bersama pekerjaan.“Di vlog hari ketiga, aku selipin draf desain kita yang dicolong sama Dewangga Architecture. Detailnya kecil banget, nyaris nggak kelihatan. Semuanya ide Bagas sama Niko.” Lala mengedipkan sebelah mata kepada dua rekannya.“Soalnya gue benci banget sama tindakan curang mereka.” Niko mengisi gelasnya dengan soft drink. “Itu jenius, sih. Kita nggak bocorin desain BSC, tapi BSC tahu soal desain curian itu.” Vina mencondongkan badan ke depan. “Itu artinya, BSC juga klien yang sangat teliti.”“Lo ngarep perusahaan keamanan bakal ceroboh?” Seno menjitak dahi Vina.Wanita itu protes. Seno masih terus menggodanya. Di depannya, Lala melihat pertengkaran kecil sepasang kekasih itu dengan

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   188 Rencana Balas Dendam

    “Nalani, ini serius? Lo yakin mau ngelakuin hal ini? Taruhannya gede. Bisa-bisa nama baik Dirgantara bakal jatuh.” Lala menatap Niko. “Kenapa? Nggak berani?”Niko mengerang. “Bu Bos, ini rawan banget ngebocorin kontrak klien.”“Karena itu, aku butuh kamu. Kamu kan, visualizer yang andal. Edit-edit video kita pasti bisa, dong.”Niko masih cemberut. Lala segera mengeluarkan kartu terakhirnya.“Aku bayar secara pribadi. Nominalnya kamu yang isi sendiri.” Lala menyerahkan lembaran cek kepada Niko.Lelaki itu ternganga. “Eh, aduh. Jangan kayak gini. Kesannya gue matre banget.”Meski begitu, Niko mengambil juga kerta cek dari tangan Lala dan menyimpannya di dompet. Lala mencibir geli.“Diembat juga,” ledek Lala.“Nggak boleh nolak duit.” Niko cengengesan. Dia mengangkat kameranya. “Oke, gue mulai syutingnya. Lo ada konsep, kan?”Lala mengangguk. Dia menyodorkan catatannya kepada Niko. Lelaki muda itu mengangguk-angguk puas.Seharian penuh dua orang itu sibuk melakukan pengambilan gambar. S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status