LOGINSenyum Gardan masih mengembang, jemari tangannya melambai pelan di udara. Belum sempat lambaian itu berhenti, senyum ceria di wajah ketiga anak itu surut seketika. Raut mereka mendadak kaku, melotot tanpa ekspresi, lalu berbalik menembus kegelapan.
“Aneh. Kenapa mereka tiba-tiba begitu?” tanya Gardan bingung sambil menggaruk tengkuk yang mendadak meremang.
Ia berbalik melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan setapak, bulu kuduk Gardan terus berdiri.
Sesampainya di rumah, ia melangkah menuju dapur untuk minum. Namun di ruang tengah, matanya menangkap secarik kertas kusam dan kunci besi berkarat peninggalan Yara.
Gardan menghela napas panjang lalu meraih kertas itu. "Zaman udah modern tapi semua orang di sini masih percaya beginian?" gumam Gardan lirih, berusaha tak peduli meskipun kalimatnya kini diam-diam terasa bertentangan dengan hatinya.
Baru saja hendak menaruhnya kembali, telinganya menangkap suara dari luar.
Sreeekk… sreeekk… sreeekk…
Gardan mematung menelusuri suara lidi yang bergesekan dengan tanah kering itu.
"Siapa yang nyapu malam-malam begini?" bisik Gardan, kebingungan. Padahal, jalanan desa tadi sudah sepi bak kuburan.
Abaikan saja, pikirnya. Ia bergegas ke kamar, menghempaskan tubuh ke kasur sembari menunggu adzan isya.
Tak lama, gema adzan terdengar. Gardan bangkit merapikan pakaian, membentangkan sajadah hijau kusam milik kakeknya, lalu menghadap kiblat.
Ia menarik napas dalam untuk menenangkan pikiran, lalu mengangkat kedua tangan.
"Allahuakbar…"
Tepat saat bersedekap, atmosfer kamar berubah drastis.
SREEKK! SREEKKK!
Gardan tersentak. Suara sapuan lidi itu kini berpindah tepat di belakang punggungnya.
SREEKK! SREEKKK!
Disusul helaan napas berat dan serak.
"Hahh… hahh…"
Desahan itu begitu dekat hingga hembusan udara dinginnya menampar leher Gardan.
DEG!
Persis di depan sajadahnya, muncul samar bayangan dengan lengkungan tanduk di bagian kepala, semakin besar hingga hampir menutupi cahaya lampu di ruangan.
“Ya, Allah! Ya, Allah! Ya, Allah!” ucap Gardan dalam hati.
Bulu kuduknya berdiri serentak. Keningnya berkerut dan rahangnya mengatup rapat. Ia memaksakan diri tetap fokus sholat meski seluruh ototnya tegang.
Rakaat demi rakaat bergulir dalam siksaan hening. Suara gesekan dan napas berat itu terus membuntutinya. Keringat dingin menetes perlahan menelusuri pipi.
Saat tahiyat akhir selesai, dengan bibir gemetar Gardan menoleh ke kanan.
"Assalamualaikum warahmatullah…" ucapnya.
Belum sempat kepalanya kembali ke depan, bisikan basah yang amat dingin merambat tepat di telinga kirinya.
"Waalaikumsalam…"
Jantung Gardan serasa meledak. Tubuhnya kaku, menyerap bau busuk tanah basah yang menyengat. Ia memejamkan mata, memacu sisa keberaniannya.
‘Pikiranmu cuma main-main, Dan. Jangan takut,’ batinnya.
Perlahan, ia menoleh ke kiri.
"Assalamualaikum warahmatullah…"
Gardan menahan napas. Sudut kamarnya kosong. Hanya ada bayangan lemari tua di bawah remang lampu.
Napasnya terhembus lega. Ia mengutuk imajinasinya sendiri, lalu menyapu keringat di wajah dengan kedua telapak tangan.
Namun, tepat saat jemarinya menyentuh dagu—
"WAALAIKUMSALAM!!"
Lengkingan penuh kebencian meledak tepat di telinga kanannya!
"BANGSAT!"
Gardan meloncat berbalik. Napasnya memburu, kedua tangannya mengepal erat mengawasi ruangan.
“APA ITU TADI?!” ujarnya panik. Kamar tetap sepi.
Belum sempat napasnya teratur, gemercik kran air di dapur terdengar.
Kecicak... kecicak... kecicak...
Disusul benturan pelan piring porselen dalam kegelapan.
Gardan menoleh ke pintu yang terbuka sedikit. Kakinya ragu.
Yara kembali? Pikirnya, mencari alasan paling masuk akal. “Iya, pasti Yara. Siapa lagi?” ucapnya.
