FAZER LOGIN"Kau melihat sesuatu malam itu?" Nayla langsung berlutut ketakutan. "Ampun, Yang Mulia. Aku tidak akan mengatakan apa pun." Sultan justru mengangkat dagunya dan tersenyum tipis. "Terlambat." Hidup Nayla berubah sejak malam ia tidak sengaja memergoki rahasia pribadi Sultan di paviliun terlarang. Ia pikir dirinya akan dihukum mati. Namun keesokan harinya, ia malah dijadikan pelayan pribadi Sultan. Sejak saat itu, seluruh istana memusuhinya. Para selir menganggapnya ancaman. Adik tiri sultan mulai menggodanya tanpa malu-malu. Panglima kerajaan diam-diam melindunginya. Dan Sultan... Sultan tidak pernah membiarkannya pergi terlalu jauh. Di tengah fitnah, kecemburuan, dan perebutan hati yang semakin rumit, Nayla menyadari bahwa rahasia yang ia lihat malam itu bukanlah kutukan. Melainkan awal dari kehidupan yang tak pernah ia bayangkan.
Ver mais"Ah... Sultan... lebih dalam lagi... hancurkan aku malam ini," rintih seorang wanita bertubuh sintal terdengar sangat pasrah di atas ranjang sutra yang berantakan.
"Tunggu giliranku, Yang Mulia. Sentuh aku juga di sini, aku sudah tidak tahan," sahut wanita kedua dengan suara yang tidak kalah serak, memohon sembari menuntun tangan kekar sang penguasa ke area sensitifnya.
Sultan Azfar Zayn Qamar terkekeh rendah, suara baritonnya yang berat bergema seksi di tengah kegelapan kamar yang remang-remang. "Kalian berdua terlalu tidak sabaran. Diam dan nikmati saja apa yang kuberikan."
"Bagaimana kami bisa diam jika milikmu begitu besar dan mematikan, Yang Mulia?" bisik wanita ketiga yang kini merangkak ke dada bidang sang Sultan. Jemari lentiknya mengusap otot perut sultan yang keras dan basah oleh keringat milik pria matang berusia tiga puluh lima tahun itu.
"Kau menyukai ukuranku, hmm? Katakan seberapa besar kau menginginkan penyatuan ini," bisik Sultan Azfar sembari menarik rambut wanita pertama, memaksa kepalanya mendongak saat ia memberikan hentakan yang begitu dalam dan bertenaga.
"Sangat... sangat menginginkannya, Yang Mulia... Ah! Masuk lebih dalam lagi!" erang wanita itu dengan mata terpejam erat, menyerahkan seluruh tubuhnya untuk dikuasai oleh sang dominan.
Sementara itu, di balik pintu jati yang sedikit terbuka, Nayla Azura Hayyan berdiri membeku dengan nampan perak di tangannya.
Di atas nampan itu terdapat semangkuk sup hangat dan teh herbal yang seharusnya ia antarkan untuk Sultanah yang berada di kamar sebelah. Namun, langkah kakinya terhenti total karena celah pintu paviliun pribadi Sultan ini memperlihatkan pemandangan yang begitu tabu.
Nayla adalah pelayan rendahan berusia dua puluh satu tahun yang baru bekerja di istana demi membiayai pengobatan ibunya.
Detak jantungnya bergemuruh hebat, berdegup begitu kencang di dalam dadanya yang naik turun karena syok.
Alih-alih memalingkan wajah, rasa penasaran yang besar justru membuat matanya tak berkedip mengintip aktivitas intim berskala penuh di dalam sana.
Dari celah yang cukup lebar itu, Nayla bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana ketiga tubuh wanita bayaran tanpa sehelai benang pun saling bertautan di atas ranjang bersama Sultan Azfar.
Pria matang itu tampak seperti monster gairah yang tak kenal lelah, mengayunkan pinggulnya dengan ritme yang sangat menghentak dan penuh otoritas mutlak, menguasai ketiga wanita itu secara bergantian dalam penyatuan yang liar.
"Ini salah... ini sangat salah," bisik Nayla lirih dengan napas yang memburu.
Pikiran Nayla mendadak buntu karena ia tahu betul hukum kesultanan yang sangat sakral: Sultan hanya boleh berhubungan intim dengan satu Sultanah resmi dan empat selir sah.
Apa yang ia saksikan malam ini—Sultan Azfar bermain gila dengan tiga wanita bayaran sekaligus—adalah skandal konstitusi yang sangat mematikan jika sampai bocor ke luar.
