LOGINRasa berat di bahunya perlahan memudar.
Kemarahan, kekecewaan, dan rasa putus asa yang selama ini ia pendam tidak langsung hilang, tetapi seperti diberi ruang untuk bernapas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jaka merasa dadanya tidak sesak. Energi itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir ke pembuluh darah, menyusup ke tulang, lalu berkumpul di bagian bawah perutnya. Setiap aliran terasa lembut, tetapi efeknya sangat kuat. Otot-ototnya berdenyut. Tulang-tulangnya terasa seperti direndam dalam cahaya hangat. Bahkan luka-luka kecil yang ia dapatkan selama bertani perlahan terasa gatal, lalu menghilang. Pria tua itu mengamati Jaka selama beberapa detik tanpa berkedip. Di matanya, tubuh Jaka yang duduk bersila seperti sedang diselimuti lapisan embun bercahaya. Tipis, tetapi murni. Senyum puas muncul di wajahnya. “Sepertinya pilihanku tidak salah,” gumamnya pelan. Angin bertiup. Kabut lewat di antara bebatuan. Pada detik berikutnya, sosok pria tua itu menghilang dari puncak Gunung Sumbing, seolah sejak awal ia memang hanya bagian dari kabut malam. Waktu berlalu tanpa terasa. Malam perlahan mundur. Langit timur berubah dari hitam pekat menjadi biru tua, lalu dihiasi garis oranye tipis yang makin lama makin terang. Burung-burung gunung mulai terdengar dari kejauhan, menyambut pagi dengan suara yang jernih. Embun menempel di rerumputan, memantulkan cahaya matahari pertama seperti butiran kaca kecil. Jaka akhirnya membuka mata setelah merasakan kehangatan menyentuh wajahnya. Untuk sesaat, ia hanya duduk diam. Dunia di hadapannya terlihat berbeda. Bukan karena bentuknya berubah, tetapi karena indranya menjadi jauh lebih tajam. Ia bisa melihat garis kabut yang bergerak di antara lereng. Bisa mendengar suara air mengalir dari tempat yang cukup jauh. Bisa mencium aroma tanah, daun basah, batu dingin, dan bunga liar yang sebelumnya tidak pernah ia perhatikan. Namun sebelum sempat mengagumi pemandangan itu lebih lama, hidungnya tiba-tiba menangkap bau busuk yang sangat menyengat. Wajah Jaka langsung berubah. “Astaga…” Ia menunduk, lalu melihat tubuhnya sendiri. Cairan hitam lengket yang sudah mulai mengering menempel di beberapa bagian tubuhnya. Baunya sangat tajam, seperti lumpur busuk yang bercampur keringat lama dan sesuatu yang sulit dijelaskan. Rasanya menjijikkan. Kulitnya terasa tidak nyaman, seolah seluruh kotoran dari dalam tubuhnya telah dipaksa keluar melalui pori-pori. Jaka meringis. Kalau bukan karena ia baru saja mengalami sesuatu yang tidak masuk akal, ia pasti sudah panik melihat kondisi tubuhnya. Namun ingatan tambahan di kepalanya segera memberi penjelasan. Ini adalah proses pembersihan tubuh. Kotoran yang menumpuk di dalam tubuh manusia biasa dikeluarkan setelah energi spiritual pertama kali mengalir. Semakin banyak kotoran yang keluar, semakin besar perubahan fisik yang terjadi. “Jadi begini rasanya…” gumam Jaka sambil berdiri. Begitu ia bergerak, ia langsung menyadari perbedaan lain. Tubuhnya ringan. Sangat ringan. Batu di bawah kakinya terasa lebih kokoh, napasnya lebih panjang, dan otot-ototnya seperti menyimpan tenaga yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Ia hanya melompat biasa, tetapi jarak yang ditempuh terasa lebih jauh dari biasanya. Jaka sempat terdiam. Lalu matanya berbinar samar. Namun bau busuk dari tubuhnya segera menariknya kembali pada kenyataan. Tanpa membuang waktu, Jaka mencari mata air yang paling jarang digunakan para pendaki. Ia bergerak menyusuri jalur kecil di antara semak dan bebatuan, mengikuti suara gemericik air yang kini