LOGINSetelah bertahun-tahun jauh dari kampung halamannya, Gardan terpaksa pulang setelah Mbah Wiro, kakek yang membesarkannya, meninggal dunia. Ia hanya berniat mengurus rumah peninggalan sang kakek sebelum kembali pada kehidupannya di kota. Namun, sebuah peringatan mistis dari warga terus mengusiknya. Gardan tidak pernah percaya takhayul. Setidaknya, sampai suara-suara misterius, sosok-sosok mengerikan, dan aturan-aturan aneh yang selama ini dipercaya warga perlahan terbukti nyata. Suatu surat wasiat kemudian mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan Mbah Wiro. Warung tua milik keluarganya merupakan gerbang yang memisahkan dunia manusia dari sesuatu di baliknya. Kini, segelnya mulai melemah dan Gardan harus meneruskan warisan yang tidak pernah ia minta. Ia memilih kabur, namun seseorang yang ia sayangi justru menanggung akibatnya.
View MoreIni malam ketiga tahlilan kepulangan Mbah Wiro, kakeknya.
Gardan bisa merasakan ketegangan di balik senyum basa-basi para warga. Tidak semua orang hadir dengan niat murni mendoakan almarhum sang kakek.
Seorang ibu paruh baya berkerudung lusuh menghampirinya. Tangannya gemetar memegang segelas teh tawar.
"Kamu ini cucune Mbah Wiro, kan, Le?" bisik perempuan itu dengan logat Jawa medok yang bercampur bahasa Indonesia.
"Kakekmu itu yang nulung anakku pas kesurupan gara-gara nekat motong pohon bambu waktu jelang Maghrib. Wis Ibu bilangin, ojo sembrono, tapi ya namanya anak muda sok modern, ora gampang percoyo."
Mendengar itu, Gardan cuma bisa mengangguk canggung. Senyumnya kaku, menunjukkan ekspresi khas anak kota yang jelas-jelas tidak percaya dengan takhayul kuno semacam itu.
Mbah Wiro memang dikenal sebagai salah satu tetua yang disegani di desa. Tidak sedikit warga yang datang meminta pertolongan, meski cara-cara yang digunakannya dianggap tak lazim, bahkan musyrik oleh sebagian orang.
Gardan sendiri sudah lama tidak pulang ke desa. Sejak kuliah dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan teknologi di kota, kesibukan seolah memberikannya alasan untuk menunda kepulangan, hingga sekarang.
"Makane, Le... Hati-hati. Kalau malem nanti ono yang ngetok pintu, ojo dibukak ya, ora usah ditanggapi," lanjut si ibu seraya beranjak pergi meninggalkan Gardan.
Pukul 20:10, tahlilan selesai. Para tetangga segera membubarkan diri, seolah enggan berlama-lama di pekarangan rumah tersebut.
Begitu pintu ditutup rapat, saat itulah Gardan benar-benar menyadari rupa asli rumah warisan kakeknya.
Rumah ini tidak lagi seperti yang aku ingat, pikir Gardan mengenang masa kecilnya dahulu.
Kini, penerangan rumah hanya mengandalkan bohlam kuning remang-remang. Di halaman belakang, siluet pohon beringin berukuran raksasa menjulang tinggi. Rumbai akar lebatnya menambah suasana mencekam yang sulit dijelaskan.
Gardan mengusap tengkuknya, bulu kuduknya berdiri. Tanpa sadar, ia meraih tirai jendela dan menutupnya rapat.
“Perasaan dulu pohonnya nggak sebesar ini,” ucap Gardan agak gelisah.
Gardan lanjut menyusuri lorong dengan langkah berat. Ia mendapati sebagian besar lampu di kamar-kamar lain mati total.
“Kasian Mbah Wiro, rumahnya jadi nggak keurus begini,” sesal Gardan. Rasa bersalah tiba-tiba menghantam dadanya.
Seharusnya dulu ia lebih sering pulang, terutama ketika Mbah Wiro mulai sakit-sakitan. Namun, komunikasi mereka malah lebih sering sebatas telepon. Itu pun tidak lagi sehangat dulu.
