登入Mirah mencengkeram pinggiran wastafel marmer hingga buku jarinya memutih pasi. Gejolak mual hebat terus naik sampai ke pangkal tenggorokannya yang terasa kering. Di cermin, wajahnya tampak sangat pias meski tertutup riasan tebal paksaan Maya.
"Minum, ini jamu rahasia biar badan lo nggak remuk nanti," bisik Maya satu jam lalu. Mirah menatap gelas keramik kosong yang tadi berisi cairan pekat berbau tanah menyengat. Perutnya kini terasa melilit hebat seperti diperas oleh sepasang tangan r
Dua mobil SUV hitam itu masih menderu halus di depan kontrakan Lilis yang suram.Nani nampak mematung, ponsel di tangannya perlahan turun seiring runtuhnya nyali di wajahnya yang mulai berkeringat dingin.Mirah menarik napas dalam, merasakan kemenangan kecil ini menyapu sesak yang tadi menghimpit paru-parunya."Gimana, Nan? Masih mau manggil wartawan atau mau bicarakan ini baik-baik?" tanya Mirah dengan nada tenang yang mematikan.Nani hanya diam, tenggorokannya nampak naik turun seperti sedang menelan batu yang sangat keras."Aa... anu, Mir, gue cuma bercanda tadi. Be-beneran, cuma mau kasih peringatan biar lo gak terlalu sombong di Selatan," ucap Nani terbata-bata."Bercanda lo hampir bikin Lilis keguguran, Nan. Udah, lo pergi sekarang sebelum orang-orang ini bosan nunggu."Mirah melambaikan tangan ke arah mobil hitam tersebut, memberikan isyarat bahwa situasi sudah terkendali.Gara-gara malu, Nani segera memutar badannya dan
Motor Elang mengerem mendadak sampai ban belakangnya mencit di aspal yang licin karena sisa hujan.Mirah terdorong keras, dadanya membentur punggung Elang yang kaku seperti papan kayu jati."Lang, putar balik! Lilis dalam bahaya!" teriak Mirah dengan suara yang pecah oleh angin malam.Gara-gara panik, jarinya gemetar saat memegang ponsel yang layarnya retak, menampilkan pesan maut dari Nani.'Aduh, ini wanita ular beneran mau main gila buat jatuhin reputasi gue,' batin Mirah yang merasa seluruh darahnya turun ke kaki.Di depan mereka, lampu mobil Agam menyorot tajam, menghalangi jalan keluar satu-satunya dari gang sempit itu."Gak bisa, Mir! Ada mobil Agam di depan kita!"Elang memutar stang motor, mencari celah di antara tumpukan sampah dan tembok warga yang kusam."Ta-ta-tapi Lilis gimana? Nani tahu tempatnya, Lang! Be-beneran ini dia mau laporin Lilis ke Satpol PP!""Tenang! Kita cari jalan muter lewat kebun kosong di
Brakkkk!Gedoran di pintu lobi itu membuat jantung Mirah nyaris melompat keluar dari tenggorokan.Dia mematung di dapur, tangannya masih memegang botol cairan pembersih lantai yang baunya menyengat.'Mampus, kalau Agam lihat ini, nyawa gue cuma seharga kerupuk melempem,' keluhnya dalam batin yang kalang kabut.Sari sudah jongkok di bawah meja kompor, badannya menggigil seperti orang kena malaria."Woi! Keluar lo semua! Mas Agam mau bicara!"Teriakan parau itu menggema lagi, diikuti suara langkah sepatu yang berat di lantai granit.Ditariknya napas dalam-dalam oleh Mirah, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya."Aa... anu, Mas, bentar! Lagi beresin tumpahan minyak di dapur!"Mirah membalas dengan suara yang sengaja dibuat melengking agar terdengar sibuk.Gara-gara panik, dia menyembunyikan botol cairan kimia itu ke dalam tempat sampah yang penuh sisa sayuran.Dilihatnya Sari yang masih membeku keta
Lampu pijar di atas meja kerja Agam berkedip-kedip tidak stabil, mengeluarkan bunyi berdengung halus yang menusuk gendang telinga Mirah.Baunya seperti campuran antara cerutu mahal dan bau keringat basi yang terjebak di karpet beludru.Dia berdiri mematung di tengah ruangan yang menyesakkan.Tangannya gemetar hebat saat dia memasukkan alat duplikat kunci pemberian Elang ke dalam lubang laci meja jati yang nampak sangat kokoh.Deggg...Suara mekanisme kunci yang terbuka terasa seperti ledakan granat di tengah keheningan malam yang mencekam.Mirah menahan napas, matanya melirik liar ke arah pintu kayu yang tertutup rapat.Dia membayangkan Agam tiba-tiba muncul dengan wajah merah padam akibat wiski.'Duh, jangan sampai bangun itu macan, bisa abis gue dikulitin,' keluhnya dalam batin yang berkecamuk.Jari-jarinya yang masih sedikit berminyak mulai mengacak-acak tumpukan map cokelat."Mana sih bukunya... koq n
Mesin motor Elang menderu rendah di gang sempit. Jok kulit yang basah oleh gerimis terasa dingin di pangkal paha Mirah. Ia mengeratkan pelukan pada pinggang Elang sambil menghirup aroma jaket kulit kusam."Jangan menoleh, Mir," bisik Elang dari balik helm. Suaranya nyaris tertelan angin malam yang menusuk tulang. Mirah membenamkan wajahnya di punggung Elang yang berotot keras.Lampu neon ruko Selatan kian mengecil di kejauhan. Bau sulfur dari botol minyak sabotase tadi masih terbayang di benaknya. "Ratna benar-benar gila," batin Mirah dengan jantung berdenyut kencang.Motor meliuk menembus gang-gang gelap yang pengap. Bayangan wajah bengis Agam seolah mengekor di kaca spion. Mirah merasa sedang melompati pagar kandang macan malam ini.Mereka berhenti di depan sebuah gudang tua berkarat. Suara jangkrik menyambut kesunyian yang mencekam di sana. Tetesan air dari talang bocor membasahi tanah becek."Turunlah, kita sudah sampai," instruksi Elang dengan
Sisa kehangatan Sudono masih membekas di seprai sutra yang berantakan. Mirah merapikan kancing kebayanya yang sempat terlepas dengan jemari gemetar. Ia menatap pantulan matanya yang kini sedingin es di cermin rias.Lantai Kamar Nirwana terasa membeku saat bersentuhan dengan kulit kakinya. Bau dupa cendana mulai kalah oleh aroma pembersih lantai yang tajam. Mirah segera menyambar botol minyak pijatnya sebelum ada mata-mata masuk."Kemenangan ini cuma umpan untuk hiu-hiu lapar di sini," bisik Mirah. Langkahnya mendadak terhenti di ujung koridor yang remang dan pengap. Ratna berdiri di sana sambil menyilangkan tangan dengan senyum yang merendahkan."Laris manis ya, Mir? Pejabat sekelas Sudono pun bertekuk lutut di bawahmu," sindir Ratna. Mirah terus berjalan tanpa sedikit pun niat untuk berhenti membalas. Ia mengeratkan genggaman pada botol kaca yang terasa sangat licin itu."Keberhasilan itu soal kualitas, Ratna, bukan sekadar teriakan kencang di depan tamu







