Se connecterSeorang perempuan masuk ke dalam ruangan. Langkahnya terburu-buru, matanya langsung tertuju pada Xue Lun."Xue Lun!" panggilnya sekali lagi, dengan suara penuh kelegaan.Xue Lun mengerutkan alis, terlihat risih. Ia mendorong tangan perempuan itu yang hendak meraihnya. "Kenapa kamu kemari, Yao Ning?""Aku hanya ingin memeriksa kondisimu. Syukurlah kamu selamat," ucap gadis bernama Yao Ning itu, masih dengan napas terengah. Tatapan Yao Ning kemudian beralih ke sekitar ruangan, baru menyadari ada orang lain di sana. "Mereka... siapa?""Aku Zhang Liu," jawab pemuda itu dengan ramah. "Apa warga kota yang lain selamat?"yao ning mengangguk cepat. "Iya, terima kasih. Semua berkat Tuan itu." Ia menunjuk ke arah Zhu Pei.Zhu Pei tersenyum bangga, dadanya membusung.Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. yao ning menatap ke luar pintu, melihat sosok yang terbaring tak bergerak, Temannya. Sudah tidak bernyawa."xue lun, itu..." Yao Ning tak kuasa meneruskan kalimatnya.xue lun hanya bisa
Zhu Pei menepuk jidatnya sendiri, lalu menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah, seolah sudah menduga apa yang akan terjadi."Sudah kuduga," gumamnya pasrah. "Pasti sulit. Orang ini keras kepala sekali."Zhang Liu justru tersenyum tipis, masih optimis. Dia kemudian bertanya."Kenapa tidak?"Xue Lun menggeleng tegas. Matanya tajam. "Aku tidak mau membuat sesuatu untuk orang lain."Zhang Liu mengangkat alis. Ia hendak berkata sesuatu, tapi Xue Lun memotongnya."Tapi..." Xue Lun berhenti, ada sedikit keraguan di matanya."Tapi?" Zhang Liu menunggu.Xue Lun menatap Zhang Liu lekat-lekat. "Biarkan aku meneliti makhluk penyimpanan milikmu itu."Zhang Liu mengerjap. "Xiao Diyu?"Begitu namanya disebut, kelinci gendut di balik pakaian Zhang Liu tiba-tiba bangun. Ia menyembulkan kepalanya dengan mata yang terkantuk."Apa? Ada yang membicarakanku?" tanya Xiao Diyu.Zhang Liu mengabaikan kelinci itu. Matanya tetap tertuju pada Xue Lun. "Kamu lihat sendiri, aku menggunakan artefak iblis. Kam
Shin Ji merasa kakinya semakin gemetar. Rasa takut yang selama ini ia coba tahan kini meledak begitu saja, membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Matanya membelalak tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.‘Tidak mungkin... Tetua Yan Duo, seorang ahli yang disegani, bisa dikalahkan?’ batinnya bergemuruh, masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Orang itu benar-benar berbahaya. Aku harus pergi dari sini.Shin Ji hendak melarikan diri. Dengan gerakan cepat, dia menepis belati Zhu Pei yang sedari tadi terhunus di dekat lehernya.Namun Zhu Pei bukan lawan yang mudah. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia segera melemparkan dua jarum akupunktur. Jarum itu melesat tepat mengenai syaraf di kaki Shin Ji."Ugh!" Shin Ji meringis. Tubuhnya seketika tak bisa bergerak. Kedua kakinya terpaku di tempat, seolah mati rasa."Jangan berani-berani melarikan diri, sialan!" umpat Zhu Pei mendesis dengan suara pelan. "Aku juga takut dengan orang itu.""Tidak perlu takut, Zhu Pei." Suara itu tiba-
Zhang Liu menjerit kesakitan. Tubuhnya gemetar hebat di dinding, tertahan oleh ratusan jarum yang masih menusuk kulitnya. Matanya terpejam rapat, keringat bercucuran deras di wajahnya.Yan Duo tersenyum puas melihat penderitaan itu. Ia semakin menguatkan tekniknya, mengalirkan lebih banyak energi qi ke dalam cincin di jarinya."Ya, begitu," desisnya dengan nada penuh kepuasan. "Menderitalah dalam mimpi burukmu. Rasakan trauma yang paling dalam, ketakutan yang paling gelap. Biarkan mereka melahapmu dari dalam."Di sudut ruangan, Xue Lun memejamkan mata pasrah. 'Ha, matilah aku,' batinnya. 'Sudah kuduga akan berakhir seperti ini.'Zhu Pei dari balik pintu melihat semua itu dengan cemas. Ia bingung, tak mengerti apa yang terjadi. Zhang Liu yang selama ini ia kenal sebagai pria tangguh, yang berhasil menaklukkan ular sisik naga raksasa, kini terlihat tak berdaya.'Hanya seperti ini saja? Apa dia akan kalah?' pikirnya panik.Yan Duo tertawa puas. Ia yakin kemenangan sudah di tangannya."Ma
