Mag-log inJaka menarik napas dalam-dalam.
Udara dingin di puncak Gunung Sumbing menusuk paru-parunya, membawa aroma tanah basah, rerumputan liar, dan kabut tipis yang masih menggantung di antara bebatuan. Angin malam berembus perlahan, menggoyangkan ujung tenda di belakangnya hingga kainnya berdesir pelan. Di hadapannya, pria tua itu masih berdiri dengan santai. Wajahnya keriput, pakaiannya sederhana, dan tubuhnya terlihat seperti orang tua biasa yang bisa tumbang hanya karena dorongan kecil. Namun, Jaka tidak bodoh. Sejak pertama kali melihatnya, ia sudah tahu bahwa pria tua ini bukan keberadaan biasa. Ada sesuatu yang aneh darinya. Bukan hanya karena kemunculannya yang tiba-tiba di puncak gunung, bukan pula karena senyumnya yang terlalu tenang, tetapi karena keberadaannya sendiri terasa menyatu dengan seluruh tempat ini. Seolah-olah gunung, angin, kabut, batu, pepohonan, bahkan tanah yang ia pijak, semuanya berada di bawah kendali pria tua itu. Jaka menenangkan diri sambil terus mengawasi setiap gerak-gerik pria tua itu. Telapak tangannya perlahan mengepal, bukan karena ingin menyerang, melainkan karena instingnya berteriak agar ia tetap waspada. “Kamu penunggu gunung dan yang memanggilku ke sini?” tanya Jaka dengan suara rendah. Tatapannya menajam. “Untuk apa? Aku tidak punya waktu berurusan dengan masalah mistis seperti dirimu.” Pria tua itu terdiam sejenak. Lalu, tawa ringannya pecah di antara hembusan angin malam. “Ha ha ha, dasar tidak sabaran. Apa semua anak muda seperti dirimu?” Jaka mengangkat bahu, berusaha terlihat acuh meskipun pikirannya masih penuh tanda tanya. “Aku tidak tahu bagaimana anak muda yang lain,” jawabnya. “Tapi setelah aku melalui semua itu, aku jadi seperti ini.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada beban yang tersembunyi di baliknya. Dalam benaknya, Jaka kembali melihat potongan-potongan kehidupan yang baru saja ia lewati. Kehilangan pekerjaan. Pulang dengan tangan kosong. Melihat wajah ayahnya yang tetap berusaha tegar meski usia dan lelah semakin jelas di matanya. Sawah yang menunggu digarap. Hari-hari panjang di bawah terik matahari. Rasa malu, kecewa, marah, dan pasrah yang bercampur menjadi satu. Ia bukan lagi anak muda yang bisa tertawa ringan menghadapi hidup. Setelah jatuh cukup keras, Jaka belajar bahwa dunia tidak peduli pada keluhan siapa pun. Karena itu, ia tidak suka basa-basi. Pria tua itu menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum lucu, seolah reaksi Jaka justru menghiburnya. Alis Jaka langsung berkedut. Jujur saja, ia tersinggung dengan reaksi pria tua ini. Di saat dirinya sedang serius, pria tua itu malah terlihat seperti sedang menonton pertunjukan yang menyenangkan. Tanpa peduli dia siapa, Jaka ingin sekali menghajarnya. Paling tidak satu pukulan. Cukup untuk menghapus senyum menjengkelkan itu dari wajahnya. Namun sebelum niat itu bergerak lebih jauh, pria tua itu tiba-tiba tertawa lebih keras. “Ha ha ha! Dasar kurang ajar. Jika kamu benar-benar berani menghajarku, keluargamu akan kehilangan mata pencaharian.” Tubuh Jaka menegang. Udara yang sejak tadi dingin mendadak terasa lebih berat. Matanya menyipit, dan seluruh kewaspadaannya naik beberapa tingkat. Ia tidak menunjukkan rasa takut, tetapi ekspresi wajahnya berubah serius. “Kamu bisa membaca pikiranku?” “Tentu saja,” jawab pria tua itu ringan, seolah hal tersebut bukan sesuatu yang luar biasa. “Lagi pula, aku adalah roh gunung ini.” Jaka terdiam. Kata-kata itu tidak terdengar seperti kebohongan. Justru karena itulah punggungnya terasa sedikit dingin. Roh gunung. Jika sebelumnya ia hanya menganggap hal ini sebagai pengalaman aneh, sekarang ia mulai sadar bahwa dirinya benar-benar telah terseret ke dalam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Pria tua itu melangkah pelan di atas batu. Anehnya, langkahnya tidak menimbulkan suara sama sekali. Bahkan debu dan embun di permukaan batu tidak terganggu oleh pijakannya. “Aku sudah mengawasimu sejak bayi,” lanjut pria tua itu. Jaka menatapnya tajam. Kalimat itu membuat dadanya terasa tidak nyaman. Diawasi sejak bayi? Siapa pun akan merasa merinding jika mendengar hal seperti itu, apalagi dari sosok mistis yang mengaku sebagai roh gunung. “Sekarang,” kata pria tua itu sambil menatap Jaka dari ujung kepala sampai ujung kaki, “setelah kamu melewati lika-liku kehidupan yang rumit, aku rasa kamu sudah siap menerimanya.” “Menerima apa?” Jaka memiringkan kepalanya dengan ragu. Di satu sisi, ia ingin segera pergi dari tempat ini. Ia tidak suka situasi yang tidak berada dalam kendalinya. Namun di sisi lain, firasat aneh yang membawanya naik gunung sejak awal kembali berdenyut di dalam dadanya. Seperti ada sesuatu yang menunggu. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya. Pria tua itu tersenyum misterius. Senyum itu tidak lagi terlihat menjengkelkan seperti sebelumnya. Untuk sesaat, wajah keriputnya memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan, seolah ia bukan hanya roh penjaga gunung, melainkan saksi dari sesuatu yang telah berlangsung sangat lama. “Pejamkan matamu!” Bersambung...Dua rudal supersonik meluncur membelah udara dengan raungan memekakkan telinga, sementara delapan peluru meriam baja peledak menyusul melesat dari moncong tank. Seluruh lintasan maut itu terkunci rapat tanpa celah bagi Jaka.Di atas panggung pengawas, Shizu mencengkeram pagar besi hingga buku jarinya memutih, menatap ngeri ke arah lapangan. Namun, di tengah kepungan maut itu, Jaka sama sekali tidak panik.Jaka menggeser kaki kanannya setengah langkah ke belakang, memusatkan sedikit Qi murni ke telapak tangan. Begitu proyektil maut itu berjarak kurang dari satu meter di depan wajahnya, Jaka mengibaskan tangannya secara melingkar!WUSSHH!Gelombang kejut transparan meletup bagai dinding tak kasat mata. Kibasan tangan Jaka membelokkan arah lintasan rudal dan peluru meriam tersebut, memaksa proyektil-proyektil itu saling bertabrakan di udara tepat di atas kepalanya.DHUARRR!Ledakan dahsyat mengguncang pulau. Bola api raksasa membubung tinggi ke langit, disusul gelombang panas yang menghe
Kapal militer itu melaju membelah ombak laut lepas sebelum akhirnya berlabuh di sebuah pulau. Sekilas memang tidak ada apa pun di sana, hanya bukit karang sunyi yang ditumbuhi rimbunnya pepohonan liar. Namun, jika dilihat lebih dekat, ada banyak peralatan militer paling canggih yang sengaja dikamufasekan di balik tebing terjal.Jaka berdiri santai di tepi geladak sambil menyandarkan kedua tangannya pada pagar besi. Angin laut bertiup kencang, memainkan rambutnya dan membawa aroma asin yang pekat."Ternyata ada tempat seperti ini." Jaka bergumam pelan sambil mengamati pulau itu lekat-lekat.Shizu yang berdiri tepat di samping Jaka melipat tangan di depan dada. "Sebenarnya ada lebih banyak pulau seperti ini, hanya saja sangat sedikit pihak yang dapat mengakses informasinya," tutur Shizu menjelaskan.Jaka menoleh sedikit, menatap senyum tipis di wajah kekasihnya. "Itu berarti, kita termasuk sedikit pihak itu?"Shizu mengangguk lembut. "Polisi khusus dan militer memiliki hubungan dekat ka
