Partager

Berpengalaman

last update Date de publication: 2026-08-02 08:23:16

Ilyena sedikit terperanjat begitu lengan Alexis melingkari pinggangnya, dan tangannya beristirahat di perutnya. Itu terasa aneh. Selain menggelitik, entah kenapa jantungnya berdegup hebat saat pria itu menyentuhnya lagi tanpa aba-aba. Pria itu tidak akan meminta izin untuk hal sekecil ini, dan selalu tahu apa yang dibutuhkan tanpa perlu diberitahu.

“Kau bereaksi seperti kau tidak pernah punya pacar sebelumnya,” ucap Alexis, menggodanya karena reaksi Ilyena.

Ilyena memutar bola matanya, berusaha tak menunjukkan pengaruh yang Alexis punya terhadap dirinya. “Aku tentu saja punya beberapa mantan,” balas Ilyena.

“Biar kutebak. Anak menteri, anak pengusaha?” tebaknya penuh main-main.

“Satu mantanku adalah dokter bedah, satunya adalah baru saja menyelesaikan akademi militer. Bagaimana menurutmu?”

Alexis mengangkat alisnya, bukan sekedar tertarik tentang mantannya Ilyena, tetapi dia juga terkesan jika Ilyena ternyata memikat banyak pria hebat juga. Dia menggeser tubuhnya lebih dekat hingga dadanya menekan punggung Ilyena.

“Hm, apakah dokter itu bekerja di sebuah rumah sakit umum dengan gaji rendah?” Alexis tak bisa menahan dirinya untuk tidak menggodanya lebih lanjut.

“Mau itu di rumah sakit umum, mau itu di rumah sakit elite, dokter tetaplah dokter. Justru mereka yang berada di rumah sakit umum mengabdikan dirinya lebih baik dan bukan para penjilat,” balas Ilyena.

Alexis tidak setuju dengan statement itu. Tetapi dia hanya menyeringai. Ilyena mungkin masih seperti kanvas yang diberikan gambaran indah, seperti fairy-tale.

“Betapa mulianya,” balas Alexis dengan nada mengejek. “Kelihatannya kau mau bergaul dengan siapa pun, ya? Apa pangkat mantanmu yang dari akademi militer itu?”

“Dia seorang sersan dua saat kami berpacaran di saat aku kuliah semester dua.”

“Pfft.” Alexis menahan tawanya. “Dari pangkatnya berarti masih muda. Aku tertarik dengan dokter bedah. Dokter bedah berarti mempunyai lebih banyak pengalaman, kutebak. Tetapi dari usiamu yang masih 22 tahun, aku bisa menebak semuanya lebih tua darimu.”

Ilyena terdiam sejenak. Dia tidak bisa mengelak itu. Mantan-mantannya memang lebih tua darinya. Dan secara tidak langsung, dia memang memiliki tipe pria idaman.

“Kurasa itulah mengapa kau cukup sopan padaku. Kau juga... berpengalaman.” Alexis membisikkannya di telinga Ilyena.

Ilyena tak menyangkalnya. Dia bahkan tidak menyadarinya. Awalnya dia pikir dia tidak punya tipe yang spesifik dan hanya tertarik dengan pembawaan seseorang saat mendekatinya.

Mereka mengobrol dalam senyap. Hingga Ilyena tidak bisa lagi menahan kantuk dan tertidur di dalam dekapan Alexis. Sementara Alexis sama sekali tidak menunjukkan tanda mengantuk. Dia menatapi kepala Ilyena dan mengusapnya ringan sebelum menarik dirinya.

Alexis menghela nafasnya. Ini rasanya menemani istri tertidur dan ditinggal tidur. Dia memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Namun ternyata itu menjadi hal yang sulit.

Alexis akhirnya bangkit dan keluar dari kamar Ilyena, meninggalkannya setelah menemaninya hingga tertidur.

Saat Ilyena membuka matanya di pagi hari karena alarm yang berbunyi, Alexis sudah ada di sana, sedang menggunakan dasinya dengan santai, membelakangi Ilyena dan bercermin di cermin milik Ilyena. Bahkan di meja riasnya Ilyena, beberapa perawatan milik pria sudah ada di sana. Salah satunya adalah krim untuk rambutnya.

