Pewaris Batas Dua Alam: Awas, Mereka Datang!
Setelah bertahun-tahun jauh dari kampung halamannya, Gardan terpaksa pulang setelah Mbah Wiro, kakek yang membesarkannya, meninggal dunia. Ia hanya berniat mengurus rumah peninggalan sang kakek sebelum kembali pada kehidupannya di kota. Namun, sebuah peringatan mistis dari warga terus mengusiknya.
Gardan tidak pernah percaya takhayul. Setidaknya, sampai suara-suara misterius, sosok-sosok mengerikan, dan aturan-aturan aneh yang selama ini dipercaya warga perlahan terbukti nyata.
Suatu surat wasiat kemudian mengungkap rahasia yang selama ini disembunyikan Mbah Wiro. Warung tua milik keluarganya merupakan gerbang yang memisahkan dunia manusia dari sesuatu di baliknya. Kini, segelnya mulai melemah dan Gardan harus meneruskan warisan yang tidak pernah ia minta.
Ia memilih kabur, namun seseorang yang ia sayangi justru menanggung akibatnya.
Read
Chapter: Bab 6: Warisan Warung GaibYara mengajak Gardan untuk segera pergi ke warung Mbah Wiro. Menurutnya, kalau ada tempat yang bisa memberi petunjuk mengenai apa yang terjadi pada Siti, tempat itu adalah warung tersebut.“Kuncinya endi?” tanya Yara tegas. Gardan terdiam. Baru sekarang ia ingat kunci berkarat dan secarik kertas berisi alamat warung yang diberikan Yara masih tertinggal di rumah Mbah Wiro.“Kamu belum pernah ke sana?” Yara menatapnya tidak percaya. Gardan menggeleng. Yara mulai kesal, “Piye toh, Dan? Di surat wasiatne Mbah Wiro jelas-jelas tertulis warung itu ora boleh kosong.”Gardan ikut naik nada, “Yar! Mana mungkin sih aku langsung percaya sama surat wasiat yang isinya soal penjaga gerbang, dimensi, dan apalah semua takhayul itu? Nggak logis!”“Kamu sendiri beneran percaya sama semua ini?”, Gardan balik bertanya kepada Yara, nadanya sedikit menantang. “Limo tahun iki aku ngurusin Mbah Wiro. Waktu kamu ora ono di sini, Dan,” jawab Yara, emosinya sedikit ditahan. “Aku wis lihat banyak hal yang or
Last Updated: 2026-09-15
Chapter: Bab 5: Lari, Gardan! Lari!!Gardan memutar gas motornya dalam. Suara raungan mesin matic tua itu memecah keheningan malam desa. Udara dingin tak lagi ia pedulikan. Hanya ada satu hal di kepalanya, angkat kaki sejauh mungkin dari rumah kakeknya dan meninggalkan desa ini.Namun, baru melaju beberapa puluh meter, tawa melengking seorang perempuan mendadak memantul dari rumpun bambu.Kikikikikikik!Jantung Gardan berdegup kencang. Dari balik kegelapan, sosok tinggi kurus berambut riap-riapan dengan telinga runcing dan jari-jari tangan panjang menyeberang kaku. Wajahnya tampak hancur, matanya membelalak merah menatap Gardan.DEG!"An**ng!" maki Gardan histeris, refleks membelokkan setang.Ban motornya berdecit di tanah basah. Dari dahan beringin tua di atasnya, wujud mengerikan mendadak bergelayut terbalik. Wajah berdarah membiru itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari helmnya, disusul bau bangkai yang menyengat."Pergi! Ban*sat, pergi!" teriak Gardan serak.Ia memutar gas penuh, menerobos kepungan bayangan hita
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 4: Itu Bukan MbahSenyum Gardan masih mengembang, jemari tangannya melambai pelan di udara. Belum sempat lambaian itu berhenti, senyum ceria di wajah ketiga anak itu surut seketika. Raut mereka mendadak kaku, melotot tanpa ekspresi, lalu berbalik menembus kegelapan.“Aneh. Kenapa mereka tiba-tiba begitu?” tanya Gardan bingung sambil menggaruk tengkuk yang mendadak meremang.Ia berbalik melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan setapak, bulu kuduk Gardan terus berdiri.Sesampainya di rumah, ia melangkah menuju dapur untuk minum. Namun di ruang tengah, matanya menangkap secarik kertas kusam dan kunci besi berkarat peninggalan Yara.Gardan menghela napas panjang lalu meraih kertas itu. "Zaman udah modern tapi semua orang di sini masih percaya beginian?" gumam Gardan lirih, berusaha tak peduli meskipun kalimatnya kini diam-diam terasa bertentangan dengan hatinya.Baru saja hendak menaruhnya kembali, telinganya menangkap suara dari luar.Sreeekk… sreeekk… sreeekk…Gardan mematung menelusuri suara lidi yang be
