LOGINPitong taon na kaming kasal ni Zackary at sa wakas ay nagkaroon na kami ng unang anak. Ngunit nang makita ang resulta ng pagbubuntis, naghinala siyang hindi kanya ang bata. Dahil sa galit, nagpa-paternity test ako sa kanya. Noong araw na lumabas ang resulta, si Zackary, na dapat ay nasa ospital, ay nagpakita sa aking pintuan. May hawak siyang litrato. Makikita sa litrato na nasa bahay ng kaibigan niya ang underwear ko. Sinipa niya ako ng malakas kaya nawala ang baby ko. Sumigaw siya, "You bitch, ang lakas ng loob mo na lokohin ako. Hindi ako magpapalaki ng anak ng ibang lalaki, alam mo ‘yon. Go to hell!" Nang maglaon ay nalaman niya ang katotohanan at nakiusap sa aking patay na anak na bumalik.
View More“Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.”
Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut dan penasaran. “Suara siapa itu?” batinnya. Jaka berjalan mendekat dan melihat pintu belakang gudang sedikit terbuka. Harusnya tidak ada orang di sini, ini gudang terbengkalai yang sudah di tutup setahun lalu, apalagi letaknya jauh dari keramaian desa. Ia mengendap-endap, langkahnya pelan namun terarah pasti menuju pintu tersebut. “Shh! Saya takut, Pak!” Suara itu terdengar lagi. Jaka mengerjap, jantungnya berdebar kencang. “Itu jelas suara desahan, enggak salah lagi,” batinnya. Bermodalkan rasa penasaran yang membumbung tinggi, Jaka mengintip dari celah pintu yang terbuka. Dan seketika matanya terbelalak. “P-Pak Kades?!” gumamnya sambil menutup mulut. Di dalam gudang, Jaka melihat Pak Herman—Kades Desa Gunung Jati—sedang berbuat mesum dengan Marni, janda kembang yang kerap membuat mata lelaki melotot saat ia lewat karena bodynya yang aduhai. Jaka membeku, ia tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Pak Kades sedang mencumbu Marni sambil tangannya terus meremas dua bukit kembar janda itu yang masih terbalut daster. Jaka menelan ludah, ia mundur perlahan. Namun sial, kakinya tidak sengaja menginjak jerigen yang ia letakkan tadi hingga menimbulkan suara cukup nyaring. “Ah, sial!” gerutu Jaka. Di dalam, Pak Kades tersentak mendengar suara tersebut. Marni juga panik, janda itu buru-buru merapikan dasternya yang mulai tersingkap. Pak Kades langsung mengintip untuk melihat siapa di luar. “Jaka?!” Matanya terbelalak saat menemukan Jaka sedang berdiri kaku di luar. “Ngapain kamu di sini?” Pak Kades yang awalnya sedikit takut, langsung kembali mendapatkan keberaniannya saat melihat orang di sana hanyalah Jaka, si pemulung yang bukan siapa-siapa. Jaka menelan ludahnya. Seharusnya di sini, Pak Kades lah yang harus takut, karena skandalnya dengan janda kembang desa ketahuan. Tapi nyatanya tidak, malah Jaka yang tampak gemetaran. Pak Kades menatapnya dengan tajam, menyiratkan ancaman tanpa kata-kata. “Jaka, awas ya kalau kamu berani membeberkan apa yang kamu lihat tadi.” “Anu, enggak, Pak. Saya—” “Saya bisa usir kamu sekarang juga dari kontrakan,” potong Pak Kades kembali memberi ancaman. “Kamu ingat, kontrakan kamu sudah nunggak tiga bulan. Saya dan istri masih berbaik hati karena kamu masih berkabung karena kematian ibumu minggu lalu.” Pak Kades terus memberikan intimidasi kepada Jaka, agar pemuda itu benar-benar ciut nyalinya untuk membeberkan masalah ini. Jaka mengangguk pelan, keringat