MasukThalia menahan nafasnya, menatap perhiasan indah itu dengan raut wajah tak percaya. "Zacky... Ini..."
Di dalam kotak beludru itu, terbaring sebuah kalung platina berkilau indah dengan liontin berlian kustom yang dibentuk sangat halus.Liontin itu berinisial huruf 'Z' dan 'T' yang saling bertaut erat, dikelilingi oleh deretan berlian kecil yang memancarkan kilau sempurna di bawah pendar lampu remang ruangan."Ini kalung kustom khusus yang kubuat untukmu, Thalia,"Thalia menahan nafas mendengar apa yang baru saja Ivan sampaikan, matanya menatap pintu kaca ruang tindakan. "Koma, Pak Ivan?""Benar, Nona Thalia. Dokter mengatakan kerusakan pada otot jantungnya sudah berlangsung sangat parah selama beberapa minggu terakhir tanpa penanganan medis yang layak. Kemungkinan besar serangan jantung ini dipicu tekanan psikologis yang sangat berat dan konsumsi obat pemacu saraf secara paksa," lanjut Ivan tegang.Zacky menyipitkan matanya tajam, rahang tegasnya mengetat keras. "Obat pemacu saraf secara paksa... Itu ulah Arjuna dan Paman Gideon.""Sangat besar kemungkinannya, Pak Zacky," angguk Ivan kaku. "Selama ini Pak Felix bersama Arjuna, dia mungkin sengaja menyuntikkan zat kimia berbahaya ke tubuh Tuan Felix agar pria itu terus berada di bawah kendalinya dan terlihat baik-baik saja tapi dampaknya buruk.Saat Tuan Felix melarikan diri tadi pagi, tubuhnya tidak lagi sanggup menahan reaksi zat k
“Zacky, apa Papa baik-baik saja?! Kenapa tidak ada respon apapun?!” tanya Thalia cemas, menoleh ke arah Zacky yang fokus mengemudi. “Tenang Thalia, semua akan baik-baik saja.. Semoga ini bukan perangkap, kalau tidak aku tidak akan memaafkannya karena membuatmu panik seperti ini..” Zacky meraih tangan Thalia, mengusapnya lembu. Setelah lima belas menit berlalu, SUV milik Zacky berhenti di balik pepohonan rindang berjarak lima puluh meter dari titik lokasi yang dilacak oleh tim siber. Dari balik kaca mobil yang gelap, Zacky dan Thalia memantau situasi dengan waspada.Tiba-tiba, di layar ponsel Thalia, terlihat sepasang kaki manusia melangkah mendekati tempat ponsel dan tubuh Felix yang tergeletak.Seorang pria paruh baya mengenakan pakaian kaos lusuh tampak seperti warga lokal atau pengemudi angkutan barang yang kebetulan lewat memutus hening. Pria itu tampak kaget melihat tubuh Felix yang tergeletak kaku.”Astaga!
"Aahh... Zacky..." desah Thalia pasrah, membiarkan jemari Zacky mengelus paha mulusnya dari balik rok kerjanya.Namun, sebelum gairah di antara mereka meluap semakin jauh, terdengar suara dering keras dan getaran panjang dari ponsel pribadi milik Thalia yang tergeletak di atas meja kerja mendadak memecah keheningan suasana.Drrttt.. Drrttt.. DrrtttLayar ponsel Thalia menyala terang, menampilkan panggilan video dari nomor yang tidak dikenal.Thalia sedikit tersentak, menghentikan sentuhan tangannya di leher Zacky. "Zacky... Ada panggilan video masuk. Dari nomor tak dikenal."Manik mata Zacky seketika menyipit tajam, aura dingin dan protektif kembali terasa dari tubuhnya. Pria itu tidak membiarkan Thalia menyentuh ponsel itu sendirian."Jangan diangkat sendiri, Thalia," pangkas Zacky tegas.Zacky menegakkan tubuhnya, merapikan blazer Thalia dengan lembut, lalu menyambar ponsel dari atas meja. Jari Zacky m
Thalia membalas tatapan Zacky tanpa ada lagi getaran ragu atau takut. Ia menyunggingkan senyum manis dengan sangat percaya diri, menyentuh liontin berlian 'Z&T' di dadanya."Aku sudah sangat siap, Zacky..." pangkas Thalia berani. "Biarkan seluruh dunia tahu bahwa aku milikmu, dan kamu milikku."“Kamu yakin, Thalia?!” Zacky memastikan kata-kata Thalia, “Kalau undangan ini disebar, tidak ada lagi jalan buat kami sembunyi dari semua orang diluar sana..”“Aku tahu Zacky, aku sudah memikirkan semuanya.. Aku siap bertunangan sama kamu..” Thalia tersenyum, tatapannya begitu penuh keyakinan. Zacky menarik tubuh Thalia memeluk gadis itu erat, “Bagus Thalia, aku suka kamu yang sekarang.. Terima kasih..” bisiknya sensual. “Ehem.. Maaf Pak Zacky, Nona Thalia.. Apa undangan ini jadi disebarkan?!” suara Ivan menyadarkan Zacky dan Thalia kalau asisten pribadi Zacky masih berdiri disana. Wajah Thalia terasa panas, ia mendorong Zacky pelan u
"Z-Zacky... Aahh!" pekik Thalia melengking halus saat merasakan jari hangat Zacky membelai lembut bibir goa miliknya, memberikan sentuhan sensual yang membuat tubuh rampingnya bergetar kencang."Sebut namaku, Thalia... Katakan siapa pemilikmu!" perintah Zacky dominan, bibirnya melumat bibir manis Thalia untuk meredam jeritan nikmat gadis itu."Zacky... Aahh! Kamu... Kamu pemilikku... Zacky Farelio... Nggghh!" desah Thalia terbata-bata, tangannya meremas kencang otot bahu Zacky yang mengeras.Mendengar pengakuan tulus dan pasrah itu, Zacky mengarahkan pinggulnya. Dengan satu dorongan yang mantap, dalam, dan penuh kehangatan, Zacky menyatukan gairahnya sepenuhnya."AAAHHH! ZACKY...!" jerit Thalia melengking nikmat, matanya terpejam erat saat merasakan kehangatan besar menerobos masuk memenuhi setiap inci miliknya.Zacky menahan napasnya sejenak, membiarkan jepitan erat dan hangat dari dinding goa Thalia menyesuaikan ukurannya, sebelu
Thalia menahan nafasnya, menatap perhiasan indah itu dengan raut wajah tak percaya. "Zacky... Ini..."Di dalam kotak beludru itu, terbaring sebuah kalung platina berkilau indah dengan liontin berlian kustom yang dibentuk sangat halus. Liontin itu berinisial huruf 'Z' dan 'T' yang saling bertaut erat, dikelilingi oleh deretan berlian kecil yang memancarkan kilau sempurna di bawah pendar lampu remang ruangan."Ini kalung kustom khusus yang kubuat untukmu, Thalia," pangkas Zacky rendah dan hangat. "Inisial nama kita yang saling bertaut. 'Z' dan 'T'. Sebuah simbol bahwa jiwamu dan jiwaku sudah terkunci menjadi satu, tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh siapa pun.""Zacky..." cicit Thalia haru, matanya berembun menatap keindahan liontin tersebut.Zacky mengeluarkan kalung itu dari kotaknya. "Berbaliklah, Thalia."Thalia berbalik perlahan, memunggungi Zacky, menyingkirkan rambut hitam panjangnya ke atas, memperlihatk







