Share

192 Morning Sickness

Author: Eliyen Author
last update publish date: 2026-10-06 18:24:33

“Hoek! Hoek!”

Lala menepuk-nepuk punggung Arvin. Satu tangannya yang lain memijat lembut tengkuk suaminya.

“Vin, cuti aja, ya?”

“Nggak. Pagi ini ada meeting pen-hoeeek!”

Lala meringis. Dia melongok ke dalam toilet. Tak ada apa-apa.

Butuh tiga menit penuh sampai suaminya bisa kembali ke tempat tidur. Keringat membasahi kemeja Arvin yang sudah rapi terkancing. Peluh sebesar biji jagung menghiasi dahinya. Ditambah wajah yang pucat pasi sudah cukup jadi alasan bagi Lala untuk memintakan cuti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   195 Bercinta saat Meeting

    [Jangan pernah bercanda dengan hasrat.]Peringatan itu muncul begitu saja saat Lala setengah telanjang, berbaring di sofa kamar inap VVIP rumah sakit, ditemani laptop yang menyala dan menampilkan rapat daring dengan anggota timnya.Ini gila. Lala menggigit bibir, merasakan kenikmatan luar biasa saat Arvin memasuki dirinya. Di sisi lain, adrenalin terpacu deras karena sewaktu-waktu bisa kepergok oleh siapapun yang masuk ke kamar.Di layar laptop, Raka dan Seno masih berdebat sengit tentang konstruksi dan desain. Sementara, di sini, berjarak sepuluh kilometer dari kantor Dirgantara Group, Lala malah sibuk bercinta dengan suaminya.“Nalani, gimana? Lo harus sesuaikan space buat area meeting karena klien minta space outdoor ditambah.”Lala menelan ludah. Dia menatap Arvin yang terus bergerak di atasnya. Tak boleh ada suara mencurigakan sedikit pun, atau semua upayanya menyembunyikan keromantisan ini akan gagal.Jari Lala menyentuh trackpad, memastikan hanya mikrofon yang menyala, bukan ka

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   194 Kacau Hormon

    “Dokter, apakah setelah ini saya masih bisa berhubungan seks dengan istri saya?”Lala hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Cepat-cepat dia melepaskan tangan Arvin yang sejak tadi menggenggamnya.Rombongan dokter, ner, dan koas yang sedang melakukan kontrol kunjungan spontan tertawa.“Tentu saja masih bisa, Pak. Tak ada pantangan. Ibu kelihatannya sangat sehat. No problem.” Dokter spesialis penyakit dalam menoleh ke arah deretan ners dan koas di belakangnya.“Ini adalah pasien dengan kondisi Sindrom Couvade. Kondisinya untuk saat ini stabil. Kalian bisa mempelajari kasusnya untuk ujian akhir minggu ini.”Dokter itu kembali menatap Arvin. Senyumnya terkembang lebar.“Untuk antisipasi, saya sudah memberikan rujukan kepada psikolog. Konseling akan membantu Anda nyaman selama masa kehamilan istri.”Dokter memberikan resep dan memutuskan jadwal pulang Arvin. Setelah semua urusan kontrol selesai, dia berjalan keluar bersama rombongannya, dan kamar inap mewah itu kembali sepi.“Vin, apaan,

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   193 Bagian Bawah Perut yang Keras

    “Kenapa kamu ngeyel, sih? Disuruh istirahat, malah nekat keluyuran ke kantor. Kan, aku udah ajukan cuti sakit ke HRD.” Lala ngomel-ngomel. Begitu mendapat kabar suaminya pingsan dan dibawa ke IGD, dia langsung pergi ke rumah sakit.“Aku harus ketemu Gangga,” balas Arvin lirih.Lala mendelik kesal. “Gangga bisa ketemu Dilan.”Arvin meringis. Dia hendak bergerak, tetapi langsung mematung. “Gimana? Enak? Kamu kan, takut jarum suntik. Sekarang malah diinfus gini.” Lala masih mengomel.“Sayang, aku sakit. Yang lembut ke aku.” Arvin memegang ujung lengan blus Lala.Wanita itu menghembuskan napas panjang. “Aku beneran kegocek deh, Vin. Tadi kamu anteng di apartemen. Ternyata setelah aku berangkat, kamu ikutan ke kantor juga.”Arvin hanya diam. Dia membiarkan istrinya mengomel karena tahu, wanita itu hanya ingin meluapkan kekesalannya saja.Hingga pintu kamar menjeblak terbuka dan Tante Ami, Bibi Laras, serta Arlo menghambur masuk. Tiga orang itu langsung memberondong Arvin yang tengah dira

