LOGINIlyena tidak menghindar atau mendorongnya menjauh. Tetapi justru membalas ciumannya, terbuai dalam lembutnya gerak-gerik Alexis. Bibirnya terbuka, memberikan Alexis sebuah akses untuk menyelipkan lidahnya masuk. Memperdalam ciuman mereka.
Intimasi yang tidak lagi terhindarkan. Keduanya terbuai. Perasaan baru di antara dua orang asing yang disatukan oleh keadaan. Akankah ini menjadi transisi yang menggeser bagaimana hubungan mereka saat itu. Satu tangan Alexis dengan lembut mengusap leher jenjang Ilyena, sementara Ilyena yang menengadah sama sekali tidak mencegahnya. Bahkan tangan Ilyena melingkar di pergelangan pria itu, betapa kontras lengan jenjang hasil pilatesnya dengan lengan kekar hasil angkat beban milik Alexis. Dan sentuhan Ilyena berarti sebuah lampu hijau untuk Alexis. Tetapi Alexis belum mau mengambil langkah lebih jauh, lidahnya masih mengeksplorasi rongga mulut istrinya. Dia menarik dirinya sesaat, untuk menatap bibir Ilyena yang mulai bengkak setelah beberapa kecupan. Lembab dan merah. Dengan wajahnya yang lebih merah. Lengan Alexis terulur, salah satunya di belakang punggung Ilyena, satunya lagi di bawah lutut Ilyena. Dengan tenang dia mengangkat tubuh Ilyena seolah itu bukan masalah sama sekali. Betapa ringannya dia bergerak mengangkat beban tubuh Ilyena. Sementara Ilyena yang belum sepenuhnya mempercayai pria itu nyaris mencakar bahunya, mencengkeramnya cukup kuat karena rasanya dia akan jatuh kapan saja. Punggung Ilyena menghantam kasur dengan lembut. Rambutnya yang terurai di atas bantal. Tatapannya tidak lepas dari sosok suaminya yang sekarang menggantung di atasnya. Alexia mendekat, hendak mencium bibinya lagi. Namun kali ini, tangan Ilyena menekan dadanya, mencegahnya dengan suara nafasnya yang tercekat, nyaris tidak terdengar jika Alexis tidak sedekat ini dengannya. Alexis mengangkat alisnya, kali ini dia ditolak? “Uh... Aku sedang haid, hari pertama.” Ilyena memalingkan wajahnya, dia tampaknya merasa bersalah karena membiarkannya sejauh ini. “...sorry.” Alexis mengangguk santai, seolah itu bukan masalah sama sekali. Dia kemudian menggulingkan badannya ke samping Ilyena, di bagian kasur yang kosong dengan helaan nafas yang tidak dapat diartikan. Apakah dia kecewa? Apakah dia marah? Ilyena tak tahu apa artinya itu. Tetapi dia menoleh lagi pada Alexis dan menyadari lengannya masih ada di bawah lehernya. Dia masih bisa merasakan lengan kekar itu. “Aku sudah bilang maaf.” Ilyena tak ingin menunjukkan kalau dia merasa bersalah, tetapi tetap ingin meluruskan hal ini. “Aku dengar itu.” Alexis meliriknya. “Itulah kenapa aku menyingkir.” “Kau terdengar kecewa,” balas Ilyena, kali ini agak mengejek. Alexis hanya terkekeh ringan. “Kenapa aku harus kecewa?” Ilyena tampak berpikir, dari caranya memutar bola matanya, dan cara bibirnya mengatup rapat. Sepertinya gadis itu sangat senang menebak-nebak dalam pikirannya sendiri. “Kurasa aku pernah lihat di media sosial, bagaimana seorang suami katanya akan sangat kecewa jika istrinya menstruasi di hari pernikahan mereka,” gumam Ilyena sambil mengistirahatkan tangannya di atas perutnya yang terasa agak keram. “Pfft. Tidak semua pria seperti itu. Aku pria dewasa, Ilyena. Aku sangat bisa mengontrol diriku sendiri,” balas Alexis, terdengar agak