dingin mulai membasahi keningnya. Di depan, Pak Kades berdiri membusungkan dada, sementara di belakangnya, Marni masih sibuk membetulkan kancing dasternya dengan wajah yang memerah—entah karena nafsu yang terputus atau karena amarah. “Ingat Jaka! Kamu jangan berani macam-macam, kamu tidak punya siapa-siapa di sini!” bentak Pak Kades lagi memberi ancaman. Tanpa menunggu jawaban Jaka, kepala desa itu langsung menggandeng tangan Marni dan mengajaknya pergi dari sana. Setelah kepergian Pak Kades, Jaka menghela napas berat. Tidak ada yang bisa ia lakukan, ancaman Pak Kades begitu nyata. Memikirkan uang untuk membayar tunggakan kontrakan yang sudah tiga bulan saja cukup membuat kepala Jaka pusing, jadi ia sama sekali tidak ingin menambah masalah baru. Jaka lebih memilih diam. Lagi pula, apa yang dikatakan Pak Kades benar. Jaka hanya seorang diri di sini, dia yatim piatu. Sore itu, Jaka akhirnya pulang membawa karung berisi beberapa jerigen bekas dan botol plastik lainnya. Sesampainya di rumah, ia langsung meletakkan karung itu di belakang. Namun belum sempat ia beristirahat, suara ketukan pintu terdengar begitu keras di depan. Brak Brak! “Jaka?!” Jaka tersentak, ia cukup mengenal suara itu. Itu suara Bu Lilis, istrinya Pak Kades. Bu Lilis yang mengurus kontrakan di sini, wanita itu juga yang suka menagih sewa kepada para penghuni. Jaka menghela napas berat, ia tahu akan kena semprot lagi karena belum punya uang untuk membayar kontrakan. Jaka membuka pintu dan mendapati Bu Lilis berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Matanya bak singa betina yang ingin menerkam mangsa. “Mana uangnya?!” bentak Bu Lilis. “Jangan bilang hari ini juga enggak ada.” Jaka menelan ludah. Suara Bu Lilis menggelegar seperti petir di siang bolong, padahal parasnya cukup cantik untuk seukuran wanita yang hampir kepala empat. Bahkan Jaka sendiri terkadang suka melamun saat melihat istri Pak Kades itu, dua bukit kembarnya cukup menggoda apalagi ia sering mengenakan daster berkerah rendah. “Kenapa malah bengong?!” bentak Bu Lilis lagi yang menyadarkan Jaka dari lamunannya. “Anu, Bu. Saya minta waktu dua hari lagi, uangnya belum cukup,” ujar Jaka memohon. “Dua hari, dua hari. Udah tiga bulan kamu nunggak. Kalau enggak ada hari ini, kamu kemasi barang-barangmu dan keluar sekarang juga! Masih banyak orang yang mau nyewa kontrakan ini, bukan kamu saja,” bentak Bu Lilis lagi. “Bu, saya mohon, Bu. Jangan usir saya. Beri waktu saya dua hari lagi.” Jaka benar-benar merengek, memohon untuk diberi waktu lagi. Bu Lilis menarik napas dalam-dalam, wanita itu menatap Jaka cukup tajam. “Satu hari lagi. Besok sore kalau kamu belum punya uang, kamu harus keluar dari sini!” Tanpa menunggu jawaban, Bu Lilis langsung pergi dari sana meninggalkan Jaka yang membeku di ambang pintu. “Gimana ini, ya?” Jaka benar-benar bingung, di mana ia harus mencari uang untuk membayar kontrakan yang menunggak selama tiga bulan. Jaka memutar otaknya. Penghasilannya dari memulung barang bekas benar-benar tidak mencukupi, hanya cukup buat makan sehari-hari saja, kadang juga kurang. Ia akhirnya memutuskan untuk menggeledah benda-benda apa saja yang ada di dalam rumah yang kiranya bisa ia jual. Pikirannya benar-benar kacau, hidup sebatang kara di usia yang baru