Di hari Senin yang damai dan cerah, sinar matahari pagi menyinari teras rumah Jaka. Udara terasa segar, membawa aroma dedaunan yang basah oleh embun pagi. Suasana tenang itu mendadak terganggu ketika ponsel di saku celana Jaka bergetar kencang, menyuarakan nada panggilan yang nyaring. Jaka merogoh sakunya, mendapati nama Eldric tertera jelas di layar sentuh. Tanpa membuang waktu, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya."Jaka, masih ingat tentang pemilihan pemimpin tertinggi polisi khusus?" suara Eldric langsung menyapa dari seberang telepon."Tentu saja, mana mungkin aku melupakannya," jawab Jaka santai sambil menyandarkan bahunya ke tiang beton, matanya menatap halaman depan.Eldric menghela napas panjang sebelum melanjutkan. Suaranya yang semula tegas kini terdengar diselimuti rasa cemas. "Sebenarnya ada sedikit masalah yang terjadi di internal kepolisian khusus. Kamu tidak bisa langsung masuk ke tahap akhir. Kamu harus lolos tes kualifikasi terlebih dahulu
"Mau dilanjutkan?" tanya Jaka dengan suara pelan yang mengalun rendah di dalam ruang pertemuan.Suasana seketika terasa sangat berat. Udara di sekeliling terasa membeku, seolah-olah tekanan tak terlihat sedang menindih dada siapa pun yang ada di sana. Gideon, yang berdiri paling depan, hanya bisa menggelengkan kepala dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya kaku, sama sekali tidak berani menatap mata Jaka.Di belakangnya, Tom dan Hendric bahkan berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk. Keduanya tertunduk lesu, berlutut dengan lutut sambil gemetaran di atas lantai dingin. Keringat dingin membasahi pakaian mereka. Mereka tahu betul, satu langkah salah saja, nyawa mereka bisa melayang saat itu juga.Jaka mendengus dingin. Tatapannya penuh penghinaan saat melihat ketiga orang asing di depannya. Dengan nada acuh tak acuh, ia melambaikan tangan dengan malas. "Pergi! Jangan pernah menunjukkan wajah kalian di hadapanku lagi!""Baik! Kami tidak akan pernah datang ke negara ini lagi!" jawab Gideon
Gideon melangkah masuk dengan santai, mengibaskan jubah panjangnya yang berwarna abu-abu. Namun, begitu pandangannya jatuh ke arah Andini dan Dinda, langkah kaki pria tua itu langsung terhenti seketika. Tatapan matanya terpaku, memancarkan binar ketertarikan dan keserakahan yang tidak berusaha dia sembunyikan saat memandangi paras cantik kedua wanita di depannya.Melihat sorot mata mesum dari pria tua itu, Andini tidak tinggal diam. Dia segera berdiri dari kursinya, lalu berjalan mundur dengan tenang menuju sisi kanan Jaka. Dinda ikut bergeser rapat di samping mereka, mempercayakan seluruh situasi kepada pemuda yang berdiri tegap di dekat mereka.Jaka menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri. Tanpa tergesa-gesa, dia melangkah maju satu tapak, menempatkan tubuhnya sebagai benteng kokoh di depan Andini dan Dinda. Tatapan matanya yang semula terlihat biasa mendadak memancarkan kedalaman yang tak terduga, seolah menyimpan kekuatan raksasa yang siap meledak sewaktu-waktu."Namaku
Suasana di dalam ruangan rapat ber-AC itu terasa sangat dingin dan kaku. Di satu sisi meja kayu, Jaka, Andini, dan Dinda duduk berdampingan. Di seberang mereka, Tom dan Hendric menatap dengan percaya diri.Tom, pria berambut pirang dengan setelan jas rapi, menyunggingkan senyum tipis. "Nona Andini bahkan lebih cantik saat dilihat dari dekat," katanya, tersenyum tipis penuh pesona.Andini bergeming di kursinya, bahkan tidak tergerak sedikit pun oleh pujian yang terdengar tulus itu. Dia menatap Tom dingin. "Tidak perlu basa-basi, langsung saja katakan maksud kalian."Tom terkekeh. "Kalau Nona Andini bilang begitu, kami tidak membuang waktu. Langsung saja, kami menginginkan seribu botol cairan spiritual dari kalian."Andini tertegun sekilas. Padahal dirinya sudah menyiapkan diri, tetapi masih kaget mendengar permintaan tidak masuk akal dari pria asing di depannya."Seribu terlalu banyak," sela Hendric, "Seratus botol saja," lanjutnya santai.Tom mengangguk setuju. "Masuk akal. Kalau begi







