LOGIN“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.
Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan.
Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.
“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.
“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.
Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement.
“Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.
“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.
Keduanya pergi ke restoran hotel berbintang lima dengan perasaan gembira.
Sesampainya di restoran, kemunculan mereka menjadi pusat perhatian. Betapa tidak, hari itu Tiko berpakaian sangat sederhana, mengenakan sebuah kemeja biru yang terlihat lusuh dan bawahan berupa celana linen hitam yang sedikit kedodoran.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan penampilan Tiko hari itu, hanya saja, orang-orang di sekeliling mereka berpakaian rapih dengan jas dan setelan sehingga penampilan Tiko sedikit ‘mencolok’ mata.
Tatapan merendahkan terlihat dari mata para pengunjung, bahkan tak segan segan menghina Tiko dengan terang-terangan.
“Hei, kamu salah masuk restoran!” ujar salah satu pelanggan restoran.
“Atau jangan-jangan emang dia itu pelayan baru di resto ini!” timpal yang lain.
Mendengar dirinya direndahkan seperti itu tak lantas membuat Tiko marah ataupun kecewa pada mereka.
Justru sebaliknya, Tiko merasa kasihan kepada mereka karena mereka hanya mengukur segalanya dari penampilan saja.
Tidak ada yang salah dengan menilai seseorang dari penampilan luarnya saja, itu sah-sah saja, pikir Tiko. Yang salah adalah bagaimana orang tersebut terlalu mendewakan penampilan. Tuhan saja tidak menilai setiap umatnya dari penampilannya, tapi kebaikan hatinya dan sikap saling tolong menolongnya.
Lagipula, yang dilakukan Tiko di hotel berbintang lima ini hanyalah untuk membahagiakan sahabatnya, Salsa, karena telah dengan tulus akan menolongnya.
Toh, yang penting aku punya uang untuk membeli makanan yang aku pesan, pikir Tiko.
“Pelayan!” teriak salah satu pelanggan dengan nada kesal.
Salah seorang waiter yang sedang stand by di pojok ruangan menghampiri si pelanggan yang protes itu.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya si waiter dengan keramahan yang luar biasa.
“Mungkin saja Bapak yang itu salah masuk restoran!” ucap si pelanggan dengan menunjuk sosok Tiko yang sedang mencari tempat duduk yang tepat.
“Baik, Pak, akan saya tanyakan ke Bapak yang itu!” jawab si waiter masih dengan senyum ramah.
Tiko dan Salsa didatangi si waiter super ramah itu. Belum sempat si waiter itu menanyakan kedatangan Tiko, lelaki itu sudah memberondong sang waiter dengan pertanyaan: saya ingin duduk di meja itu! ucap Tiko sambil menunjuk ke meja VVIP.
Mendengar pengakuan Tiko sontak membuat orang yang ada di dalam restoran itu tercengang.
“APA? Aku nggak salah dengerkan!” ujar si pelanggan, diikuti dengan tawa melecehkan.
“Tapi...,” jawab si waiter. Belum sempat si waiter itu meneruskan perkataannya, Tiko sudah kembali bicara.
“Jangan takut kalau saya tidak punya uang. Saya datang ke restoran ini bukan tanpa rencana. Jadi lebih baik kamu siapkan tempat itu untuk saya!” perintah Tiko dengan tegas.
Si waiter mengiyakan permintaan Tiko.
Tiko dan Salsa duduk di meja VVIP.
“Padahal nggak usah sampe segininya kalau mau traktir aku makan, Tiko!” ujar Salsa agak sebal.
“Kan nggak tiap hari aku traktir kamu makan mewah, paling sekali seumur hidup aja!”
“Iya deh iya, yang punya banyak duit,” canda Salsa, “aku ngikut aja yang penting ditraktir.”
Keduanya terkekeh, mereka saling bertatapan lama.
“Cie... cie... ada orang kere nyasar ke sini!” ucap seseorang tanpa hati ketika Tiko dan Salsa sedang memilih milih menu makanan.
Tiko menoleh ke arah sumber suara, dan betapa terkejutnya dirinya ketika mendapati sumber suara itu tidak lain tidak bukan adalah orang yang pernah sangat dicintainya: Violet.
Entah ini kebetulan, atau memang Tiko sedang ketiban sial. Tiba-tiba saja Vio ada di restoran yang sama dengan Tiko.
Hari ini, seperti biasa, Vio terlihat sangat cantik dengan mengenakan gaun biru toska yang terbuka di bagian dadanya. Dandanannya terlihat paripurna dengan make up tebal yang terlihat serba pas.
Harus diakui, Tiko masih mengagumi kecantikan Vio.
Tapi cantik secara fisik saja buat apa kalau hatinya tidak cantik, gumam Tiko berusaha bersikap rasional.
“Bisa aku jelasin kok semuanya ke kamu kenapa kami ada di sini!” ujar Salsa merasa tidak enak kepada Vio.