Gardan selalu mengira masih ada waktu. Tapi waktu berjalan begitu cepat.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:15. Gardan baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi belakang.
Saat berdiri di dekat ruang tengah, Gardan mendengar suara pelan dari arah tangga kayu menuju lantai atas.
KREK... KREK... KREK…
“Ada orang lain?” gumam Gardan pelan, lalu teringat bahwa dia seorang diri di sini. Maling? Pikirnya. Gardan memasang ekspresi waspada.
Lantai atas itu gelap, belum sempat ia jelajahi sama sekali sejak datang.
Dengan jantung berdegup kencang, Gardan menyalakan fitur senter di ponselnya.
“Bismillah,” ucap Gardan sebelum mulai naik ke atas. Sinar putih kebiruan pun membelah kegelapan di hadapannya.
Ruangan di atas sangat luas dan kosong, tanpa perabot selain debu tebal yang melapisi lantai.
“Dari mana asal suara tadi?” bingung Gardan seraya mengarahkan sorotan kameranya perlahan.
Cahayanya menyapu dari sisi kiri, menggeser ke kanan, lalu ke atas plafon yang dipenuhi sarang laba-laba.
Tepat saat cahaya senternya menyorot sudut kanan ruangan, napas Gardan seketika tertahan di tenggorokan.
DEG!
Sesosok makhluk berkulit putih pucat dengan bola mata keemasan dan gigi-gigi tajam, seketika menatap langsung ke arah cahaya lampu sambil melotot.
“Ya Allah, itu apaan?!” Bulu kuduk Gardan langsung berdiri.
Dari mulut makhluk itu menetes darah segar yang jatuh ke atas lantai kayu.
Ketakutan, Gardan refleks memalingkan cahaya ponselnya ke bawah, membuat ruangan kembali gelap gulita dalam sepersekian detik.
Dia pasti salah lihat, pasti! nggak ada hantu, nggak ada monster! Gardan mencoba menyakinkan dirinya sendiri.
Dengan tangan gemetar hebat, ia kembali mengarahkan cahaya senter ke depan.
Sosok itu tidak ada di sana. Tapi sepersekian detik kemudian, hawa dingin menerpa tengkuknya.
RRAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH….!!!!!!!
Makhluk itu mengeluarkan jeritan melengking, persis di samping telinga Gardan.
Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan lari terbirit-birit menuruni tangga. Tubuhnya yang mendadak lemas berakhir tak sengaja terpeleset di ujungnya.
BUG!!
Ia jatuh bersimpuh di lantai bawah, napasnya memburu, keringat dingin membasahi sekujur tubuh.
Belum sempat ia meredakan kepanikan, sebuah suara mendadak berderap dari luar pintu utama.
Tok... tok... tok.
Ketukan pelan terdengar, membuat tubuh Gardan kembali tegang. “Hah? Siapa lagi tengah malam begini?” gumam Gardan cemas, kepanikannya bertambah.
Peringatan ibu-ibu tadi malam terngiang telak di kepalanya. Apa jangan-jangan itu….
Yara mengajak Gardan untuk segera pergi ke warung Mbah Wiro. Menurutnya, kalau ada tempat yang bisa memberi petunjuk mengenai apa yang terjadi pada Siti, tempat itu adalah warung tersebut.“Kuncinya endi?” tanya Yara tegas. Gardan terdiam. Baru sekarang ia ingat kunci berkarat dan secarik kertas berisi alamat warung yang diberikan Yara masih tertinggal di rumah Mbah Wiro.“Kamu belum pernah ke sana?” Yara menatapnya tidak percaya. Gardan menggeleng. Yara mulai kesal, “Piye toh, Dan? Di surat wasiatne Mbah Wiro jelas-jelas tertulis warung itu ora boleh kosong.”Gardan ikut naik nada, “Yar! Mana mungkin sih aku langsung percaya sama surat wasiat yang isinya soal penjaga gerbang, dimensi, dan apalah semua takhayul itu? Nggak logis!”“Kamu sendiri beneran percaya sama semua ini?”, Gardan balik bertanya kepada Yara, nadanya sedikit menantang. “Limo tahun iki aku ngurusin Mbah Wiro. Waktu kamu ora ono di sini, Dan,” jawab Yara, emosinya sedikit ditahan. “Aku wis lihat banyak hal yang or
Gardan memutar gas motornya dalam. Suara raungan mesin matic tua itu memecah keheningan malam desa. Udara dingin tak lagi ia pedulikan. Hanya ada satu hal di kepalanya, angkat kaki sejauh mungkin dari rumah kakeknya dan meninggalkan desa ini.Namun, baru melaju beberapa puluh meter, tawa melengking seorang perempuan mendadak memantul dari rumpun bambu.Kikikikikikik!Jantung Gardan berdegup kencang. Dari balik kegelapan, sosok tinggi kurus berambut riap-riapan dengan telinga runcing dan jari-jari tangan panjang menyeberang kaku. Wajahnya tampak hancur, matanya membelalak merah menatap Gardan.DEG!"An**ng!" maki Gardan histeris, refleks membelokkan setang.Ban motornya berdecit di tanah basah. Dari dahan beringin tua di atasnya, wujud mengerikan mendadak bergelayut terbalik. Wajah berdarah membiru itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari helmnya, disusul bau bangkai yang menyengat."Pergi! Ban*sat, pergi!" teriak Gardan serak.Ia memutar gas penuh, menerobos kepungan bayangan hita
Senyum Gardan masih mengembang, jemari tangannya melambai pelan di udara. Belum sempat lambaian itu berhenti, senyum ceria di wajah ketiga anak itu surut seketika. Raut mereka mendadak kaku, melotot tanpa ekspresi, lalu berbalik menembus kegelapan.“Aneh. Kenapa mereka tiba-tiba begitu?” tanya Gardan bingung sambil menggaruk tengkuk yang mendadak meremang.Ia berbalik melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan setapak, bulu kuduk Gardan terus berdiri.Sesampainya di rumah, ia melangkah menuju dapur untuk minum. Namun di ruang tengah, matanya menangkap secarik kertas kusam dan kunci besi berkarat peninggalan Yara.Gardan menghela napas panjang lalu meraih kertas itu. "Zaman udah modern tapi semua orang di sini masih percaya beginian?" gumam Gardan lirih, berusaha tak peduli meskipun kalimatnya kini diam-diam terasa bertentangan dengan hatinya.Baru saja hendak menaruhnya kembali, telinganya menangkap suara dari luar.Sreeekk… sreeekk… sreeekk…Gardan mematung menelusuri suara lidi yang be
"JA…GAAA....!!!"Gardan tersentak bangun dari pingsannya. Napasnya memburu dan tenggorokannya terasa kering kerontang setelah terjangan makhluk mengerikan semalam. “Aaah!” desis Gardan saat berusaha bangkit duduk. Kepalanya terasa berat sekarang.Beberapa detik ia hanya terbaring sambil menatap langit-langit rumah, mengumpulkan kesadaran yang masih terasa berantakan. Suara yang baru saja meneriakkan kata tersebut masih menggema samar di dalam kepalanya.“Berapa lama aku pingsan?” Gumam Gardan, tak paham lagi posisi waktu saat ini. Cahaya matahari telah bergeser ke ufuk barat, membawa nuansa sore yang kian redup ke dalam rumah peninggalan kakeknya. Setelah kesadarannya pulih, Gardan bangkit perlahan. "Tarik napas sek, pelan-pelan. Kamu ngigau parah banget."Gardan menoleh, terkejut. Di sudut ruang tamu, duduk seorang perempuan cantik berambut sebahu yang diikat asal-asalan."Kamu... siapa?" Gardan bertanya dengan suara serak yang masih menyisakan getaran ketakutan. "Bagaimana kamu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.