Share

Bab 21

last update publish date: 2026-07-12 13:14:41

Nadya bergerak dengan cekatan namun penuh kehati-hatian di dalam ruang kerja Johan.

Sesuai dengan instruksi yang diberikan pria itu sebelum makan malam tadi, dia bertugas merapikan tumpukan dokumen dan membersihkan meja kerja mahoni yang tampak sedikit berantakan.

Sembari mengelap permukaan kayu yang mengilap, Nadya bergumam pelan pada dirinya sendiri.

"Seharusnya sekarang aku aman. Aku bisa bebas," bisik Nadya lirih, mencoba meyakinkan hatinya yang dilingkupi kecemasan.

Dalam logikanya yang ri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 167

    Atmosfer di lantai teratas gedung pencakar langit markas besar bisnis Johan berjalan sangat kontras dengan situasi hati sang pemegang kendali utama.Meski jajaran direksi dan manajer divisi sibuk mempresentasikan laporan keuangan serta grafik ekspansi saham di dalam ruang rapat yang megah, pendar perhatian Johan sama sekali tidak tertuju pada papan layar proyeksi.Pria tegap yang mengenakan setelan jas abu-abu gelap itu duduk bersandar di kursi utamanya, mengabaikan tumpukan berkas penting yang terbuka di hadapannya.Fokus dan pikiran Johan terus tertinggal pada Nadya yang berada di rumah utama.Sejak vonis kehamilan lima minggu itu diketuk oleh dokter, benak Johan sepenuhnya tersita oleh sosok sang istri.Rasa khawatir bahwa Nadya merasa mual, lelah, atau membutuhkan sesuatu selalu memburu sanubarinya tanpa henti.Dinamika perhatian berlebih itu terpancar nyata dalam rutinitas kerja Johan hari itu. Johan menelepon Nadya hampir setiap jam hanya untuk menanyakan kondisinya.Di tengah-t

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 166

    Kepulangan dari rumah sakit sore itu membawa atmosfer yang sama sekali baru di kediaman utama.Kabar kehamilan Nadya yang baru menginjak usia lima minggu tidak hanya mendatangkan pendar sukacita bagi seluruh staf rumah tangga, tetapi juga memicu perubahan sikap Johan hingga ke tingkat yang teramat ekstrem.Johan, yang biasanya tegas dan tenang dalam mengendalikan segalanya, kini mendadak bertransformasi menjadi sosok suami yang protektif tiada tara.Bagi Johan, setiap inci ruang dan setiap langkah yang diambil Nadya kini harus berada dalam jangkauan pengawasannya.Sejak melangkahkan kaki menembus pintu depan, Johan melarang Nadya melakukan pekerjaan rumah tangga sekecil apa pun.Nadya yang terbiasa aktif, mulai dari menyusun bunga segar di vas ruang tamu hingga merawat tanaman di taman kaca, kini benar-benar dihentikan total dari seluruh aktivitasnya.Seluruh tugas rumah tangga dilimpahkan sepenuhnya kepada Mbok Sum dan para asisten rumah tangga lainnya.Aturan ketat tersebut makin te

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 165

    Mobil mewah yang dikemudikan Juan meluncur deras menembus lorong khusus unit gawat darurat di salah satu rumah sakit swasta terbaik Jakarta.Begitu kendaraan berhenti sempurna, Johan langsung melompat keluar seraya menggendong raga mungil Nadya yang masih terkulai lemas tanpa kesadaran.Para petugas medis dan perawat sigap menyambut mereka dengan brankar, membawa Nadya secara cepat menuju ruang pemeriksaan privat spesialis obstetri dan ginekologi.Di koridor luar ruang pemeriksaan, suasana terasa begitu mencekam. Johan berdiri bersandar pada dinding marmer yang dingin, menolak untuk duduk sedikit pun.Pria itu menanggalkan jasnya, melipat lengan kemeja putihnya yang kini tampak sedikit kusut, sementara jemari tegapnya terus memijat pelipis.Raut wajahnya yang biasanya tenang dan dominan kini sepenuhnya dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat sangat.Pendar mata kelamnya tak pernah lepas menatap daun pintu kayu yang tertutup rapat, menghitung s

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 164

    Beberapa bulan telah berlalu sejak kehangatan dan keharmonisan membingkai kehidupan pernikahan Johan dan Nadya di rumah utama.Hari-hari tercipta dengan begitu indah; Nadya makin terbiasa menjalankan perannya sebagai Nyonya rumah yang dicintai seluruh staf, sementara Johan senantiasa meliputinya dengan perhatian serta kehangatan yang tak pernah surut.Namun, memasuki pertengahan bulan ini, Nadya mulai merasakan perubahan yang teramat aneh pada tubuhnya.Pagi itu, pendar mentari yang menerobos masuk melalui gorden kamar tidur utama menyambut gelombang rasa tak nyaman di perut Nadya.Begitu membuka mata, rasa mual yang hebat mendadak mendesak naik ke tenggorokannya.Nadya dengan terburu-buru menyibak selimut, berlari kecil menuju kamar mandi, lalu membungkuk di depan wastafel.Rasa mual yang pekat memicu gejolak hebat, meski yang keluar hanyalah cairan bening dan rasa asam yang menyiksa.Johan yang terbangun mendengar suara ketidaknyama

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 163

    Sore harinya, pendar jingga matahari mulai membias lembut menembus kaca-kaca pencakar langit ibu kota.Usai menyelesaikan urusan kantor dan memastikan kondisi di rumah aman, Johan memboyong Nadya menuju kompleks apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan untuk menjenguk Meisya.Di sepanjang koridor menuju unit Meisya, Nadya menggandeng erat lengan tegap Johan.Rasa cemas yang sejak pagi menggelayuti benaknya perlahan terkikis, berganti rasa penasaran mengenai bagaimana situasi di dalam apartemen sahabatnya tersebut setelah seharian berada di bawah pengawasan Juan.Johan yang memegang kunci akses Cadangan, yang diberikan Juan melalui pesan singkat, menempelkan kartu pada sensor pintu.Bunyi bip halus terdengar diikuti engsel pintu kayu tebal yang bergeser terbuka pelan."Mei...?" panggil Nadya setengah berbisik sewaktu melangkah masuk ke dalam area foyer yang tenang.Namun, pemandangan pertama yang menyambut kedatangan mer

  • Pesona Pelayan Tuan Muda   Bab 162

    Di atas tempat tidur bermotif abstrak yang agak berantakan, Meisya terbaring lemas dengan wajah pucat pasi.Suhu tubuhnya masih cukup tinggi, meninggalkan rasa menggigil tipis di balik selimut tebal yang membungkus raganya.Derit pelan pintu kamar yang terbuka membuat Meisya menggerakkan kepalanya secara perlahan.Pandangannya yang masih sedikit kabur mencoba fokus pada sosok pria yang melangkah masuk seraya membawa sebuah nampan kayu.Juan melangkah tegap, masih mengenakan setelan kemeja formal dan celana kain tanpa jas yang sudah ditanggalkan.Raut wajah asisten pribadi Johan yang biasanya selalu dingin, datar, dan kaku itu kini memperlihatkan guratan kelelahan serta pendar cemas yang teramat sangat.Meisya yang lemas terkejut melihat kehadiran Juan yang biasanya selalu mengajaknya berdebat setiap kali mereka bertemu."Juan...?" bisik Meisya dengan suara parau dan nyaris hilang. "Kenapa... kamu bisa ada di sini?"Juan menghen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status