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   192 Morning Sickness

    “Hoek! Hoek!” Lala menepuk-nepuk punggung Arvin. Satu tangannya yang lain memijat lembut tengkuk suaminya. “Vin, cuti aja, ya?” “Nggak. Pagi ini ada meeting pen-hoeeek!” Lala meringis. Dia melongok ke dalam toilet. Tak ada apa-apa. Butuh tiga menit penuh sampai suaminya bisa kembali ke tempat tidur. Keringat membasahi kemeja Arvin yang sudah rapi terkancing. Peluh sebesar biji jagung menghiasi dahinya. Ditambah wajah yang pucat pasi sudah cukup jadi alasan bagi Lala untuk memintakan cuti sakit. “Mbak Selma, Pak Arvin nggak masuk. Masuk angin kayaknya. Muntah terus dari tadi-Vin, diam. Nggak usah berangkat.” Lala menatap tajam suaminya yang mengendap-endap turun dari tempat tidur. “Eh, iya, Mbak. Pak Arvin bandel banget. Tadi katanya mau ada meeting penting? Ada yang bisa handle gak?” Lala mendengarkan penjelasan dari Selma. Sekretaris suaminya menceritakan fakta yang tidak diberi tahu oleh Arvin. “Oh, jadi meeting penting itu ketemuan sama Gangga dari Dewangga Architecture?”

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   191 Live Ended

    Tinju Arvin terkepal kencang. Dia berdiri sangat cepat, sampai kursi yang didudukinya terguling. Matanya nanar memelototi layar laptop yang terhubung dengan kamera di bros Lala. Istrinya terlihat didekati Timothy. Bule asal Amerika itu berkali-kali menyentuh istrinya dan berkali-kali pula Lala menepisnya dengan halus. “Arvin, tahan!” Dilan membentak. “Kita harus percaya sama Lala.” “Si brengsek itu sentuh Lala terus,” geram Arvin. “Nggak bisa. Aku harus ke sana.” Arvin keluar dari private room di restoran hotel tempat mereka bersembunyi. Dilan, Raka, Bagas, dan Niko hanya mampu ternganga lebar. Otak encer mereka mendadak jadi buffer parah saat melihat Arvin melesat keluar ruangan. “Kejar! Kejar!” Dilan tergopoh-gopoh mengikuti. Sementara berjarak lima meter di depan, napas Arvin terengah-engah. Jantungnya serasa mau copot. Dalam hati, pria itu berdoa sekuat tenaga agar tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap istrinya. Begitu masuk lift, Arvin menekan tombol seperti orang kes

  • Pesona Kakak Tetangga yang Menggoda   190 Live Streaming

    “Nggak boleh, Lala! Kamu nggak boleh bertemu Timothy!” Arvin berseru keras. “Kamu bujuk aku pun, keputusannya tetap sama. Kamu dilarang pergi!”Ini pertama kalinya dalam kehidupan pernikahan mereka, Arvin bicara dengan nada tinggi. Bahkan pria itu nyaris membentak. Di depannya Lala duduk dengan tenang. Wanita itu sama sekali tak terpancing emosi. Sementara di balik pintu, semua anggota tim duduk tegang mendengar suara Arvin.“Udah marah-marahnya?” tanya Lala dengan nada lembut.Arvin melonggarkan dasi. Napasnya memburu. Dia menghantam kosen jendela dengan tinjunya. Pria itu menolak menatap Lala.“Aku belum jelaskan–”“Nggak ada yang harus dijelaskan!” bentak Arvin memotong perkataan Lala. “Arvin, ini nggak adil kalau cuma kamu yang boleh ngomong.” Lala berdiri perlahan.Langkahnya berhati-hati mendekati Arvin. Dia melingkarkan lengan memeluk badan Arvin dari belakang.“Aku tahu, kamu cemas sama aku,” bisik Lala lembut. “Aku juga tahu, kamu masih capek karena semalaman lembur di kant

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status