terdengar jelas di telinganya. Tidak lama kemudian, ia menemukan aliran kecil yang jernih. Airnya mengalir dari sela batu, dingin, bersih, dan berkilau terkena cahaya pagi. Jaka tidak langsung masuk ke sumber air. Ia masih memiliki cukup akal sehat untuk tidak merusak tempat itu. Karena itu, ia menampung air secukupnya, lalu membersihkan tubuhnya di bagian yang agak jauh dari aliran utama agar tidak mencemari mata air tersebut. Air dingin menyentuh kulitnya. Rasa segar langsung menjalar ke seluruh tubuh. Jaka menggosok cairan hitam yang menempel di kulitnya sampai benar-benar hilang. Butuh beberapa waktu sebelum bau busuk itu lenyap sepenuhnya. Setelah memastikan tubuhnya bersih, ia mencuci pakaian lamanya sebaik mungkin, memerasnya, lalu menyimpannya di tempat terpisah. Ia mengambil pakaian baru dari barang bawaannya dan mengenakannya dengan perasaan jauh lebih nyaman. Saat kembali ke dekat tendanya, matahari sudah naik cukup tinggi. Cahaya pagi menyapu lereng gunung, membuat hamparan hijau di bawah sana terlihat seperti lautan yang diam. Awan tipis bergerak pelan di kejauhan. Angin membawa aroma segar dedaunan dan tanah basah. Bersambung...Keempat tamu wanita itu kini menempati satu-satunya sofa panjang di ruangan yang pelapis plastiknya sudah memudar dan retak-retak. Ruang tamu Jaka yang pada dasarnya memang sempit seketika terasa kian menyusut. Ketiga pengawal taktis Andini duduk dengan postur tempur yang sempurna: punggung lurus menantang gravitasi, lutut berdempet rapat, dan pergerakan mata yang tidak henti mengawasi setiap sudut ruang tamu."Di mana Paman dan Bibi?" tanya Andini, suaranya terdengar sumbang memecah kesunyian yang menebal bagai kabut di antara mereka.Jaka menarik sebuah kursi kayu tua dari sudut ruangan, menyeretnya hingga berbunyi nyaring, lalu menempatkan dirinya berhadapan langsung dengan formasi mematikan tersebut. "Mereka masih bekerja di ladang, mungkin belum akan kembali sampai petang nanti," balasnya tenang, menyilangkan lengannya santai di depan dada.Andini mengangguk mengerti, perlahan merapikan letak tas mahal di pangkuannya untuk mengusir kegugupan.Namun, sebelum ada obrolan tambahan y
Jaka menempelkan bodi logam dingin ponsel itu ke sisi telinganya. Kualitas audionya begitu jernih, mengalirkan suara dengung sambungan dari seberang nyaris tanpa intervensi statis sama sekali. Jaringan komunikasi tingkat tinggi ini memang terasa berbeda."Halo?" Suara Andini menyapa tiba-tiba dari speaker gawai, frekuensinya terdengar tajam dan memburu, menembus gendang telinga Jaka dengan jelas."Ah, ini aku," balas Jaka, menyandarkan sebelah bahunya pada pilar kayu ruang tengah yang permukaannya kasar. "Sebelumnya, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak karena sudah membelikan aku dan adikku ponsel baru. Gadis itu sepertinya tidak mau melepaskannya sedetik pun dari pelukannya."Terdengar suara deru angin dari celah jendela mobil yang terbuka sedikit, serta gesekan keras ban dari aspal latar belakang audio Andini. "Kamu ada di rumah?" potong wanita itu cepat, nadanya mengabaikan sama sekali apresiasi tulus yang baru saja dilontarkan Jaka.Jaka segera menegakkan punggungnya, mendet
