Share

Bab 8 - Penyatuan

Bab 8 ~ Elmond Blueray

Dia bisa saja berbohong padaku, misalnya dengan mengatakan, aku bahagia dengan pernikahanku, lebih dari yang bisa kamu bayangkan. Namun, Selena membisu, kepalanya yang menoleh ke samping, perlahan berbalik ke depan lalu menduduk. Sontak, hatiku pun bersyukur, meski dia tidak menjawab, reaksinya atas pertanyaanku, membangkitkan asaku.

Aku beringsut di ceruk lehernya, menikmati keharuman jasmine di surai serta kulitnya. Selena mematung, dan pada detik ini, aku penasaran terhadap apa yang tengah dia rasakan. Terutama mengenai sentuhan, apakah dia menyukai caraku menyentuhnya?

“El, aku wanita yang sudah bersuami," lirihnya melarangku mengeksplorasinya. Dia menggeliat bangkit, tapi aku menahannya.

“Aku mohon, tinggalkan dia Selena! Aku lebih tahu cara membahagiakanmu,” bujukku. Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak merebak, aku benar-benar tidak ingin kehilangan yang satu ini.

“El, kamu bisa memilih wanita lajang manapun untuk kamu nikahi dan ...”

“Dan aku memilih kamu, aku menginginkanmu menjadi istriku. Aku tidak mau yang lain,” potongku.

Selena menepuk-nepuk simpati kedua lenganku yang melilit lehernya, atau lebih tepatnya, mengasihaniku. Seperti orang kaya mengasihani tunawisma yang mengemis makanan.

“Aku tidak tahu seberapa miripnya aku dengan Natty, tapi aku jelas tidak akan bisa menggantikan figurnya untuk menghiasi hidupmu,” terang Selena dan aku tidak bisa mengelak.

Bila dibayangkan, aku pun pasti merasa terluka bila pasanganku menghendaki tubuhku, hanya karena aku mirip dengan aktor idolanya. Namun, masalahku sepenuhnya berbeda. Natty telah tiada, dan Selena menjadi satu-satunya di bumi sekarang yang memiliki figur sepadan. Jadi boleh dikatakan, Selena memang tipe wanitaku, aku menyukainya, karena dia tipeku. That’s it.

“Aku menyukaimu, karena kamu wanita idamanku. Kamu memang bukan Natty, kalian sama sekali berbeda. Berada di dekatmu, membuatku merasa tenang, terlindungi, seolah tidak akan ada yang bisa melukaiku," jujurku.

“Kita baru saja bertemu dan lagi pula, bagaimana aku bisa memberimu perlindungan. Kamu jelas lebih tangguh dariku, terlebih setelah kamu melewati semua duka itu," tampiknya.

“Bukan perlindungan semacam itu yang kumaksud melainkan ... kamu memberiku kekuatan.” Kehadiran Selena menambah semangat hidupku.

Aku menarik turun kain bathrobe-nya hingga kulit di pundak kanannya terekspos. Dia menggeliat risih hendak bangkit lagi, tapi aku menahan kedua lengannya lebih kuat dari sebelumnya, lalu tanpa aba-aba mendaratkan kecupan di kulit pundaknya. Sebuah desahan lolos dari bibirnya. Selintas, kepalanya menengadah, tapi sikap itu sekejap sirna seiring kesadarannya yang pulih.

"Aku tahu kamu menyukainya," tudingku sambil mengulum senyum kemenangan.

"Ti—tidak, aku sama sekali tidak menyukainya. Aku hanya ...." Aku masih menanti kelanjutan kalimat sambil menggeserkan ujung hidungku di kulit pundaknya. Aku bisa melihat pori-pori Selena meremang. "Hanya ... bersendawa," kelitnya.

"Selena, aku pria dewasa yang cukup berpengalaman memuaskan wanita. Aku bukan bayi makrosomia." Kini aku bisa melihat semburat merah menjalar dari kulit leher hingga ke wajahnya.

Dia meringkuk menyembunyikan leher, tapi tidak dengan kulit pundaknya. Aku mengulang aksiku dan bisa merasakan ketegangan tubuhnya, padahal sebelumnya, dia sempat mendesah rileks. Perilaku kikuknya membuatku percaya akan pengakuannya yang tidak berpengalaman di ranjang.

Bidak ratu telah masuk ke dalam radarku, aku hanya tinggal mengeksekusinya. Perlahan tapi pasti, aku memperluas jangkauanku sembari memperhitungkan kadar sensitivitas Selena terhadap sentuhanku. Tubuh kakunya menandakan dia mati-matian menahan gelombang kenikmatan yang aku ciptakan untuknya.