sombong. “Tapi aku mendengar kau mendesah kecewa,” balas Ilyena lagi. “Aku tidak kecewa.” Alexis memejamkan matanya sejenak, dia sebenarnya tak ingin repot meyakinkan Ilyena. “Kau mandilah lebih dulu. Aku akan mengambil koperku terlebih dahulu.” Alexis menarik lengannya dengan lembut dari bawah leher Ilyena. Dia bangkit dari tempat tidur, lalu melirik Ilyena yang menatap punggungnya dengan tatapan bingung. Atau mungkin dia hanya sedang tidak memikirkan apa pun saat ini. Matanya melirik ke arah perut Ilyena, di mana tangan dengan cincin di jari manisnya itu beristirahat. Dia bisa menebak jika Ilyena pasti mengalami keram menstruasi. Persiapan pernikahan yang serba cepat, stres karena masalah warisan, jelas akan berdampak padanya. Setelah Alexis meninggalkan kamarnya, Ilyena menghela nafasnya dan bangkit perlahan. Dia hendak membuka resleting gaunnya, dan dia baru menyadari jika setengahnya sudah terbuka, sehingga dia mudah meraihnya. Dia tidak ingat kapan Alexis membantunya menurunkan resletingnya. Pasti saat mereka berciuman, karena dia sempat mendengar suara resleting halus. Pria itu pasti sebenarnya cukup menantikan malam ini. Tapi cukup bijak untuk melangkah mundur begitu mengetahui istrinya sedang menstruasi. Ilyena menghela nafasnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia mandi dengan cepat, tak ingin berlama-lama karena sudah terlalu lelah. Keluar dari kamar mandi dengan gaun tidurnya, Ilyena mendapati Alexis yang sudah berada di sana, bertelanjang dada sambil menunggu gilirannya mandi, duduk dengan santai di kursi meja belajar Ilyena. Dan di kasur... sudah ada heating pad, dark chocolate, dan pereda nyeri. Seolah pria itu sengaja membawanya untuknya. “Apa ini...?” Ilyena melirik Alexis yang sudah menatapnya. Alexis memperhatikan gaun tidurnya Ilyena, kaki jenjangnya yang tidak tertutupi, lekukan dada, pinggang, dan bokongnya yang mustahil tak dia perhatikan. Tubuh jam pasir itu... memikat. “Bukankah kau bilang kau sedang menstruasi?” Alexis masih memperhatikan tubuhnya. “Kelihatannya kau berpengalaman tentang perempuan, ya?” Ilyena meliriknya sambil mengambil salah satu heating pad, memperhatikan bungkus dark chocolate. “Bahkan secara spesifik kau punya dark chocolate.” Alexis mendengus geli. “Apa ekspektasimu? Aku jelas 10 tahun lebih tua darimu. Aku hidup lebih lama darimu, jika kau lupa.” Ilyena mendengus dengan senyuman sinis. Dia lebih yakin jika pria ini playboy. Melihat gerak-geriknya yang lembut dan halus pada wanita, dia jelas sangat berpengalaman tentang wanita. Well, Ilyena akan mengambil keuntungan tentang itu. “Aku akan memakan coklatnya besok. Aku sudah gosok gigi.” Ilyena menaruh semua yang diberikan itu di nakas, tetapi mengambil salah satu heating pad untuk dipasang di perutnya. Alexis hanya mengangguk, gadis ini jelas tahu caranya menghargai pemberian siapa pun, sereceh apa pun. Dia mengambil langkah ke kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya juga. Musim panas membuatnya berkeringat lebih banyak. Beberapa saat kemudian, Alexis keluar kamar mandi hanya dengan sweatpants abu-abu, membiarkan dadanya tidak dilapisi apa pun. Memamerkan badan kekarnya. Sementara Ilyena meliriknya dari atas tempat tidur, seolah menunggunya untuk tidur bersama. Dan Alexis