"Aku harus pergi dari sini sebelum ada yang melihatku," batin Nayla dengan tubuh yang gemetar hebat.
Nayla mencoba melangkah mundur dengan sangat hati-hati, berusaha menjaga keseimbangan nampan perak di tangannya. Namun, kepanikan yang teramat sangat membuat fokusnya buyar sepenuhnya.
Tanpa sengaja, ujung gaun pelayannya yang panjang menyenggol sebuah vas keramik kuno setinggi pinggang yang berdiri di sudut lorong.
PRANGGG!!!
Suara hancurnya keramik mahal itu memecah kesunyian malam dengan sangat nyaring, menggema di sepanjang lorong kosong paviliun tersebut.
Seketika itu juga, semua suara desahan panas, rintihan gairah, dan erangan dari dalam kamar mendadak berhenti total.
Keheningan yang sangat dingin, mencekam, dan penuh ancaman langsung menyelimuti lorong.
Nayla merasakan seluruh darahnya membeku, dan tubuhnya mendadak kaku bagai dikutuk menjadi batu. Sebelum sempat ia melangkahkan kakinya untuk melarikan diri, suara derit pintu kayu jati di belakangnya terdengar terbuka dengan sangat lebar.
Sebuah hawa dingin yang luar biasa tajam langsung menusuk punggung Nayla.
"Siapa di sana?" sebuah suara bariton yang sangat berat, dingin, dan penuh dengan intimidasi mematikan terdengar dari arah belakangnya.
Nayla perlahan-lahan memutar tubuhnya dengan sangat kaku. Ia menelan ludahnya dengan susah payah saat matanya bertemu pandang dengan sosok yang kini berdiri tegak di ambang pintu.
Sultan Azfar Zayn Qamar berdiri di sana dengan keangkuhan seorang Sultan.
Pria matang berusia tiga puluh lima tahun itu hanya mengenakan jubah tidur sutra hitam sebatas pinggang yang dibiarkan terbuka lebar di bagian dada, memperlihatkan tubuh atletisnya yang dipenuhi sisa-sisa keringat dari aktivitas panasnya beberapa saat lalu. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan menambahkan kesan liar pada wajahnya yang luar biasa tampan namun dingin.
"Ampun, Yang Mulia... hamba tidak bermaksud..." suara Nayla bergetar hebat, nyaris tidak terdengar saat ia meletakkan nampannya di lantai dengan gemetar.
Tanpa menunggu perintah, Nayla langsung menjatuhkan dirinya bersujud di atas lantai marmer yang dingin.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahinya menyentuh lantai, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan rasa takut yang luar biasa. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.Ia benar-benar ketakutan kali ini.
Sultan Azfar tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang berat terdengar mendekat secara perlahan, menciptakan suara yang terdengar seperti hitung mundur menuju kematian di telinga Nayla.
Pria itu berhenti tepat di depan tubuh Nayla yang sedang bersujud, menatap pelayan rendahan itu dengan sepasang mata elangnya yang tajam, dingin, dan sangat sulit ditebak.
"Angkat kepalamu," perintah Sultan Azfar dengan nada datar namun penuh dengan penekanan yang tidak menerima penolakan.
Nayla mencengkeram lantai marmer dengan jemarinya yang gemetar. Dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki, ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah sepasang mata gelap sang penguasa yang kini sedang menguncinya rapat-rapat.
"Apa yang kau lihat di dalam sana, Pelayan?" tanya Sultan Azfar lagi, nadanya terdengar begitu santai namun justru membuat bulu kuduk Nayla meremang sempurna.
"Hamba... hamba tidak melihat apa-apa, Yang Mulia. Hamba hanya lewat untuk mengantarkan makanan ke kamar Sultanah," jawab Nayla berbohong, suaranya terbata-bata dengan napas yang memburu.
Sultan Azfar menyipitkan matanya, menatap nampan makanan di lantai, lalu beralih kembali ke wajah cantik Nayla yang kini pucat pasi.
Pria itu berjongkok di hadapan Nayla, mencengkeram dagu gadis itu dengan jari-jarinya yang kuat dan hangat, memaksa Nayla menatap matanya lebih dekat.
"Kau pandai berbohong, Pelayan Kecil. Katakan padaku, siapa namamu?" bisik Sultan Azfar dengan suara rendah yang sangat mengintimidasi, menyadari bahwa ia belum pernah melihat wajah pelayan ini sebelumnya di istana utamanya.