"El ... cukup! Hentikan!" pinta Selena terengah. Dia beranjak, membebaskan diri dari belengguku. Namun, aku tahu dia terpaksa berbuat demikian.

Aku turut bangkit menyusul Selena, membalik kasar tubuh ramping nan semampai, disusul menangkup kuat rahang tegasnya menggunakan kedua tanganku. "Tinggalkan perang batin itu. Kamu hanya perlu diam dan meresapi setiap sentuhanku," desisku tepat di ujung hidungnya.

"El ... Berhenti! Jangan Gila!" panik Selena melengos. Akan tetapi, bentakkannya tidak berarti apapun bagiku. Tekadku sudah bulat sejak pertama kali bertemu dengannya. Secepatnya, aku akan membuatnya terikat denganku, bagaimana pun caranya.

Aku memanfaatkan keahlian menciumku untuk meredam teriakannya. Dia terus berjalan mundur menjauhiku sampai akhirnya, Selena tersandung kaki meja kayu jati dan kami berdebam di lantai. Pagutan kami terjeda, tapi aku buru-buru melanjutkan lagi. Aku mengabaikan erangan deritanya selepas tubuhnya membentur ubin sekaligus tertindih olehku.

"El, kamu sedang mabuk. Sebaiknya kita lanjutkan negosiasi kita di lain hari," usulnya setelah berhasil mendorong dadaku hingga tautan bibir kami terlepas.

"Waktu negosiasi sudah selesai dan aku sudah memutuskan," tegasku. Aku bangkit bersimpuh, tergesa-gesa melucuti satu persatu kancing kemeja putihku dan menghempaskannya begitu saja. Sial, badanku langsung menggigil.

"Me—memutuskan apa?" Selena tergagap.

Aku kembali membungkuk, mengurung tubuhnya yang tak berdaya di bawah pahaku. Aku memindai setiap jengkal permukaan wajahnya. Mata kenarinya, iris coklatnya, hidung mancung dengan ujung bulat, bibir mungil berbentuk hati, semuanya adalah favoritku.

"Aku sudah memutuskan, bahwa kamu harus menjadi milikku selamanya." Masa bodoh bila sekarang aku terlihat seperti bajingan yang berambisi menidurinya. Aku jelas membutuhkan satu alasan tak terbantahkan, satu saja, untuk menjamin dia tetap terikat denganku.

Tanpa menanti tanggapan, aku meringsek ke ceruk leher Selena. Memburu setiap jengkal kulit kemerahan itu, sebisa mungkin tidak ada yang terlewatkan. Dia bersusah payah mendorongku sambil memepertahankan kedudukan bathrobe-nya. Namun, kekuatannya tak mampu menandingi hasrat kerinduanku yang telah melampaui ambang batas ketahananku.

Selena berhenti memberontak ketika aku sampai di bibirnya lalu dengan lembut mencumbunya. Aku menyisiri setiap sisi dan permukaannya seolah sedang menikmati kembang gula, semua yang ada pada dirinya, terasa manis di lidahku. Lama kelamaan, Selena mengimbangi aksiku. Dan ini bukan sekadar halusinasi. Selena ... benar-benar membalas ciumanku.

"Good girl," gumamku di sela-sela ciuman kami. Tangannya yang semenjak tadi mencekal kuat bagian depan bathrobe, kini beralih mencengkeram rambutku. Sial, dia benar-benar menggoda dan aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

"Selena, tunggu!" Aku menarik diri menjauh dan aku bisa melihat ekspresi kehilangannya. Buru-buru, aku melucuti ikat pinggang dan menggeser resleting celanaku untuk membebaskan milikku yang sejak tadi terhimpit tak nyaman. Harusnya aku melakukannya sejak tadi bila saja perlawanan Selena tidak membuatku sempat kewalahan.

Selena mengawasiku dengan kedua tangan menyilang di dada, sorotnya sayu, napasnya merengap. Begitu juga aku yang tidak melepaskan fokusku sedikit pun dari wajah cantiknya, aku benar-benar takut dia menghilang bagai buih, seperti yang pernah dilakukan oleh Natty.

"Dingin," paraunya selepas aku menegapkan badan.

"Aku tahu, kita akan merasa lebih hangat sebentar lagi," timpalku meyakinkan.

"El, aku takut. Aku benar-benar tidak bisa melakukan lebih dari ini. Lebih dari ciuman. Bisakah, kita melanjutkannya lain hari?" pinta Selena memelas.