“Nggak perlu kok. Dan nggak penting juga. Lagian emang aku udah nggak peduli lagi sama Tiko. Aku ga suka sama cowok yang ingkar janji. Mau ngasih 200 juta malah bohong... ih males bener!”
“Vio.. please jangan bahas itu lagi di sini,” pinta Tiko kepada Vio, seolah Tiko sudah bisa berdamai dengan kejadian memalukan itu.
“Ya iyalah Tiko, kamu nggak mau bahas soalnya kamu bakal malu dan nggak punya muka. Lagian siapa juga yang mau bahas masalah itu. Udah basi!” tukas Vio dengan sombong,”Lagian aku sudah punya penggantimu, Tiko. Jelas dia lebih kaya dan lebih terhormat daripada kamu.”
Di saat Vio berkata begitu, muncul seorang pria paruh baya perlente menghampiri Vio.
Pria itu mengenakan jas hitam, dengan sepatu mengilat mahal, dan rambutnya terlihat sangat klimis. Penampilan lelaki itu memang terlihat seperti berasal dari kalangan kaya raya, tapi tingkah lakunya sangat berkebalikan dengan apa yang membungkus tubuhnya.
“Halo sayang, sudah lama nunggu aku, ya?” tanya pacar baru Vio.
“Nggak apa-apa, Sayang! Aku baru aja dateng kok!” jawab lelaki itu sambil merangkul pinggang Vio dengan sepenuh mesum.
“Loh kok ada orang kere ini di sini? Bukannya ini mantan pacarmu ya?” tambah lelaki itu mencoba merendahkan Tiko.
“Nggak tahu juga nih gembel kok bisa masuk sini! Apa jangan-jangan tempat ini udah nggak berkelas lagi! gembel aja bisa masuk sini dan bisa pesen tempat VVIP lagi!”
Melihat kemesraan Vio dengan kekasih barunya yang seperti itu, membuat Tiko curiga, jangan-jangan selama ini Vio memang sudah main di belakang Tiko?
Karena tidak mungkin Vio akan semesra itu pada kekasih barunya.
Pernikahannya baru saja batal, dan video yang beredar baru saja viral semalam. Tapi mengapa Vio sudah begitu mudah mendapat lelaki baru dan bahkan sudah bersikap sangat mesra.
Melihat Vio dan lelaki itu, Tiko menjadi sedikit bersyukur kalau dia benar-benar tidak salah pilih membatalkan rencana pernikahannya.
Tiko tidak bisa membayangkan seandainya dia jadi menikahi Vio, mungkin saja hidupnya akan melulu dilanda sakit hati dan penderitaan.
Betapa beruntungnya aku! gumam Tiko merasa menang.
“Hai, Tiko... ngapain kamu bengong di situ...?” sapa seorang gadis mengejutkan Tiko. Tiko segera sadar siapa gadis cantik berambut hitam pekat dan lurus sebahu yang sedang berdiri di hadapannya. Walau dia mengenal nama dan jabatannya sebagai pegawai atasan, tapi selama ini belum pernah sekalipun dia saling bertegur sapa, apalagi sampai ngomong empat mata. Wanita di depannya terlalu berkelas untuk bisa didekati, orang seperti Tiko harus berpikir banyak kali untuk sekedar menyapa, apalagi untuk bisa dekat dengan gadis dari kelas atas seperti dirinya, tidak pernah terpikirkan. Mencium bau parfumnya saja orang akan tahu, kalau dia bukan orang sembarangan.“Eh, Ibu Sausan...”“nggak usah panggil aku Ibu, panggil saja namaku, Sausan.”“Oh iya, baik... ada apa ya, Sausan?”“Aku dapat perintah dari Pak Martin, kamu disuruh menghadap ke ruangannya sekarang.”Bagaikan mendengar petir di siang bolong, sekaget itulah Tiko mendengar ucapan Sausan. Dan bagaikan layang-layang yang putus dari benang
Zack Ryan yang sedang kesal atas perbuatan Tiko karena berani membantah perintahnya jadi naik pitam mendengar suara berisik di depan ruangannya. Segera lelaki berperut buncit itu keluar melihat apa yang terjadi.Rupanya Veronica dan Tiko yang sedang bertengkar. Mendengar Tiko menghina wanita selingkuhannya, tanpa pikir panjang Zack menampar pipi Tiko yang tidak menyadari kehadiran atasannya itu.Tiko cukup kaget melihat Zack Ryan sudah ada di hadapannya, dia tidak dapat berkata-kata apalagi ketika lelaki itu memarahinya habis-habisan.“Jaga bicaramu Tiko, sudah jelas kinerjamu sangat buruk, kalau kamu dibandingkan Vero bagaikan langit dan bumi. Kamu itu nggak ada apa-apanya yang bisa dibanggakan. Jadi, kamu jangan ngarang-ngarang cerita nggak bener tentang aku dan Veronica hanya untuk menutupi kelemahanmu. Veronica aku pilih jadi wakilku karena dia itu cerdas dan kinerjanya sangat bagus. Jadi jangan sembarangan kamu bikin gosip murahan!” “Dengar tuh Tiko..., mulutmu harimaumu, salah
