登入"Mbak, tamu VVIP di Kamar Nirwana sudah menunggu, dia rekan sejawat Pak Wiryawan dan minta layanan yang sama persis," bisik Sari dengan raut wajah yang campur aduk antara kagum dan cemas.
Mirah hanya mengangguk tenang, merapikan sedikit kerah kebayanya sambil memastikan tidak ada satu pun detail di lobi yang nampak kurang sempurna di mata para pejabat ini. Ia tahu, kabar tentang kemampuannya "menjinakkan raksasa" telah menyebar cepat di antara mulut-mulut berkuasa yang haus akan ketena
Kantong plastik berisi koin tiruan itu segera disembunyikan Mirah di balik lipatan kebayanya.Fajar belum sepenuhnya pecah di langit ruko Selatan, namun hawa dingin mendadak lenyap digantikan kepulan debu di lobi bawah.Brakkkk!Pintu utama ruko dihantam paksa dari luar hingga engselnya jebol, memecah keheningan koridor remang-remang."Tiaraf semuanya! Jangan ada yang gerak! Kami dari unit Intelkam Polda!" teriak sebuah suara parau dari balik masker hitam.Gara-gara gedoran itu, Sari melonjak kaget sampai menjatuhkan botol bedak di meja rias hingga isinya berhamburan."Mbak... be-beneran polisi dateng, Mbak! Ta-tapi kan auditnya belum mulai?!" bisik Sari dengan bibir gemetar hebat.Mirah menarik lengan Sari kasar, memaksanya ikut turun menuruni tangga jati yang terasa bergetar.Di lobi, lima pria berbadan tegap dengan jaket kulit dan lencana kepolisian palsu sudah menodongkan laras pendek.Nani juga sudah disere
Tongkat baseball di tangan Nani berayun pelan, memotong udara gudang ruko Barat dengan desau yang mengancam.Mirah bergeming di tempatnya, menatap lurus ke arah lampu pijar yang sinarnya membuat matanya terasa pedih."Pilih, Mir! Satu miliar itu, atau napas terakhir cowok lo ini di tangan gue!" ancam Nani sambil menyeringai puas.Gara-gara panik, Sari yang berada di belakang Mirah langsung merosot berlutut sambil memegangi ujung jubah hitam majikannya.'Gusti, Nani beneran udah gila, dia sengaja pasang jebakan ini biar gue kelihatan cacat di depan Agam,' ratap Mirah dalam batinnya yang mulai goyah.Sejurus kemudian, suara langkah kaki berat terdengar dari arah pintu masuk gudang, memecah ketegangan yang kian mencekik.Agam melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi, ditemani Mbak Sesil yang melipat tangan di dada dengan angkuh."Ada apa ini? Ribut-ribut di gudang Barat malam-malam begini?" tanya Agam dengan nada re
Roda taksi yang membawa Mirah dan Sari bergulir di atas aspal panas Jakarta, kembali ke wilayah Selatan. Mirah menatap keluar jendela, bayangan ambulans hitam yang membawa Elang ke ruko Barat masih menghantui pikirannya. Ditariknya napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit dada sejak kejadian di villa Puncak.'Gusti, satu masalah belum kelar, Agam udah kasih ujian yang makin gila,' keluh Mirah dalam batinnya yang lelah.Sesampainya di ruko Selatan, suasana nampak sangat tegang dengan kehadiran Agam dan Mbak Sesil yang sudah menunggu. Dua orang pria berseragam aparat gadungan berdiri di sudut lobi, nampak sengaja disiapkan untuk simulasi penggerebekan."Mir, Nan, sini lo berdua!" teriak Agam sambil menggebrak meja bar yang masih baru. Nani melangkah maju dengan wajah pucat, nampak masih shock setelah kejadian di Puncak semalam."Tes Tahap Dua ini soal keamanan. Gue mau liat gimana cara lo kasih layanan 'plus' tanpa ninggalin jejak huku
Moncong pistol Agam masih terasa dingin meski jaraknya beberapa meter dari kening Mirah.Gudang bawah tanah itu mendadak sunyi, hanya suara tetesan air dari pipa bocor yang menemani debar jantung Mirah yang menggila."Mas... Mas Agam, be-beneran... kalau Mas tarik pelatuk itu, rahasia buku hitam di tangan Sudono bakal meledak," bisik Mirah dengan suara yang dipaksakan stabil.Agam menyipitkan mata, rahangnya mengeras, namun perlahan diturunkannya senjata api itu ke samping panggulnya.'Gusti, untung gertakan gue soal Sudono masih mempan, kalau nggak udah pindah alam gue sekarang,' batin Mirah sambil menyeka keringat dingin."Keluar lo semua! Bawa Sari ke atas, kunci di kamar belakang!" bentak Agam pada para penjaganya.Mbak Sesil hanya melipat tangan di dada, senyum simpulnya nampak meremehkan ketegangan yang baru saja terjadi.Kini, Agam melangkah mendekati Mirah, dicengkeramnya bahu wanita itu hingga Mirah meringis menahan perih.
Sinar senter itu menusuk mata Mirah, membuatnya spontan mengangkat tangan untuk menghalau silau."Aa... anu, cuma mau cari minum, Pak. Haus banget habis melayani Mas Agam," ucap Mirah, mengatur nada suaranya agar tetap menggoda meski hatinya mencelos."Balik ke kamar, Mbak. Mas Agam nggak suka barang miliknya keluyuran malam-malam," tegur penjaga itu tanpa ekspresi.Mirah berbalik dengan langkah gontai, telinganya masih menangkap sisa rintihan Elang yang seolah menyatu dengan deru angin Puncak. 'Sial, gue tahu lo di bawah sana, Lang. Tunggu gue, gue bakal cari cara buat tarik lo keluar,' sumpah Mirah dalam batinnya.Pagi menyengat dengan aroma kopi mahal saat Agam mengumpulkan semua orang di aula utama villa yang disulap menjadi ruang ujian. Ternyata, Agam sengaja menyuruh rombongan Nani, Mbak Sesil, dan para juri senior menyusul ke Puncak subuh tadi menggunakan bus khusus perusahaan.Alasannya simpel, Agam ingin tes tahap pertama ini dilakukan di
Kabut tebal Puncak merayap pelan menyelimuti dinding kaca villa mewah milik Agam.Mirah berdiri di depan jendela besar, menatap kegelapan hutan pinus yang nampak seperti raksasa hitam yang siap menelannya bulat-bulat.'Gusti, tempat ini jauh banget dari mana-mana, kalau Agam mau habisin gue sekarang juga nggak ada yang tahu,' rintih Mirah dalam batinnya yang penuh keringat dingin."Mir, jangan cuma liat kabut. Sini, minyaknya udah anget," panggil Agam dari arah ranjang jati berukuran raksasa.Ditariknya napas panjang oleh Mirah, lalu dia berbalik sambil menyunggingkan senyum yang sudah dipoles sempurna pasca operasi.Agam nampak sudah rebahan telentang, hanya mengenakan kain sutra tipis yang menutupi bagian tengah tubuhnya yang mulai menegang."Pijat yuk, Mas...?" suara Mirah terdengar serak, sebuah kode pembuka yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan pria mana pun."Sini lo. Gue mau buktiin kalau wajah baru lo ini bukan cuma paja