Brak!Pintu kayu lapuk itu dihantam keras hingga engselnya nyaris terlepas dari dinding batu.Seluruh isi kamar kecil milik Nayla langsung diacak-acak tanpa ampun oleh para Pengawal Hitam yang beringas.Pakaian, tikar, dan wadah air tembikar dilemparkan ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Di sudut ruangan, Nayla hanya mampu berdiri membeku dengan wajah pias dan napas yang tertahan di tenggorokan.Penggeledahan brutal itu terus berlangsung dengan intensitas yang semakin menakutkan. Kasur jerami tipis milik Nayla dibongkar paksa hingga isinya berhamburan mengotori lantai yang lembap.Lemari kayu satu-satunya dibuka kasar, disusul kotak penyimpanan pakaian yang langsung dibalikkan begitu saja.Di luar ambang pintu, semua pelayan wanita dari barak bawah tanah telah berkumpul untuk menonton jalannya eksekusi tersebut.Suara bisik-bisik ketakutan dan kedengkian mulai muncul ke permukaan, memecah kesunyian koridor yang remang."Itu kamar milik Nayla Azura, pelayan kesayangan baru Sultan
"Kalau Sultan mulai melindungi pelayan sialan itu dari jangkauan tanganku..." gumam Safiya dengan nada suara yang disengaja merendah bagai desisan ular.Selir Safiya memutar botol parfum kesayangan Sultan di antara jemarinya yang lentik sembari menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan bisa.Kilatan kaca kristal wadah wewangian itu memantulkan binar kejam dari sepasang matanya yang sehitam malam."...maka aku akan menggunakan tangan Sultan sendiri untuk menghancurkan dan menghukumnya sampai mati," lanjutnya sembari meremas botol kristal itu hingga buku jarinya memutih.Di dalam kemegahan Paviliun Safiya yang bertabur permata, sang selir favorit duduk dengan keangkuhan mutlak di depan meja rias marmernya. Selir Layla, Selir Jihan, dan Selir Amira berdiri mengelilinginya, menciptakan atmosfer persekongkolan yang kental.Mereka masih tidak terima atas kekalahan politik dan penghinaan yang mereka rasakan di taman mawar beberapa hari lalu."Sejak gadis desa itu menginjakkan kakinya di kam
Saat waktu makan siang tiba, aula makan pelayan bawah tanah yang biasanya dipenuhi gema tawa dan denting alat makan mendadak berubah mencekam.Langkah kaki Nayla yang ragu-ragu di ambang pintu langsung menarik perhatian seluruh pasang mata di ruangan itu.Tanpa komando, seluruh pelayan yang biasanya ramai memenuhi meja kayu panjang tiba-tiba bangkit berdiri begitu sosok Nayla melangkah mendekat.Nayla membeku di tempatnya berdiri, mencengkeram nampan kayunya dengan jemari yang masih dibalut kain kasa.Keheningan yang tidak wajar merayap cepat, menyisakan kecanggungan yang begitu menusuk di antara deretan meja makan.Ia memandang sekeliling dengan kerutan samar di dahi, merasa kebingungan dengan reaksi ekstrem yang ditunjukkan oleh rekan-rekan seprofesinya.Mereka semua bergegas memindahkan piring masing-masing, menciptakan jarak horizontal yang begitu kentara seolah Nayla membawa wabah penyakit.Tidak ada satu pun orang yang mau duduk atau berada di radius tiga meter dari tempat gadis
Pintu kayu jati berukir emas milik kamar pribadi Sultan perlahan terbuka dengan derit halus yang terasa menyiksa pendengaran.Udara dingin beraroma gaharu dan rempah mahal langsung menyergap indra penciuman Nayla, membawa atmosfer yang begitu pekat dan menekan.Nayla menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Jantungnya berdentum begitu keras di balik tulang rusuk hingga ia yakin suaranya bisa memecah kesunyian.Untuk pertama kalinya dalam hidup, sepasang kaki Nayla yang beralaskan sandal tipis melangkah melewati batas ambang pintu tersebut.Ia sadar, malam ini ia akan masuk ke tempat yang selama ini menjadi sumber dari seluruh mimpi buruknya di istana.Kamar tidur Sultan Azfar terasa begitu sunyi, jauh dari bayangan kemegahan harem yang selalu bising oleh tawa wanita."Hamba memenuhi panggilan Yang Mulia Sultan," ucap Nayla dengan suara yang diusahakan selembut dan setenang mungkin, meski getaran kecil tetap tidak bisa ia sembunyikan.Di sudut ruangan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações