Home / Pendekar / Petani Terkuat / 005 Roh Gunung

Share

005 Roh Gunung

Author: AgamYupi02
last update publish date: 2026-06-14 20:56:35

Jaka menarik napas dalam-dalam.

Udara dingin di puncak Gunung Sumbing menusuk paru-parunya, membawa aroma tanah basah, rerumputan liar, dan kabut tipis yang masih menggantung di antara bebatuan. Angin malam berembus perlahan, menggoyangkan ujung tenda di belakangnya hingga kainnya berdesir pelan.

Di hadapannya, pria tua itu masih berdiri dengan santai.

Wajahnya keriput, pakaiannya sederhana, dan tubuhnya terlihat seperti orang tua biasa yang bisa tumbang hanya karena dorongan kecil. Namun, Jaka tidak bodoh. Sejak pertama kali melihatnya, ia sudah tahu bahwa pria tua ini bukan keberadaan biasa.

Ada sesuatu yang aneh darinya.

Bukan hanya karena kemunculannya yang tiba-tiba di puncak gunung, bukan pula karena senyumnya yang terlalu tenang, tetapi karena keberadaannya sendiri terasa menyatu dengan seluruh tempat ini.

Seolah-olah gunung, angin, kabut, batu, pepohonan, bahkan tanah yang ia pijak, semuanya berada di bawah kendali pria tua itu.

Jaka menenangkan diri sambil terus mengawasi setiap gerak-gerik pria tua itu. Telapak tangannya perlahan mengepal, bukan karena ingin menyerang, melainkan karena instingnya berteriak agar ia tetap waspada.

“Kamu penunggu gunung dan yang memanggilku ke sini?” tanya Jaka dengan suara rendah. Tatapannya menajam. “Untuk apa? Aku tidak punya waktu berurusan dengan masalah mistis seperti dirimu.”

Pria tua itu terdiam sejenak.

Lalu, tawa ringannya pecah di antara hembusan angin malam.

“Ha ha ha, dasar tidak sabaran. Apa semua anak muda seperti dirimu?”

Jaka mengangkat bahu, berusaha terlihat acuh meskipun pikirannya masih penuh tanda tanya.

“Aku tidak tahu bagaimana anak muda yang lain,” jawabnya. “Tapi setelah aku melalui semua itu, aku jadi seperti ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada beban yang tersembunyi di baliknya.

Dalam benaknya, Jaka kembali melihat potongan-potongan kehidupan yang baru saja ia lewati. Kehilangan pekerjaan. Pulang dengan tangan kosong. Melihat wajah ayahnya yang tetap berusaha tegar meski usia dan lelah semakin jelas di matanya. Sawah yang menunggu digarap. Hari-hari panjang di bawah terik matahari. Rasa malu, kecewa, marah, dan pasrah yang bercampur menjadi satu.

Ia bukan lagi anak muda yang bisa tertawa ringan menghadapi hidup.

Setelah jatuh cukup keras, Jaka belajar bahwa dunia tidak peduli pada keluhan siapa pun.

Karena itu, ia tidak suka basa-basi.

Pria tua itu menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum lucu, seolah reaksi Jaka justru menghiburnya.

Alis Jaka langsung berkedut.

Jujur saja, ia tersinggung dengan reaksi pria tua ini. Di saat dirinya sedang serius, pria tua itu malah terlihat seperti sedang menonton pertunjukan yang menyenangkan.

Tanpa peduli dia siapa, Jaka ingin sekali menghajarnya.

Paling tidak satu pukulan.

Cukup untuk menghapus senyum menjengkelkan itu dari wajahnya.

Namun sebelum niat itu bergerak lebih jauh, pria tua itu tiba-tiba tertawa lebih keras.

“Ha ha ha! Dasar kurang ajar. Jika kamu benar-benar berani menghajarku, keluargamu akan kehilangan mata pencaharian.”

Tubuh Jaka menegang.

Udara yang sejak tadi dingin mendadak terasa lebih berat.

Matanya menyipit, dan seluruh kewaspadaannya naik beberapa tingkat. Ia tidak menunjukkan rasa takut, tetapi ekspresi wajahnya berubah serius.

“Kamu bisa membaca pikiranku?”

“Tentu saja,” jawab pria tua itu ringan, seolah hal tersebut bukan sesuatu yang luar biasa. “Lagi pula, aku adalah roh gunung ini.”

Jaka terdiam.

Kata-kata itu tidak terdengar seperti kebohongan. Justru karena itulah punggungnya terasa sedikit dingin.

Roh gunung.

Jika sebelumnya ia hanya menganggap hal ini sebagai pengalaman aneh, sekarang ia mulai sadar bahwa dirinya benar-benar telah terseret ke dalam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat.

Pria tua itu melangkah pelan di atas batu. Anehnya, langkahnya tidak menimbulkan suara sama sekali. Bahkan debu dan embun di permukaan batu tidak terganggu oleh pijakannya.

“Aku sudah mengawasimu sejak bayi,” lanjut pria tua itu.

Jaka menatapnya tajam.

Kalimat itu membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Diawasi sejak bayi?

Siapa pun akan merasa merinding jika mendengar hal seperti itu, apalagi dari sosok mistis yang mengaku sebagai roh gunung.

“Sekarang,” kata pria tua itu sambil menatap Jaka dari ujung kepala sampai ujung kaki, “setelah kamu melewati lika-liku kehidupan yang rumit, aku rasa kamu sudah siap menerimanya.”

“Menerima apa?”

Jaka memiringkan kepalanya dengan ragu.

Di satu sisi, ia ingin segera pergi dari tempat ini. Ia tidak suka situasi yang tidak berada dalam kendalinya. Namun di sisi lain, firasat aneh yang membawanya naik gunung sejak awal kembali berdenyut di dalam dadanya.

Seperti ada sesuatu yang menunggu.

Sesuatu yang akan mengubah hidupnya.

Pria tua itu tersenyum misterius.

Senyum itu tidak lagi terlihat menjengkelkan seperti sebelumnya. Untuk sesaat, wajah keriputnya memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan, seolah ia bukan hanya roh penjaga gunung, melainkan saksi dari sesuatu yang telah berlangsung sangat lama.

“Pejamkan matamu!”

Bersambung...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Gembhel Farm 3
terlalu bertele tele,udah bosen duluan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Petani Terkuat   142 Penyergapan dan Kesalahpahaman

    Kaki Jaka mendarat sempurna di atas karpet tebal kamar hotel tanpa menimbulkan getaran keras."Angkat tangan!"Sebuah gertakan berhawa dingin memotong udara kamar secara mendadak. Belum sempat Jaka berdiri tegak, sebuah logam bundar bermulut hitam sudah berada tepat satu inci di depan keningnya."Eh?"Jaka tertegun di tempat. Tubuhnya membeku secara instan saat merasakan sensasi dingin baja yang menodong dahinya.Tanpa membuat gerakan mengejutkan, Jaka perlahan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan bahu. Pandangannya bergulir dari moncong pistol menuju sosok pemegang senjata tersebut.Seorang wanita berdiri tegap dalam kuda-kuda menembak yang sangat presisi. Rambut hitamnya yang panjang terikat rapi ke belakang, menonjolkan garis wajah yang sangat cantik namun terbalut oleh tatapan mata yang pekat akan amarah."Kejahatanmu berakhir di sini, dasar pria mesum!" bentak wanita itu dengan nada menusuk.Jemarinya melingkar ketat di gagang senjata, sementara telunjuknya mulai memberikan

  • Petani Terkuat   141 Kecurigaan

    Rapat koordinasi antar divisi di lantai teratas gedung perkantoran itu baru saja berakhir. Pintu kayu mahoni yang kokoh berdesir pelan saat tertutup rapat, menyisakan ruang kerja Andini yang luas dan dingin.Jaka melangkah santai melintasi karpet tebal. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa kulit berwarna hitam yang terpajang di sudut ruangan.Belum sempat Jaka meluruskan kedua kakinya, sebuah kehangatan mendadak hinggap di atas pangkuannya. Aroma harum bunga melati langsung menyapu indra penciumannya.Andini melingkarkan kedua tangan halusnya di leher Jaka tanpa ragu. Gaun kemeja putih yang dikenakannya sedikit terangkat, memperlihatkan paha mulus yang bersentuhan langsung dengan celana kain Jaka."Bagaimana menurutmu? Mereka luar biasa, kan?" bisik Andini dengan nada manja.Wajah gadis itu berjarak hanya beberapa senti dari telinga Jaka. Hembusan napas hangatnya membuat tengkuk Jaka merinding.Jaka mengangguk setuju. Tangan kanannya terangkat spontan, mengusap punggung mulus Andini yang

  • Petani Terkuat   140 Tekad dan Bayangan Hitam

    "Sekian laporan dari kami."Acara berita baru saja berakhir namun suasana berat masih memenuhi ruang tamu sederhana rumah Jaka.Layar televisi tabung di sudut ruangan beralih menampilkan siaran iklan komersial.Cahaya kebiruan dari layar memantul pada dinding rumah yang bercat putih kusam."Belakangan ini semakin marak terjadi pelecehan, benar-benar membuatku muak."Bejo mengepalkan tangan hingga bergetar hebat.Urat-urat hijau di punggung tangannya mencuat tegang saat ia menghantamkan tinjunya ke bantalan kursi busa.Giginya bergemeletuk menahan gelombang amarah yang mendidih di dalam rongga dadanya."Pelaku bajingan itu benar-benar tidak punya nurani," sembur Bejo dengan napas memburu."Kalau sampai kutemukan orangnya di jalanan, akan kuhajar wajahnya sampai hancur!""Kecilkan suaramu, Sayang, kau bisa merusak kursi itu," tegur Susi seraya melirik lorong rumah."Setelah melihat berita ini, aku jadi khawatir kepada Dina."Susi bergumam penuh kekhawatiran sambil meremas ujung taplak m

  • Petani Terkuat   139 Pemangsa Jiwa

    Darius Albert duduk di atas ranjang besar yang diterangi cahaya merah muda temaram.Ia sepenuhnya telanjang, hanya tertutup oleh selimut tebal yang memiliki beberapa noda darah.Urat-urat di tubuhnya berdenyut pelan, menyesuaikan diri dengan aliran darah yang baru ia kuasai.Di lantai sekeliling tempat tidur, tiga wanita telanjang total berbaring lemah tidak berdaya.Mulut mereka ditutup lakban, tubuh mereka dipenuhi luka lebam yang tidak manusiawi.Kulit mereka tampak pucat pasi, terkuras habis oleh ritual mengerikan yang baru saja usai."Ku ku ku."Tawa jahat Darius Albert menggema di ruangan itu.Suaranya terdengar serak dan berat, memantul pada dinding kaca kamar yang tertutup gorden tebal.Ia menggerakkan jemarinya, menikmati lonjakan hawa murni yang mengalir deras di jalur meridian tubuhnya."Tubuh ini lumayan bagus. Energi Yin dari tiga wanita sudah cukup membantuku menerobos tingkat dua fase permulaan."Wush!Kobaran api berwarna putih pucat muncul di telapak tangan Darius Alb

  • Petani Terkuat   138 Hasil Penelitian

    Jeritan panik bernada malu dari Hina Yulia seketika memecah atmosfer panas yang nyaris mengaburkan akal sehat Jaka.Pria itu lekas menegakkan postur tubuh dan menarik kedua lengannya, berinisiatif melepaskan diri dari kepungan lembut ketiga wanita meski batinnya harus melawan kenikmatan sesaat."Dasar kalian bertiga ini. Tanpa perlu melancarkan aksi penyerbuan manja seperti tadi pun, aku pasti akan membagikan cairan berharga ini kepada kalian semua.""Sungguh? Kamu memang majikan terbaik dan paling kami kagumi di seluruh dunia!"Jeanne memekik girang dengan sepasang mata berbinar penuh luapan antusiasme. Saking gembiranya, wanita berambut pirang itu secara spontan menarik kepala Jaka lalu membenamkannya ke dalam belahan dadanya yang empuk."Ahn!"Anehnya, justru Jeanne sendiri yang mendadak mendesah malu dengan nada manja karena sensasi sentuhan tak terduga pada area sensitif tubuhnya.Jaka menelan ludah hingga tenggorokannya terasa begitu kering. Posisi wajahnya terjepit nyaman di an

  • Petani Terkuat   137 Rayuan Tiga Wanita

    "He he he, sepertinya hubungan Tuan Jaka dan Nona Andini semakin hari semakin dekat."Jeanne menyandarkan pinggul rampingnya ke tepi meja kerja kayu jati. Beberapa helai rambut pirang-emas miliknya menempel basah di pelipis akibat sisa panen yang menguras tenaga, namun kilatan jahil di wajah cantiknya sama sekali tidak memudar."Ayo lekas ceritakan kepada kami, Tuan Jaka. Seperti apa desahan manis Nona Andini saat kalian berdua berhubungan intim?"Rosa mencondongkan tubuhnya ke depan dengan sepasang mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Di samping kirinya, Selia menganggukkan kepala berkali-kali dengan antusias, memberikan dukungan tanpa syarat terhadap pertanyaan tanpa filter dari rekannya itu. Di sudut ruangan yang lebih tenang, Hina Yulia melirik ke arah mereka sekilas. Semburat rona merah jambu perlahan merambat naik hingga ke ujung telinganya yang mungil."Ehem!"Jaka berdeham berat seraya membetulkan kerah kemejanya. Nada bicaranya sengaja dibuat dalam dan berwibawa demi m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status