Share

Bab 5: Lari, Gardan! Lari!!

last update publish date: 2026-09-13 22:56:54

Gardan memutar gas motornya dalam. Suara raungan mesin matic tua itu memecah keheningan malam desa.

Udara dingin tak lagi ia pedulikan. Hanya ada satu hal di kepalanya, angkat kaki sejauh mungkin dari rumah kakeknya dan meninggalkan desa ini.

Namun, baru melaju beberapa puluh meter, tawa melengking seorang perempuan mendadak memantul dari rumpun bambu.

Kikikikikikik!

Jantung Gardan berdegup kencang. Dari balik kegelapan, sosok tinggi kurus berambut riap-riapan dengan telinga runcing dan jari-jari tangan panjang menyeberang kaku. Wajahnya tampak hancur, matanya membelalak merah menatap Gardan.

DEG!

"An**ng!" maki Gardan histeris, refleks membelokkan setang.

Ban motornya berdecit di tanah basah. Dari dahan beringin tua di atasnya, wujud mengerikan mendadak bergelayut terbalik. Wajah berdarah membiru itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari helmnya, disusul bau bangkai yang menyengat.

"Pergi! Ban*sat, pergi!" teriak Gardan serak.

Ia memutar gas penuh, menerobos kepungan bayangan hitam yang meraba punggungnya. Sosok-sosok itu merangkak di samping motor, tertawa dan membisikkan hal-hal tak jelas.

Sorot lampu akhirnya menangkap jembatan desa, satu-satunya akses menuju jalan raya. Gardan menghembuskan napas lega.

Ckiiiiiiittttt!

Gardan mendadak menarik tuas rem. Ban motornya terseret keras sebelum berhenti beberapa meter di mulut jembatan.

Gardan tertegun. Jembatan beton yang terlihat kokoh saat pertama ia menjejakkan kaki kembali di desa ini, kini hancur berkeping-keping di tengahnya, menyisakan jurang gelap.

"Apa-apaan ini?!" umpat Gardan, emosinya meluap. "Kenapa jembatannya rusak?! Bukankah tadi baik-baik saja?!"

Dengan napas menggebu, Gardan turun dan menstandarkan motornya asal-asalan. Ia berjalan ke ujung reruntuhan. Di bawah sana, gemuruh air sungai terdengar sangat liar.

"Ini semua nyata atau aku yang gila?!" desis Gardan frustasi, memegangi kepalanya.

JAA.. GAA! JA... GAA!

Suara serak dan berat mendadak menggema, melingkupi udara di sekitarnya.

Gardan menunduk kaku. Bau busuk pekat menyeruak dari bawah. Dari arus deras, mayat berkafan kotor basah merangkak keluar, memanjat tebing batu menghampirinya.

Gardan menelan ludah. “Ini tidak nyata... Ayolah!” serunya tertahan, mencoba menyangkal. Meski kini ia sadar, semua teror ini bukan sekadar halusinasi.

"Piye? Masih mau kabur?"

Suara perempuan terdengar santai dari belakang.

Gardan menoleh cepat, mundur beberapa senti. Ia tertegun melihat Yara berdiri tenang di belakang motornya dengan tangan terlipat di dada.

"Ya..Yara? Kamu...di sini...?" tanya Gardan terbata-bata dengan nada bingung yang tampak jelas. 

Yara mendekat lalu melirik dingin ke bawah sungai. Seketika, mayat berkafan itu terurai jadi asap hitam dan lenyap. Bau busuk berganti aroma angin malam biasa.

"Kan wis aku bilang, Dan. Kamu harus gantiin mbah," ujar Yara pelan.

Gardan terdiam. Lututnya lemas hingga ia jatuh duduk di tanah. Napasnya tersengal, kepalanya tertunduk.

Yara berjongkok di sampingnya dengan wajah serius. "Segel gerbangnya melemah, warga desa dalam bahaya, Dan. Kamu—"

"Apa urusannya denganku, Yar?!" potong Gardan cepat, menaikkan intonasi suaranya.

Yara tertegun.

Gardan menggertakkan giginya kesal, tak bisa lagi bersabar.

"Mereka jauhin mbah kita dan aku kan?" seru Gardan dengan nada getir. "Tadi di masjid, di jalanan, tatapan mereka itu penuh benci! Kalau gitu untuk apa aku peduli sama warga desa ini?!"

"Dan... Aku yo ngerti perasaanmu. Tapi gerbang—"

"Gerbang apa, hah?!" bentak Gardan, emosinya memuncak. "Aku nggak mau tahu soal—!"