menginjak 23 tahun bukanlah suatu yang mudah. Ia akhirnya masuk ke dalam kamar mendiang ibunya. Ia mulai menggeledah, namun sayang, tidak ada apa-apa. Semasa hidupnya sang ibu hanya buruh cuci. Jadi tidak ada peninggalan mendiang yang kiranya berharga. Jaka menghela napas berat, ia membuka lemari mendiang sang ibu. Itu tempat satu-satunya yang belum ia periksa. Jaka mulai menggeledah isi lemari tersebut yang hanya berisi pakaian tua yang sudah lusuh. Hingga tidak sengaja ia membuka laci paling bawah di dalam lemari. Ada sesuatu di sana yang langsung menarik perhatiannya. “Apa ini?” Jaka menemukan sebuah kotak kayu. Ia langsung mengambilnya, berharap di dalam ada perhiasan atau apa saja yang bisa ia jual. Jaka membukanya, dan seketika senyum tipis langsung terlukis di bibirnya. Ternyata di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang lima puluh ribuan yang totalnya ada 500 ribu. Namun bukan itu saja, di sana juga ada gelang yang tampak kusam dan karatan, dan juga ada secarik kertas. Jaka segera mengambil kertas tersebut. Ada tulisan di sana yang ia yakin itu tulisan mendiang ibunya. “Jaka, kalau kamu menemukan kotak ini berarti ibu sudah tiada. Maaf, ibu tidak meninggalkan apa-apa untukmu. Hanya uang ini tabungan yang ibu punya, pergunakanlah sebaik mungkin. Dan satu lagi, jagalah gelang ini baik-baik, Nak, ini gelang peninggalan mendiang ayahmu dulu.”Si Beatrice Hudson, ang hostess, ay propesyonal.Sa kasong ito, mas nakakaakit ang iskandalo ni Mallory.Nagmamadali siyang tanungin ako tungkol sa mga detalye.Kinailangan kong sabihin sa kanya ang buong kwento.Minsan nakahanap ng lalaki si Mallory, pero hayaan mo na ako ang sisihin. Binugbog ako ng anak niyang si Zackary at nawala ang baby ko.Agad naging hit ang live room."Binugbog ang asawa hanggang sa malaglag ito? Ito ba ay kayang gawin ng lalaki?""Hindi mabuting tao ang kanyang ina, may nakakatakot na mukha.""Nakakatawa ito. Nagloko siya gamit ang underwear ng kanyang manugang."Galit na galit si Mallory at ginamit ang kamay niya para takpan ang camera.Ngunit nabigo siya.Inilipat niya ang target niya sa akin."Lillianna, sumusobra ka na. Ginamit ng tatay mo ang kapangyarihan niya para sa pansariling kapakanan para makulong ang anak ko. Nandito ka para siraan ako."Pinagkrus ko ang aking mga braso sa harap ng aking dibdib at sinabing, "Mayroon ka bang katibayan
Hanggang sa nailayo na si Zackary, mahal niya pa rin daw ako.Iniisip ang pitong taon na nakasama ko siya at ang mga sipa na ibinato niya sa tiyan ko, hindi ko masabi kung gaano katotoo ang pagmamahal na ito.Nang malaman na makukulong si Zackary, si Mallory, na matagal ko nang hindi nakikita, ay nagpakita sa bahay ko.Nang makita niya ako, nagsimula siyang magmakaawa sa akin."Lillianna, hindi mo lang naunawaan si Zackary. At dahil ito sa akin. Humihingi ako ng tawad sa iyo. Hindi ko dapat sinuot ang underwear mo."Sabi niya habang sinasampal ang sarili sa mukha.Kakaiba ang itsura ng pagmamaka-awa niya."Matagal na kayong magkasama ni Zackary. Huwag ninyong tapusin ang inyong pagsasama dahil sa mga walang kabuluhang bagay."Nang marinig ko ito, nagalit ako. "Walang kabuluhan? Nabalian ng likod ang mama ko at nawalan ako ng anak dahil kay Zackary. Sabi mo walang kabuluhan, paano kung gamitan kita ng latigo para mabali rin ang likod mo?"Napaatras si Mallory.Sinimulan niyang
