LOGINBiasanya, Jaka tidak akan menuruti omongan orang lain begitu saja.
Apalagi perintah yang datang dari sosok misterius di puncak gunung pada malam hari. Bahkan jika yang menyuruhnya adalah roh gunung, Jaka tetap bukan tipe orang yang mudah percaya. Namun kali ini, tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat menolak. Kelopak matanya turun perlahan. Ia memejamkan mata tanpa ragu, seolah ada kekuatan tak terlihat yang mendorongnya untuk patuh. Bukan paksaan kasar yang menekan, melainkan dorongan halus yang membuat hatinya merasa bahwa ia memang harus melakukannya. Gelap langsung menyelimuti pandangannya. Hanya suara angin yang tersisa. Beberapa saat kemudian, suara pria tua itu terdengar. Awalnya hanya seperti gumaman pelan. Namun makin lama, nada suaranya berubah menjadi lantunan mantra yang dalam, kuno, dan sangat rumit. Setiap suku kata yang keluar dari mulutnya terasa menggema bukan hanya di telinga Jaka, melainkan juga di dalam tulang dan darahnya. Bahasa itu tidak ia pahami. Namun anehnya, setiap bunyi terasa familier. Seolah-olah ada bagian terdalam dari dirinya yang mengenali mantra tersebut. Angin di sekitar puncak gunung mulai bergerak. Kabut tipis yang semula mengambang tenang perlahan berputar mengelilingi Jaka. Udara dingin berubah menjadi lembut, lalu naik menjadi hangat. Batu tempat Jaka berdiri bergetar sangat halus, hampir tidak terasa, tetapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kemudian, cahaya muncul. Meski matanya terpejam, Jaka bisa merasakan cahaya itu. Di dunia gelap di balik kelopak matanya, titik-titik emas dan putih perlahan bermunculan seperti bintang kecil. Titik-titik itu menyatu, membentuk garis-garis rumit, lalu berubah menjadi tulisan Jawa paling kuno yang melayang di udara. Tulisan-tulisan itu bergerak mengelilinginya. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran. Setiap kali tulisan itu berputar, hawa hangat yang menyelimuti tubuh Jaka menjadi semakin pekat. Napasnya mulai mengikuti ritme tertentu tanpa ia sadari. Dadanya naik turun pelan, seolah tubuhnya sedang belajar cara bernapas yang sama sekali baru. Jaka ingin membuka mata. Namun saat ia mencoba melakukannya, kelopak matanya terasa seperti direkatkan dengan lem. Sekuat apa pun ia berusaha, matanya tetap tidak bisa terbuka. Kepanikan hampir saja muncul. Namun sebelum rasa panik itu meledak, sesuatu menerobos masuk ke dalam pikirannya. Ingatan tambahan. Bukan satu atau dua potongan ingatan, melainkan aliran informasi yang deras, luas, dan dalam. Rasanya seperti menonton film secara langsung di bioskop, tetapi layar itu berada di dalam kepalanya sendiri. Awalnya, semua terasa tidak nyata. Jaka melihat bayangan kabut, gunung, tetesan embun, petani kuno yang berdiri di tengah ladang luas, dan seorang pertapa tua yang duduk di bawah pohon raksasa. Lalu adegan berubah. Ia melihat orang-orang duduk bersila di bawah cahaya bulan. Mereka menarik napas, mengalirkan energi, dan membiarkan embun spiritual menetes dari ujung jari mereka ke atas tanah kering. Beberapa saat kemudian, tanah yang semula retak mulai menghijau. Benih tumbuh, akar menjalar, daun berkembang, dan buah bermunculan dengan kecepatan yang mustahil. Jaka menyaksikan semuanya dengan napas tertahan. Setelah beberapa saat, ia sadar bahwa semua ini bukan sekadar gambaran. Ini nyata. Pengetahuan itu masuk ke dalam dirinya, tertanam di ingatannya, menyatu dengan pikirannya seolah memang telah menjadi bagian dari dirinya sejak lama. Mantra. Cara bernapas. Cara menyerap energi alam. Cara mengembunkan cairan spiritual. Cara menjaga tubuh agar tidak hancur ketika energi pertama kali membersihkan kotoran dari dalam daging, tulang, dan darah. Tanpa sadar, tubuh Jaka sudah duduk bersila di atas batu besar, tepat di luar tenda. Punggungnya tegak. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut. Napasnya menjadi panjang, dalam, dan teratur. Ia tidak lagi merasakan dingin puncak gunung. Seluruh tubuhnya diselimuti energi spiritual yang hangat dan menenangkan, seperti berendam di dalam air suam-suam kuku setelah tubuh dipukul lelah sepanjang hari. Bersambung...Kaki Jaka mendarat sempurna di atas karpet tebal kamar hotel tanpa menimbulkan getaran keras."Angkat tangan!"Sebuah gertakan berhawa dingin memotong udara kamar secara mendadak. Belum sempat Jaka berdiri tegak, sebuah logam bundar bermulut hitam sudah berada tepat satu inci di depan keningnya."Eh?"Jaka tertegun di tempat. Tubuhnya membeku secara instan saat merasakan sensasi dingin baja yang menodong dahinya.Tanpa membuat gerakan mengejutkan, Jaka perlahan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu. Pandangannya bergulir dari moncong pistol menuju sosok pemegang senjata tersebut.Seorang wanita berdiri tegap dalam kuda-kuda menembak yang sangat presisi. Rambut hitamnya yang panjang terikat rapi ke belakang, menonjolkan garis wajah yang sangat cantik namun terbalut oleh tatapan mata yang pekat akan amarah."Kejahatanmu berakhir di sini, dasar pria mesum!" bentak wanita itu dengan nada menusuk.Jemarinya melingkar ketat di gagang senjata, sementara telunjuknya mulai memberikan
Rapat koordinasi antar divisi di lantai teratas gedung perkantoran itu baru saja berakhir. Pintu kayu mahoni yang kokoh berdesir pelan saat tertutup rapat, menyisakan ruang kerja Andini yang luas dan dingin.Jaka melangkah santai melintasi karpet tebal. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa kulit berwarna hitam yang terpajang di sudut ruangan.Belum sempat Jaka meluruskan kedua kakinya, sebuah kehangatan mendadak hinggap di atas pangkuannya. Aroma harum bunga melati langsung menyapu indra penciumannya.Andini melingkarkan kedua tangan halusnya di leher Jaka tanpa ragu. Gaun kemeja putih yang dikenakannya sedikit terangkat, memperlihatkan paha mulus yang bersentuhan langsung dengan celana kain Jaka."Bagaimana menurutmu? Mereka luar biasa, kan?" bisik Andini dengan nada manja.Wajah gadis itu berjarak hanya beberapa senti dari telinga Jaka. Hembusan napas hangatnya membuat tengkuk Jaka merinding.Jaka mengangguk setuju. Tangan kanannya terangkat spontan, mengusap punggung mulus Andini yang
"Sekian laporan dari kami."Acara berita baru saja berakhir namun suasana berat masih memenuhi ruang tamu sederhana rumah Jaka.Layar televisi tabung di sudut ruangan beralih menampilkan siaran iklan komersial.Cahaya kebiruan dari layar memantul pada dinding rumah yang bercat putih kusam."Belakangan ini semakin marak terjadi pelecehan, benar-benar membuatku muak."Bejo mengepalkan tangan hingga bergetar hebat.Urat-urat hijau di punggung tangannya mencuat tegang saat ia menghantamkan tinjunya ke bantalan kursi busa.Giginya bergemeletuk menahan gelombang amarah yang mendidih di dalam rongga dadanya."Pelaku bajingan itu benar-benar tidak punya nurani," sembur Bejo dengan napas memburu."Kalau sampai kutemukan orangnya di jalanan, akan kuhajar wajahnya sampai hancur!""Kecilkan suaramu, Sayang, kau bisa merusak kursi itu," tegur Susi seraya melirik lorong rumah."Setelah melihat berita ini, aku jadi khawatir kepada Dina."Susi bergumam penuh kekhawatiran sambil meremas ujung taplak m
Darius Albert duduk di atas ranjang besar yang diterangi cahaya merah muda temaram.Ia sepenuhnya telanjang, hanya tertutup oleh selimut tebal yang memiliki beberapa noda darah.Urat-urat di tubuhnya berdenyut pelan, menyesuaikan diri dengan aliran darah yang baru ia kuasai.Di lantai sekeliling tempat tidur, tiga wanita telanjang total berbaring lemah tidak berdaya.Mulut mereka ditutup lakban, tubuh mereka dipenuhi luka lebam yang tidak manusiawi.Kulit mereka tampak pucat pasi, terkuras habis oleh ritual mengerikan yang baru saja usai."Ku ku ku."Tawa jahat Darius Albert menggema di ruangan itu.Suaranya terdengar serak dan berat, memantul pada dinding kaca kamar yang tertutup gorden tebal.Ia menggerakkan jemarinya, menikmati lonjakan hawa murni yang mengalir deras di jalur meridian tubuhnya."Tubuh ini lumayan bagus. Energi Yin dari tiga wanita sudah cukup membantuku menerobos tingkat dua fase permulaan."Wush!Kobaran api berwarna putih pucat muncul di telapak tangan Darius Alb
Jeritan panik bernada malu dari Hina Yulia seketika memecah atmosfer panas yang nyaris mengaburkan akal sehat Jaka.Pria itu lekas menegakkan postur tubuh dan menarik kedua lengannya, berinisiatif melepaskan diri dari kepungan lembut ketiga wanita meski batinnya harus melawan kenikmatan sesaat."Dasar kalian bertiga ini. Tanpa perlu melancarkan aksi penyerbuan manja seperti tadi pun, aku pasti akan membagikan cairan berharga ini kepada kalian semua.""Sungguh? Kamu memang majikan terbaik dan paling kami kagumi di seluruh dunia!"Jeanne memekik girang dengan sepasang mata berbinar penuh luapan antusiasme. Saking gembiranya, wanita berambut pirang itu secara spontan menarik kepala Jaka lalu membenamkannya ke dalam belahan dadanya yang empuk."Ahn!"Anehnya, justru Jeanne sendiri yang mendadak mendesah malu dengan nada manja karena sensasi sentuhan tak terduga pada area sensitif tubuhnya.Jaka menelan ludah hingga tenggorokannya terasa begitu kering. Posisi wajahnya terjepit nyaman di an
"He he he, sepertinya hubungan Tuan Jaka dan Nona Andini semakin hari semakin dekat."Jeanne menyandarkan pinggul rampingnya ke tepi meja kerja kayu jati. Beberapa helai rambut pirang-emas miliknya menempel basah di pelipis akibat sisa panen yang menguras tenaga, namun kilatan jahil di wajah cantiknya sama sekali tidak memudar."Ayo lekas ceritakan kepada kami, Tuan Jaka. Seperti apa desahan manis Nona Andini saat kalian berdua berhubungan intim?"Rosa mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sepasang mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Di samping kirinya, Selia menganggukkan kepala berkali-kali dengan antusias, memberikan dukungan tanpa syarat terhadap pertanyaan tanpa filter dari rekannya itu. Di sudut ruangan yang lebih tenang, Hina Yulia melirik ke arah mereka sekilas. Semburat rona merah jambu perlahan merambat naik hingga ke ujung telinganya yang mungil."Ehem!"Jaka berdeham berat seraya membetulkan kerah kemejanya. Nada bicaranya sengaja dibuat dalam dan berwibawa demi m