mendekat untuk bergabung dengannya di tempat tidur. Alexis berbaring di sebelahnya, masih ada jarak di antara mereka. Tetapi tidak begitu luas. “Kau lebih suka lampunya hidup saat tidur?” tanya Alexis. “Tidak, aku lebih suka gelap untuk tidur. Menurutku itu membuatku beristirahat lebih baik,” jawab Ilyena. “Bagaimana denganmu?” “Kita berada di kubu yang sama,” balas Alexis santai, menaruh lengannya di bawah kepalanya. Ilyena mematikan, karena Alexis mungkin tak tahu letak sakelarnya. Dia kemudian meringkuk membelakangi Alexis, mendesis pelan karena rasa keram yang mengganggu. Hingga lengan besar itu akhirnya melingkar di pinggangnya, mengistirahatkan tangannya yang besar di perutnya.“Tidak juga. Di mata hukum, aku adalah istri sah, aku bisa menuntut sebagian asetnya jika perceraian terjadi.” Ilyena mengangkat bahunya acuh seraya mengulas senyum. Teressa terdiam. Dia tidak memprediksi jawabannya Ilyena sama sekali. Apa lagi saat Ilyena tersenyum sambil memiringkan kepalanya. Ekspresinya jelas mengatakan kalau dia tidak akan merasa insecure, selama ini dia hidup jauh ke atas dari kata layak. Itu melukai ego Teressa, dia menggigit bibirnya cukup kuat, terprovokasi olehnya. “Nyonya Genovese?” Ilyena menoleh pada salah satu anak buahnya Alexis, yang tidak dia tahu namanya. Dia kemudian mendekatinya, dan menyerahkan sebuah surat bersamaan dengan sebuah paket. “Kami mendapatkan ini siang tadi, tetapi kami menaruhnya di pos keamanan sehingga lupa menyerahkannya padamu,” jelas pria itu. “Oh, tidak apa-apa. Terima kasih.” Ilyena menatap kosong ke atas surat dan paket itu. Teressa menyadari betapa cepatnya ekspresi Ilyena berubah.
Alexis terdiam sejenak. “Sampai urusanku dengannya selesai.” Ilyena tidak akan puas dengan jawaban yang terlalu umum. “Dan sampai kapan itu?” Sesaat hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Tak ada jawaban pasti dari Alexis. “Apa yang sebenarnya kau coba bicarakan?” tanya Alexis. “Apakah kau sedang mencari tahu di mana batasan hubungan kita?” Ilyena mengernyitkan alisnya sebelum mendengus, entah kenapa jawaban Alexis membuatnya kesal meski memang benar begitu. Dia merasa hubungannya abu-abu sekarang. “Tidak perlu dijawab jika kau memang tidak punya jawabannya, kau bisa mengatakan yang sejujurnya.” Ilyena memalingkan wajahnya. Tak ada respons dari Alexis untuk beberapa saat, tetapi jelas dia sedang mempertimbangkan sesuatu dari caranya mengusap tangannya. “Sampai SMC menjadi stabil sepenuhnya, sehingga tidak ada lagi predator yang merasa berani untuk muncul di depan wajahmu. Teressa juga mempunyai perannya sendiri dalam hal ini, untuk itulah
“Oh, ini Alexis, suamiku,” ucap Ilyena, pertama kalinya memperkenalkan Alexis pada orang lain sebagai suaminya. Herald seketika menahan nafasnya. Lalu memaksakan senyum sambil mengulurkan tangannya pada Alexis. Sementara Alexis hanya tersenyum simpul, menatap matanya tajam seolah sedang memperingatkan, sepertinya Alexis mengenali pria ini. “Aku tidak tahu kalau kau sudah menikah,” gumam Herald sambil menatapnya. “Aku mempostingnya di akun instagramku,” balas Ilyena agak canggung. “Bukankah kau bilang kau ingin ke kamar mandi? Aku sudah bertanya di mana kamar mandinya.” Alexis menginterupsi, itu adalah sebuah kebohongan. Ilyena menoleh padanya, mungkinkah Alexis ingin menyelamatkannya dari suasana canggung atau sekedar ingin memisahkan mereka cepat. “Oh, ya.” “Kalau begitu, sampai jumpa lagi,” ucap Herald. “Kuharap kita bisa bertemu lagi nanti.” Ilyena mengangguk cepat, sebelum mengikuti Alexis yang menarik pinggangnya dan membimbingnya langsung untuk ke kamar mandi. Ilye
