Mag-log inAku duduk di samping Darren. Darren mengabaikanku, dan dia memasukan makanan ke dalam mulutnya.
“Leora, akhirnya kau datang,” ujar Pattie, masih dengan senyum lembutnya.
“Maaf, mom. Aku ke kamar mandi sebentar tadi.”
“Aku bertanya pada Darren tentang bulan madu, kalian bersungguh-sungguh tidak ingin bulan madu?” aku melirik Darren.
“Tidak, mom. Aku sibuk, Leora juga sibuk dengan temannya.” ujar Darren.
“Aktivitas kalian bisa di hentikan, kalian harus bulan madu, setidaknya jika kalian tak mau bulan madu. Berikan kami harapan jika kalian bisa memberikan seorang penerus keluarga ini.”
Darren tersedak. Aku menggeser minumannya lebih dekat ke arahnya.
“Bulan madu bahkan tak akan membuat hal itu terjadi. Aku sudah katakan, aku belum siap menikah, jadi kalian harus menerima resiko atas pernikahan yang tak aku inginkan,” Darren menatapku.
Lalu ia bangkit dan meninggalkan meja makan. Aku menunduk dan mulai memakan sarapanku. Pattie hanya diam.
“Mom,” aku berucap pelan.
Ia menatapku dengan senyum tipis.
“Aku akan mencoba berbicara dengan Darren, mungkin kita tak akan bulan madu dalam waktu dekat, tapi mungkin itu terjadi, tapi aku tidak bisa berjanji.”
“Tidak apa, Leora. lebih baik kau sedikit mengalah dengan Darren dan jangan memaksa Darren, aku tidak mau dia melukaimu melalui perkataannya.”
Aku mengangguk. Aku kembali melanjutkan sarapanku, Pattie meninggalkan aku sendirian.
Dia bilang, dia harus kembali ke kamarnya. tapi aku tak yakin dia jujur, sepertinya dia menemui Darren.
Aku harus berhenti membandingkan Darren dan Theo. Kondisi keluarga ini tak sama seperti hangatnya keluarga Theo padaku. Sulit bagiku untuk tidak membandingkan Darren dan Theo , karena sungguh, otakku penuh dengan Theo.
Aku mengakhiri sarapanku, lalu kembali ke kamar.
Saat aku masuk ke kamar, Darren terlihat berbaring di atas tempat tidur dengan handphoneku di tangannya. Aku tidak berkata apapun, mungkin dia berhak mengotak-atik benda pribadiku sekarang.
Seperti kata Pattie, Darren bisa melukaiku dengan kata-katanya.
Aku menutup pintu. lalu duduk di sisi tempat tidur. Ia tidak memperdulikan kehadiranku.
“Darren, kita akan menginap disini?”
“Ya, selama dua hari. Catat di otakmu, setiap bulan kita harus berkunjung ke rumah orang tuaku,” aku mengangguk.
“Apa aku boleh meminjam pakaian? Aku hanya membawa satu dan itu pakaian yang sedang aku pakai.”
Ia melirikku dan mengangguk. Aku kembali berdiri, lalu berjalan ke lemari pakaiannya.
Aku mengambil baju kaos Darren yang berukuran panjang dan bisa terlihat seperti baju terusan. Aku berjalan ke kamar mandi, lalu mengganti pakaianku.
Aku melipat pakaianku dengan rapi, lalu keluar dari kamar mandi. aku meletakan pakaianku di lemari Darren, lalu mendekati tempat tidur.
“Darren, Apa ada yang salah dengan permintaan Mom untuk bulan madu?”
“Tentu. Untuk apa bulan madu, jika aku tidak pernah merasa kita menikah, apa kau menganggapku sebagai suamimu?”
Ia menatapku, menunggu jawabanku.
“Aku menganggapmu, kadang”, ia memutar bola matanya.
“Kata kadang itu harus kau rubah, jika kau benar-benar ingin bulan madu.”
Suasana kembali hening. Darren terlihat memencet tombol di handphoneku dengan kasar, aku tidak tahu apa yang ia lakukan. Aku lebih memilih berbaring dengan jarak cukup jauh darinya.
Tiba-tiba ia membuka casing handphoneku dan melepas baterainya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Sekarang kau sedang menganggap aku suamimu atau tidak?” tanya-nya. Sambil menatap lekat bola mataku.
“Aku menganggapmu,” ujarku.
“Aku tidak suka kau bermain handphone saat sedang bersamaku, tak ada handphone selama dua hari, dan jika kau kesepian, lebih baik kau bersihkan kolam renang.”
Aku menelan ludahku susah payah.