Dengan langkah berat, Gardan menyusuri lorong remang menuju dapur.
Di depan bak cuci piring yang gelap, sesosok pria bergeming membelakanginya, mengenakan kemeja batik kusam yang sangat dikenal.
DEG!
"Kakek?" bisik Gardan.
“Tidak mungkin!” Pekik Gardan dalam hati. Kakeknya sudah meninggal beberapa hari lalu.
Saat Gardan maju selangkah, sosok itu membeku. Kran tetap mengalir, namun leher sosok itu mendadak berputar tanpa menggerakkan bahu.
Krek... krek... krek...
Lehernya memutar 180 derajat. Wajah kakeknya yang pucat dan berdarah menyeringai lebar hingga ke batas telinga.
Gardan mundur ketakutan.
Plok!
Kepala itu terlepas begitu saja! Menghantam lantai semen dan menggelinding cepat.
Gump... gump... gump...
Kepala itu berhenti tepat di ujung kaki Gardan. Matanya yang mati menatap lurus, bibirnya yang robek bergerak menyemburkan bau busuk.
"Gardan... Gardan... Gardan..." panggilnya sengau.
Gardan jatuh terduduk menghantam meja dapur. Dengan tangan gemetar, ia memejamkan mata dan menunjuk ke depan.
"Bis... Bismillah... Bismillah..." ratap Gardan terbata.
Seketika, kepala berdarah di lantai itu membuka mulut lebar-lebar dan menirukan suaranya.
"Bis... Bismillah... Bismillah..." eja kepala itu sambil tertawa melengking, memamerkan gigi keroposnya.
Akal sehat Gardan hancur total.
Dengan sisa tenaga, ia bangkit, menendang kepala itu, lalu menyambar kunci motor di atas kulkas. Tanpa memperdulikan barang yang jatuh, ia melompati kepala di lantai dan menerobos pintu depan.
"Bangsat! Apaan itu?!" serunya histeris sambil berlari menuju motornya. "Nggak masuk akal! Nggak ada yang sehat di desa ini!"
Gardan masih berdiri kaku ketika Siti memeluknya erat. Kedua tangannya yang semula menggantung perlahan bergerak, membalas pelukan perempuan itu dengan hati-hati.“Aku kira kamu nggak bakal balik lagi, Mas,” bisik Siti di dadanya.Gardan menunduk. Rambut panjang Siti menyentuh dagunya, membawa aroma yang terasa begitu akrab.“Maafin aku ya, Sit.”Siti mengangkat wajahnya, tetapi Gardan justru kesulitan mempertahankan kontak mata.“Aku tahu aku nggak seharusnya ninggalin kamu begitu aja tadi. Apalagi setelah semua yang kamu alami,” lanjutnya. “Aku cuma... nggak tahu harus gimana waktu dengar soal kehamilanmu.”Siti perlahan melepaskan pelukannya. Kedua tangannya turun ke depan perut yang kini semakin membesar. Pandangannya tertuju pada lantai kayu warung.“Aku yo ngerti, Mas. Kamu pasti kaget. Semua... pasti kaget.”Gardan berhenti sebentar, lalu memberanikan diri menatap Siti.“Tapi aku lebih takut lagi kalau kamu harus menghadapi semuanya sendirian.”Mata Siti mulai berkaca-kaca. Ia
BRUAAKKK!!!Tubuh Sang Pangeran Vampir terhempas ke tanah. Debu beterbangan ketika punggungnya menghantam permukaan arena latihan yang keras."Hahaha! Bangun, Pangeran!"Seorang remaja bertubuh kekar berdiri beberapa langkah di hadapannya, menyeringai sambil memperlihatkan kedua taringnya."Katanya keturunan raja? Masa begitu aja udah tumbang?"Tawa sejumlah peserta pelatihan lainnya terdengar dari pinggir arena.Sang Pangeran Vampir berusaha bangkit.Wajah tampannya kini dipenuhi debu, seragam latihan hitamnya tampak kusut. Kedua matanya yang semula berwarna gelap perlahan berubah merah."Aku belum kalah!"Ia menerjang lawannya dengan kecepatan luar biasa. Namun, pukulannya meleset ketika lawan tersebut dengan mudah menghindar ke samping.BRUKK!Sang Pangeran Vampir kembali tersungkur setelah kakinya disapu."Tenaganya besar, tapi otaknya nggak dipakai!" ejek lawannya."Udah lemah, bodoh lagi!" sahut peserta lain, disambut gelak tawa.Sang Pangeran Vampir menggertakkan giginya. Ia me
