Share

Bab 10 - Situasi Menguntungkan

Bab 10 - Elmond Blueray

Aku duduk belunjur di karpet sambil menyandarkan punggung di tepi sofa. Material sofa yang terbuat dari oscar mengkilap serta tanpa pori-pori, membuat permukaan kulit punggungku lengket sekaligus menggigil. Beberapa kali aku mencoba membetulkan posisi duduk, berharap usahaku dapat mengurangi rasa tak nyaman pada punggungku, tapi percuma. 

Semoga saja, aktifitas bercinta yang kulakukan secara spontanitas dengan Selena tidak berdampak buruk bagi persendianku. Mengingat aku baru dua minggu berjalan tanpa bantuan tongkat. Sensasi nyeri masih kerap menyergap kedua tungkaiku yang sempat lumpuh selama dua tahun terakhir. Khususnya bila aku terlalu aktif bergerak. 

Lucu rasanya bila mengenang masa-masa tersulit dalam hidupku di mana aku menghabiskan energi dan waktu untuk menangisi Natty. Sebenarnya sekarang pun masih, tapi tidak sehisteris dan seintens dulu. Hanya bila aku berada dalam mode kesepian, rasa bersalah itu baru hadir dan berusaha mendorongku untuk menyakiti diri sendiri, membuatku merasa tak layak melanjutkan hidup.

Namun, hari ini Tuhan mengirimkan sosok malaikat cantik yang kini sedang tidur pulas serta mendengkur lembut di pangkuanku. Aku akan melakukan apapun demi bisa bersamanya sampai maut mengakhiri perjalanan hidup kami. Dia jelas ditakdirkan untukku begitu juga sebaliknya. 

Selena menggeliat tatkala aku menyampirkan helaian rambut yang menutupi wajah ke belakang telinganya. Dengkurannya terjeda dan sebagai gantinya dia mengecap lembut bibirnya sendiri. Sungguh, aku masih kesulitan untuk mempercayai situasi ini, terlebih usai mengalami proses penyatuan kami sesaat lalu. 

Tuhan, bagaimana kau bisa menciptakan dua anak manusia yang tidak memiliki pertalian darah, berwujud serupa bahkan, pada setiap reaksi tubuhnya terhadap sentuhanku? Seolah-olah Tuhan sengaja memindahkan Natty ke sini. Ke negara ini. Negara yang enggan kudatangi meski mendiang ayahku memohon pada detik-detik terakhir hidupnya. 

Kala itu aku lebih memilih tinggal di Sydney, di tanah kelahiranku dan ayah sebab, aku marah kepada ibu yang menelantarkan mendiang ayah yang sudah tua renta. Ibu membawa serta kakak perempuanku Elen, selepas membanting pintu tepat di wajahku, di wajah anak laki-laki berusia delapan tahun yang hanya bisa menangis kebingungan. Anak bungsu yang selama hidupnya dilingkupi oleh keharmonisan keluarga, mendadak harus menenggak pil pahit atas perpisahan kedua orang tuanya.

Kehadiran Natty mau tak mau menjadi awal sepak terjangku di dunia percintaan. Cukup lama aku menutup hati dan menolak mentah-mentah setiap wanita yang bersedia mempersembahkan jiwa dan raganya untukku. Aku juga sempat menganggap semua wanita sebagai makhluk egois yang kerjanya hanya memburu pria-pria beruang serta kesulitan mengendalikan libido. Para wanita seolah tidak memiliki apapun lagi untuk dibanggakan selain wajah penuh riasan dan keahlian memuaskan pria di ranjang.

Namun si cerdas Natty, memaparkan perspektif lain kepadaku tentang wanita-wanita istimewa yang patut dicintai oleh pria sepertiku. Dia juga membuatku jatuh hati kepadanya, tidak bisa jauh darinya, sepenuhnya bergantung padanya selayaknya benalu. Pertama kali merasakan jatuh cinta secara mendadak, membangkitkan sisi kekanakanku, membuatku cemburu buta sekaligus senewen sepanjang waktu, yang akhirnya berujung pada rasa takut akan kehilangan Natty. Sialnya, sifatku jugalah yang pada akhirnya memisahkan Natty dariku untuk selama-lamanya.

Namun, kehadiran Selena seolah menjadi isyarat bahwa Tuhan memberiku kesempatan untuk menebus dosaku kepada Natty.

Sejurus kemudian, telunjukku sudah sampai di kulit wajah Selena. Aku menelusuri setiap senti kelembutan yang memanjakan bantalan telunjukku. Mata kenari, hidung mancung serta bibir berbentuk hati yang bervolume, seketika menjadi favoritku. Bibirnya sedikit terbuka, suara dengkuran lirih terdengar dari sana. Rona pasi pada wajahnya kini berganti menjadi kemerahan seiring usahaku menghangatkan tubuhnya. Aura lugu yang awalnya memancar pada wajahnya kini berganti menjadi kilau memukau sejak penyatuan kami. Sungguh, Selena tampak sangat nyenyak berada di pangkuanku. Terlepas dia kelelahan atau sejatinya memang merasa nyaman berada di sisiku, aku fokus menikmati kebersamaan kami sekarang.

