LOGIN"Nanti saja kuceritakan. Sekarang cepat pakai bajumu dan ikut denganku," pinta Zhu Pei. Sejak tadi dia tak berani menatap Zhang Liu.Setelah itu, Zhu Pei kemudian berbalik dan keluar dari ruangan.Zhang Liu sedikit heran dengan tingkahnya, tapi tak peduli. Ia menghela napas panjang.Kemudian Zhang Liu berjalan mengambil pakaian, lalu menoleh pada kelinci gendut yang asyik tidur sejak tadi."Bangun, Xiao Diyu!" teriaknya sambil menendang peliharaannya itu sampai terjatuh.Brugh!"Ahk!" Xiao Diyu akhirnya bangun, dan langsung protes. "Ada apa, Tuan? Aku sedang mimpi indah!""Kita pergi sekarang. Cepat bangun!" perintah Zhang Liu.Xiao Diyu menggerutu, tapi tetap menurut. Ia berubah menjadi serigala api, meski wajahnya masih cemberut.Usai bersiap, Zhang Liu keluar dengan penampilan pria tua. Kelinci gendut yang cemberut sembunyi di balik pakaiannya.Zhu Pei sudah menunggu di lantai satu. Dia masih sempat makan, dan langsung menyuapkan bakpao ke mulutnya saat melihat Zhang Liu."Ayo perg
Zhu Pei menatap punggung dua orang yang melewatinya, dan akhirnya mengangguk paham."Sudahlah. Besok saja kita cari tahu," katanya, mencoba mengalihkan perhatian Zhang Liu agar tak hilang kendali.Akhirnya Zhu Pei menarik Zhang Liu untuk melanjutkan jalan. Mereka sampai di depan pintu penginapan."Itu kamarmu, ini kamarku," kata Zhu Pei sambil memberikan salah satu kunci. "Aku ingin istirahat, jangan membangunkanku."Zhu Pei masuk kamar penginapannya sambil menutup mulutnya yang menguap.Zhang Liu pun masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu. Dalam ruangan, ia berhenti membungkuk, tubuhnya yang tegap kembali seperti semula.Zhang Liu kemudian berbaring di kasur sambil terpejam, tak berniat melepaskan penyamarannya karena ia harus memakainya selama di tempat itu."Haa..." Helaan napasnya cukup panjang, seolah ada beban berat di punggungnya. Semua kejadian dan masalah terus datang silih berganti.Tak lama, tiba-tiba jendela kamarnya terbuka meski dari lantai dua. Seekor burung elang
Setelah beberapa hari di perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya hampir tiba di gerbang masuk menuju wilayah klan Tiansheng.Sinar matahari di sore hari mulai redup, menyisakan cahaya jingga di ufuk barat.Zhu Pei tiba-tiba menahan langkah Zhang Liu saat mereka hanya beberapa kilometer lagi sampai."Kenapa?" tanya Zhang Liu."Wajahmu terlalu mencolok. Kau harus dibuat sejelek mungkin. Semua orang di sekte Tiansheng tahu siapa kau," jelas Zhu Pei dengan raut serius.Zhu Pei kemudian mengeluarkan sebuah krim, mengoleskannya di wajah Zhang Liu. Krim itu secara ajaib mengeras di kulit Zhang Liu dan membentuk wajah baru.Zhu Pei dengan lihai mendandani Zhang Liu sedemikian rupa. Dia bahkan mengacak-acak rambut Zhang Liu dan mengoleskan sesuatu.Xiao Diyu yang berubah menjadi seekor kuda mendekat memperhatikan, penasaran. Dia hampir tertawa tapi berusaha ditahan.Zhu Pei akhirnya menghela napas puas."Selesai," katanya sambil memukul pelan punggung Zhang Liu. "Tubuhmu jangan terlalu
"Tolong lepaskan, Tuan Zhang." Xiao Hua meringis karena tanpa sadar Zhang Liu mencengkeramnya terlalu keras.Zhang Liu menatap datar, lalu melepaskannya."Pergi," katanya dengan suara berat, menahan emosi.Xiao Hua menghela napas lega, lalu segera keluar dari lorong itu. Terisalah mereka berdua.Zhu Pei merasa sesak dalam situasi canggung itu. Ia hendak mengikuti Xiao Hua keluar, tapi suara Zhang Liu menahannya."Kau sudah tahu tentang ini, kan, Zhu Pei."Zhu Pei menghentikan langkahnya. Ia pura-pura tak tahu. "Tahu apa?""Jangan pura-pura bodoh!" Zhang Liu agak membentak, matanya mendelik tajam.Zhu Pei menunduk, sedikit ciut. "Aku tak memberitahumu karena takut kau akan bereaksi begini."Zhang Liu beralih mencengkeram kerah pakaian Zhu Pei. Melotot. "Kau harusnya lebih tahu konsekuensi membohongiku, kan? Tapi kau malah membawaku pada cucu tetua sekte Tiansheng?"Zhu Pei menelan ludah, tak bisa berkata-kata. 'Habislah, aku akan mati.'Tapi ternyata tidak. Zhang Liu malah melepaskan ce
Lin Xiu menatap ke arah gua. Puas rasanya melihat musuh-musuh yang selama ini mengganggu ketenangan sekte mereka telah musnah. Ia mengangguk pada murid-muridnya."Lepaskan formasi array. Kita kembali ke—"Srek!Tiba-tiba, suara berdesir terdengar dari arah pohon besar. Lin Xiu menoleh, matanya menyipit curiga. Ia memperhatikan dengan saksama, dan tak lama kemudian, seekor kelinci gendut muncul dari balik semak.Wajah Lin Xiu sedikit melunak. "Hanya kelinci ternyata."Murid-muridnya ikut menghela napas lega."Ayo kembali," perintah Lin Xiu. Mereka melayang pergi dengan pedang terbang masing-masing, meninggalkan lokasi yang sunyi.Kelinci gendut itu tetap diam di tempatnya, menatap ke arah rombongan Sekte Tiansheng yang semakin menjauh. Setelah mereka benar-benar tak terlihat, kelinci itu mendongak ke atas."Mereka sudah pergi!" seru Xiao Diyu.Dua orang melompat turun dari atas pohon dengan hati-hati. Zhu Pei menghela napas lega, tangannya mengusap dada."Ada untungnya juga kemampuanmu,
"Kau akan tahu nanti. Lebih baik kita pastikan dulu sebelum kembali ke rumah bordil Jing Ling," jawab Zhang Liu, agak ambigu.Zhu Pei mendengus kesal. "Jelaskan dalam bahasa bayi! Aku tak suka kalau kau bicara berputar-putar.""Kau saja yang bodoh," ejek Xiao Diyu dari samping.Zhang Liu hanya tertawa kecil, tak membantah. Mereka terus berjalan hingga mendengar suara aliran sungai di depan sana."Bukankah kau mau buang air besar, Zhu Pei?" Zhang Liu memastikan."Diamlah! Jangan mengikutiku!" Zhu Pei pergi dengan pedang terbangnya ke seberang sungai, cukup jauh hingga tak terlihat oleh Zhang Liu dan Xiao Diyu.Zhang Liu menghela napas. "Xiao Diyu, carilah ikan di sungai untuk kita makan."Xiao Diyu mengangguk, berubah ke wujud serigalanya lalu menyelam ke dalam air.Hari sudah mulai sore dan mereka tak sempat makan siang. Tak lama, Zhu Pei pun kembali dan ikut bergabung dengan mereka.Usai menyantap ikan bakar yang dimasak Zhang Liu, suasana mulai tenang. Zhu Pei bersandar di batang po
Zhu Pei menempelkan telinganya lebih erat ke dinding. Suara bisikan itu terdengar jelas dua orang, satu laki-laki dan satu perempuan."Tapi dia yang menyelamatkanku dari pembunuhan. Lagi pula, ini memang salahku." Suara Luo Yan terdengar ragu, penuh penyesalan. Ada getar bersalah yang tak bisa dise
Di saat Yu Fei lega dan percaya diri telah mengalahkan Zhang Liu, tiba-tiba di tengah kepulan asap dan debu, muncul kilatan hitam. Bukan hitam biasa, tapi hitam pekat seperti lubang yang menelan cahaya.Kilatan itu melesat cepat, membalas dan menebas Pedang Penghakiman Surgawi yang masih tertancap
"Sepertinya mereka bermalam di sini setelah memusnahkan sekte musuh," lanjut Zhu Pei dengan suara pelan. Lalu menunjuk dengan tangan. "Perjalanan ke sekte mereka pasti memakan waktu. Lihat, ada yang terluka juga."Zhang Liu mengangguk paham. "Masuk akal. Tapi berbahaya jika kita menginap di tempat
"Zhang Liu, kau juga dengar, kan?" tanya Zhu Pei dengan nada sedikit gelisah.Zhang Liu mengangguk pelan. "Karena itu cepat selesaikan permainanmu. Kita harus cepat pergi." Dia menarik kerah pakaian Zhu Pei."T-tunggu sebentar!" Zhu Pei sedikit menahan tubuhnya dan buru-buru meraup koin-koin emas di