"Udah, nggak usah muter-muter lagi!"Gardan mengangkat salah satu tangannya, menghentikan Sang Vampir sebelum pemuda itu sempat melanjutkan perkataannya."Sebenarnya mau kamu apa sih?!"Sang Vampir mengangkat sebelah alisnya. Ia tampak sedikit heran melihat Gardan yang mendadak kembali meninggikan suara."Maksud kamu ap...?""Nggak usah pura-pura!" potong Gardan.Ia melangkah maju, kemudian berhenti sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur setelah pertarungan sebelumnya."Kenapa kamu peduli sama apa yang bakal aku lakuin? Kenapa itu penting? Hah?!"Sang Vampir membuka mulutnya, tetapi Gardan kembali menyela."Dan... bukan cuma kamu!"Gardan menunjuk ke arah pemuda tersebut, lalu menurunkan tangannya dengan kesal."Dari awal aku datang ke sini, kalian selalu muncul di sekitar aku. Satu per satu."Ia berhenti sejenak, mencoba mengatur napas."Ada yang awalnya mau bunuh aku, ada yang bahkan nggak tahu kalau dirinya sendiri berubah jadi monster
Siti perlahan mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan Gardan yang masih mengepal di sisi tubuhnya. Ujung jemarinya menyentuh punggung tangan pemuda itu sebelum akhirnya menggenggamnya dengan hati-hati. "Dan..." panggil Siti lirih.Gardan menunduk, memperhatikan tangan Siti yang menggenggam tangannya. Untuk beberapa saat, ia membiarkannya. Tetapi ketika Siti mencoba mempererat genggaman tersebut, Gardan justru perlahan menarik tangannya."Maaf, Sit. Aku... mau keluar sebentar. Cari angin."Siti mendongak. "Dan, aku...""Nanti kita ngobrol lagi, ya," potong Gardan. Ia berusaha tersenyum, tetapi wajahnya justru terlihat semakin canggung. Ia kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu warung tanpa menunggu jawaban Siti.Yara yang sejak tadi memperhatikan keduanya segera bangkit dari kursinya."Dan! Gardan!"Namun, Gardan tetap berjalan hingga akhirnya menghilang di balik pintu warung.Siti menundukkan wajahnya. Air mata yang sempat mereda kembali mengalir di kedua pipinya. "Ini
Siti berbaring di atas ranjang pemeriksaan dengan kedua tangan bertumpu di sisi tubuhnya. Matanya sesekali melirik layar monitor di samping Dokter Irwan yang sedang menggerakkan alat USG di atas perutnya, berusaha memahami gambar hitam putih yang terus berubah di hadapannya."Kalau dilihat dari hasil pemeriksaan USG tadi, perkembangan janin Mbak Siti memang jauh lebih cepat daripada usia kehamilannya," jelas Dokter Irwan.Dokter Irwan mengernyit saat sebuah gambaran muncul di monitor. Ia menggeser alat di tangannya sedikit ke samping, kemudian menekan beberapa tombol untuk memperjelas gambar tersebut."Beberapa bagian anatominya juga menunjukkan gambaran yang tidak biasa," lanjut Dokter Irwan."Maksudnya ora biasa gimana, Dok?" tanya Siti penasaran.Layar monitor mulai berkedip. Garis-garis putih melintas di antara bayangan janin, menghilang sesaat sebelum kembali muncul dalam jumlah yang semakin banyak."Belum bisa kami pastikan."Dokter Irwan menghentikan gerakan tangannya.Bip bip
"Aku datang untuk membicarakanmu, Gardan."Gardan mengerutkan kening, sementara Yara kembali menatap perempuan asing itu dengan penuh kecurigaan.Sang Penyihir tampak tidak terganggu oleh sikap keduanya, bahkan dengan santai menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan mereka."Tentang aku?" tanya Gardan."Iya. Tentang kemampuanmu menyerap energi makhluk lain, misalnya. Atau mimpi-mimpi aneh yang belakangan sering kamu alami."Sang Penyihir melirik Sang Siluman yang masih duduk di tempatnya. "Dan mungkin kamu juga penasaran mengapa teman barumu ini selalu mengalami perubahan yang menyakitkan setiap malam."Gardan terdiam. Ia menatap Sang Penyihir beberapa saat, berusaha memahami bagaimana perempuan yang baru dua kali ditemuinya itu bisa mengetahui begitu banyak hal tentang dirinya."Kamu tahu semua itu dari mana?"Sang Penyihir tersenyum."Tunggu. Jangan-jangan selama ini kamu ngikutin aku ya?""Yah, sekarang kamu tahu."Jawaban yang begitu santai itu membuat Gardan semakin tidak nyaman.