"Paket!""Tunggu sebentar!"Seruan berat dari halaman depan itu sukses memecah keheningan siang yang merayap lambat di desa. Jaka meletakkan cangkulnya di sudut teras, mengusap peluh yang menetes di pelipisnya dengan punggung tangan kotornya, lalu melangkah lebar memutar kenop pintu kayu rumahnya.Engsel karatan itu berderit pelan, menyambut embusan angin kering yang membawa aroma debu jalanan. Di ambang batas pintu, seorang pria berseragam serbahitam dengan rajutan benang emas di kerahnya berdiri tegap. Pria itu menjaga keseimbangan sebuah kardus pekat berukuran lumayan besar di lekuk lengannya, menatap Jaka dengan presisi seorang profesional terlatih."Tolong tanda tangan di sini, Pak," ujar kurir tersebut, suaranya datar namun sangat sopan, sembari menyodorkan layar gawai pemindai yang menyala redup di bawah terik matahari siang."Ah, oke."Ujung jari kapalan Jaka menggoreskan tanda tangan cepat di atas permukaan kaca gawai tersebut. Selesai memverifikasi identitas, kurir itu memin
Pintu baja tebal di ujung koridor zona keamanan tingkat tinggi terbuka setelah pemindai retina mengenali struktur mata Andini. Ruangan di baliknya memiliki atmosfer yang berbanding terbalik dari laboratorium steril sebelumnya. Tempat ini menguapkan aroma mesiu samar, pelumas senjata, dan residu keringat yang menempel di matras karet. Di dalamnya, tiga wanita yang menjadi garda terdepan pelindungnya sedang membunuh kebosanan dengan cara masing-masing.Ketiganya bukan sekadar pengawal biasa. Mereka adalah unit khusus, aset mematikan yang disiapkan secara rahasia oleh ayahnya. Tidak hanya unggul dalam pertempuran fisik berdarah dingin, ketiga wanita ini dipilih karena kepekaan indera mereka yang terkalibrasi khusus untuk berinteraksi dengan anomali dari dunia spiritual.Di sudut ruangan, Jeanne duduk dengan tulang punggung tegak lurus. Rambut pirangnya diikat tinggi, rapi tanpa helaian yang mengganggu wajahnya. Jemarinya yang panjang dan lentur sedang merakit ulang komponen pistol semi-o
Lorong laboratorium bawah tanah itu memancarkan aura dingin yang mengintimidasi, didominasi oleh panel dinding berwarna putih steril dan cahaya lampu neon yang memendar menyilaukan.Suara langkah sepatu Andini bergema beraturan, memantul keras dari permukaan logam kedap suara. Begitu pintu geser otomatis terbuka dengan desis pelan, aroma tajam campuran cairan antiseptik, alkohol, dan ozon langsung menyengat rongga hidungnya.Seorang pria berjas putih dengan kantung mata menghitam tebal sudah mondar-mandir di tengah ruangan. Di atas meja kerjanya yang memanjang, berbagai tabung reaksi, cawan petri, dan layar monitor yang menampilkan grafik fluktuatif berserakan tak beraturan. Pria itu menoleh dengan gerakan kaku, nyaris menjatuhkan pena elektroniknya saat melihat Andini melangkah masuk menembus garis batas steril."Nona, Anda harus melihat ini dengan mata kepala Anda sendiri," ucapnya tanpa repot-repot memberikan salam formal. Ujung jari telunjuknya bergetar hebat saat mengarah ke laya
Dering tajam membelah keheningan kamar utama yang masih terbungkus remang fajar. Di atas ranjang berukuran ekstra besar, sebuah siluet ramping bergerak pelan di balik selimut tebal. Tangan Andini meraba permukaan nakas, menelusuri kayu dingin untuk mencari sumber suara yang mengusik lelapnya. Permukaan kaca ponsel menyentuh telapak tangannya. Matanya masih setengah terpejam, menolak datangnya pagi, saat ibu jarinya secara refleks menggeser ikon hijau di layar yang menyala terang."Di sini Andini," suaranya serak, seperti bisikan yang digerus sisa-sisa kantuk."Nona Andini? Sekarang Anda ada di mana?!"Suara serak dari seberang panggilan meluncur tergesa-gesa. Ada derau statis tipis yang menyertai, diiringi pantulan suara khas dari sebuah ruangan tertutup.Kening Andini berkerut tipis, membentuk lipatan samar di antara kedua alisnya. "Tentu saja di rumah. Memangnya kenapa?""Ini soal cairan yang Nona berikan kepadaku semalam. Aku sudah selesai mengujinya!"Kalimat tunggal itu bekerja l