“Kau sudah bangun? Aku tidak akan menunggumu untuk ke kantor. Tetapi Frederick akan menunggumu sampai kau siap. Bersiaplah! Tidak perlu terburu-buru,” ucapnya tenang.

Ilyena meregangkan tangannya seraya mendudukkan dirinya. Dia mulai merasa aneh dengan melihat bagaimana pria itu menginvasi hidupnya.

“Bukankah kita baru saja menikah kemarin?” tanya Ilyena. “Apakah tidak ada cuti pernikahan di kantor? Aku yakin itu ada.”

“Itu ada tentunya. Tetapi kita tak akan mengambilnya sekarang. Kita akan sangat sibuk untuk beberapa Minggu ke depan. Kau lupa tentang bulan madu yang aku tunda? Kau akan mendapatkan cuti pernikahanmu segera.”

Ilyena mengingatnya sekarang. Tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Dia berniat bersantai hari ini. Setidaknya sehari setelah pernikahan.

Sayangnya dia tidak bisa melakukan itu sekarang. Kondisi perusahaan membutuhkannya segera. Dia harus menenangkan para pemegang saham. Jika tidak, Sanchez Maritime Corps (SMC) akan sepenuhnya hancur.

***

Hari itu, dengan membawa dokumen pernikahan resmi, Alexis pergi ke bank. Dia tidak langsung ke kantor, yang membuatnya menyuruh Ilyena tidak buru-buru pergi ke kantor dan bersiap dengan santai saja. Karena dia belum akan muncul juga.

Kedatangannya ke bank adalah untuk mencairkan aset yang dibekukan. Dengan uang yang dia persiapkan sejak minggu lalu, dia siap menyuntikkan dana segar untuk perusahaan agar bisa melunasi utang-utang yang sudah jatuh tempo, dan menstabilkan kondisi perusahaan.

Langkahnya tegas dan ada kepuasan di wajahnya pagi itu, dia tampak sedang senang. Apa lagi dengan dua orang pria di belakangnya yang membawa koper berisikan uang.

Dengan menunjukkan pada bank surat keterangan ahli waris beserta dokumen pernikahannya dengan Ilyena, ditambah tanda tangan resmi Ilyena yang menyerahkan hak kelola kepadanya.

“...ini adalah pernyataan bahwa Ilyena Borneo Sanchez adalah satu-satunya penerima warisan yang ada. Dan sekarang, dia merupakan istriku. Aku adalah pemilik Vance Investment, jadi secara keuangan, dia sangat stabil. Dia bukan lagi ahli waris yang terancam bangkrut.” Alexis bicara dengan santai, membungkukkan sedikit badannya seolah ini waktu yang dia tunggu.

“Tidak lupa, ini adalah tanda tangan Ilyena yang mengalihkan hak pengelolaan dan pengawasan kepadaku, CEO baru SMC. Sehingga bank tidak lagi punya alasan untuk membekukan aset yang dimiliki SMC.”

Pihak bank mendengarkan dengan seksama dan mengobrol lebih banyak dengan Alexis terkait prosedur yang berlaku lainnya dan mereka juga memperhatikan kelengkapan dokumen yang diperlukan. Aset SMC yang dibekukan karena meninggalnya Carlos Sanchez, kini bisa dicairkan kembali.

Alexis menuangkan tanda tangannya pada sebuah dokumen yang menyatakan pencairan dana segar dari Vance Investment masuk ke kas SMC.

Hari itu juga, Alexis memegang penuh keputusan eksekutif. Dia membayarkan gaji karyawan yang tertunda dan pembayaran lainnya.

Menggunakan lift khusus VIP, Alexis melirik jam tangannya dengan santai. Prosesnya sangat cepat, sesuai keinginannya. Dia tinggal harus muncul di kantor SMC bersama istrinya.

“Frederick sudah berangkat bersama Ilyena?” tanyanya pada salah satu anak buahnya, Marco.

“Ya, Tuan. Mereka sudah ada di jalan.”

“Bagus. Beritahu Frederick untuk menunggu di lobby.”

***

Alexis memasuki ruangan Rapat Umum Pemegang Saham dengan santai. Berdiri di depan kursi ujung, tanpa pendamping. Dia membawa sebuah dokumen di tangannya. Kedua tangannya bersandar ke meja dengan mata yang menatap semua wajah satu persatu.

“Aku adalah Alexis Genovese. Aku adalah CEO yang baru, dan ini adalah istriku, Ilyena, komisaris utama, ahli waris yang sah.”

Alexis menyeringai saat melihat wajah-wajah berkeriput yang tampaknya keberatan.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Piutang Kesayangan    Sebuah Kotak

    “Tidak juga. Di mata hukum, aku adalah istri sah, aku bisa menuntut sebagian asetnya jika perceraian terjadi.” Ilyena mengangkat bahunya acuh seraya mengulas senyum. Teressa terdiam. Dia tidak memprediksi jawabannya Ilyena sama sekali. Apa lagi saat Ilyena tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Ekspresinya jelas mengatakan kalau dia tidak akan merasa insecure, selama ini dia hidup jauh ke atas dari kata layak. Itu melukai ego Teressa, dia menggigit bibirnya cukup kuat, terprovokasi olehnya. “Nyonya Genovese?” Ilyena menoleh pada salah satu anak buahnya Alexis, yang tidak dia tahu namanya. Dia kemudian mendekatinya, dan menyerahkan sebuah surat bersamaan dengan sebuah paket. “Kami mendapatkan ini siang tadi, tetapi kami menaruhnya di pos keamanan sehingga lupa menyerahkannya padamu,” jelas pria itu. “Oh, tidak apa-apa. Terima kasih.” Ilyena menatap kosong ke atas surat dan paket itu. Teressa menyadari betapa cepatnya ekspresi Ilyena berubah.

  • Piutang Kesayangan    Merasa Dimanfaatkan

    Alexis terdiam sejenak. “Sampai urusanku dengannya selesai.” Ilyena tidak akan puas dengan jawaban yang terlalu umum. “Dan sampai kapan itu?” Sesaat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak ada jawaban pasti dari Alexis. “Apa yang sebenarnya kau coba bicarakan?” tanya Alexis. “Apakah kau sedang mencari tahu di mana batasan hubungan kita?” Ilyena mengernyitkan alisnya sebelum mendengus, entah kenapa jawaban Alexis membuatnya kesal meski memang benar begitu. Dia merasa hubungannya abu-abu sekarang. “Tidak perlu dijawab jika kau memang tidak punya jawabannya, kau bisa mengatakan yang sejujurnya.” Ilyena memalingkan wajahnya. Tak ada respons dari Alexis untuk beberapa saat, tetapi jelas dia sedang mempertimbangkan sesuatu dari caranya mengusap tangannya. “Sampai SMC menjadi stabil sepenuhnya, sehingga tidak ada lagi predator yang merasa berani untuk muncul di depan wajahmu. Teressa juga mempunyai perannya sendiri dalam hal ini, untuk itulah

  • Piutang Kesayangan    Suamiku

    “Oh, ini Alexis, suamiku,” ucap Ilyena, pertama kalinya memperkenalkan Alexis pada orang lain sebagai suaminya. Herald seketika menahan nafasnya. Lalu memaksakan senyum sambil mengulurkan tangannya pada Alexis. Sementara Alexis hanya tersenyum simpul, menatap matanya tajam seolah sedang memperingatkan, sepertinya Alexis mengenali pria ini. “Aku tidak tahu kalau kau sudah menikah,” gumam Herald sambil menatapnya. “Aku mempostingnya di akun instagramku,” balas Ilyena agak canggung. “Bukankah kau bilang kau ingin ke kamar mandi? Aku sudah bertanya di mana kamar mandinya.” Alexis menginterupsi, itu adalah sebuah kebohongan. Ilyena menoleh padanya, mungkinkah Alexis ingin menyelamatkannya dari suasana canggung atau sekedar ingin memisahkan mereka cepat. “Oh, ya.” “Kalau begitu, sampai jumpa lagi,” ucap Herald. “Kuharap kita bisa bertemu lagi nanti.” Ilyena mengangguk cepat, sebelum mengikuti Alexis yang menarik pinggangnya dan membimbingnya langsung untuk ke kamar mandi. Ilye