“Dan satu lagi, jika kau ingin menginjak kakiku untuk melihat ekspresiku, aku akan mencekikmu saat itu juga,”
Aku melebarkan mataku. Ia menyimpan handphone dan casingnya di laci, sedangkan baterainya, ia genggam, sepertinya akan ia sembunyikan di tempat yang tidak aku ketahui.
Ia membaca pesanku dan Theo yang membicarakannya.
“Aku minta maaf.”
“Aku lelah karena menyupir, biarkan aku tidur,” aku mengangguk.
Aku memiringkan posisi tidurku dan menatap dinding kamar Darren. Aku kembali kesepian. Dia tidak ingin aku berhubungan dengan orang lain saat bersamanya, tapi dia membiarkan aku sendirian dan kesepian.
Aku masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Darren.
Aku ingin sekali bertanya, apakah dia menganggapku sebagai istrinya atau tidak. Jika dia menganggapku, kenapa dia tidak bisa sedikit bersikap manis atau mungkin tersenyum padaku.
Aku ingin pergi dari tempat ini dan berlari untuk menemui Theo, aku ingin memeluknya, hanya dia yang bisa membuatku merasa lebih baik.
Hubungan yang tak jelas, yang aku jalani bersama Darren. Justru membuatku merasa menjadi gadis paling menyedihkan, tolol, bodoh, konyol, dan—idiot.
“Leora. kau menangis?”
“Tidak.”
“Lihat aku!” aku menahan posisi tidurku dan meremas semakin kuat selimut yang melapisi tubuhku.
“Apa kau sering menangis saat aku pergi bekerja? Saat aku tertidur?” ia menarik pundakku dengan kasar, agar aku berbalik ke arahnya.
Aku mengusap pipiku dan menggeleng.
“Aku hanya merindukan Ibuku.”
“Sudah ku katakan pada mereka, hubungan ini akan menyakitimu. Mereka saja idiot dan egois.”
Darren mengkerutkan bibirnya.
“Kau tidak bisa bersikap cengeng di depanku, karena aku bukan Theo yang akan mengusap air matamu, kau punya dua tangan yang bisa mengusap air matamu, lakukan itu, karena aku benci dengan orang cengeng.”
“Jika orang lain yang mengusap air mataku, apa kau marah?”
Pertanyaan ini bukan untuk mengecek apa dia memiliki perasaan padaku atau tidak. Aku hanya ingin tahu, jika dia menganggap aku istrinya, dia pasti menjagaku dengan baik walau tanpa cinta.
Dan jika dia tak menganggapku, dia tak akan peduli sama sekali, dan harapan kami bisa bersama bahkan akan mustahil. Hubungan ini aku yakin, hanya akan bertahan kurang dari satu tahun.
“Kau berharap aku marah? Jangan bodoh, Leora,” aku menatapnya.
Lalu kembali membalikan tubuhku. Aku memejamkan mataku perlahan dan mencoba tertidur, walau sulit. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selain tidur,
karena ini rumah Pattie.
Jika di rumah Darren, aku masih bisa berkebun dan mencoba belajar memasak. Tapi setiap aku memasak, makanan itu hanya untukku, bukan untuk Darren. karena sudah ada pelayan yang menyiapkan makanan untuk Darren.
Darren mencium pipiku ketika banyak wartawan mengambil gambar kami. Aku tersenyum.“Nyonya Lawson, jika boleh kami tau, berapa umur kandungan anda?”“8 bulan, dia akan segera melahirkan, perkiraan dokter bulan depan,” ujar Darren. Ia mengucapkannya penuh kebanggaan. Aku tersenyum, lalu mencium pipi Darren.“Tuan Lawson, jadi rumor tentang hubungan anda dan Lucyanna itu hanya gosip? Bagaimana dengan Paparazzi yang melihat anda dan Nona Lucyanna keluar dari Restaurant?”“Sepertinya kita baru saja membahas tentang kehamilan istriku.”Darren menarikku ke dalam begitu saja. Aku seperti baru saja di hujam dengan ribuan pisau. Aku tidak tahu kabar tentang paparazzi yang menangkap suamiku sedang denganLucyanna. Aku terlalu sibuk mengurus kandunganku yang semakin besar.“Leora, berhenti berpikir negatif, aku tidak pernah pergi dengan Lucyanna.”Kami duduk di kurs
