تسجيل الدخولSisa kehangatan Sudono masih membekas di seprai sutra yang berantakan. Mirah merapikan kancing kebayanya yang sempat terlepas dengan jemari gemetar. Ia menatap pantulan matanya yang kini sedingin es di cermin rias.
Lantai Kamar Nirwana terasa membeku saat bersentuhan dengan kulit kakinya. Bau dupa cendana mulai kalah oleh aroma pembersih lantai yang tajam. Mirah segera menyambar botol minyak pijatnya sebelum ada mata-mata masuk.
"Kemenangan ini cuma umpan untuk hiu-hiu lapar di
Mirah berdiri tegak, tangannya yang bergetar hebat sengaja disembunyikan di balik lipatan kebaya merahnya. Suasana lobi ruko Selatan mendadak senyap, menyisakan deru napas Nani yang memburu dan kilatan lampu kamera wartawan."Nani bener, ada kekerasan di sini. Tapi pelakunya bukan Mas Agam," ucap Mirah tenang meski pipinya berdenyut nyeri. Dikeluarkannya ponsel rahasia itu, lalu diputar rekaman suara percakapan Nani dengan preman bayaran di Barat."Ini suara siapa, Nan? Mirip suara lo pas lagi nawar harga ruko ya?" tanya Mirah sambil tersenyum miring."Aa... anu, itu fitnah! Be-beneran, itu suara editan AI, Mas Agam jangan percaya!" jerit Nani dengan wajah pucat pasi.Para wartawan mulai kasak-kusuk, mencium aroma skandal yang jauh lebih besar daripada urusan izin bangunan. Agam nampak terpaku, matanya menatap Nani dengan sorot yang bisa membuat nyali orang biasa menciut seketika.'Mampus lo, Nan. Lo pikir gue cuma 'apem tembem' yang bisa lo injak-
Agam memutar botol miras di tangannya, membiarkan cairan keruh di dalamnya berguncang pelan. Ditatapnya Mirah yang berdiri mematung dengan wajah hancur dan darah yang masih merembes dari balik selendang."Minum ini, Elang. Katanya Mirah bilang ini jamu sakti buat stamina lo, kan?" tanya Agam dingin.Elang mendongak, wajahnya lebam membiru, namun matanya tetap menatap tajam ke arah bos besar ruko itu. 'Gusti, itu botol yang udah gue kasih racun pembersih lantai sisa kemaren,' batin Mirah yang merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Keringat dingin membasahi punggungnya, bercampur perih luar biasa dari luka sobek di pipinya."A-anu, Mas Agam... jangan. Itu miras murahan, be-beneran gak layak buat Mas Agam," ucap Mirah terbata."Gue nggak nyuruh diri gue minum, Mir. Gue nyuruh anjing peliharaan lo ini yang minum.""Ta-ta-tapi Mas, Elang gak tahu apa-apa! Dia cuma nganterin saya!"Agam menyentakkan botol itu ke dagu Elang, memaksa mulut lela
Taksi itu bergetar hebat saat dua motor besar menghimpit dari sisi kiri dan kanan.Mirah mematung, dadanya sesak melihat kepalan tangan salah satu pengendara motor menghantam kaca jendela hingga retak seribu."Turun lo, Mirah! Mas Agam mau ketemu di ruko Selatan sekarang!" teriak lelaki itu di sela deru mesin.Supir taksi sudah pucat pasi, tangannya gemetar hebat di atas kemudi sambil menginjak rem perlahan.'Mampus, ini beneran kiamat kecil buat gue kalau sampe Agam tahu soal Elang dan Nani,' keluh Mirah dalam batin yang kalang kabut.Ditariknya napas dalam-dalam, mencoba mencari celah untuk tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya."Aa... anu, Pak Supir, jangan berhenti dulu! Terus jalan aja!" pinta Mirah dengan suara yang pecah."Ta-ta-tapi Mbak... kaca saya pecah! Mereka bawa balok kayu, be-beneran!""Saya ganti dua kali lipat, Pak! Buruan tancap gas!"Gara-gara panik, supir itu malah salah meng
Dua mobil SUV hitam itu masih menderu halus di depan kontrakan Lilis yang suram.Nani nampak mematung, ponsel di tangannya perlahan turun seiring runtuhnya nyali di wajahnya yang mulai berkeringat dingin.Mirah menarik napas dalam, merasakan kemenangan kecil ini menyapu sesak yang tadi menghimpit paru-parunya."Gimana, Nan? Masih mau manggil wartawan atau mau bicarakan ini baik-baik?" tanya Mirah dengan nada tenang yang mematikan.Nani hanya diam, tenggorokannya nampak naik turun seperti sedang menelan batu yang sangat keras."Aa... anu, Mir, gue cuma bercanda tadi. Be-beneran, cuma mau kasih peringatan biar lo gak terlalu sombong di Selatan," ucap Nani terbata-bata."Bercanda lo hampir bikin Lilis keguguran, Nan. Udah, lo pergi sekarang sebelum orang-orang ini bosan nunggu."Mirah melambaikan tangan ke arah mobil hitam tersebut, memberikan isyarat bahwa situasi sudah terkendali.Gara-gara malu, Nani segera memutar badannya dan
Motor Elang mengerem mendadak sampai ban belakangnya mencit di aspal yang licin karena sisa hujan.Mirah terdorong keras, dadanya membentur punggung Elang yang kaku seperti papan kayu jati."Lang, putar balik! Lilis dalam bahaya!" teriak Mirah dengan suara yang pecah oleh angin malam.Gara-gara panik, jarinya gemetar saat memegang ponsel yang layarnya retak, menampilkan pesan maut dari Nani.'Aduh, ini wanita ular beneran mau main gila buat jatuhin reputasi gue,' batin Mirah yang merasa seluruh darahnya turun ke kaki.Di depan mereka, lampu mobil Agam menyorot tajam, menghalangi jalan keluar satu-satunya dari gang sempit itu."Gak bisa, Mir! Ada mobil Agam di depan kita!"Elang memutar stang motor, mencari celah di antara tumpukan sampah dan tembok warga yang kusam."Ta-ta-tapi Lilis gimana? Nani tahu tempatnya, Lang! Be-beneran ini dia mau laporin Lilis ke Satpol PP!""Tenang! Kita cari jalan muter lewat kebun kosong di
Brakkkk!Gedoran di pintu lobi itu membuat jantung Mirah nyaris melompat keluar dari tenggorokan.Dia mematung di dapur, tangannya masih memegang botol cairan pembersih lantai yang baunya menyengat.'Mampus, kalau Agam lihat ini, nyawa gue cuma seharga kerupuk melempem,' keluhnya dalam batin yang kalang kabut.Sari sudah jongkok di bawah meja kompor, badannya menggigil seperti orang kena malaria."Woi! Keluar lo semua! Mas Agam mau bicara!"Teriakan parau itu menggema lagi, diikuti suara langkah sepatu yang berat di lantai granit.Ditariknya napas dalam-dalam oleh Mirah, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya."Aa... anu, Mas, bentar! Lagi beresin tumpahan minyak di dapur!"Mirah membalas dengan suara yang sengaja dibuat melengking agar terdengar sibuk.Gara-gara panik, dia menyembunyikan botol cairan kimia itu ke dalam tempat sampah yang penuh sisa sayuran.Dilihatnya Sari yang masih membeku keta