  • Piutang Kesayangan    Novel Dewasa

    “Apa? Apa maksudmu aku menaruh obat tidur ke dalam minumanmu? Kenapa juga aku lakukan itu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu,” balas Ilyena cepat. Alexis mengusap wajahnya, dia bahkan tak tahu apa yang baru saja dia katakan, menuduh istrinya yang bahkan berjalan dengan kaki terbuka untuk melakukan suatu kejahatan seperti menaruh obat tidur? Oh, man... Dia akan segera ketahuan.Alexis membungkuk, menaruh tangannya di kedua lututnya seraya bersandar ke tembok. “Itu pertama kalinya dalam hidupku aku tidur sangat nyenyak,” gumam Alexis. “Well, congrats?” Ilyena mengangkat bahunya acuh. Detik berikutnya, Alexis kembali ke kasur, dia langsung menekan sebuah ciuman di kepalanya Ilyena. Bahkan sikap tak acuhnya Ilyena, seolah dia bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia berikan pada Alexis adalah sesuatu yang besar. Bagi Alexis, tidur nyenyaknya semalam adalah sebuah anugerah yang besar. Ilyena membeku di atas kasur, apa lagi ketika Alexis

  • Piutang Kesayangan    Permintaan Ilyena

    Alexis tidak memberikan reaksi khusus pada pertanyaan bagaimana jika Ilyena hamil. Dia tetap menekan dadanya ke punggung Ilyena, mendekapnya lembut. “Bagaimana menurutmu jika kau hamil?” tanya Alexis. Ilyena terdiam saat pertanyaan itu berbalik padanya. “Sebenarnya aku belum mau hamil. Kau tahu, kita baru menikah sebulan. Setidaknya aku ingin menikmati waktuku terlebih dahulu. Aku juga baru berusia 22 tahun, tidakkah itu sedikit terburu-buru, menurutmu?” “Hm, aku sedikitnya setuju. SMC masih belum stabil. Jika mereka tahu komisaris utama hamil, mereka bisa melakukan protes lagi, terutama para jajaran direksi. Mereka sangat sensitif terhadap cuti hamil,” balas Alexis. “Aku membawa pil kontrasepsi, jadi tenang saja.” Ilyena akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia bisa tenang karena ternyata Alexis mempersiapkannya. Dia terlalu sibuk mempersiapkan dirinya sendiri secara raga sebelumnya. Setelah mandi air hangat, Alexis membantunya mengeringkan rambut Ilyena

  • Piutang Kesayangan    21+ (Peringatan)

    Alexis mengecup pelipis Ilyena seraya merasakan sisa-sisa pelepasannya di dalam tubuh Ilyena, dia tidak langsung menariknya keluar. Dan Ilyena bersandar ke lengannya, dia tampak nyaman. Ilyena pikir itu sudah selesai, sebelum Alexis kembali mendorong masuk. “Bukankah kau baru saja keluar?” tanya Ilyena. “Kita akan melakukannya lagi?”Alexis terkekeh pelan. “Kau belum mendapatkan pelepasanmu. Lagi pula, memangnya kau sudah puas? Bukankah kau belum merasakan rasanya diujung tanduk?” “Kurasa aku sudah selesai saat foreplay tadi,” gumam Ilyena. “Tidak, aku masih ingin melakukannya, karena yang pertama tadi aku keluar lebih dulu. Maaf soal itu, aku tidak menyentuhmu sebulan lebih, sehingga tubuhnya sangat sensitif terhadap sentuhan,” jelas Alexis seraya menghela nafasnya. Ilyena mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu.” “Tetapi aku akan berhenti jika kau sudah tidak ingin melakukannya.”“Tidak, tidak,” bantah Ilyena cepat. “Aku tidak menyangka jika

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status