***Aku memeluk tubuh Darren. kami menunggu jam sarapan, semalam kami melakukan permainan hebat. Kami hanya tidur 3 jam, lalu sekarang, Kami bermanja di tempat tidur. aku merasa seperti melakukan bulan madu dengan Darren.Darren mengusap bahu telanjangku.“Ayo kita sarapan duluan,” ujar Darren.“Jika kau lapar, kau saja duluan. Aku ingin berenang.”“Berenang? Memang kau bisa berenang?”Aku menatap Darren. Darren tertawa kecil di telingaku. Lalu ia mencium pipiku.“Ayo, aku ingin bermain air.”“Kau mengajakku? Aku pikir kau ingin sendiri.”“Jika aku tenggelam?”“Tenggelam? Jika tau tidak bisa berenang, kenapa ingin bermain air di kolam renang? Kenapa tidak di bath-ub kalau di bath-ub aku bisa menerjangmu sesuka hatiku tanpa takut ada yang melihat.”Aku mendelik, lalu menarik hidung Darren. Darr
Darren P.O.V“Hallo.”“Selamat siang, Tuan. Saya memiliki kabar buruk, sepertinya ini harus aku beritahu, akhir-akhir ini mata-mata sering menangkap seorang laki-laki mengintai di sekitar rumah anda dan sering menguntit beberapa keluarga anda, Tuan.”Aku menatap Leora. Aku tidak boleh memberi masalah padanya dan membuatnya memikirkan hal-hal lain selain kandungannya.“Tunggu Steven.…”“Leora, aku harus berbicara dengan Steven secara pribadi, kau tunggu disini ya?”Leora hanya mengangguk tanpa bertanya apapun. Aku mengecup kening dan bibirnya, lalu keluar dari kamar.Aku masuk ke dalam perpustakaan, lalu berjalan ke ruang kerjaku dan mengunci pintunya.“Siapa Steven?”“Mr. Tyler Grier, Tuan. Dia adalah orang yang menurut kami sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap apa
“Leora.”Aku menatap Ibuku dan James yang berlari menuruni anak tangga. Aku memutar bola mataku, lalu menarik Darren.Aku memeluk tubuh Ibuku sebentar, lalu berjalan ke kamar.“Leora, aku tau kau marah padaku, aku minta maaf.”James berucap di belakangku. Aku mengabaikannya, lalu masuk ke dalam kamar. Darren menutup pintu dan menguncinya.“Apa dia sudah mengerti kenapa aku membenci kekasihnya?”“Mungkin, setelah kau menamparku.”Darren melepas pakaiannya dan memasukannya ke keranjang kotor.“Maaf, aku tidak sengaja.”“Aku tau.”Darren menutup lemari. ia menarik nafas, lalu berbaring di atas tempat tidur.“Aku sangat lelah.”“Lelah? Padaku?”“Hanya lelah, tidak tahu akan apa.”Aku menatap Darren. Lalu memeluk lehernya, Darren memeluk punggungku dengan lembut. aku menc
Aku masih terperangkap dalam pelukan Darren. ia masih tertidur, dan tangannya dengan erat memeluk tubuhku.Aku tau aku melukainya, aku sangat melukainya dalam waktu 2 bulan terakhir ini.“Hei, selamat pagi.”Darren mencium keningku dengan lembut. Aku tersenyum tipis.“Selamat pagi.”“Apa kau ingin sesuatu pagi ini?”Aku menggeleng. Aku tidak menginginkan apapun, sekalipus aku harusmenahannya jika aku butuh sesuatu. Aku tidak peduli jika aku harus mual sepanjang hari, anak ini, dia membuatku menjadi orang jahat, jahat pada suamiku sendiri.“Bagaimana jika kita mengunjungi Dokter France?”“Terserah padamu,” ujarku dengan pelan.“Hei, bersemangatlah. Kau terlihat pucat dan sedih.”Darren melepaskan pelukannya, lalu menyangga kepalaku dengan lengannya.“Aku baik-baik saja,” Darren hanya mengangguk tanpa ber
***James menjauhiku hari ini setelah pagi tadi aku melukai Lucyana.Jika kami ada dalam satu tempat yang sama, dia akan memutuskan untuk pergi dan tidak mau menegurku. Andai dia tau jika kekasihnya itu mantan suamiku dan pernah mengirim pesan menggoda ke suamiku, dia pasti tak akan semarah ini.Aku duduk di sofa sambil meminum teh-ku dan membaca majalah. Aku sudah sangat lelah tiduran di tempat tidur.Aku memandang layar handphoneku yang menyala.Saat aku ingin mengambilnya, seseorang terlebih dahulu mengambilnya.“Alice mengirim pesan, katanya dia ingin hang out, besok,” ujar Darren.Ia memeriksa handphoneku dan duduk di sofa single. Ia mengangkat kakinya layaknya boss. Ups, aku lupa, dia kan memang boss.“Lalu Zayn mengirim pesan, katanya bajumu sudah bisa di ambil, dan harus besok, karena dia akan ke New York untuk New York Fashion week.”“Darren