Tiba-tiba, bulu mata Selena bergetar pelan, aku tahu dia terjaga karena sentuhanku barusan. Aku beringsut merapatkan jas tuxedo, kemeja putihku serta bathrobe yang setia menempel di tubuhnya. Tatkala matanya terbuka, aku langsung menguntai senyum manis yang kumiliki sekaligus tiada tandingannya di dunia ini. Setidaknya itulah pujian yang kerap dilontarkan Natty kepadaku. 

"Kamu, tidak berpakaian?" tanyanya sambil melirik sekilas tubuhku yang bertelanjang dada. Dia sempat menatap langsung ke mataku, tapi buru-buru berpaling dan mengucek mata.

“Kenapa? Apa aku terlihat buruk tanpa pakaian?" tembakku sembari mengukur eskpresinya.

"Tidak!" Selena membungkam mulutnya sendiri menggunakan kedua telapak tangan hingga berbunyi seperti tamparan. Dan aku tidak mampu menyembunyikan seringai idiotku. Dia pasti menyesali nalurinya yang tidak mampu menahan diri untuk tidak mengagumiku.

"Maksudku ... di sini dingin dan kamu tidak berpakaian," kata Selena salah tingkah. Bukan pertama kalinya bagiku menyaksikan wanita kehilangan kata-kata setiap kali berargumen denganku. Namun, Selena terlalu menggemaskan untuk diabaikan begitu saja seperti yang selama ini kulakukan terhadap kaum wanita, kecuali Natty tentunya.

"Kalau aku sudah sangat kedinginan, aku bisa memintamu menghangatkanku," godaku terus terang. 

Pipi Selena bersemu semerah kepiting rebus.

"Tidurmu nyenyak?" tanyaku sambil membantunya bangkit duduk. Dia bersilah menghadap padaku.

Selena mengangguk mantap dan seringaiku kian melebar. Gerak kepalanya barusan, meyakinkanku bahwa dia nyaman dengan keberadaanku. 

"Maaf  aku ketiduran. Pahamu pasti tidak nyaman." lirihnya.

Andai dia tahu, aku bersedia menyerahkan pahaku sebagai bantalnya kapan pun dia mau. "Kamu cantik saat tidur," pujiku merayakan kepedulian Selena atas kondisi pahaku.

"Apa?" serunya. Dia ragu akan pendengarannya. Seolah dia jarang sekali dipuji dan baru mendengar kecantikannya dieluh-eluhkan olehku.

"Kamu cantik saat tidur," ulangku lamat-lamat."

Selena membeku memandangiku. Sorotnya nanar, atau bisa jadi dia sedang mengukur kejujuranku melalui ekspresi. Sebagai gantinya, aku tersenyum hangat. Selena kemudian menunduk setelah mengibaskan kepala beberapa kali. 

"Terima kasih," balas Selena sambil mengulurkan tuxedo serta kemejaku yang sejak tadi berdiam di pangkuannya.

Aku hanya diam menatap lembaran pakaian itu tanpa berniat menerima. 

"Aku sudah tidak kedinginan lagi," katanya sambil menyentak tangan yang terulur, memaksaku untuk menerima.

Aku tersenyum kecut mendengar ucapannya. Malam masih panjang dan aku berharap bisa menghabiskan sisa waktu melihatnya meringkuk di pangkuanku.

Selena menghembuskan napas besar sebelum akhirnya kedua tangan mungilnya terangkat demi menyampirkan jas dan kemeja ke tubuhku secara ala kadarnya. Namun, secepat kilat aku menahan posisi kedua tangannya. Jas tuxedo serta kemejaku jatuh terlepas dari genggamannya. Pelupuk Selena melebar lalu mengerjap atas aksiku. Melalui bahasa tubuhnya, aku tahu dia sedang gugup. 

Sejurus kemudian, aku menangkap pangkal pahanya dan memindahkan seluruh tubuh Selena di pangkuanku. Kejantananku yang sudah tegap sejak tadi, tak urung mengejutkannya. Kedua lututnya secara spontan menopang bagian tubuh atasnya agar pangkal pahanya tidak sampai menindih bukti gairahku. Akan tetapi, aku memastikan pose defensif Selena tidak akan bertahan lama.

Pakaian ini tidak mampu menghangatkanku. Aku mendesah di ujung hidungnya sambil menatap intens sepasang iris coklatnya. Lagi-lagi Selena menggigit bibir bawahnya yang tanpa dia tahu, kebiasaan gugup itu kian membangkitkan hasratku. Aku bersumpah tidak akan membiarkan kebiasaan itu berlaku juga pada pria selain aku.

Kedua tanganku menyusup ke balik tengkuknya, lalu aku memagut bibirnya. Selena tidak memberontak, dia memejam dan mengimbangi laju lembutku. Kami saling mereguk kenikmatan, menjajaki setiap jengkal tubuh satu sama lain tanpa halangan berarti.

Meski kami saling mengetahui latar belakang masing-masing, tak ada keraguan di antara kami untuk saling memuja. Selena yang pasrah, membuatku yakin bahwa dia pada akhirnya bersedia melepaskan ikatan pernikahannya nanti.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status