Matapos mailabas ang galit, muling tumingala si Zackary."Kahit hindi si Manueal ang lalaki niya, may iba pa siyang kinakasama, o kung saan man nanggaling ang bata sa tiyan niya?"Sabi ko sa malamig na boses, "Maniwala ka man o hindi, sayo ang bata.""Imposible," direktang tanggi ni Zackary. "Sabi ng doctor, low sperm activity daw ako. Imposible lang na magkaanak ako.""Hindi ibig sabihin na walang sperm. Hindi lang madaling mabuntis siya. May posibilidad pa rin," Sabi ng isang pulis matapos marinig ito. "Napaka-unprofessional ng doktor."Hindi naniwala si Zackary sa sinabi niya. "Nagpatingin ako sa doktor sa Men's Memorial Hospital. Professional ‘yon.""Men's Memorial Hospital?" Tumawa ang pulis. "Maling ospital ang napili mo. Hindi magandang ospital ‘yon. May at least ten cases related sa hospital na 'yan. Sinadya ng doktor na mag-exaggerate. Gusto lang nila ng pera."Nagulat si Zackary.Ayaw niyang maniwala dito.Hanggang sa may nagpakita sa kanya ng mga kaukulang kaso ay n
Sa pagkilos ng doktor, inilabas ng nurse na iyon ang sanggol.Ang sanggol ay dalawang buwang gulang at mayroon nang malabong hugis ng tao.Tahimik siyang nakapulupt.Baby ko...Ito ang sanggol na hinihintay ko ng pitong taon.Napaluha ako.Tiniyak ng doktor na babalik siya mamaya.Gusto kong iuwi ang baby, ngunit tumanggi ang doktor.Paglabas ko ng operating room, nakita ko si papa.Sinabi ko sa kanya ang tungkol dito.Sinabi niya sa doktor na ang sanggol ay ebidensya, kaya ibinigay ng doktor ang sanggol sa amin.Tanong ko, "Asan si mama? Kamusta siya?""Maayos na siya. Nakakuha siya ng ilang mababaw na sugat at nahimatay dahil sa high blood." Si papa ay mukhang napagod. Ngumiti siya sa akin at inalo ako, "Pag gumaling ka na, ihahatid na kita sa mama mo."Tanong ko, "Nasaan si Zackary?"Sabi ng tatay ko, "Naka-detain siya. Kapag gumaling ka, haharapin natin. Huwag kang mag-alala. Makukulong siya."Tumango ako.Iniisip ko ang nangyari noong araw na iyon, hindi ko maiwasa
Kinuha ko ang phone ni Zackary at tinignan.Sa telepono, ito ay isang chat record nila ni Joyce Underwood.Si Zackary ay may kaibigan sa kolehiyo na nagngangalang Manuel Houston.Ilang beses na kaming nagkita ni Joyce, ang asawa ni Manuel, at naging kaibigan namin.Sinabi ni Joyce na nagde-date
Si Zackary Dixon, ang aking asawa, at ako ay kasal sa loob ng pitong taon. Sa wakas ay magkaroon kami ng anak.Nang ibahagi ko sa kanya ang resulta ng pagbubuntis na puno ng saya, nakasimangot siya at tinanong ako."Kaninong anak ito?"Nanlamig ako. "Syempre, sayo.""Kasal tayo sa loob ng pitong
Naka-speaker ang phone ni Zackary, at narinig ko lahat ng sinabi ng kabilang linya.Nakita kong nakatayo doon si Zackary bitbit ang phone niya na parang tulala.Hindi siya makapaniwala."Paano nangyari ito?"Lalong dumami ang dugo sa ilalim ko.Naramdaman kong unti-unti na akong iniiwan ng bata
Dumapo ang latigo sa nanay ko. Parang hindi niya naramdaman ang sakit.Tumingin siya ng diretso kay Zackary."Zackary, hindi mo naiintindihan si Lillianna. Huwag mo siyang saktan. Maupo kayong dalawa at mag-usap ng mahinahon. Kapag nagpatuloy kayo ng ganito, magsisisi kayo.""Magsisisi? Dapat kan






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews