Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!

Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!

last updateLast Updated : 2026-09-15
By:  Aditya Novian PerdanaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah bertahun-tahun jauh dari kampung halamannya, Gardan terpaksa pulang setelah Mbah Wiro, kakek yang membesarkannya, meninggal dunia. Ia hanya berniat mengurus rumah peninggalan sang kakek sebelum kembali pada kehidupannya di kota. Namun, sebuah peringatan mistis dari warga terus mengusiknya. Gardan tidak pernah percaya takhayul. Setidaknya, sampai suara-suara misterius, sosok-sosok mengerikan, dan aturan-aturan aneh yang selama ini dipercaya warga perlahan terbukti nyata. Suatu surat wasiat kemudian mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan Mbah Wiro. Warung tua milik keluarganya merupakan gerbang yang memisahkan dunia manusia dari sesuatu di baliknya. Kini, segelnya mulai melemah dan Gardan harus meneruskan warisan yang tidak pernah ia minta. Ia memilih kabur, namun seseorang yang ia sayangi justru menanggung akibatnya.

View More

Chapter 1

Bab 1: Sesuatu Di Lantai Atas

Ini malam ketiga tahlilan kepulangan Mbah Wiro, kakeknya.

Gardan bisa merasakan ketegangan di balik senyum basa-basi para warga. Tidak semua orang hadir dengan niat murni mendoakan almarhum sang kakek. 

Seorang ibu paruh baya berkerudung lusuh menghampirinya. Tangannya gemetar memegang segelas teh tawar.

"Kamu ini cucune Mbah Wiro, kan, Le?" bisik perempuan itu dengan logat Jawa medok yang bercampur bahasa Indonesia. 

"Kakekmu itu yang nulung anakku pas kesurupan gara-gara nekat motong pohon bambu waktu jelang Maghrib. Wis Ibu bilangin, ojo sembrono, tapi ya namanya anak muda sok modern, ora gampang percoyo."

Mendengar itu, Gardan cuma bisa mengangguk canggung. Senyumnya kaku, menunjukkan ekspresi khas anak kota yang jelas-jelas tidak percaya dengan takhayul kuno semacam itu.

Mbah Wiro memang dikenal sebagai salah satu tetua yang disegani di desa. Tidak sedikit warga yang datang meminta pertolongan, meski cara-cara yang digunakannya dianggap tak lazim, bahkan musyrik oleh sebagian orang. 

Gardan sendiri sudah lama tidak pulang ke desa. Sejak kuliah dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan teknologi di kota, kesibukan seolah memberikannya alasan untuk menunda kepulangan, hingga sekarang. 

"Makane, Le... Hati-hati. Kalau malem nanti ono yang ngetok pintu, ojo dibukak ya, ora usah ditanggapi," lanjut si ibu seraya beranjak pergi meninggalkan Gardan. 

Pukul 20:10, tahlilan selesai. Para tetangga segera membubarkan diri, seolah enggan berlama-lama di pekarangan rumah tersebut. 

Begitu pintu ditutup rapat, saat itulah Gardan benar-benar menyadari rupa asli rumah warisan kakeknya.

Rumah ini tidak lagi seperti yang aku ingat, pikir Gardan mengenang masa kecilnya dahulu.

Kini, penerangan rumah hanya mengandalkan bohlam kuning remang-remang. Di halaman belakang, siluet pohon beringin berukuran raksasa menjulang tinggi. Rumbai akar lebatnya menambah suasana mencekam yang sulit dijelaskan.

Gardan mengusap tengkuknya, bulu kuduknya berdiri. Tanpa sadar, ia meraih tirai jendela dan menutupnya rapat. 

“Perasaan dulu pohonnya nggak sebesar ini,” ucap Gardan agak gelisah. 

Gardan lanjut menyusuri lorong dengan langkah berat. Ia mendapati sebagian besar lampu di kamar-kamar lain mati total. 

“Kasian Mbah Wiro, rumahnya jadi nggak keurus begini,” sesal Gardan. Rasa bersalah tiba-tiba menghantam dadanya.

Seharusnya dulu ia lebih sering pulang, terutama ketika Mbah Wiro mulai sakit-sakitan. Namun, komunikasi mereka malah lebih sering sebatas telepon. Itu pun tidak lagi sehangat dulu. 

Gardan selalu mengira masih ada waktu. Tapi waktu berjalan begitu cepat. 

Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 23:15. Gardan baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi belakang.

Saat berdiri di dekat ruang tengah, Gardan mendengar suara pelan dari arah tangga kayu menuju lantai atas.

KREK... KREK... KREK…

“Ada orang lain?” gumam Gardan pelan, lalu teringat bahwa dia seorang diri di sini. Maling? Pikirnya. Gardan memasang ekspresi waspada.

Lantai atas itu gelap, belum sempat ia jelajahi sama sekali sejak datang.

Dengan jantung berdegup kencang, Gardan menyalakan fitur senter di ponselnya. 

“Bismillah,” ucap Gardan sebelum mulai naik ke atas. Sinar putih kebiruan pun membelah kegelapan di hadapannya. 

Ruangan di atas sangat luas dan kosong, tanpa perabot selain debu tebal yang melapisi lantai.

“Dari mana asal suara tadi?” bingung Gardan seraya mengarahkan sorotan kameranya perlahan. 

Cahayanya menyapu dari sisi kiri, menggeser ke kanan, lalu ke atas plafon yang dipenuhi sarang laba-laba.

Tepat saat cahaya senternya menyorot sudut kanan ruangan, napas Gardan seketika tertahan di tenggorokan.

DEG!

Sesosok makhluk berkulit putih pucat dengan bola mata keemasan dan gigi-gigi tajam, seketika menatap langsung ke arah cahaya lampu sambil melotot.

“Ya Allah, itu apaan?!” Bulu kuduk Gardan langsung berdiri. 

Dari mulut makhluk itu menetes darah segar yang jatuh ke atas lantai kayu. 

Ketakutan, Gardan refleks memalingkan cahaya ponselnya ke bawah, membuat ruangan kembali gelap gulita dalam sepersekian detik. 

Dia pasti salah lihat, pasti! nggak ada hantu, nggak ada monster! Gardan mencoba menyakinkan dirinya sendiri.

Dengan tangan gemetar hebat, ia kembali mengarahkan cahaya senter ke depan. 

Sosok itu tidak ada di sana. Tapi sepersekian detik kemudian, hawa dingin menerpa tengkuknya. 

RRAAAAAAAAAHHHHHHHHHHH….!!!!!!!

Makhluk itu mengeluarkan jeritan melengking, persis di samping telinga Gardan.

Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan lari terbirit-birit menuruni tangga. Tubuhnya yang mendadak lemas berakhir tak sengaja terpeleset di ujungnya.

BUG!!

Ia jatuh bersimpuh di lantai bawah, napasnya memburu, keringat dingin membasahi sekujur tubuh. 

Belum sempat ia meredakan kepanikan, sebuah suara mendadak berderap dari luar pintu utama.

Tok... tok... tok.

Ketukan pelan terdengar, membuat tubuh Gardan kembali tegang. “Hah? Siapa lagi tengah malam begini?” gumam Gardan cemas, kepanikannya bertambah.

Peringatan ibu-ibu tadi malam terngiang telak di kepalanya. Apa jangan-jangan itu….

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status