"Siti, Dan! Siti hilang." Yara memotong cepat, bernada datar namun menohok.

Kata-kata itu meluncur begitu saja, membuat Gardan terbungkam seketika. Lidahnya kaku.

Siti? Batin Gardan kaget.

Seketika, bayangan gadis desa yang cantik polos dan selalu tersenyum ramah padanya melintas di pikiran Gardan.

Siti adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menatapnya ataupun Mbah Wiro dengan benci. 

Yara kembali berdiri tegak, menatap kegelapan desa. "Karena segel gerbang lemah, semua makhluk saiki bebas keluar masuk. Akibatnya... Siti, dia pasti diculik salah satu dari mereka."

Gardan memijat keningnya yang berdenyut. "Ini nggak masuk akal! Kalau emang Siti hilang, bukankah sebaiknya kita lapor polisi?"

"Jangan—!" potong Yara keras, memutar badan dengan jengkel. "Kamu ini piye toh, Dan?! Memangnya semua yang kamu alami barusan masuk akal?! Mau sampai kapan kamu nggak percaya sama aku?!"

Gardan terdiam, tak mampu menyusun balasan. Apa yang dikatakan Yara benar. Polisi tidak akan pernah percaya. Bahkan, ia sendiri saja masih sulit untuk percaya. 

Ia berpaling menatap rumit ke arah sungai, lalu mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menahan beban berat di pundaknya.

"Ah... Sial."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!   Bab 38: Pergi Untuk Kembali

    Gardan masih berdiri kaku ketika Siti memeluknya erat. Kedua tangannya yang semula menggantung perlahan bergerak, membalas pelukan perempuan itu dengan hati-hati.“Aku kira kamu nggak bakal balik lagi, Mas,” bisik Siti di dadanya.Gardan menunduk. Rambut panjang Siti menyentuh dagunya, membawa aroma yang terasa begitu akrab.“Maafin aku ya, Sit.”Siti mengangkat wajahnya, tetapi Gardan justru kesulitan mempertahankan kontak mata.“Aku tahu aku nggak seharusnya ninggalin kamu begitu aja tadi. Apalagi setelah semua yang kamu alami,” lanjutnya. “Aku cuma... nggak tahu harus gimana waktu dengar soal kehamilanmu.”Siti perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya turun ke depan perut yang kini semakin membesar. Pandangannya tertuju pada lantai kayu warung.“Aku yo ngerti, Mas. Kamu pasti kaget. Semua... pasti kaget.”Gardan berhenti sebentar, lalu memberanikan diri menatap Siti.“Tapi aku lebih takut lagi kalau kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”Mata Siti mulai berkaca-kaca. Ia

  • Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!   Bab 37: Pewaris Kerajaan Vampir

    BRUAAKKK!!!Tubuh Sang Pangeran Vampir terhempas ke tanah. Debu beterbangan ketika punggungnya menghantam permukaan arena latihan yang keras."Hahaha! Bangun, Pangeran!"Seorang remaja bertubuh kekar berdiri beberapa langkah di hadapannya, menyeringai sambil memperlihatkan kedua taringnya."Katanya keturunan raja? Masa begitu aja udah tumbang?"Tawa sejumlah peserta pelatihan lainnya terdengar dari pinggir arena.Sang Pangeran Vampir berusaha bangkit.Wajah tampannya kini dipenuhi debu, seragam latihan hitamnya tampak kusut. Kedua matanya yang semula berwarna gelap perlahan berubah merah."Aku belum kalah!"Ia menerjang lawannya dengan kecepatan luar biasa. Namun, pukulannya meleset ketika lawan tersebut dengan mudah menghindar ke samping.BRUKK!Sang Pangeran Vampir kembali tersungkur setelah kakinya disapu."Tenaganya besar, tapi otaknya nggak dipakai!" ejek lawannya."Udah lemah, bodoh lagi!" sahut peserta lain, disambut gelak tawa.Sang Pangeran Vampir menggertakkan giginya. Ia me

  • Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!   Bab 36: Belas Kasihan Sang Vampir

