LOGINArka duduk dalam ruangan gelap. Di tangannya, dia memegangi foto yang sama. Foto lama. Santi dan dirinya. Jarinya menyentuh wajah Santi di foto itu dengan lembut.“Santi …” gumamnya pelan. Terdengar masih memiliki perasaan namun, matanya tidak lagi hanya dingin. Ada luka di sana.Luka yang dalam.“Kamu bahkan lupa kalau kamu pernah mencintaiku.” Senyumnya muncul. Tapi, kali ini penuh kepahitan.“Aku sudah mati untuk dunia, tapi tidak untukmu.” Matanya perlahan berubah tajam, “apapun caranya aku akan buat kamu mengingat semuanya.” Dia berdiri perlahan. Aura membunuh kembali terasa.“Tapi, sebelum itu,” suaranya merendah, “Aku akan hancurkan semua yang mengambil tempatku.” tangannya terkepal dengan erat. Seolah ingin meremukkan semua hingga menjadi debu.Santi terduduk lemas. Air matanya terus jatuh. Semua mulai masuk akal. Obsesi.Cara Arka berbicara. Kenapa targetnya selalu dia.“Aku, alasan semua ini.” Bimo ter
Tidak ada yang tahu semuanya terjadi begitu saja. Santi dan hidupnya, dia juga tidak bisa memilih. Dalam kondisi saat ini dia benar-benar hanya ingin bebas dari rasa tertekan dan ketakutan.Langit malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Santi masih berdiri di balkon. Angin yang berhembus tidak lagi terasa dingin justru membuat dadanya sesak. Perasaan itu datang tiba-tiba. Aneh. Menekan. Seolah benar-benar ada sesuatu yang mencoba keluar dari dalam ingatannya.Di belakangnya, Baga berdiri memperhatikan. Tatapannya tajam, tapi juga penuh kehati-hatian.“Ada yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya pelan. Santi tidak langsung menjawab.“Aku merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya,” bisiknya akhirnya.Baga langsung menegang, “Arka?” Santi mengangguk pelan, “Bukan cuma sekadar dengar, tapi sepertinya aku pernah mengenalnya.” ujar Santi.“Tapi, aku benar-benar nggak mengingat apapun. Aku nggak tahu dia dan tidak ada bayangan samar sebagai petunjuk,” kembali Santi menambahkan.Kalimat itu m
“Kau gila!” dengus Bimo tampak tidak setuju dengan keputusan Baga. “Itu harus tetap kita lakukan!” Baga yang ingin mengakhiri segalanya. Dia tidak ingin Santi terus dibayangi oleh laki-laki yang bernama Arka itu. Laki-laki yang terus mengincar kemenangan posisi yang tak seharusnya. Begitulah yang ada dalam benak Baga. Dia mana mungkin rela melepaskannya. Apalagi Baga tahu siapa Arka, dia mungkin saja satu aliran dengannya. Lebih berbahaya. Lebih licik. Baga tidak mau mengambil resiko. Dia takut kehilangannya. Ini bukan hanya sekedar ancaman semu. Apa yang buruk sudah terdapat di hadapannya. Rival terberatnya bukan Bimo lagi. Meski Bimo sudah berhasil mendapatkan Santi. Menikah dengannya. Bahkan memiliki dua anak. Untuk Baga, itu tidak mengubah apapun. Apa yang dia inginkan, dia harus tetap mendapatkan. Bukan hanya sekedar persaingan percintaan, tapi di lubuk hati Baga, Santi memang wanita yang pantas dipilihnya. Dia akan membantu segalanya. Menghilangkan semua rintangan
Hujan di luar semakin deras. Seolah menjadi latar dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar konflik perasaan. Santi belum bisa menebak seluruh kejadian yang akan terjadi. Dia hanya ingin melakukan yang terbaik.Di dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari rumah sakit, Arka masih menatap layar dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Jarinya mengetuk pelan dashboard, ritmis, tenang, tapi penuh perhitungan.“Dia mulai berpikir,” gumamnya pelan, “dan itu bagus.” Seorang pria di kursi depan menoleh sedikit, “Tuan, apakah kita lanjut ke tahap berikutnya?”Arka tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada layar yang menampilkan rekaman CCTV rumah sakit tepat saat Santi keluar dari kamar Danira.“Belum,” jawabnya akhirnya, “aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa berjalan tanpa jatuh.” ujar Arka seolah menggantung.“Tapi, jika dia bekerja sama dengan Baga, itu bisa berbahaya.” Arka tersenyum tipis, “Justru itu yang membuat permainan ini menarik.” tatapan Arka masih pada
Di rumah sakit Danira terbangun dengan napas berat. Ruangannya sunyi. Namun, perasaan diawasi itu kembali datang.Dia menoleh cepat. Tidak ada siapa pun.Tapi, tiba-tiba lampu berkedip. Sekali. Dua kali. Jantungnya berdegup kencang.Tidak ada yang tahu bahaya yang sedang mengancamnya. Danira bukan tidak tahu, tapi dia mencoba menenangkan dirinya. “Apa ada orang di sini?” bisiknya panik.Pintu perlahan terbuka. Danira langsung menegang. Namun, kali ini yang masuk bukan pria misterius itu. Santi. Langkahnya tenang. Tatapannya tajam.Berbeda dari biasanya. Danira membeku.“Kamu?” suaranya serak. Santi menutup pintu di belakangnya. Pelan.“Aku cuma mau tanya satu hal,” ucapnya.Dia mendekat. Setiap langkah terasa menekan.“Kamu mau terus jadi pion atau ingin melakukan sesuatu …,” suaranya rendah, “atau mulai bertahan hidup?” Danira menelan ludah.Tatapan Santi bukan lagi wanita yang bisa dikendalikan.“Kenapa kamu datang?” tanya Danira, mencoba bertahan. Santi berhenti tepat di depan ra
“Aku tahu, tapi aku benar-benar berterima kasih karena kamu masih sangat mempercayaiku,” hati Santi masih terasa lebih hangat dibandingkan perasaan Bimo yang semakin memudar.Entah kenapa cobaan pernikahan dirasakan sangat sulit. Santi benar-benar tidak menyangka semua hal akan terjadi sampai seperti ini.Dia yang membayangkan akan mendapatkan keluarga yang utuh dan mencintai sekarang berubah seperti ini. Dia bahkan sudah lama sekali tidak bertemu dengan anaknya, Keenan dan Kinara.Meskipun saat ini Baga berada disisinya perasaan kehilangan semakin terasa. Dia juga masih belum bisa merelakan kehilangan.“Aku benar-benar kangen anak-anak. Aku sudah lama sekali nggak bertemu dengan mereka,” tatapan Santi benar-benar menusuk. Dia sedih sekaligus rindu.“Apa kamu mau bertemu dengan mereka besok?” Santi mengangguk pelan, dia ingin sekali membawa mereka lagi. Benar-benar sudah lama tidak bertemu.Sibuk dengan kegiatan yang dipikirkan, tapi anak-anak malah diabaikan. Bukan hanya Santi, tapi
“Bimo! Papa bilang, berhenti! Kalau kamu terus seperti ini, papa nggak punya pilihan lain selain mengusir kamu! Yang ingin bertemu dengan Santi adalah Lana, apakah kamu masih memikirkan perasaan adikmu?”Pak Abdi sudah benar-benar kesal melihat tingkah Bimo yang seperti anak kecil. Kalau dia tidak
“Apa bagusnya dia? Kenapa setelah nggak ada Bimo sekarang dia bisa langsung mendapatkan laki-laki lain. Sedangkan aku dari dulu terus berjuang dan nggak ada satupun yang benar-benar memperjuangkan diriku,” kembali batin Danira sedang berbicara saat dia memandangi intens Santi. “Kita duduk dan tungg
“Ayo kita pergi, Bim!” Pak Abdi setengah menyeret tangan Bimo karena anak bodohnya itu terus memandangi Santi sampai dia benar-benar masuk ke dalam rumah.“Apa kamu menyesal? Papa rasa kamu sudah benar-benar terlambat!” Ujar Pak Abdi saat mereka sudah berada di dalam mobil. “Ini semua salah Papa k
Bimo tidak pernah menyangka kalau akan melihat ayahnya sampai rela berlutut di depan gerbang kediaman Santi saat ini. “Pa, jangan lakukan itu! Aku akan menghubungi Santi lagi!” Bi mau mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelepon Santi, namun tetap saja ponselnya seperti tidak tersambung. Pubg ta