Kalau bukan karena atasannya yang menelepon langsung, sebenarnya Tiko masih ingin beristirahat beberapa hari di rumah, dia masih perlu waktu menenangkan diri atas kejadian tidak mengenakan yang baru saja dialaminya.Tiko terlambat 1 jam saat tiba di kantor, para karyawan yang sedari tadi sudah mulai bekerja hampir semuanya mencibir dan menyindir pada Tiko yang datang dengan pakaian kemeja kerjanya yang kusut dan wajah muramnya yang kurang enak untuk dilihat...“Bangun siang rezeki dipatok ayam, Tiko..., makanya rezekimu jauh, jadi kamu dicap sebagai orang paling kere saat ini... hehehe...” “Mentang-mentang videonya viral, masuk kerja jadi seenak perutnya, dia pikir udah jadi seleb kali ya?”“Dia pikir perusahaan bapak moyangnya apa, jam segini baru datang...!”Tiko membiarkan ucapan para rekan kerjanya itu hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, sekadar lewat, tidak sedikitpun dia mau diambil pusing.Aku sudah bisa sampai ke kantor saja sudah untung, coba kalian berada pada pos
Melihat Salsa pergi ke washtafel untuk mencuci tangan sebelum menyantap aneka makanan yang dipesan Tiko, teman lelaki Vio yang terkenal dengan sifat mata keranjang dan tidak boleh melihat gadis berwajah bening, memanfaatkan kesempatan itu untuk mendekati Salsa.“Hmm..., hai cantik.... aku mau minta maaf ya, kalau tadi aku menyinggung perasaaan kamu,” ucap lelaki berpakaian mewah itu yang berdiri di samping Salsa yang sedang mencuci tangannya.“Aku sudah biasa kok dicap macam-macam sama orang lain, jangan khawatir aku nggak marah dan Anda yang terhormat nggak perlu juga minta maaf,” ucap Salsa sambil memandang lelaki di sampingnya melalui pantulan cermin di depannya.“Tadi itu aku cuma mau menasihati kamu aja, agar hati-hati dalam mempercayai orang lain, soalnya zaman sekarang banyak orang yang suka memanfaatkan kepolosan seorang gadis. Aku tidak mau kejadian yang dialami Vio terulang lagi sama kamu, itu aja kok sebenarnya maksudku, tidak ada maksud sedikit pun aku mau merendahkan kam
“Udah cukup kalian ngerendahin Tiko sampe begininya!” tukas Salsa dengan nada tegas. “Kalian nggak tahu sih kalau tadi dia abis beli rumah seharga 10 Milyar!”Mendengar pengakuan Salsa yang mengejutkan seperti itu, sontak membuat Vio terkejut bukan kepalang.Bagaimana bisa orang kere macam Tiko bisa membeli rumah 10 Milyar, tanya Vio pada dirinya sendiri.Mendengar pernyataan Salsa barusan, sontak membuat Vio tertawa terpingkal-pingkal. Tawa Vio mirip sebuah tawa kuntilanak pada malam Jumat Kliwon. Terasa sangat dibuat-buat dan palsu.Demikian juga pacar baru Vio, tidak kalah terbahak-bahak mendengar ucapan Salsa yang baginya tidak lebih dari sebuah omong kosong.“Eh Salsa, kamu itu masih mentah, masih bau kencur, belum tahu apa-apa tentang hidup yang sebenarnya. Asal kamu tahu ya, di dunia ini banyak lho sebenarnya penipu ulung, tapi dia tidak menyadarinya. Ya seperti temanmu itu, udah kere tapi nggak sadar diri...”Mendengar ucapan pacarnya, Vio malah merasa tersindir, tapi dia coba
“Kita mau makan di mana sih, Tiko, kok tumben jauh amat?” tanya Salsa dengan penasaran.Tumben-tumbenan Tiko membawa perempuan itu makan sampai sejauh ini. Biasanya Tiko akan mengajak makan paling banter sekitaran kantor Salsa, di warung warung tenda pinggir jalan. Kali ini Tiko berencana mengajak Salsa untuk makan di sebuah hotel berbintang lima. Ini bukan tanpa alasan, Tiko melakukan ini karena dia ingin berterima kasih kepada Salsa sekaligus merayakan status barunya sebagai orang kaya.“Ada deh, mau tau aja atau mau tau banget?” canda Tiko kepada Salsa.“Ih kok tumben main rahasia-rahasiaan begitu, nggak seru deh!” jawab Salsa dengan cemberut.Ketika motor Tiko tiba di daerah Kuningan, Jakarta Selatan, Tiko memarkirkan motor matiknya di basement. “Kok kita ke hotel Pentagram sih, Tiko? Mau makan kok ke hotel segala sih?” tanya Salsa sambil merapikan pakaiannya.“Udah ah, nggak usah bawel, mending ikut aku aja” tukas Tiko sambil berusaha menggandeng tangan Salsa.Keduanya pergi ke







