INICIAR SESIÓN"Paman Gideon... Dia wali hukum sekaligus penyokong dana utama Arjuna selama ini?" tanya Thalia dengan suara lantang dan penuh keberanian.
Thalia tidak lagi gemetar. Ia berdiri tegak di samping Zacky, menatap tajam nama yang tertera di lembar rekam medis kusam dengan manik mata berbinar dingin."Jadi seluruh skenario teror, pesan suara, sampai manipulasi identitas ini bukan sekadar ulah orang gila, melainkan permainan kotor Paman Gideon untuk menghancurkanmu dari dalam, Za"Zacky... Kita harus ke rumah sakit sekarang juga," ucap Thalia, suaranya terdengar tegas tanpa ada keraguan.Thalia menatap pemutar suara kecil di atas meja kerja, lalu beralih menatap dalam manik mata Zacky. Thalia tidak lagi bergetar atau ketakutan seperti saat pertama kali menerima teror. "Aku ingin mendengar langsung dari Papa sebelum ada orang lain yang mencoba membungkamnya lagi," lanjut Thalia.Gadis itu mengikis jarak di antara mereka dan menyentuh rahang tegas calon suaminya. "Bersamamu, aku siap menghadapi siapapun sosok di balik semua ini, Pak Zacky."Zacky menatap raut wajah Thalia yang kini penuh keberanian dan kepercayaan diri yang sangat memikat. Sudut bibirnya terangkat tipis, memamerkan senyum sensual yang teramat seksi."Sesuai keinginanmu, calon istriku," pangkas Zacky rendah, tangannya memeluk pinggul ramping Thalia dan menariknya rapat ke dalam dekapannya.Zacky menunduk sejenak, menyambar bibir ranum
Thalia menghela nafas panjang melihat Gideon diseret keluar dari aula utama dalam kondisi terhina dan hancur total, memusnahkan seluruh pengaruh politik bisnis yang dibangunnya selama puluhan tahun dalam hitungan menit.Setelah kekacauan di aula utama mereda, suasana di dalam ruang kerja eksekutif Zacky di lantai paling atas Alvarez Tower terasa begitu tenang dan nyaman.Zacky melangkah perlahan dari belakang, merengkuh pinggang ramping Thalia, menempelkan dada bidangnya yang hangat pada punggung halus gadis itu."Kamu tampil sangat luar biasa hari ini, Thalia," bisik Zacky rendah dan sensual di leher jenjang Thalia, mendaratkan kecupan hangat di sana.Thalia menggeser posisinya, memutar tubuhnya di dalam dekapan Zacky, menyandarkan kedua tangannya di dada bidang tegap calon suaminya.Pipinya merona, namun manik matanya menatap Zacky dengan keberanian yang sangat memikat."Aku bisa berdiri setegak itu karena aku tahu ada ka
Thalia menatap lurus wajah Gideon tanpa ada sedikitpun rasa gentar. Senyum tipis yang penuh keberanian menghiasi bibir merahnya saat ia melangkah di sebelah Zacky yang merengkuh pinggangnya secara protektif."Sandiwara yang cukup menarik, Paman Gideon," pangkas Thalia dengan suara mantap, jernih, dan bergema penuh ketegasan di seluruh penjuru aula.Seluruh kamera wartawan seketika berputar arah, menyorot kedatangan pasangan tersebut dengan kilatan lampu kamera yang tak henti-hentinya menyala.Gideon tersentak kaku di atas podium, raut wajahnya sedikit goyah saat melihat Thalia yang begitu tenang dan berdiri begitu tegak di samping Zacky."Thalia! Kamu jangan mau dipengaruhi oleh keponakan brengsek ku ini!" seru Gideon mencoba menguasai panggung. "Pria ini memanfaatkanmu untuk menguasai sisa saham mama kamu!""Cukup, Paman Gideon!" pangkas Thalia tajam, menghentikan ucapan Gideon dengan lambaian tangannya yang anggun."Mama
"Zacky, apa Mama benar-benar meninggalkan surat wasiat untuk Paman Gideon?" tanya Thalia dengan suara lantang dan penuh penekanan.Ia berdiri di samping Zacky dalam ruang pemantauan siber penthouse, menatap layar monitor besar yang masih menampilkan rekaman ulang konferensi pers mendadak Gideon Alvarez di depan gedung dewan komisaris. "Mama tidak pernah berhubungan dengan Paman Gideon semasa hidupnya. Ini pasti akal-akalan pamanmu untuk menggagalkan pertunangan kita dan merebut saham perusahaan, kan?" pangkas Thalia mantap, menatap lurus manik mata hitam Zacky.Zacky merengkuh pinggang ramping Thalia secara refleks, menarik tubuh gadis itu hingga menempel hangat di dada bidangnya. "Paman Gideon cuma pria tua panik yang menggunakan dokumen palsu, Thalia. Aku yakin itu," pangkas Zacky rendah dan dingin. "Mama kamu wanita terhormat yang tidak pernah ada kaitannya dengan bisnis kotor keluarga Alvarez.""Kalau begitu, apa ya
Thalia menahan nafas mendengar apa yang baru saja Ivan sampaikan, matanya menatap pintu kaca ruang tindakan. "Koma, Pak Ivan?""Benar, Nona Thalia. Dokter mengatakan kerusakan pada otot jantungnya sudah berlangsung sangat parah selama beberapa minggu terakhir tanpa penanganan medis yang layak. Kemungkinan besar serangan jantung ini dipicu tekanan psikologis yang sangat berat dan konsumsi obat pemacu saraf secara paksa," lanjut Ivan tegang.Zacky menyipitkan matanya tajam, rahang tegasnya mengetat keras. "Obat pemacu saraf secara paksa... Itu ulah Arjuna dan Paman Gideon.""Sangat besar kemungkinannya, Pak Zacky," angguk Ivan kaku. "Selama ini Pak Felix bersama Arjuna, dia mungkin sengaja menyuntikkan zat kimia berbahaya ke tubuh Tuan Felix agar pria itu terus berada di bawah kendalinya dan terlihat baik-baik saja tapi dampaknya buruk.Saat Tuan Felix melarikan diri tadi pagi, tubuhnya tidak lagi sanggup menahan reaksi zat k
“Zacky, apa Papa baik-baik saja?! Kenapa tidak ada respon apapun?!” tanya Thalia cemas, menoleh ke arah Zacky yang fokus mengemudi. “Tenang Thalia, semua akan baik-baik saja.. Semoga ini bukan perangkap, kalau tidak aku tidak akan memaafkannya karena membuatmu panik seperti ini..” Zacky meraih tangan Thalia, mengusapnya lembu. Setelah lima belas menit berlalu, SUV milik Zacky berhenti di balik pepohonan rindang berjarak lima puluh meter dari titik lokasi yang dilacak oleh tim siber. Dari balik kaca mobil yang gelap, Zacky dan Thalia memantau situasi dengan waspada.Tiba-tiba, di layar ponsel Thalia, terlihat sepasang kaki manusia melangkah mendekati tempat ponsel dan tubuh Felix yang tergeletak.Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian kaos lusuh tampak seperti warga lokal atau pengemudi angkutan barang yang kebetulan lewat memutus hening. Pria itu tampak kaget melihat tubuh Felix yang tergeletak kaku.”Astaga!