Zhang Liu menoleh ke belakang, menatap pemuda yang memeluk sebuah kotak dengan erat."Pergilah," ucapnya singkat tanpa menoleh lagi. "Tempat ini sudah tidak aman."Xue Lun berdiri kaku, masih belum melepaskan cetak biru di pelukannya. Ia menggeleng keras."Tidak bisa."Zhang Liu akhirnya menoleh, alisnya berkerut. "Apa?""Aku masih punya harta berharga di sini," jawab Xue Lun jujur tanpa rasa malu sedikit pun. "Jika harus mati, lebih baik mati di sini daripada pergi meninggalkan semua hasil karyaku."Zhang Liu kembali menatapnya beberapa detik, lalu mendengus kesal.'Kenapa orang-orang yang kutemui selalu penggila uang seperti Zhu Pei?' pikirnya jengkel.Belum sempat Zhang Liu berkata lagi, terdengar teriakan pria di depannya penuh amarah."Zhang Liu!"Yan Duo melangkah maju, wajahnya merah padam."Kau pasti Zhang Liu, si buronan itu, kan? Beraninya kau menentang Sekte Tiansheng!" bentaknya. "Dasar penyembah iblis!"Yan Duo kemudian mengangkat tangannya, memberi instruksi. "Cepat tang
Zhu Pei berlari mencari Zhang Liu di tengah kepungan asap dan debu. Pertarungan masih berlangsung sengit. Ketika akhirnya menemukan Zhang Liu, ia terkejut melihat kekuatan pemuda itu.Apa yang terjadi padanya? pikir Zhu Pei. Kultivasinya baru tingkat dua, tapi kekuatan ini... mungkinkah karena segel kedua jantung duality-nya terbuka?Zhang Liu tampak seimbang dengan Shin Ji dan semakin ganas. Pedang Tanduk Hitamnya menari-nari di udara, meninggalkan jejak hitam di setiap tebasan.Srett!Sebuah tebasan keras melukai bahu Shin Ji. Darah menyembur. Guru senior itu terpental mundur beberapa langkah, wajahnya pucat karena luka yang cukup besar."Zhang Liu!" Zhu Pei berteriak sambil berlari mendekat.Zhang Liu menoleh sekilas, matanya masih merah menyala. "Ada apa?""Aku lihat bala bantuan Sekte Tiansheng datang!" Zhu Pei melaporkan dengan napas tersengal. "Salah satu tetua mereka ikut. Dia lebih kuat dari Shin Ji. Kita harus pergi!"Zhang Liu terdiam sejenak. Namun ekspresinya tidak beruba
"Zhang Liu, kau juga dengar, kan?" tanya Zhu Pei dengan nada sedikit gelisah.Zhang Liu mengangguk pelan. "Karena itu cepat selesaikan permainanmu. Kita harus cepat pergi." Dia menarik kerah pakaian Zhu Pei."T-tunggu sebentar!" Zhu Pei sedikit menahan tubuhnya dan buru-buru meraup koin-koin emas di
Zhang Liu langsung berdiri. Tanpa berkata apa pun, dia berbalik melangkah pergi menuju pintu keluar."Tuan Zhang?!" Luo Yan terkejut. "Mau ke mana? Lelang belum selesai!"Tapi Zhang Liu sudah menghilang di balik pintu.Pria itu melangkah cepat melewati lorong belakang. Ia mengikuti arah petugas kapa
'D-dia, bagaimana dia bisa ada di sini?' batin Zhu Pei menjerit kaget. Tubuhnya menegang. Dia membeku di tempat dengan mata membelalak melihat pantulan seseorang dari kaca jendela kapal.Di belakang Zhu Pei, kini berdiri sosok pria yang basah kuyup, dan berbau amis darah hijau yang menyengat. Hawa
Di aula utama kediaman keluarga Luo, suasana formal namun tegang menyelimuti ruangan yang luas.Luo Bai duduk di kursi utama dengan sikap hormat namun waspada. Kedua tangannya diletakkan di atas sandaran kursi. Di hadapannya, Shu Meili duduk dengan anggun menyilangkan kaki.Di samping Luo Bai, Luo