“Apa? Apa maksudmu aku menaruh obat tidur ke dalam minumanmu? Kenapa juga aku lakukan itu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan hal seperti itu,” balas Ilyena cepat. Alexis mengusap wajahnya, dia bahkan tak tahu apa yang baru saja dia katakan, menuduh istrinya yang bahkan berjalan dengan kaki terbuka untuk melakukan suatu kejahatan seperti menaruh obat tidur? Oh, man... Dia akan segera ketahuan.Alexis membungkuk, menaruh tangannya di kedua lututnya seraya bersandar ke tembok. “Itu pertama kalinya dalam hidupku aku tidur sangat nyenyak,” gumam Alexis. “Well, congrats?” Ilyena mengangkat bahunya acuh. Detik berikutnya, Alexis kembali ke kasur, dia langsung menekan sebuah ciuman di kepalanya Ilyena. Bahkan sikap tak acuhnya Ilyena, seolah dia bahkan tidak tahu apa yang baru saja dia berikan pada Alexis adalah sesuatu yang besar. Bagi Alexis, tidur nyenyaknya semalam adalah sebuah anugerah yang besar. Ilyena membeku di atas kasur, apa lagi ketika Alexis
Alexis tidak memberikan reaksi khusus pada pertanyaan bagaimana jika Ilyena hamil. Dia tetap menekan dadanya ke punggung Ilyena, mendekapnya lembut. “Bagaimana menurutmu jika kau hamil?” tanya Alexis. Ilyena terdiam saat pertanyaan itu berbalik padanya. “Sebenarnya aku belum mau hamil. Kau tahu, kita baru menikah sebulan. Setidaknya aku ingin menikmati waktuku terlebih dahulu. Aku juga baru berusia 22 tahun, tidakkah itu sedikit terburu-buru, menurutmu?” “Hm, aku sedikitnya setuju. SMC masih belum stabil. Jika mereka tahu komisaris utama hamil, mereka bisa melakukan protes lagi, terutama para jajaran direksi. Mereka sangat sensitif terhadap cuti hamil,” balas Alexis. “Aku membawa pil kontrasepsi, jadi tenang saja.” Ilyena akhirnya bisa menghela nafas lega. Dia bisa tenang karena ternyata Alexis mempersiapkannya. Dia terlalu sibuk mempersiapkan dirinya sendiri secara raga sebelumnya. Setelah mandi air hangat, Alexis membantunya mengeringkan rambut Ilyena
Alexis mengecup pelipis Ilyena seraya merasakan sisa-sisa pelepasannya di dalam tubuh Ilyena, dia tidak langsung menariknya keluar. Dan Ilyena bersandar ke lengannya, dia tampak nyaman. Ilyena pikir itu sudah selesai, sebelum Alexis kembali mendorong masuk. “Bukankah kau baru saja keluar?” tanya Ilyena. “Kita akan melakukannya lagi?”Alexis terkekeh pelan. “Kau belum mendapatkan pelepasanmu. Lagi pula, memangnya kau sudah puas? Bukankah kau belum merasakan rasanya diujung tanduk?” “Kurasa aku sudah selesai saat foreplay tadi,” gumam Ilyena. “Tidak, aku masih ingin melakukannya, karena yang pertama tadi aku keluar lebih dulu. Maaf soal itu, aku tidak menyentuhmu sebulan lebih, sehingga tubuhnya sangat sensitif terhadap sentuhan,” jelas Alexis seraya menghela nafasnya. Ilyena mengangguk pelan. “Baiklah kalau begitu.” “Tetapi aku akan berhenti jika kau sudah tidak ingin melakukannya.”“Tidak, tidak,” bantah Ilyena cepat. “Aku tidak menyangka jika







