LOGINAndrea Cortes basically grew up without her parents since they were very busy with their business but Calvin was there with her. Calvin Perez is her longtime secret boyfriend, for whatever reason Calvin wanted to hide their relationship and she didn't ask why. She was happy for the past few years but when she had enough, Tobi Dela Cruz came into the picture and dropped the most shocking news to her.
View More"Kamu Wanita cacat! Kamu pikir aku dan keluargaku gila mau menjadikanmu istriku, hmm?"
Bagaimana bisa pria seperti Reiko Byakta Adiwijaya yang begitu terpelajar, terlihat bijaksana dan dewasa menyentaknya dan bicara seperti itu?"Jadi semua sandiwara? Pernikahan ini karena kalian menuruti kakek Adiwijaya saja?""Hmm. Jadi jangan berpikir aku menyukaimu! Maaf ya, aku pria normal. Wanita tanpa dua yang menonjol, sangat menjijikkan! itu kayak aku tidur sama laki-laki."Perih tak berdarah di hati Aida ketika mendengar desis Reiko. Pria yang tampak sangat penyayang dengan senyum selalu merekah, bahkan datang ke keluarganya bersama kakeknya Adiwijaya dan orang tuanya ke rumah Aida baik-baik untuk mempersuntingnya begitu lembut tutur katanya. Aida juga jelas sekali mendengar dia tak sama sekali keberatan dengan kondisi fisik Aida.Tapi lihat sekarang. Baru beberapa jam rasanya ijab qabul berlalu dan Aida diboyong ke Jakarta oleh keluarga Adiwijaya, semua berubah. Di rumah orang tua Reiko, dia sudah disentak saat memasuki ruang tamu. Kedua orang tua Reiko langsung meminta putranya menjelaskan status Aida di balik pengetahuan Adiwijaya.Bagaimana Aida tak murka dirinya hanya diperalat?"Kalau begitu aku tidak mau terikat permainanmu dan keluargamu. Ceraikan aku!" sengit Aida menantang tak mau kalah."Hmm. Menceraikanmu, artinya kamu tidak akan mendapatkan biaya sekolah untuk adikmu Lingga, Arum dan Lestari."Nah, ancaman ini membuat Aida bagai tersambar petir. Adiwijaya, kakek Reiko berjanji, selama Aida mau menikah dengan cucunya, maka biaya ibu dan adik-adiknya termasuk sekolah mereka akan ditanggung. Kalau Aida batal menikah, apa yang akan terjadi dengan pendidikan adiknya?'Kenapa juga kakek Adiwijaya harus begitu baik pada kami dan begitu yakin aku paling cocok buat cucunya padahal banyak kekuranganku dan cucunya juga ga mau sama aku?'Aida tak tahu apa alasan pria paruh baya itu selalu menyokong anggota keluarganya selepas ayahnya jatuh sakit hingga pria itu meninggal. Bahkan setelah semua harta mereka habis, untuk berobat dan operasi Aida yang terkena penyakit seperti ayahnya, hanya bedanya ayahnya kanker hati dan Aida di payudara bisa sembuh karena semua disokong Adiwijaya."Lagi mikir, hmm?"Aida tersentak lagi dengan Reiko yang menyindirnya."Pernikahan bisa batal. Tapi bagaimana ibumu yang sudah menikahkanmu dengan saksi pak RT, wakil RT juga keluargamu itu? Apa mereka tidak akan malu di kampung?"Nah iya, Aida memang tak bisa egois. Saat tadi malam Aida ingin membatalkan pernikahan karena insecure fisiknnya, asma ibunya kambuh. Ratna sesak napas, pucat dan hampir pingsan. Ibunya sudah berpikir kalau Reiko adalah pria sempurna. Keluarga mereka juga banyak berhutang budi pada keluarga Adiwijaya."Harusnya kamu menolak kalau memang tak mau menikah denganku!""Kakekku hampir mati karena kena serangan jantung karena aku menolak. Sampai akhirnya papa aku membuat skenario ini." Reiko kembali menegaskan sambil menatap Aida yang duduk di seberangnya."Keluarga intiku tahu aku sudah punya kekasih. Mereka juga sudah menerima kekasihku. Tapi karena kakek bersikeras dengan ribuan alasannya, jadi kami sengaja mengikuti keinginan kakek tapi aku akan membuat perjanjian denganmu.""Bilang aja, kamu takut ga dibagi warisan, kan? klise gitu alasannya sih?" sindir Aida yang membuat wajah Reiko memerah padam"Jangan