Mag-log inPagi itu, atmosfer di ruang istirahat khusus terapis senior benar-benar mencekam. Tidak ada suara uap mesin kopi atau obrolan ringan tentang gosip selebriti yang biasanya mengisi sela jadwal. Ruangan itu terasa seperti medan perang yang baru saja meledak, meninggalkan aroma ketegangan yang menyesakkan.
Sesil duduk di kursi tengah dengan wajah lebih kaku dari biasanya. Di sekelilingnya, Maya, Ratna, dan Sari tampak tidak tenang, terus mengetuk-ngetukkan kuku panjang mereka di atas meja
Lampu senter ponsel Mirah menembus kegelapan lobi Taman Suci yang mencekam. Bau kabel hangus menusuk hidung, beradu dengan aroma lembap karpet sutra yang basah kuyup. Mirah menarik napas panjang sambil menatap puing-puing plafon yang berserakan di lantai."Mbak, ada yang jauh lebih gawat dari sekadar pipa bocor ini," bisik Sari dengan suara bergetar. Mirah memutar tubuhnya perlahan, menyorot wajah Sari yang pucat pasi terkena cahaya lampu. "Katakan sekarang sebelum Agam sampai di sini, Sari!" bentak Mirah pelan namun tajam."Lilis, Mbak... dia ada di kamar nomor empat," Sari menunjuk ke lorong gelap di sayap kanan. Bau muntahan yang asam kini mulai mengalahkan wangi cendana di koridor itu. Mirah melangkah cepat, merasakan air dingin merembes ke dalam selop mahalnya.Mirah mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar ke arah dinding. Lilis tampak meringkuk di sudut lantai yang kotor sambil memegangi perutnya yang rata. "Apa yang terjadi padamu?" tanya Mirah samb
Tubuh Sari terhempas kasar hingga menghantam aspal panas di depan ruko Taman Suci. Mirah tersentak melihat bibir asistennya pecah dan mengeluarkan darah segar. Bau debu gudang yang apek menguar kuat dari seragam Sari yang telah koyak.Agam melangkah keluar dari sedan hitamnya dengan gerak-gerik yang sangat mengancam. Ia mencengkeram rahang Mirah hingga gadis itu merintih menahan sakit. "Nani sudah melaporkan semua pengkhianatanmu di wilayah Barat," desis Agam dingin.Jemari pria itu menekan lebih kuat seolah hendak meremukkan tulang wajah Mirah. "Beruntunglah otakmu masih berguna untuk mengelola asetku di wilayah Selatan," tambahnya ketus. "Jangan pernah berani mengirimkan mata-mata murahan lagi ke wilayah kekuasaan Nani, atau aku sendiri yang akan memastikan kalian berdua terkubur di bawah beton ini".Mesin mobil menderu angkuh sebelum kendaraan itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap. Mirah membantu Sari bangkit dari permukaan aspal yang membakar. "Mbak, N
Sari berdiri gemetar di depan pintu kaca Griya Binal yang retak. Jejak ledakan botol bensin tempo hari masih terlihat sangat jelas di sana. Napasnya terasa sesak mengingat instruksi Mirah yang terus berputar di kepala.Ia mengusap keringat dingin di telapak tangannya ke rok span ketat. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki sarang macan wilayah Barat itu. Bau jamu stamina dan asap rokok murah langsung menyergap indra penciumannya."Cari siapa? Anak baru ya?" tanya Maya dengan nada penuh selidik. Matanya menyipit sambil terus mengikir kuku berwarna ungu gelap yang tajam. Meja resepsionis di depannya tampak berantakan dengan sisa makanan dan botol minuman."Saya disuruh Mas Agam bantu-bantu di sini karena katanya sedang ramai," bohong Sari. Bibirnya terasa kelu dan jantungnya berdegup kencang karena rasa takut yang hebat. Ia berusaha menghindari tatapan Maya yang seolah mampu menembus kebohongannya."Jangan cuma bengong, ambil lap itu dan bersihkan semu
Sisa aroma dupa dari Elegance Spa masih melekat kuat di rambut Mirah. Langkah kakinya terasa berat saat memasuki lobi Taman Suci yang sunyi. Keheningan ruko di wilayah Selatan pagi ini terasa sangat mencekam.Mirah menyentuh memar di rahangnya yang mulai menguning akibat ulah Agam. Ia memperhatikan Sari yang mendadak sangat rajin mengelap meja resepsionis. Gadis itu tampak ketakutan dan enggan membalas tatapan matanya."Ada tamu VVIP menunggu Mbak Mirah di Kamar Melati," bisik Sari lirih. "Siapa orangnya sampai harus masuk ke kamar itu?" tanya Mirah curiga. "Dia bilang teman lama Mbak dari wilayah Barat," jawab Sari pelan.Jantung Mirah berdegup kencang mendengar kata 'Barat' disebut di wilayahnya. Firasat buruk mulai merayapi tengkuknya yang kini terasa dingin mencekam. Nani pasti sedang merencanakan sesuatu yang sangat berbahaya untuknya."Bawa minyak zaitun murni ke sana sekarang, Sari," perintah Mirah tegas. "Baik, Mbak, tapi tamu itu terlihat sangat
Ponsel di atas meja rias bergetar hebat di tengah malam yang sunyi. Mirah membaca pesan singkat dari Sesil dengan napas yang tiba-tiba tertahan. "Mas Agam mengundang kalian ke markas besar besok pagi tanpa tapi," tulis pesan itu.Di tempat lain, Nani menerima pesan serupa sambil mengelus kalung berlian barunya. Ia tersenyum lebar melihat undangan yang dianggapnya sebagai panggung kehormatan. Bagi Nani, panggilan ke Elegance Spa adalah bukti kekuasaannya mulai diakui.Pagi harinya, pintu jati markas besar itu terbuka dengan bunyi gesekan yang sangat berat. Bau minyak esensial cendana yang mahal langsung menyergap indra penciuman mereka berdua. Mirah berjalan dengan langkah kaku sementara jemarinya meremas map laporan hingga lecek."Masuk dan langsung menuju ruang tengah sekarang juga," perintah Sesil dengan nada dingin. Ia berdiri di balik meja resepsionis dengan tatapan yang sangat meremehkan. Nani hanya membalasnya dengan kibasan rambut yang menebarkan aroma pa
Botol kaca meluncur cepat dari kegelapan jalanan Jakarta Barat. Dentuman memekakkan telinga terdengar saat kaca depan Griya Binal hancur berantakan. Lidah api langsung menyambar gorden ungu di balik lobi yang pengap.Kekacauan pecah seketika di dalam ruko yang biasanya tenang. Para terapis berteriak histeris saat asap hitam mulai menjilat plafon. Aroma minyak pijat murahan kini kalah oleh bau sangit kain terbakar.Nani berdiri mematung menatap jelaga hitam di dinding putih ruko. Getaran sisa ledakan semalam masih terasa di ujung sepatu hak tingginya. Ia mengamati butiran kristal kaca yang berserakan di atas karpet basah."Jakarta memang tidak pernah mengizinkan aku beristirahat sejenak," batin Nani gusar. Tangannya meremas tas kulit baru hingga buku jarinya memutih kaku. Amarah yang dingin mulai merambat naik dari telapak tangan ke bahunya.Bayangan pria-pria berjaket oranye mulai berkumpul di balik pintu ruko. Mereka menunggu dengan wajah lapar untuk men







