LOGIN"Ada energi iblis di sekitar," gumam Xiao Diyu, suaranya rendah.Zhang Liu terdiam, memperhatikan dan merasakan energi sekitar. Dia mengangguk setuju. "Aku merasakannya."Zhu Pei yang di atas ikut berhenti. Ia menoleh ke kiri dan kanan, merasakan udara di sekeliling. Angin yang tadinya bertiup pelan tiba-tiba berhenti. Dedaunan di pepohonan tak bergerak.Zhu Pei segera mengaktifkan mata kebenarannya. Iris matanya berubah hijau terang, memindai sekeliling. Ia mendongak, dan dalam sekejap, wajahnya berubah pucat sambil menelan ludah."Apa yang kau lihat, Zhu Pei?" tanya Zhang Liu. "Tiba-tiba aku merasakan energi iblis yang pekat di sekitar."Zhu Pei masih dengan mata kebenarannya yang bersinar hijau. "Ya. Karena itu sejenis denganmu.""Apa?""Sepertinya tanpa sengaja kita masuk ke wilayah penyembah iblis sungguhan," jawab Zhu Pei.Zhang Liu membelalak, terkejut. "Jadi mereka memang ada ya.""Tentu saja," balas Zhu Pei. "Karena tak mungkin banyak orang yang membenci mereka, apalagi Sekte
Xue Lun menyipit. Matanya bergerak dari Yao Ning ke dua pria di belakangnya. Tak ada token keluarga, lencana sekte, atau apa pun yang menunjukkan identitas mereka.Xue Lun menatap waspada. Tangannya perlahan turun ke pinggang, tempat ia menyimpan belati kecil."Dari mana kalian tahu soal itu? Dari mana asal kalian?" tanya Xue Lun, suaranya dingin, matanya tak lepas dari dua pria asing di belakang Yao Ning.Salah satu pria itu tersenyum ramah."Kami hanya pendekar pengembara," jelasnya. "Kebetulan baru sampai tadi pagi. Kami mendengar soal orang yang memiliki mata kebenaran dari warga sekitar."Xue Lun terdiam sejenak. Ada yang aneh dari dua orang ini. Tatapannya terlalu tenang, gerak-geriknya terlalu terukur. Bukan seperti pendekar pengembara biasa."Itu aku," ucap Xue Lun akhirnya.Kedua pria itu mengerjap, sedikit heran. Yao Ning ikut terkejut."Apa?""Aku dipanggil Si Mata Kebenaran karena sering menemukan material langka," lanjut Xue Lun, suaranya santai.Yao Ning angkat bicara. "
Xue Lun menatap tongkat yang masih bergetar di tangan Zhang Liu."Material langka yang kugunakan memiliki jiwa di dalamnya. Agak sedikit kuat. Aku sampai terbakar saat membuatnya karena material itu menolakku," jelasnya sambil menunjukkan luka di bahunya.Zhang Liu menatap tongkat di tangannya. Cahaya dari dalam batu kristal itu berkilau tak karuan, seolah hendak melawan, hendak lepas dari genggamannya."Jika kau bisa menaklukkannya, silakan," kata Xue Lun, menyilangkan tangan di dada. "Aku akan membuat tongkat lain yang—""Tidak perlu," sela Zhang Liu. Dia menggenggam tongkat itu erat. Energi suci mengalir dari telapak tangannya, menyelimuti seluruh permukaan kayu hitam itu.Jiwa di dalam tongkat itu berontak, bergetar lebih keras, tapi perlahan mulai mereda.Dalam hitungan detik, tongkat itu berhenti bergerak. Cahayanya stabil, dan Zhang Liu mengangkatnya dengan mudah."Aku sudah berpengalaman menaklukkan jiwa dalam senjata," ucap Zhang Liu dengan santai.Xue Lun tercegang. Matanya
Zhang Liu terdiam, terkejut mendengar pertanyaan Bai Rong tadi. Ia baru menyadari maksud dari keraguan dan tatapan gadis itu selama ini.'Dia suka padaku?' pikirnya, masih tak percaya.Di dalam lautan batinnya, Hui Shen menggeleng pelan. 'Baru sadar sekarang? Astaga.'Bai Rong semakin mendekat, bahkan tangannya meraih tangan Zhang Liu, menggenggamnya erat. Matanya menatap penuh harap, menunggu kata-kata yang ia nanti-nanti."Bagaimana, Tuan Zhang?"Zhang Liu tersenyum tipis, canggung. Ia menarik tangannya perlahan, tak ingin bersikap kasar pada gadis itu."Maaf, Nona."Bai Rong mendongak, alisnya langsung mengernyit."Saat ini aku belum bisa memikirkan soal hubungan dengan lawan jenis," lanjut Zhang Liu, suaranya pelan tapi jelas. "Ada yang harus kulakukan, dan aku tak mau itu menyakiti orang yang menjalin hubungan denganku."Bai Rong menunduk. Ia menggigit bibir, mencoba menahan rasa kecewa yang mulai menggenang di dadanya.Zhang Liu berusaha menolak dengan halus, meski ia tahu apapun
Wen Ying masih membisu. Bibirnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan, tak ada satu kata pun keluar dari mulutnya.Xue Lun menghela napas. Sabit di tangannya ia dekatkan ke leher Wen Ying, ujung tajamnya hampir menyentuh kulit."Kubilang jawab."Wen Ying menggigit bibir, tubuhnya gemetar, tapi tetap tak bersuara.Zhang Liu mendengus kesal. Ia meraih sabit dari tangan Xue Lun, dan dalam sekejap, mengayunkannya ke arah tangan Wen Ying.Sret!Satu jari Wen Ying terputus. Darah menyembur, dan pria itu menjerit kesakitan."Aargh!"Xue Lun mengerjap, sedikit terkejut. Ia menatap Zhang Liu, baru teringat. 'Oh benar, dia memang iblis.'Zhang Liu mengangkat sabit itu, masih meneteskan darah, dan menatap Wen Ying dingin. "Aku takkan bertanya lagi. Jawab, atau jari berikutnya putus."Wen Ying terisak, rasa sakit dan ketakutan membuat pertahanannya runtuh."A-aku... aku dapat bahan dan material langka jika membantu Sekte Tiansheng menaklukkan Kota Bailian. M-mereka juga menjanjikan posisi te
Di tengah kerumunan yang mulai memanas, Wen Ying masih berusaha membela diri."Tidak mungkin!" teriaknya, menunjuk Zhu Pei. "Dari mana kau tahu soal kerusakan array? Kau orang asing yang baru datang kemarin!"Zhu Pei tak bergeming. Ia berdiri tenang di hadapan kerumunan yang mulai memusatkan perhatian padanya."Kau benar," ucap Zhu Pei, suaranya tenang. "Aku orang asing. Tapi mataku tidak pernah berbohong."Zhu Pei memejamkan mata sejenak. Saat membuka kembali, iris matanya berubah. Warna hijaunya bersinar terang, memancarkan cahaya aneh yang membuat siapa pun yang menatapnya merasa seperti ditelanjangi.Kerumunan bergemuruh."Itu mata kebenaran!""Mata itu bisa melihat kebenaran apa pun!""Aku pernah dengar rumornya. Tapi kupikir cuma dongeng..."Zhu Pei menatap Wen Ying dengan mata hijaunya yang bersinar."Aku melihatnya dengan mataku sendiri." Zhu Pei kemudian menunjuk ke area kerusakan array yang ia lihat. "Ada beberapa titik kerusakan array di sana."Wen Ying mundur, wajahnya sem
"Kelinci itu ada di sana?" tanya Zhu Pei.Zhang Liu mengangguk ragu. "Iya, ayo pe—"Namun, sebelum sempat melangkah, dari balik semak-semak, seekor kelinci melompat keluar. Itu Xiao Diyu yang mereka cari.Zhang Liu terkejut. "Xiao Diyu?! Kau dari mana saja? Kenapa kau muncul dari arah sana?"Xiao Di
Di aula utama kediaman keluarga Luo, suasana formal namun tegang menyelimuti ruangan yang luas.Luo Bai duduk di kursi utama dengan sikap hormat namun waspada. Kedua tangannya diletakkan di atas sandaran kursi. Di hadapannya, Shu Meili duduk dengan anggun menyilangkan kaki.Di samping Luo Bai, Luo
"Kau. Sepertinya aku pernah melihatmu."Shu Meili mendekat pada mereka. Dan ternyata, tangannya menunjuk pada Zhu Pei. Matanya menyipit tajam, seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.Zhu Pei menunduk dalam, jantungnya berdetak kencang. Ia tahu wajahnya mungkin dikenal. Itu karena dulu lukisan waj
Zhu Pei berlari cepat ke arah Zhang Liu. Napasnya tersengal lelah dan akhirnya berhasil mengejar pria itu.'Oh iya. Aku lupa dia,' pikir Zhang Liu baru teringat.Zhu Pei mendongak dengan tatapan tajam. "Kenapa kau tiba-tiba pergi? Aku merasa dadaku sangat sesak seperti mau mati. Kau tidak boleh ber