banyak bicara!" sentaknya sedetik kemudian.Reiko mengambil map di meja yang membuat sofa yang diduduki Aida bersebrangan dengan Reiko."Ini surat perjanjiannya.Tandatangani dan kamu aku tetap dapat benefit dari pernikahan kita sesuai janji kakekku, Adiwijaya!"Sebetulnya saat mendengar kalimat pertama, Aida Tazkia, ingin bersikeras meminta suaminya menceraikannya saja demi harga dirinya.Tapi mendengar kata benefit, gadis itu terngiang sindiran Reiko. Uang biaya pendidikan Lingga yang sudah diterima di Aero Flyer Institute, biaya masuk SMA dan SMP untuk Arum dan Lestari itu seakan terpampang nyata seperti serial horor dalam benak Aida."Apa yang kamu tunggu? Cepat tandatangani!"Aida kembali disadarkan dengan suara bariton tegas yang membuatnya fokus pada surat perjanjian itu."Boleh aku membacanya dulu?" Aida menurunkan intonasi suaranya, mulai melunak.Tapi justru membuat Reiko memberikan senyum menyindir dan membuat Aida kembali dihinakan.'Benar-benar manner-nya buruk banget! Apa susahnya memberikan kertasnya tanpa di lempar, sih? Dia ingin aku memungut lembaran itu seperti pengemis?'Aida mengomel dalam hatinya saat dia memunguti satu persatu lembar kertas yang dilemparkan Reiko. Pria itu tersenyum menghina. Aida sungguh tak habis pikir.Masih berbekas dalam benaknya apa yang terjadi saat ijab qabul. Reiko yang begitu romantis. Kecupan di dahi itu, cara pria itu merangkul dan menggenggam tangannya tiba-tiba membuat Aida yang bergidik ngeri.'Untuk mengambilkan lembaran di dekat sepatunya saja dia tak mau membantu.'Semua berlawanan. Tak ada lagi kelembutan Reiko. Aida harus berusaha sendiri memungut lembaran itu bahkan ada kertas yang berjarak kurang dari setengah meter dari tempat Reiko duduk. Padahal agak sulit Aida bergerak dengan kebaya yang masih melekat di tubuhnya.Aida belum mengganti pakaian pengantin karena memang saat sampai di rumah keluarga Reiko, Endra Adiwijaya menunjukkan penolakannya pada Aida. Istrinya dan adik-adik Reiko juga tampak mencemoohnya sebelum Endra meminta Reiko menjelaskan kontrak perjanjian. Di kamar itulah Reiko membuat Aida mengerti tentang statusnya berdasarkan poin perjanjian yang membuat kepala gadis itu berdenyut."Tandatangani cepat! Sudah setengah jam kamu baca itu. Penanya ada di meja!"'Tapi ini semua demi impian dan pendidikan adik-adikku.' Aida mengingatkan dalam benaknya sebelum pena di tangannya bergerak menggoreskan tinta di kertas perjanjian."Ini sudah, mas Re--""Panggil aku pak! Kecuali di depan umum dan di depan kakekku, kamu boleh memanggilku begitu untuk menutupi rahasia yang hanya diketahui keluarga intiku."Lihatlah, betapa Reiko memang sudah tak lagi menganggap Aida sebagai istrinya. Hubungan mereka hanya sebatas rekan bisnis sesuai dengan surat kontrak yang sudah dikembalikan oleh Aida."Baik Pak. Tapi apa boleh saya bertanya beberapa hal tentang poin di kontrak itu?""Yang mana?"Reiko baru mau menyerahkan surat-surat yang digenggamnya supaya wanita itu membacanyaTapi"Pasal ke empat poin ketiga, tentang pihak kedua akan tinggal bersama pihak pertama di tempat tinggal yang sudah ditentukan pihak pertama dan tidak diizinkan menolak. Poin ke empat, Pihak kedua wajib berperilaku baik selama tinggal bersama, menuruti semua perintah pihak pertama selaku seorang istri dan tidak boleh membantah pihak pertama dalam permasalahan apapun. Lalu poin kelima, Pihak kedua akan bersama pihak pertama selama maksimal lima tahun tanpa boleh mencampuri urusan pihak pertama baik dengan urusan pribadinya ataupun pekerjaannya dan tidak boleh mengganggu pihak pertama, membuat malu, menjatuhkan harga diri pihak pertama, dilarang memicu keributan yang mengganggu ketenangan pihak pertama serta harus tetap menjaga rahasia perihal perjanjian yang sudah disepakati kedua belah pihak