    "Udah, nggak usah muter-muter lagi!"Gardan mengangkat salah satu tangannya, menghentikan Sang Vampir sebelum pemuda itu sempat melanjutkan perkataannya."Sebenarnya mau kamu apa sih?!"Sang Vampir mengangkat sebelah alisnya. Ia tampak sedikit heran melihat Gardan yang mendadak kembali meninggikan suara."Maksud kamu ap...?""Nggak usah pura-pura!" potong Gardan.Ia melangkah maju, kemudian berhenti sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur setelah pertarungan sebelumnya."Kenapa kamu peduli sama apa yang bakal aku lakuin? Kenapa itu penting? Hah?!"Sang Vampir membuka mulutnya, tetapi Gardan kembali menyela."Dan... bukan cuma kamu!"Gardan menunjuk ke arah pemuda tersebut, lalu menurunkan tangannya dengan kesal."Dari awal aku datang ke sini, kalian selalu muncul di sekitar aku. Satu per satu."Ia berhenti sejenak, mencoba mengatur napas."Ada yang awalnya mau bunuh aku, ada yang bahkan nggak tahu kalau dirinya sendiri berubah jadi monster

  • Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!   Bab 35: Dilema Sang Pewaris

    Siti perlahan mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan Gardan yang masih mengepal di sisi tubuhnya. Ujung jemarinya menyentuh punggung tangan pemuda itu sebelum akhirnya menggenggamnya dengan hati-hati. "Dan..." panggil Siti lirih.Gardan menunduk, memperhatikan tangan Siti yang menggenggam tangannya. Untuk beberapa saat, ia membiarkannya. Tetapi ketika Siti mencoba mempererat genggaman tersebut, Gardan justru perlahan menarik tangannya."Maaf, Sit. Aku... mau keluar sebentar. Cari angin."Siti mendongak. "Dan, aku...""Nanti kita ngobrol lagi, ya," potong Gardan. Ia berusaha tersenyum, tetapi wajahnya justru terlihat semakin canggung. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu warung tanpa menunggu jawaban Siti.Yara yang sejak tadi memperhatikan keduanya segera bangkit dari kursinya."Dan! Gardan!"Namun, Gardan tetap berjalan hingga akhirnya menghilang di balik pintu warung.Siti menundukkan wajahnya. Air mata yang sempat mereda kembali mengalir di kedua pipinya. "Ini

  • Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!   Bab 34: Siti, Calon Ibu Genderuwo

    Siti berbaring di atas ranjang pemeriksaan dengan kedua tangan bertumpu di sisi tubuhnya. Matanya sesekali melirik layar monitor di samping Dokter Irwan yang sedang menggerakkan alat USG di atas perutnya, berusaha memahami gambar hitam putih yang terus berubah di hadapannya."Kalau dilihat dari hasil pemeriksaan USG tadi, perkembangan janin Mbak Siti memang jauh lebih cepat daripada usia kehamilannya," jelas Dokter Irwan.Dokter Irwan mengernyit saat sebuah gambaran muncul di monitor. Ia menggeser alat di tangannya sedikit ke samping, kemudian menekan beberapa tombol untuk memperjelas gambar tersebut."Beberapa bagian anatominya juga menunjukkan gambaran yang tidak biasa," lanjut Dokter Irwan."Maksudnya ora biasa gimana, Dok?" tanya Siti penasaran.Layar monitor mulai berkedip. Garis-garis putih melintas di antara bayangan janin, menghilang sesaat sebelum kembali muncul dalam jumlah yang semakin banyak."Belum bisa kami pastikan."Dokter Irwan menghentikan gerakan tangannya.Bip bip

  • Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!   Bab 33: Negosiasi Magis

    "Aku datang untuk membicarakanmu, Gardan."Gardan mengerutkan kening, sementara Yara kembali menatap perempuan asing itu dengan penuh kecurigaan.Sang Penyihir tampak tidak terganggu oleh sikap keduanya, bahkan dengan santai menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan mereka."Tentang aku?" tanya Gardan."Iya. Tentang kemampuanmu menyerap energi makhluk lain, misalnya. Atau mimpi-mimpi aneh yang belakangan sering kamu alami."Sang Penyihir melirik Sang Siluman yang masih duduk di tempatnya. "Dan mungkin kamu juga penasaran mengapa teman barumu ini selalu mengalami perubahan yang menyakitkan setiap malam."Gardan terdiam. Ia menatap Sang Penyihir beberapa saat, berusaha memahami bagaimana perempuan yang baru dua kali ditemuinya itu bisa mengetahui begitu banyak hal tentang dirinya."Kamu tahu semua itu dari mana?"Sang Penyihir tersenyum."Tunggu. Jangan-jangan selama ini kamu ngikutin aku ya?""Yah, sekarang kamu tahu."Jawaban yang begitu santai itu membuat Gardan semakin tidak nyaman.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status