Apa ini? Jadi barusan dia membalas ciumanku dan mengira usahanya itu akan memuaskanku. Dia pasti sedang mengigau, tapi usahanya patut diajungi jempol. Ciumannya cukup handal untuk ukuran gadis naif sepertinya. Tiba-tiba terbesit bayangan bahwa Selena melakukannya juga bersama suaminya, membuatku bergegas mengibaskan kepala untuk mengusir gambaran itu.

Aku menurunkan seluruh kain yang membalut pinggangku hingga ke lutut, bersamaan dengan gerakan melengos pada kepala Selena. Aku menyelipkan kaki kananku untuk mendorong kaki kirinya supaya terbuka, sembari menahan bagian pinggangnya demi berjaga-jaga menghentikan niat kaburnya, kendati sejak beberapa detik lalu, dia sudah tenang.

"Jangan banyak bergerak! Atau aku akan tanpa sengaja menyakiti milikmu." Selepas peringatanku terlontar, aku mendapati matanya membelalak tegang, hanya sesaat, lalu rautnya berubah pasi.

Aku tahu dalam hal ini aku tidak sepatutnya memaksa, ada tahapan yang harus kami lalui, sehingga dengan kikuk, aku meraba lembut miliknya dan senyumku langsung mengembang manakala aku menyadari dia begitu basah untukku. Siap menerimaku. Selena tidak lagi menepis tanganku seperti sebelumnya, dia hanya terlihat menanti sambil terengah.

Aku memenjara fokusnya, menatapnya intens dan dia membalas tatapanku dengan sikap serupa.

"Katakan sesuatu!" tuntutku. Mustahil untuk membuatnya rileks, tapi sikap setegang ini juga tidak baik untuknya. Aku ingin dia menikmati setiap detik bersamaku, terutama ketika aku menyelami tubuhnya. Aku ingin menegaskan bahwa setelah proses penyatuan ini, dia telah menjadi milikku seutuhnya.

"Jika aku mengatakan, tolong berhentilah menyentuhku dan lepaskan aku, apakah kamu akan menurutiku?"

"Tidak ... maaf, aku tidak bisa. Aku harus melakukan ini, aku harus." Aku tahu, sekarang aku telah sempurna menjadi bajingan terlaknat di dunia. Aku memanfaatkan kondisi lemah Selena untuk memuaskan hasrat kerinduanku akan Natty. Masa bodoh dengan penolakannya dan konsekuensi yang menanti kami berdua.

Aku menarik celana hitamnya tanpa memperoleh perlawanan yang berarti. Perlahan, aku memenuhi dirinya dengan milikku tanpa melepaskan manik matanya sedetik pun. Dia terkesiap, membuyarkan raut ketakutannya yang seolah terukir paten sejak tadi. Alis indahnya bertaut membentuk lipatan di dahi, bibirnya terbuka dengan cara yang paling seksi, membuatku bertanya-tanya, mengapa ada pria yang tega menyia-nyiakan wanita sesempurna Selena, ya .. di mataku, dia tanpa celah dan cacat.

"El ... jangan bergerak! Aku mohon!" Selena mencengkeram kulit lenganku, menenggelamkan kuku-kuku tajamnya di sana.

Aku bisa melihat bulir-bulir air mata menggenangi sudut pelupuknya. Bergegas, aku menyesap semuanya, mencegah air mata itu jatuh membasahi wajahnya. Aku tidak ingin dia menangis di momen istimewa ini.

"Aku tidak percaya kamu masih seorang gadis," desisku tepat di pipi kanannya. Tak ada jarak di antara kami, Selena dan aku, sudah melekat bagai daging dan tulang. Bagaimana bisa suaminya menahan diri untuk tidak menyentuhnya? Meski penasaran, aku tidak merenungkannya lebih dalam.

Dahulu, Natty mendapatkan kemurnianku sedang aku tidak memperoleh kemurniannya. Kini ... aku meretas kemurnian Selena dan aku merasa takdir mulai memperlakukanku secara adil.

Selena menggeleng lembut, tak menyahut sama sekali. Matanya kemudian memejam rapat, bibirnya saling menekan hingga membentuk garis lurus.

"El, rasanya perih," keluhnya.

"Tenang dan bersabarlah, perihnya akan segera berakhir," kataku sok tahu.

Aku tak menduga bahwa meretas mahkota seorang gadis bisa sesulit ini. Meski aku sudah berpengalaman, tapi aku tidak mampu berkelit dari rasa panas menyengatnya. Milik Selena terlalu sempit, menjempit sempurna milikku. Rasanya bila aku memaksa bergerak, kulit kejantananku akan mengelupas persis seperti ular yang sedang mengalami ekdisis, yakni proses berganti kulit.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status