Share

Ternyata Dia...

Author: Jimmy Chuu
last update Last Updated: 2025-02-11 15:26:47

“Bunuh dia!” perintah Mo Zhengsheng. Suaranya penuh ancaman, memotong udara seperti pedang.

Telunjuknya menunjuk lurus ke arah makhluk misterius berbentuk kelelawar yang melayang di kegelapan malam.

Disisi lain, sayap kelelawar raksasa itu terlihat lebar, dan membentuk siluet menakutkan di bawah cahaya bulan sabit.

“Formasi Pedang!” teriak Han Shan. Wajahnya yang penuh bekas luka tampak garang di bawah bayangan malam.

Suaranya menggema, memecah keheningan, tampak berusaha membangkitkan semangat para kultivator.

Dalam gelapnya malam, sepuluh kultivator segera bergerak. Mereka membentuk formasi pedang dengan presisi yang telah dilatih ratusan kali.

Mo Zhengsheng, sebagai pemimpin, melangkah maju. Golok di tangannya berkilat, lalu diayunkannya ke arah cakrawala dengan gerakan cepat dan mematikan.

Tsing!

Kilatan golok menyambar seperti petir, memotong udara dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Energi spiritual yang terkumpul di mata golok itu berlari ke udara, siap memanggang makhluk kelelawar raksasa yang melayang di atas.

Tapi...

Roar!

Suara lenguhan berat menggema, mirip dengusan sapi raksasa, saat makhluk itu menggerakkan sayapnya. Dari gerakan sayapnya yang terlihat mendominasi, sinar energi spiritual berwarna hitam pekat meluncur ke arah para kultivator.

Energi itu terasa dingin dan penuh aura kematian. Efeknyamemberi kesan energi jahat itu ingin menghancurkan segala sesuatu yang menghalanginya.

Duar!

Energi spiritual hitam itu bertabrakan dengan energi pedang yang dikeluarkan oleh kelompok kultivator Ekspedisi Phoenix Merah.

Ledakan dahsyat mengguncang tanah, percikan api dan debu beterbangan ke segala arah. Udara terasa panas, seolah langit dan bumi ikut bergetar.

Makhluk kelelawar itu tetap tak bergeming, melayang tenang di ketinggian dengan latar belakang bulan sabit yang bersinar redup. Matanya yang merah menyala seperti bara memandang ke bawah dengan tatapan penuh ancaman.

Samar-samar terdengar kekehan dari kelelawar raksasa.

Sementara itu, para kultivator dari Ekspedisi Phoenix Merah terdorong mundur sejauh sepuluh langkah.

Mo Zhengsheng sendiri ia merasa sesak di dadanya; tubuhnya yang terlatih mampu menahan dampak benturan.

Namun, nasib berbeda dialami oleh anggota ekspedisi yang tingkat kultivasinya lebih rendah.

Salah satu dari mereka, yang paling muda dan memiliki ranah kultivasi terendah, langsung terjatuh. Dia batuk-batuk keras yang mengguncang tubuhnya. Darah segar mengalir dari mulutnya. Wajahnya pucat, tanda organ internalnya terluka parah.

Mo Zhengsheng bertambah marah. “Gunakan Jaring Ajaib!” teriaknya, suaranya penuh gusar.

Ekspresinya jelek, dan matanya menyala, menatap makhluk menjijikan itu dengan pandangan yang tak kenal takut. Selama puluhan tahun berkarir di Biro Ekspedisi Phoenix Merah, ia telah menghadapi banyak musuh dan makhluk berbahaya.

Namun, tampaknya makhluk kelelawar ini berbeda.

Aura keganasan makhluk iblis itu terasa lebih mengerikan dari apapun yang pernah ia temui, membuat Mo Zhengsheng merasa harus bertindak lebih.

“Kita harus menangkapnya!” serunya lagi, suaranya menggema seperti guntur.

“Aku berumpah akan minum darahnya, dan dagingnya akan kita panggang untuk menemani arak malam ini!”

Seketika, delapan anak buah Ekspedisi Phoenix Merah bergerak serentak.

Di tangan empat orang di antaranya, tergenggam erat jaring-jaring besar yang terbuat dari bahan tak biasa. Jaring itu berat namun memancarkan aura spiritual yang kuat.

Nampaknya, jaring itu tampak seperti dirancang khusus untuk menangkap makhluk-makhluk spiritual maupun makhluk iblis, yang umumnya sulit dijinakkan.

“Tangkap dia!” teriak Mo Zhengsheng, suaranya menggema di tengah gurun yang sunyi. “Jangan beri dia kesempatan untuk melarikan diri! Malam ini, kita akan berpesta dengan darah dan daging kelelawar iblis!”

Teriakannya penuh keyakinan, merasa kemenangan sudah berada di genggaman. Empat kultivator itu, dengan gerakan terlatih, melemparkan jaring ajaib ke udara.

WUSH! Jaring-jaring itu terbentang lebar, menutupi area seluas hampir lima puluh meter. Cahaya spiritual yang memancar dari jaring itu membuatnya terlihat seperti jaring yang tak mungkin ditembus.

Nampaknya, jaring itu memang dirancang untuk menangkap makhluk sebesar kelelawar iblis yang sedang mereka buru.

“Mampus kau!” seru salah satu kultivator, matanya menyala dengan semangat pertarungan.

“Dasar iblis! Malam ini adalah malam terakhir kamu menghirup udara segar!” tambah yang lain, suaranya penuh kebencian.

Suara desisan jaring ajaib itu terdengar nyaring, seolah merobek udara. Kekuatan spiritual yang terkandung di dalamnya membuat sang makhluk ajaib terpaku, tak mampu bergerak.

Dalam sekejap, kelelawar iblis itu sudah terjebak, terjerat erat oleh jaring yang memancarkan energi murni.

“Berhasil! Kita berhasil menangkapnya!” seru salah satu kultivator, wajahnya berseri-seri.

“Ternyata jaring ajaib yang dibeli pemimpin ekspedisi benar-benar berguna untuk melawan makhluk iblis!” ujar yang lain, suaranya penuh kekaguman.

“Kita akan kaya! Inti core siluman ini pasti harganya selangit!” tambah seorang kultivator dengan mata berbinar, ia membayangkan kekayaan yang akan mereka dapatkan nanti.

Namun, saat kelelawar iblis itu menukik ke bawah setelah terkena jaring, tubuhnya terjatuh dengan keras ke pasir gurun.

Suara benturan keras menggema, diikuti oleh erangan kesakitan yang tiba-tiba memecah kesunyian. “Aduh! Lepaskan aku!” suara itu terdengar jelas, berasal dari dalam jaring ajaib.

Semua kultivator terdiam seketika. Mereka saling memandang, ekspresi tak percaya terpampang di wajah masing-masing.

Dalam dua tarikan napas, Han Shan, si kultivator bermuka codet, mendesis pelan. “Dia... dia manusia?” ujarnya, suaranya bergetar, seolah tak yakin dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
abah ashif
top cerita menghibur
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pewaris Kultivasi Iblis, Raja Kelelawar Hitam   Kebangkitan di Hundun Yaosai

    Putih. Segala sesuatu berwarna putih menyilaukan yang membuat mata perih ketika pertama kali terbuka. Tidak ada suara, tidak ada wangi, tidak ada rasa apa pun kecuali kekosongan yang menyeluruh. Seperti berada di dalam pangkuan alam semesta sebelum segala sesuatu tercipta. Perlahan, mata yang tadinya tidak bisa melihat apa-apa mulai menyesuaikan diri dengan cahaya putih yang lembut. Bentuk-bentuk samar mulai muncul dari keputihan itu, berubah menjadi kontur yang familiar namun berbeda dari yang terakhir kali dilihat. Rong Tian terbangun dengan napas terengah-engah, dadanya naik turun cepat seolah baru saja berlari jarak jauh. Matanya berkedip beberapa kali, berusaha memfokuskan pandangan pada lingkungan di sekitarnya. Yang pertama ia rasakan adalah udara yang bersih dan segar, sangat berbeda dari bau darah dan kematian yang menjadi hal terakhir yang ia ingat. Ia duduk perlahan, merasakan tanah yang lembut di bawahnya. Bukan tanah kering yang dipenuhi tulang, tetapi rumput hijau ya

  • Pewaris Kultivasi Iblis, Raja Kelelawar Hitam   Perpisahan Terakhir Sang Imam

    Angin malam berdesir dengan suara yang menyayat jiwa di Padang Jiwa Terkoyak yang kini sunyi seperti kuburan raksasa. Bulan sabit menggantung tipis di langit kelam, cahayanya redup seolah enggan menyinari tragedi yang telah terjadi.Udara dipenuhi dengan bau darah yang mengering, tercampur dengan wangi bunga kematian yang tumbuh di antara tulang-tulang berserakan.Langkah kaki tua dan berat bergema perlahan di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.Imam Zhang Wuji berjalan dengan jubah Tao putihnya yang ternoda debu dan darah, matanya yang bijaksana kini dipenuhi kesedihan mendalam. Setiap langkahnya meninggalkan jejak cahaya putih samar, qi spiritual yang murni berusaha memurnikan tanah yang telah dikotori oleh begitu banyak kematian.Di tengah kawah yang dalam, sosok yang pernah dikenalnya sebagai murid yang penuh potensi kini berdiri membeku dalam keheningan abadi.Rong Tian masih dalam posisi tegak, seolah bahkan dalam kematian ia tidak mau menyerah kepada nasib. Jubah hitam yang

  • Pewaris Kultivasi Iblis, Raja Kelelawar Hitam   Imam Zhang Yang Terlambat.

    Sementara itu, di langit di atas Kota Heifeng, Tian Yuxiao berdiri di atas phoenix putihnya sambil mengamati kehancuran di bawah. Ia bersiap mengumumkan kemenangan final aliran putih ketika tiba-tiba langit mulai berubah aneh.Awan-awan tebal berwarna hitam keunguan mulai berkumpul dengan cepat, berputar membentuk pusaran raksasa yang menakutkan.Angin bertiup kencang dari segala arah, membawa serta bau belerang dan sesuatu yang membusuk."Apa yang terjadi?" gumam Tian Yuxiao sambil menatap ke atas dengan wajah khawatir.Tiba-tiba langit seolah terkoyak seperti kain yang disobek. Dari retakan itu muncul cahaya perak yang menyilaukan, diikuti oleh sosok yang turun perlahan dari ketinggian.Sosok itu mengenakan jubah perak yang berkilau seperti logam cair, wajahnya tersembunyi di balik kabut putih yang berputar-putar.Ketika sosok berjubah perak itu mendarat di udara lima puluh meter di atas kota, tawa mengerikan bergema ke seluruh Kota Heifeng. Suara tawa itu dingin dan mengejek, membu

  • Pewaris Kultivasi Iblis, Raja Kelelawar Hitam   Kehancuran Kota Heifeng.

    Ketika debu mulai mengendap, sosok Rong Tian terlihat terbaring tidak bergerak di tengah kawah. Jubah hitamnya compang-camping, topeng giok di wajahnya retak di beberapa bagian, namun seruling iblis masih tergenggam erat di tangan kanannya.Mata keemasannya yang biasanya berkilat kini redup dan kosong."Tuan Muda!" teriak Mo Qianmian dari Sekte Baibian Men sambil berlari mendekat. "Tidak mungkin... Tuan Muda tidak mungkin..."Hun Tunshi yang masih terluka parah merangkak dengan susah payah menuju kawah. "Raja... Kelelawar Hitam... tidak boleh... mati..."Xu Ying Ming dari Sekte Teratai Bulan Perak jatuh berlutut sambil memukul tanah dengan tangan yang gemetar."Tanpa Tuan Muda, kami semua akan musnah!"++++Kematian Rong Tian menciptakan gelombang keputusasaan yang menghancurkan moral seluruh pasukan aliran iblis. Mereka yang tadinya berjuang dengan semangat membara kini berdiri terpaku, menatap sosok pemimpin mereka yang terbaring kaku di tengah kawah dengan mata kosong yang menatap

  • Pewaris Kultivasi Iblis, Raja Kelelawar Hitam   Pertempuran Terakhir.

    Langit di atas Benua Qitu Dalu berubah menjadi kanvas kiamat ketika dua sosok legendaris meluncur menembus awan dengan kecepatan yang mencabik udara.Rong Tian, dalam wujud Raja Kelelawar Hitam, terbang dengan naga es Azure yang sudah terluka parah, sementara Tian Yuxiao dari Sekte Tianjian Ge mengejarnya dengan phoenix putih yang sayapnya berkilau seperti pedang cahaya.Pertarungan dimulai di atas Padang Jiwa Terkoyak, namun kini telah menyeret mereka melintasi seluruh benua.Dari utara yang bersalju hingga selatan yang tropis, dari gurun pasir barat hingga pegunungan timur, jejak kehancuran mereka tercipta di langit seperti luka terbuka yang mengeluarkan darah merah pekat."Daxia tidak akan bisa melarikan diri!" teriak Tian Yuxiao sambil mengayunkan pedang cahaya sucinya. "Pedang Cahaya Surgawi, Kilat Pemurnian Jiwa!"Puluhan kilatan cahaya putih kebiruan meluncur dari pedangnya, memotong udara dengan suara mendesis seperti ular raksasa. Setiap kilatan meninggalkan jejak panas yang

  • Pewaris Kultivasi Iblis, Raja Kelelawar Hitam   Tragedi di Medan Pembantaian

    Padang Jiwa Terkoyak kini benar-benar menjadi tempat yang sesuai namanya. Ribuan mayat bergelimpangan di mana-mana, baik dari kultivator hidup maupun jiangshi yang akhirnya hancur.Bau darah dan mayat yang membusuk memenuhi udara, bercampur dengan asap dari berbagai ledakan qi yang masih mengepul.Di berbagai sudut medan perang, para pemimpin sekte dari kedua aliran terlibat dalam duel mematikan yang menentukan nasib perang ini. Satu per satu, tokoh-tokoh penting mulai berjatuhan.Luo Qing Xian dari Sekte Kabut Jade Abadi tergeletak tidak bernyawa setelah duel dengan Bai Yuanfeng dari Sekte Shennong Gu.Wanita berambut hijau kebiruan itu tewas setelah racun buatannya sendiri berbalik menyerangnya, sementara Bai Yuanfeng terbaring sekarat dengan meridian yang hancur akibat terkena Kabut Jade Mematikan.Xu Ying Ming dari Sekte Teratai Bulan Perak berhasil mengalahkan Qin Hua, wakil pemimpin Sekte Shennong Gu, namun ia sendiri terluka parah. Darah perak mengalir dari luka di dadanya, sem

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status