LOGIN“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”
Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.
Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.
Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.
Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.
“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”
Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba menutupi perasaan malunya dengan kembali tertawa dan mengumpat dengan kata-kata yang tidak pantas kepada Tiko.
Tiba-tiba ponsel Vio di atas meja berbunyi menghentikan tawanya yang menjengkelkan untuk didengar oleh siapa pun.
Rupanya panggilan dari adiknya, Raul.
“Halo, ada apa Raul?”
“Ka, aku harus beli Vila secepatnya nih, pokoknya urgent banget, soalnya keluarga Shakira mau pada liburan ke puncak,”
“Ya elah, Raul... jangan kayak orang kebanyakan duit deh... kalau mau liburan ke puncak kan tinggal sewa Vila aja, paling nggak sampe 5 jutaan, begitu aja kok repot kamu ini...”
“Malu dong Ka, mau ditaruh dimana mukaku kalau Vila-nya cuma Vila sewaan, bikin malu keluarga aja! Kakak nggak mau kan keluarga kita dibilang keluraga kere kayak si Tiko. Ayo dong bantu usahain biar secepatnya aku dapat Vila yang bagus dan dua tingkat Vilanya.”
“Ya sabar dong, Raul... kamu pikir beli Vila kayak beli nasi padang. Ini aku juga lagi mikir, tau...!”
“Iya, Ka... pokoknya aku tunggu kabarnya.”
Telepon dari Raul membuat mood Vio mendadak hilang seketika itu juga. Otaknya mulai berpikir keras untuk mencari cara bagaimana dia bisa mendapatkan uang untuk membeli Vila yang diinginkan adiknya.
“Ada apa, Sayang? Kok mendadak kamu kelihatan kayak orang bingung begitu, emang tadi siapa yang nelepon?” tanya lelaki pacar Vio itu.
“I-itu tadi... adikku yang nelepon. Biasa dia itu kalau ada perlunya doang nelepon aku,” ucap Vio malu untuk mengutarakan keinginan membelikan adiknya sebuah Vila di puncak kepada kekasih barunya.
Vio mendadak takut ketahuan pacar barunya kalau keluarga dia juga sebenarnya keluarga kere, jadi jalan satu-satunya jalan dia memutuskan untuk mencari cara lain agar dapat mengabulkan permintaan adik semata wayangnya, tanpa melibatkan pacarnya itu.
“Sudah, Sa, nggak usah diladeni lagi mereka itu, hanya buang-buang waktu aja, aku juga sudah tidak tertarik lagi untuk balikan sama Vio, jadi tidak ada gunanya menjelaskan kalau sekarang aka punya banyak duit yang jumlahnya milyaran pemberian seorang boss. Atau... jangan-jangan kamu sendiri masih ragu ya kalau aku sekarang punya banyak uang?” tanya Tiko kepada Salsa saat masih menunggu pesanannya datang.
“Nggak mungkin lah aku nggak percaya sama kamu, Tiko, apa artinya sahabat kalau aku tidak mempercayaimu. Pertanyaanmu ada-ada saja, sih, Tiko...”
“Ya udah, makasih kalau gitu.”
“Makasih buat apa ya?”
“Karena kamu udah jadi sahabat setiaku... hehehe...”
“Apa sih, Tiko... kayak anak alay aja!”
“Kamu nggak tahu ya, kalau sesuatu yang baik itu harus selalu diucapkan, karena akan memberikan aura positif bagi lawan bicaramu. Tidak seperti keluarga Vio, yang mereka ucapkan selalu merendahkan orang lain, sehingga dalam diri mereka itu yang ada hanya kebencian, serta iri dan dengki. Vio, adik dan ibunya sama saja, sama-sama menjengkelkan. Jangan sampai kita ketularan mereka, Sa,”
“Kata kamu kita nggak usah bahas mereka lagi, kok malah kamu yang sekarang ngomongin mereka, aneh kamu, Tiko!”
“Iya juga sih, kok aku jadi keceplosan nyinggung Vio dan keluarganya, kayaknya sih bawaan alam bawah sadarku, kamu kan tahu sendiri aku sudah bertahun-tahun hidup di lingkungan mereka. Sekarang cuma tinggal menyesalnya aja. Aku memang apes...”
“Yang udah terjadi lupakan saja, yang sekarang kamu lakukan adalah menata hidupmu ke depannya agar lebih baik lagi.”
“Thanks ya, Sa...”
Sementara di meja lain, Vio yang sejak tadi memeras otaknya ingin mencari cara agar bisa membelikan Vila untuk adiknya, ujung-ujungnya dia jadi berharap mendapatkannya dari Tiko, karena selama ini setiap dia punya masalah pasti Tiko yang dicari, demikian juga halnya dengan Raul dan Maria, sedikit-sedikit Tiko, sebentar-sebentar Tiko. Cuma gara-gara uang 200 juta semua kebaikan Tiko selama ini hilang begitu saja bagai buih di lautan.
Maka dalam keadaan genting seperti ini, Vio tidak ada pilihan, dia harus memanfaatkan kehadiran Tiko di tempat itu. Terlebih lagi Salsa tadi mengatakan bahwa Tiko baru membeli rumah seharga 10 Milyar.
“Sayang, aku masih ada hal yang harus aku bereskan dengan si kere Tiko. nggak apa-apa, kan, aku tinggal sebentar?” ucap Vio kepada kekasihnya yang sedang asyik menekan-nekan ponsel di tangannya.
“Iya, Sayang... tapi jangan lama-lama ya, nanti kamu ketularan kere kayak mereka,” celetuk lelaki kaya raya tapi sombong itu.
Tanpa rasa sungkan Vio bergegas menghampiri meja Tiko semata-mata ingin meminta bantuan mantan pacarnya itu, padahal belum lama tadi dia merendahkan Tiko sedemikian rupa sebagai lelaki kere dan tidak berguna. Ibaratnya Vio sedang menjilat ludah yang sudah dibuangnya dan itu sangat menjijikan!
“Salsa, bisa kamu menyingkir sebentar, aku mau bicara empat mata sama Tiko,” ucap Vio, sekonyong-konyong duduk di samping Tiko.
“Ada apa lagi sih? Kamu nggak punya hak untuk ngusir Salsa kayak gitu, dia ke sini karena yang mengajaknya, jadi dia tetap duduk sini. Kalau kamu mau ngomong sesuatu ya ngomong aja, nggak perlu nyuruh-nyuruh Salsa pindah tempat duduk segala,” tukas Tiko dengan nada tegas.
“Tapi yang mau aku sampaikan ini hal pribadi, Tiko... kamu ngerti nggak, sih?”
“Hal pribadi apa lagi, coba kalau ngomong yang jelas, Vio?”
“Tentang kelanjutan hubungan kita...”
“Apa? Aku nggak salah dengar, bukannya kamu yang sudah mengakhiri semuanya gara-gara aku ini kere, kok sekarang kamu mau ngomongin kelanjutan hubungan kita yang sudah jadi puing-puing? Aneh sekali...”
“Ya udah, Tiko... lebih baik aku pergi dulu ya, mungkin aku memang tidak perlu dengar obrolan kalian,” ucap Salsa coba beranjak dari duduknya, tapi tangan Tiko dengan sigap menahan tangan gadis itu.
“Jangan pergi, Sa, kamu harus tetap di sini!” ucap Tiko meminta Salsa tetap duduk di tempatnya.
“Ya sudah lah, aku anggap aja Salsa nggak ada, atau aku anggap patung, nggak apa-apa, kan?”
“Cukup, Vio! Sebaiknya cepat katakan apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Dengar ya, aku mau memberi kamu kesempatan kedua pada kamu, Tiko, semua ini aku lakukan semata-mata karena aku masih menghargai hubungan kita yang terjalin cukup lama, tapi yang lebih penting dari itu aku ingin memberi kamu kesempatan untuk memulihkan nama baikmu yang sempat tercemar di media sosial.”
“Kesempatan kedua? Maksudmu kamu memintaku untuk coba menikahi kamu lagi?”
“Iya, Tiko, Sayang... aku sebenarnya masih sayang sama kamu lho, dan aku tidak sampai hati melihat kamu dibuli terus-tersusan di medsos. Ayo Tiko, tunjukkan kalau kamu tak seperti yang mereka tuduhkan, bahwa sebenarnya banyak uang bermilyar-milyar, seperti yang Salsa bilang, kamu baru saja membeli rumah 10 milyar, bukan?”
“Oh, jadi karena itu kamu ingin memberi aku kesempatan kedua, karena sekarang aku punya uang banyak?”
“Tidak Tiko, bukan karena aku menginginkan uang kamu, semua aku lakukan demi adikku Raul, aku tahu kamu juga pernah menyayangi adikku itu, kan? Aku hanya memberimu syarat jika kamu bisa membelikan Raul sebuah Vila, maka aku rela menikah denganmu.”
“Hahaha... Vio... Vio... ujung-ujungnya keinginanmu duit. Sorry ya... aku sudah tidak tertarik lagi dengan tawaranmu, aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama.”
“Tapi Tiko...”
“Sssshhh... sudah-sudah, sekarang aku mau makan, sebaiknya kamu pergi. Pelayan... cepat bawakan makanan kami sekarang...!” ucap Tiko memanggil pelayan yang berdiri siap siaga di pojok ruangan.
“Tiko, Sayang... kalau kamu berubah pikiran, segera hubungi aku ya... jangan kamu sia-siakan kesempatan kedua yang aku berikan, atau kamu akan menyesal seumur hidupmu.”
Tiko hanya menggeleng-geleng kepala mendengar ucapan Vio sambil menghalaunya untuk segera pergi dari hadapannya...
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