serta poin keenam, pihak kedua tidak boleh berhubungan dengan pria manapun selama kontrak berlangsung."'Bagimana dia bisa hapal, bahkan tak ada kalimat yang ditambahkan dan disortir?'Tanpa membaca isi dari surat perjanjian, Aida baru saja menanyakan sesuatu yang membuat Reiko diam-diam tak percaya kalau tidak mendengarnya sendiri.Wanita di hadapannya hanya membaca surat perjanjian dan setelah tanda tangan, Aida tak diizinkan untuk memegang salinannya.Tapi Aida mengingat penuh pasal dan butir-butirnya."Apa pelayan di rumah Anda tidak akan curiga atau mereka sudah tahu rahasia ini, pak Reiko?"Tapi karena Aida sudah bertanya, Reiko berusaha kembali fokus menjawab."Tidak ada pelayan di apartemenku. Harusnya ada, house keeping datang setiap pagi. Tapi karena kamu akan tinggal di sana, aku tidak bisa membiarkan pihak luar tahu rahasia hubungan kita. Jadi kebersihan dan semua yang harusnya tanggung jawab mereka, harus kamu yang menggantikannya. Aku suka kebersihan dan tidak mentolerir sedikitpun berkurang di apartemenku meski cuma satu persen."Kalau tidak ingat biaya sekolah adiknya dan kondisi ibunya yang bisa drop dan shock karena sudah sangat bahagia dengan pernikahan Aida, ingin rasanya gadis itu membuka selopnya dan melemparkan ke kepala suami rasa iblis di hadapannya detik itu juga."Ah, dinikahi untuk jadi pembantu?""Gitu kira-kira. Tapi bayarannya setimpal kan? Mana ada pembantu di bayar miliyaran buat penuhin biaya sekolah adiknya?" Reiko tak kalah sinis menanggapi Aida yang baru menyindirnya."Ingat, kalian bukan orang kaya lagi! Duit kalian sudah habis untuk berobat kan?""Benar sekali. Terima kasih untuk bayarannya dan semoga kerjasama kita tidak ada yang mencederainya.""Aku orang yang memegang janjiku.""Hahaha!" Aida jutru menyindir Reiko dengan tawa terbahak-bahak yang membuat wajah Reiko memerah marah."Apa yang lucu? Kamu tidak mempercayaiku, hmmm?""Janji ijab kabul di depan Tuhan saja Anda cederai, pak Reiko Byakta Adiwijaya. Bagaimana saya bisa menaruh kepercayaan seratus persen pada Anda?"Time flies so fast when you are having fun with the people around you. Everyone got so drunk that they needed assistance to get inside their respective rooms.I stared at Tobi who’s leaning his head back on the sofa with his eyes closed.“Are you still sober?” I asked calmly.Tobi didn’t respond nor react. He must have been very drunk.I stood up and was about to call one of the helpers to assist me to get Tobi in the bedroom when I felt him hold my hand. I moved my gaze towards him.He was not staring at me with his sleepy eyes.“Are you okay? Do you want some water?” I asked.Tobi shook his head then I felt him caressing my hand or more likely he’s massaging it. I took a deep breath then sat right beside him.“Does your head hurt?” I asked.Tobi shook his head then pulled me in his embrace. I smiled upon smelling his perfume. God, I’m getting addicted to his smell.“I can feel you sniffing my smell.” He uttered.I chuckled a little.He then stared right at me. I smiled at him but wh
After what happened in the hospital, Tobi got stricter in terms of me being out of the house.I couldn’t go anywhere else without being supervised by the security.“I really don’t want you to come.” Tobi said while he watched me pack all my stuff into the luggage.I smiled at him.“I’m really okay joining you on this trip. Besides, it's your cousin’s birthday. I should also be there, right?” I uttered. “Technically I’m already a cousin of him also.”Tobi pressed both of his lips together.“Alright, but maybe we have to take the bodyguards with us.” He added. “It’s much safer, I don’t want Calvin lurking around unexpectedly.”I took a deep breath and just nodded at him. I’m already used to Tobi being so overprotective over me.“Where is this party going to take place anyway?” I asked.He helped me close the zipper of the luggage. “It's somewhere near the beach in La Union but I don’t know what exactly it’s called.”I nodded.“It’s okay.” I uttered then smiled at him.Tobi just stared a
For the next few days, I didn’t bother going out of the house. I was scared of going outside, and the fact that I might bump into Calvin out of nowhere.“Will you be going out today?” He asked.I immediately shook my head in response. “No, I’ll just stay at home.” I replied before laying back again in bed.These days I’ve been experiencing way more painful backaches because of the pregnancy hormones.“Do you plan on just staying at home for the rest of your pregnancy?” Tobi asked as he wore his office coat.I nodded willingly.Tobi then pulled me out of the bed, I ended up on his chest. Then there it was again, the beating feeling of my heart.“Get dressed.” He said. “I’ll bring you with me to the office today.” Tobi said before pushing me inside the walk-in closet.Even though I didn’t want to come with him, I had no choice but to obey him. He won’t stop bugging me until I say ‘yes’ to his plans.When we reached the building, some of the employees were standing outside the building p
Who would have thought that Tobi would bring a smile onto my face. I would smile a little every time he would ask the salesperson about this certain furniture for the nursery room.“Do you have this in a neutral color?” He asked.“Yes.” the salesperson replied.Tobi smiled then moved his gaze at me. “What do you think? Do you think we should get this now?” He asked.I nodded at him and he smiled at me.“We’ll get this one.” Tobi then continued on browsing that nursery section.We were both quietly roaming around the shopping mall when someone hastily approached us. I looked at Tobi confused,“How have you been, Tobi?” He asked.I pressed both of my lips together then I felt Tobi tighten his hold onto my waist, he then smiled at the guy who is right in front of us.“I’m fine bro.” He replied. “What are you doing here?” Tobi asked.“I’m checking out the stores, it’s been a while since the last time I became hands on with the company.” He explained before turning his gaze at me. “This mi
Calvin looked at me conflicted, he’s eyes were showing different kinds of emotion.“What do you mean she’s pregnant? We literally broke up not long ago, how come you’re pregnant with Tobi’s child?” He uttered.I remained quiet.Tobi placed me beh
Before she could slap me again, Tobi interfered. He was now holding the girl’s hand.“What do you think you’re doing?” Tobi yelled at the girl.The gir
It wasn’t easy to forget but I did everything I could to avoid Calvin, I would go to school early and in the meantime, I stayed in my parent's house.House helpers were shocked to see me arrive at our house with all the luggage with me.The landlord of the apartment I’ve ren
My forehead creased upon seeing two queen beds in the master’s bedroom. When Tobi entered the master’s bedroom.I moved my gaze towards him.“What exactly is the meaning of this?” I asked, confused.He looked at me confused.“What do you mean?” Tobi asked.I pressed both of my lips together. “I mean, why






Play the Game by amantesecreto is a love story about a complicated love triangle. Andrea Cortes is used to the absence of her parents. It does not bother her since Calvin Perez is by her side. They have been in a secret relationship for years. She does not know why Calvin prefers it this way. But as long as they are together, nothing matters. But her life changes when Tobi Dela Cruz comes into her life. He reveals a secret Calvin has been keeping for years. Can Andrea move on and find new love? Or will her heart cease to trust a man again?
reviews