MasukBisik-bisik kasak-kusuk langsung menjalar cepat di antara kerumunan bagai api menyambar rumput kering. Kata-kata Darius yang aneh memicu kebingungan massal di sekeliling ruangan aula. Orang-orang saling bertukar pandang dengan dahi berkerut, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar."Ahli spiritual? Profesi macam apa itu?""Entahlah, ini pertama kali aku mendengarnya.""Mungkin semacam kultivator seperti dalam novel?""Ha ha ha, ayolah, kita hidup di dunia nyata, mana ada hal begituan.""He he, aku hanya bercanda, jangan dianggap serius."Di saat sebagian besar orang berbisik satu sama lain sambil tertawa meragukan, ada sebagian kecil orang yang justru memasang ekspresi sangat serius. Sorot mata mereka mengeras kaku, memancarkan ketegangan mendalam yang sangat kontras dari orang-orang awam.Mereka merupakan para elit yang mengetahui keberadaan asli ahli spiritual dari balik layar. Mereka paham betapa berbahayanya sosok ber aura monster seperti itu jika terusik. Tentu saja mer
Gema riuh suara di dalam aula perlahan menyusut saat sesosok pria berambut pirang mencegat langkah seorang gadis. Cahaya lampu gantung memantul di bahunya yang bidang, menyoroti mantel mahal yang membungkus tubuh kekarnya."Enyah dari hadapanku," ketus Andini dingin.Sepasang matanya menatap lurus tanpa minat sedikit pun, seolah pria di hadapannya hanyalah sebongkah batu di pinggir jalan.Pria itu memiringkan kepala, menyunggingkan sudut bibirnya dengan penuh percaya diri. Kulit cokelatnya membingkai ekspresi penuh superioritas yang biasa dimiliki orang-orang berkuasa."Jangan gitu, bagaimana kalau kenalan dulu? Namaku Darius Albert, keluargaku cukup kaya dan berkuasa di sekitar sini."Andini memutar pandangan, melipat kedua tangan di dada."Lantas kenapa? Aku tidak peduli," sahut Andini acuh tak acuh.Langkah sepatu kulit Darius terdengar menghentak pelan saat ia mengikis jarak. Tatapannya merendahkan, meneliti sosok Andini dari atas hingga bawah."Dingin sekali, tapi aku suka wanita
Hina Yulia mendadak menutup mulutnya sendiri rapat-rapat menggunakan kedua belah tangan. Wajahnya tersipu merah padam karena rasa malu yang membakar pipi. Gadis itu berusaha setengah mati untuk tetap tenang, berdiri mematung di tengah perhatian orang-orang hingga tatapan serempak dari para tamu yang ada di sana perlahan-lahan beralih darinya."Tidak mungkin, apa kamu benar-benar Jaka?" ucap seorang pria tampan yang datang melangkah bersama Hina Yulia. Nada suaranya diwarnai ketidakpercayaan yang begitu nyata saat menatap sosok pemuda di depannya.Masih ada beberapa orang yang berdiri berkumpul di sudut aula tersebut. Salah satunya adalah seorang gadis cantik berpenampilan mencolok dengan gaun merah yang memamerkan lekuk tubuhnya yang menggoda.Namanya Mila, gadis yang dulu pernah memiliki perasaan mendalam terhadap Jaka semasa mereka masih duduk di bangku sekolah.Namun mata Mila kini tidak bisa berhenti memindai penampilan Jaka dari atas sampai bawah. Pandangan matanya tertuju pada p
Suara langkah kaki berirama pelan mengiringi dua sosok yang baru saja memasuki koridor gedung. Lampu kristal memancarkan kilau keemasan, memantulkan kemewahan acara reuni malam itu.Bisikan halus dari beberapa tamu di sudut ruangan langsung terdengar saat mereka melintas."Siapa pria yang jalan di sebelah Dewi Bisnis Andini?""Entahlah, paling cuma cowok beruntung yang kebetulan bisa berkenalan dengannya.""Julukan Dewi Bisnis memang bukan main-main. Cantiknya luar biasa, tidak kalah dari Nona Karina."Langkah Andini terhenti seketika. Gesekan gaun malamnya berdesir pelan saat tumit tingginya berhenti menginjak lantai marmer. Nama terakhir yang diucapkan para tamu rupanya berhasil memicu riak di wajah cantiknya.Jaka yang berjalan tepat di sampingnya memiliki kepekaan tajam. Ia langsung menangkap perubahan mikro pada gestur kekasihnya. "Kamu ada masalah sama Karina?" tanya Jaka berbisik, matanya menatap lekat wajah Andini.Andini menoleh. Binar matanya memancarkan kilatan jahil, diir
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Gedung megah di pusat kota menjadi saksi digelarnya acara reuni alumni sekolah.Sejak larut malam hingga fajar menyingsing, Jaka mengunci diri dalam ritme latihan intensif. Ketika pendar keemasan matahari terbit menerobos dari ufuk timur, kedua matanya terbuka perlahan. Suasana di sekelilingnya mendadak terasa jauh lebih jernih.'Peringkat empat fase permulaan...'Jaka bergumam lirih, menatap telapak tangannya yang diselimuti pendar tipis energi spiritual. Desir arus hangat mengalir cepat melalui pembuluh darahnya, membawa sensasi kebugaran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia berusaha keras meredam lonjakan kegembiraan yang bergejolak hebat di dalam dadanya.Kekuatan fisik serta kapasitas energi spiritualnya meningkat drastis hingga tiga kali lipat. Tidak hanya itu, jumlah cairan spiritual yang mampu ia produksi dalam sehari kini berlipat ganda.Tawa kecil lolos dari bibirnya saat menyadari lonjakan drastis dalam tubuhnya. Setelah berha
Perubahan status menjadi pasangan kekasih dengan Andini rupanya tidak lantas mengubah pola hidup Jaka secara drastis. Ritme harinya tetap mengalir dalam pola yang hampir serupa, presisi dan disiplin seperti biasa.Satu-satunya warna baru hadir saat malam menyapa. Percakapan jarak jauh melalui sambungan telepon kerap berlangsung hingga larut, mengisi jeda singkat sebelum ia memulai rutinitas latihan malamnya.Begitu tirai kegelapan memudar di ufuk timur, Jaka telah menuntaskan rangkaian latihan harian. Tetesan cairan spiritual ia alirkan perlahan ke dalam sumur tua di sudut halaman, disusul pembagian porsi latihan berat dan sarapan bernutrisi.Mentari mulai meninggi, membawa aroma tanah basah dan kesegaran dedaunan. Dari pagi hingga petang menjelang, perhatiannya tercurah pada perkebunan melimpahkan hasil panen buah serta sayuran segar.Usai menuntaskan pekerjaan di ladang, Jaka mengumpulkan Jeanne, Rosa, dan Selia. Imbalan atas kerja keras mereka dibagikan tanpa sisa.Fluktuasi energi







