LOGINThalia tahu betapa beratnya beban emosional yang dirasakan Zacky saat ini. Dikhianati anggota keluarga kandungnya sendiri, sebuah pukulan telak yang sangat menyakitkan.
Thalia berdiri dari pangkuan Zacky secara perlahan. "Tunggu sebentar ya, Zacky. Aku buatkan teh herbal hangat dulu untukmu." Zacky mengangguk pelan. Thalia melangkah menuju area dapur terbuka, gerakan tangannya begitu tenang menyeduh secangkir teh herbal beraroma chamomile dan m"Z-Zacky...!" cicit Thalia tertahan, matanya membelalak lebar saat melihat rahang tegas dan manik mata tajam calon suaminya membara gelap di hadapannya. Zacky tidak memberikan jeda satu detik pun untuk Thalia berbicara. Manik matanya menyala pebuh rasa kepemilikan yang mendalam. Amarah memenuhi hatinya karena terpaksa membiarkan calon istrinya berada di dekat Gideon, bercampur gairah liar yang terkunci sepanjang acara makan malam. Tangan kekar Zacky menyambar tengkuk leher Thalia, menahannya dengan cengkeraman posesif, menyambar bibir ranum Thalia dengan ciuman yang luar biasa kasar, panas, dan menuntut. "Mmphhh...! Zacky...!" desah Thalia melengking halus di balik pagutan bibir mereka. Ciuman Zacky malam ini terasa begitu liar dan penuh hasrat meluap. Lidahnya menerobos masuk tanpa jeda, melumat, membelai, dan menghisap bibir basah Thalia, seolah ingin menghapuskan setiap jejak tatapan
‘Apa maksud Paman Gideon?!’ batin Thalia, dahinya berkerut tipis. Suasana di dalam ruang makan privat itu seketika terasa dingin. Joshua memperhatikan percakapan itu dengan tatapan intens, sementara Tamara menahan napasnya sejenak saat menyadari ketegangan diruangan itu.Zacky memotong daging di piringnya tanpa mengalihkan pandangan dari Gideon. Suaranya terdengar begitu datar, kaku, namun menusuk hingga ke tulang."Hanya tikus kecil yang mencoba mencari perhatian, Paman," pangkas Zacky dingin. "Dan aku selalu punya cara paling efektif untuk mematahkan leher tikus-tikus itu sampai tak tersisa."Gideon terkekeh pelan, mengangguk seolah mengagumi ketegasan keponakannya. "Jawaban yang sangat khas dari seorang CEO Alvarez Group. Tapi ingat, Zacky... Kadang tikus yang paling berbahaya adalah tikus yang bermain di dalam rumah sendiri."Thalia menyunggingkan senyum tipis, memotong pembicaraan sebelum suasana makin keruh.
”Zacky, kamu yakin kita akan datang malam ini?!” tanya Thalia memastikan. Zacky menoleh, mengangguk mantap dengan keputusan yang, “Tentu saja.. Kamu tidak takut, kan?!”Thalia menggeleng sambil tersenyum, “Tentu saja nggak. Klau gitu, dasimu harus terpasang sempurna malam ini,” pangkasnya dengan nada suara yang mantap dan tenang. Jari tangannya bergerak terampil merapikan simpul kain sutra hitam di leher kokoh Zacky.Tidak ada kecemasan di dalam hati mereka, meskipun tahu persis siapa yang akan ditemui di kediaman utama Alvarez malam ini. "Kamu tidak takut bertemu Gideon, Thalia?" pangkas Zacky memastikan sekali lagi, suaranya datar dan kaku seperti biasa, sorot matanya menatap dalam manik matha Thalia..Thalia menyunggingkan senyum penuh keberanian, mendongak, dan menatap langsung ke dalam manik mata hitam calon suaminya tanpa sedikit pun rasa ragu."Kenapa harus takut, Pak Zacky?" goda Thalia, jari tangannya me
Thalia tahu betapa beratnya beban emosional yang dirasakan Zacky saat ini. Dikhianati anggota keluarga kandungnya sendiri, sebuah pukulan telak yang sangat menyakitkan. Thalia berdiri dari pangkuan Zacky secara perlahan. "Tunggu sebentar ya, Zacky. Aku buatkan teh herbal hangat dulu untukmu." Zacky mengangguk pelan. Thalia melangkah menuju area dapur terbuka, gerakan tangannya begitu tenang menyeduh secangkir teh herbal beraroma chamomile dan madu murni. Keberanian dan kedewasaan Thalia kini membuatnya tahu persis bagaimana cara merawat dan menguatkan pria yang paling dicintainya. Thalia kembali ke area ruang tengah penthouse, ia meletakkan cangkir teh herbal di atas meja. "Zacky, kemarilah," panggil Thalia lembut, sambil menyunggingkan senyuman. Zacky berdiri, melangkah mendekati Thalia. Pria itu menurunkan tubuhnya, duduk bersilang kaki di atas karpet bulu tepat di dep
"Ini kopi hitam tanpa gula dan makan siang kamu, Zacky," pangkas Thalia lembut, meletakkan cangkir porselen hitam dan nampan berisi hidangan hangat di atas meja ruang kerja. Thalia menatap Zacky tanpa ada lagi keraguan. Ia berdiri di samping pria yang siap mempertaruhkan seluruh kekuasaannya demi dirinya dan menjadikannya wanita yang sangat berani, tenang, dan matang. Zacky mengangkat pandangannya dari layar laptop. Manik mata pekatnya menatap sosok Thalia yang kini mengenakan pakaian kasual rumah. "Terima kasih, Thalia," pangkas Zacky rendah. "Kamu sudah makan?" "Belum," goda Thalia dengan suara lembut di dekat telinga Zacky. "Aku kan mau makan siang bersamamu, Pak Zacky." Zacky meraih pergelangan tangan Thalia, menariknya perlahan hingga Thalia berputar dan jatuh di atas pangkuannya. Tangannya langsung mengunci pinggang ramping Thalia dengan cengkeraman yang sangat posesif. "Kamu sema
l"Zacky, lewat pintu samping saja... Kerumunan wartawan di depan sangat padat," pangkas Thalia pelan saat mereka melangkah menyusuri koridor belakang gedung pengadilan yang sunyi. "Tidak perlu menghindari mereka, Thalia," pangkas Zacky dingin dan berwibawa. "Alvarez Group tidak pernah bersembunyi dari publik. Biarkan mereka melihat bahwa pengkhianat perusahaan telah menerima hukumannya." Thalia menyunggingkan senyum tipis, merasa kagum dengan keteguhan hati calon suaminya. "Baiklah, Pak Zacky. Saya ikut keputusan Anda." Namun, tepat saat mereka mendekati pintu keluar lobi utama yang dibatasi oleh pagar pembatas, sebuah gangguan mendadak terjadi di antara kerumunan wartawan. "Pak Zacky! Nona Thalia! Tolong tanggapi foto ini!" seru seorang wartawan berjaket coklat yang tiba-tiba menerobos barikade pengawal dengan mengangkat sebuah amplop coklat tebal







