FAZER LOGINHampir sebulanan ini aku udah hampir nggak nulis. Maafff bgt2, yaa, readers-nim :"). Jujur, aku juga ngerasa bersalah bgt ke kalian dengan betapa jarangnya aku update PPD ataupun P3. Tapi, yaaa, di real life suasananya lagi nggak mendukung buat aku paksain nulis (terlepas ini lagi bulan ramadhan)
A/n: Harusnya bab ini aman———Seharusnya Dirga tak memaksa Andra untuk mengatakan informasi soal Alisa. Karena setelahnya, pria itu tampak seperti seseorang yang tengah dibebani banyak pikiran.Bahkan yang lebih parah membuatnya kesulitan untuk tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.Dirga terus mengubah posisi tubuhnya, mulai dari terlentang, menyamping, sampai telungkup. Dia berusaha mencari posisi senyaman mungkin agar bisa terlelap.“Kamu membutuhkan sesuatu, Dirga?” Sedari tadi diam, Alisa membuka suaranya.Di ranjang berukuran king size itu, Dirga menoleh pada istrinya yang ternyata tengah menghadap ke arahnya.Alisa juga sudah dalam keadaan siap untuk tidur. Namun, alih-alih bisa memejamkan mata, Alisa malah sama sekali tak merasakan kantuk.Ditambah lagi, Dirga yang tak bisa diam membuatnya khawatir.Dirga menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Tidurlah.”Tanpa mengindahkan ucapan Dirga, Alisa tetap berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Dia berniat m
Alisa berusaha mencerna pertanyaan Dirga lebih dalam. Memangnya apa yang pria itu akan lakukan setelah mengetahui tipe pria idamannya? Tidak mungkin Dirga mendadak bertingkah mengikuti tipe pria yang Alisa idamkan, bukan? Raut wajah Alisa menegang. Terkecuali … jika Dirga memang memiliki maksud lain. Misalnya … menaruh ketertarikan padanya? Cepat-cepat Alisa menepis pemikiran tersebut. ‘Selama Dirga belum mengaku secara langsung menyukaiku, aku tidak ingin berharap apapun.’ Itulah prinsip yang Alisa pegang untuk saat ini. Tak lama terdengar dekhaman Dirga di udara. “Aku menunggu jawabanmu, Alisa.” “Maaf, aku kebanyakan berpikir,” ringis Alisa merasa tak enak. Begitu dia menoleh, didapatinya Dirga yang seolah tak sabar menunggunya bicara. Jadi, detik selanjutnya, Alisa buru-buru menjawab, “Tipeku selalu berubah-ubah." Tadinya Alisa ingin menjawab seperti ini: pria idamannya tergantung pada pria fiksi yang sedang ditulis olehnya atau aktor pria dari drama yang sedang ditont
Seperti yang diketahui, kedua–ralat, ketiganya resmi pergi berjalan-jalan: Dirga, Alisa, dan anak anjing pudel mereka. Langit sudah hampir gelap dan untungnya udara malam ini, di area jogging track tidak begitu dingin. Suasananya tidak sepi dan tidak juga ramai orang. Ada beberapa penghuni yang memang memilih lari dan berjalan-jalan saat malam hari. Diam-diam Alisa merasa takjub. Kepalanya mengangguk-ngangguk kecil. ‘Besok-besok aku ingin berjalan-jalan santai lagi,’ batinnya. Ekor matanya melirik ke arah Dirga. ‘Dengan atau tanpa Dirga juga tidak apa-apa,’ sambungnya. Toh Dirga sendiri yang mengatakan padanya untuk melakukan hal yang disukainya ‘kan? Alisa cukup menyukai lingkungan di kawasan perumahan tempat tinggal Dirga dengan berbagai fasilitas umum yang tersedia. Lagi-lagi dia merasa terus diuntungkan dalam pernikahannya dengan Dirga. Tanpa sadar, Alisa jadi terus menatap ke arah pria itu dari samping. Mata besarnya menyorot penuh kekaguman. Rasa kesal yang sempat bercoko
Sekalipun bukan pilihannya, Alisa pada akhirnya pasrah saat Dirga mulai menyerang sisi lehernya dengan kecupan-kecupan ringan yang perlahan mengundang gairahnya. Refleks, kedua tangannya berakhir mendarat di pundak Dirga. “Nghh~” Sebuah erangan tak sengaja lolos dari bibirnya kala merasakan sapuan hangat bibir Dirga turun menuju tulang selangkanya. Ditambah lagi, pria itu menarik satu lengannya dan menelusuri kulitnya dengan gerakan pelan sehingga Alisa dibuat cukup merinding. Jari-jari tangan keduanya bertaut dan meremat seolah saling mengirimkan sinyal gairah yang dirasakan. Kepala Alisa dibuat pening. Napasnya tersengal. Alisa tak mengerti dengan tubuhnya sendiri yang mudah bereaksi setiap kali Dirga mendaratkan sentuhan. Pun, tak ada penolakan yang begitu signifikan darinya. Matanya terpejam menikmati kecupan Dirga yang semakin turun dari leher Alisa.Suara-suara kecupan itu mengisi ketenangan di kamar mereka. Mendengarnya, wajah Alisa terasa panas. Dia sibuk menggigit bibir
Cemburu? Itu tercatat dalam kamus setiap pasangan yang menjalin hubungan. Tentu saja dalam kasusnya Alisa yang sudah menikah dengan Dirga, kata tersebut seharusnya berlaku bagi keduanya. "Y–ya," aku Alisa sedikit tergagap. Karena kurang terdengar jelas, Dirga sampai harus menunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan Alisa. Dia menarik tangannya dari dagu sang wanita. "Aku tidak dengar kamu bicara apa." 'Masa, sih, tidak dengar?' batin Alisa merasa tidak yakin. Dan kenapa pula wajah Dirga harus berjarak sedekat ini dengannya? Demikian, itu yang membuat Alisa mendaratkan satu tangannya di dada Dirga dan mendorongnya agar sedikit menjauh. Tubuh Dirga kembali berdiri tegak. Namun, Alisa tak kunjung menarik tangannya. Alih-alih melepaskan, Alisa membiarkan jari-jari lentiknya meraba area dada pria tersebut. Sentuhan ringan itu mengirimkan gelenyar aneh pada tubuh Dirga sehingga dalam satu gerakan licin, dia menyambar pergelangan tangan Alisa. Manik hitamnya menyorot Alisa dalam
Takut kehilangan kendali, Erick pun segera menyeret langkah kakinya untuk ke luar dari kamar hotel tersebut dengan napasnya yang memburu. Pria itu masih dikuasai amarah. Namun, yang bisa dia lakukan sekarang adalah memukul dinding di luar kamar sebagai bentuk pelampiasan. Rasanya ... Erick sudah lama tak pernah semarah ini. Erick kemudian menyugar rambutnya ke belakang selagi menunggu Sabrina menyusulnya. Pada menit ke empat, sosok adiknya itupun muncul dengan pakaian yang yang tampak sedikit kusut. Pun, rambut cokelat bergelombangnya. “Kak Erick …,” panggil Sabrina pelan. Pandangannya menunduk, tak berani menatap sang kakak. "A-aku bisa jelaskan terlebih dahulu, Kak." Erick menggeleng tegas. “Bagaimana ceritanya, kalian pada akhirnya berakhir di ranjang tidur bersama ‘kan? Jadi, kalian sama-sama melakukan kesalahan.” Dia menekankan, "tidak perlu penjelasan apapun lagi." Sia-sia saja. Semakin dijelaskan, Erick rasanya benar-benar ingin memberi pelajaran yang berat pada Leo.
“Setelah sampai di villa, aku jelaskan detailnya padamu.”Alisa menolehkan kepalanya mendengar jawaban Dirga berikutnya. Dia menghela napas.Kalau memang akan dibahas nanti, kenapa harus diungkit sekarang? pikirnya.Alisa tidak suka dibuat penasaran. Meskipun sudah menangkap isi pembicaraan ini ter
Mendengar pertanyaan itu, sontak Alisa mendongakkan wajah. Mata besarnya melirik tajam ke arah sosok yang berdiri tepat di sebelahnya. Seketika jari tangannya mematikan layar ponsel dan segera menyembunyikannya dibalik tubuh.Hal itu membuat sosok tersebut mendengus kasar. “Lihat foto saja tidak bo
“Andra!” Alisa berjengit kaget saat tahu-tahu saja Andra sudah berdiri di sebelahnya. Pria itu tampak sudah siap dan menatap Alisa dengan penasaran. Namun, salam sekejap raut wajah Alisa langsung semringah. Tiba-tiba saja sebuah ide melintas di kepalanya. “Andra, kamu bilang sudah lama berteman
Apa yang diucapkan Sabrina berhasil memancing rasa penasaran Alisa. Mata besarnya memicing pelan.“Apa maksudmu menyamakan Dirga dengan Kak Aldo?”Tanda tanya mulai memenuhi benak Alisa. Dia tahu bahwa terkadang Dirga bisa bersikap brengsek. Tapi, hal itu tak sebanding dengan semua yang telah pria