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 3: Wasiat Penjaga Terakhir"JA…GAAA....!!!"Gardan tersentak bangun dari pingsannya. Napasnya memburu dan tenggorokannya terasa kering kerontang setelah terjangan makhluk mengerikan semalam. “Aaah!” desis Gardan saat berusaha bangkit duduk. Kepalanya terasa berat sekarang.Beberapa detik ia hanya terbaring sambil menatap langit-langit rumah, mengumpulkan kesadaran yang masih terasa berantakan. Suara yang baru saja meneriakkan kata tersebut masih menggema samar di dalam kepalanya.“Berapa lama aku pingsan?” Gumam Gardan, tak paham lagi posisi waktu saat ini. Cahaya matahari telah bergeser ke ufuk barat, membawa nuansa sore yang kian redup ke dalam rumah peninggalan kakeknya. Setelah kesadarannya pulih, Gardan bangkit perlahan. "Tarik napas sek, pelan-pelan. Kamu ngigau parah banget."Gardan menoleh, terkejut. Di sudut ruang tamu, duduk seorang perempuan cantik berambut sebahu yang diikat asal-asalan."Kamu... siapa?" Gardan bertanya dengan suara serak yang masih menyisakan getaran ketakutan. "Bagaimana kamu
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 2: Tamu Tak DiundangGardan masih mematung di posisinya. Rasa cemas karena apa yang ia lihat barusan dan peringatan ibu-ibu sebelumnya, mengacaukan pikiran logis modern-nya. Buka atau nggak ya? Bagaimana kalau…? “Ah, persetan!!” Gardan pun mengusir keraguannya.Dengan tangan masih gemetar, ia pun meraih grendel dan menarik daun pintu hingga terbuka lebar."Astaga!" teriak seorang perempuan di hadapannya, reflek melompat mundur sambil menutup mata."WAAH!" Gardan ikut menjerit kaget, reflek melompat ke belakang karena sarafnya masih terlalu sensitif. Sialnya, ia baru ingat tadi habis mandi dan cuma melilitkan handuk di pinggang. Suasana ngeri seketika amblas berganti rasa malu setengah mati. Siti, wanita dambaan masa kecilnya, membelalak kaget dengan pipi memerah padam. Sedangkan, Gardan buru-buru melesat balik ke kamar, menyambar kaos oblong serta celana pendek.“Bentar, bentar, bentar ya, Siti! Duh, maaf banget!!” pinta Gardan sambil menahan rasa malunya yang belum kunjung hilang. Lima menit kemudia
Last Updated: 2026-09-13
Chapter: Bab 1: Sesuatu Di Lantai AtasIni malam ketiga tahlilan kepulangan Mbah Wiro, kakeknya.Gardan bisa merasakan ketegangan di balik senyum basa-basi para warga. Tidak semua orang hadir dengan niat murni mendoakan almarhum sang kakek. Seorang ibu paruh baya berkerudung lusuh menghampirinya. Tangannya gemetar memegang segelas teh tawar."Kamu ini cucune Mbah Wiro, kan, Le?" bisik perempuan itu dengan logat Jawa medok yang bercampur bahasa Indonesia. "Kakekmu itu yang nulung anakku pas kesurupan gara-gara nekat motong pohon bambu waktu jelang Maghrib. Wis Ibu bilangin, ojo sembrono, tapi ya namanya anak muda sok modern, ora gampang percoyo."Mendengar itu, Gardan cuma bisa mengangguk canggung. Senyumnya kaku, menunjukkan ekspresi khas anak kota yang jelas-jelas tidak percaya dengan takhayul kuno semacam itu.Mbah Wiro memang dikenal sebagai salah satu tetua yang disegani di desa. Tidak sedikit warga yang datang meminta pertolongan, meski cara-cara yang digunakannya dianggap tak lazim, bahkan musyrik oleh sebagian ora
Last Updated: 2026-09-13