Masuk‘Ya sudahlah, Thalia.. Mungkin Zacky sedang sibuk saat ini. Bukankah selama ini kamu gak pernah mau bergantung pada siapapun?! Sekarang kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri..’
Thalia menghela nafas panjang sambil menyimpan ponsel dalam tasnya. Ia mencari taxi walaupun masih bingung kemana arah tujuannya saat ini.. Sementara Zacky masih sibuk dengan gadis yang dijemput di bandara, menanggapi rengekan manjanya. "Cukup Sabrina, jangan manja dThalia tersentak kaget, langkah kakinya seketika terhenti kaku saat suara berat yang sangat dibenci mendadak terdengar memecah keheningan lobby. Matanya membelalak lebar melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya dengan pakaian serba hitam dan raut wajah penuh dendam. "A-Arjuna...?!" jerit Thalia tertahan, wajahnya seketika pucat pasi melihat sosok pria itu. ‘Bagaimana mungkin Arjuna bisa berada di sini?! Bukankah dia seharusnya masih ditahan di kantor polisi atas laporan dari tim hukum Zacky?!’ batinnya mulai gelisah. Arjuna menyunggingkan senyum miring yang begitu mengerikan, melangkah maju mengikis jarak di antara mereka. "Kenapa? Kaget melihatku bebas, hah?!" desis Arjuna penuh amarah yang tertahan. "Kamu pikir Pak Zacky bisa mengurungku selamanya di penjara, Thalia?!" "K-kamu... Bagaimana bisa kamu keluar?!" cicit Thalia panik setengah mati, kakinya melangkah mun
‘Ya sudahlah, Thalia.. Mungkin Zacky sedang sibuk saat ini. Bukankah selama ini kamu gak pernah mau bergantung pada siapapun?! Sekarang kamu hanya bisa mengandalkan dirimu sendiri..’ Thalia menghela nafas panjang sambil menyimpan ponsel dalam tasnya. Ia mencari taxi walaupun masih bingung kemana arah tujuannya saat ini.. Sementara Zacky masih sibuk dengan gadis yang dijemput di bandara, menanggapi rengekan manjanya. "Cukup Sabrina, jangan manja dan banyak bertingkah," sahut Zacky datar. Pria itu meraih koper besar milik Sabrina dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Sabrina melirik ke dalam mobil dengan mata berbinar penasaran. "Eh? Kak Zacky kesini sendirian? Mana asisten pribadi baru yang katanya imut dan heboh diomongin kantor itu? Siapa namanya tuh... Thalia ya?! Dia mau jadi saingan ku?!" Mendengar nama Thalia disebut, raut wajah Zacky seketika berubah lebih serius.
“Gak mau! Thalia tidak akan menikah dengan Arjuna sampai kapanpun, Pa! Thalia kecewa sama Papa..” Kata-kata ancaman Felix menjadi pukulan terakhir yang menghancurkan seluruh pertahanan Thalia. Gadis itu menyambar tas kerjanya di atas meja dengan jari tangan gemetar, lalu berbalik berlari keluar dari rumah tersebut tanpa menoleh lagi ke belakang. "Thalia! Kembali kamu! Thalia!" teriakan Felix menggema di ruang tamu, namun Thalia terus berlari menembus halaman rumah dengan isak tangis yang pecah. Thalia berlari menyusuri jalanan kompleks yang sepi, air matanya menetes tanpa henti membasahi kemeja kerjanya. Tungkai kakinya terasa begitu lemas hingga ia hampir tersandung di pinggir jalan utama. Gadis itu terduduk di bangku halte bus yang sepi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Ia merasa dunia begitu kejam padanya. Tempat yang seharusn
Thalia membelalakkan matanya karena terkejut dengan reaksi Papanya yang justru menamparnya, ia memegangi dadanya yang terasa sesak luar biasa. "P-Papa... Thalia tidak berbohong! Thalia berani bersumpah, kalau Thalia tidak mengarang cerita! Arjuna memang sejahat itu sama Thalia, Pa!""Papa tidak percaya!" teriak Felix tanpa rasa iba sedikitpun melihat tangisan putrinya. "Arjuna itu anak dari teman lama Papa! Dari dulu dia sangat sopan, bertanggung jawab, dan sangat mencintaimu! Mana mungkin dia melakukan hal sekeji itu padamu, Thalia?!""Tapi itu kenyataannya, Pa!" pangkas Thalia penuh rasa kesal."Kenapa Papa justru lebih percaya sama Arjuna dibanding anak kandung Papa sendiri?!""Karena kamu sudah terbuai rayuan CEO baru itu, Thalia!" seru Felix dengan suara menggelegar di ruang tamu. "Kamu pasti sengaja menjebak Arjuna agar kamu bisa bebas berhubungan dengan Pak Zacky yang kaya raya itu, kan?! Kamu men
"Papa... Thalia pulang..." panggil Thalia pelan, ia melangkah masuk melewati pintu depan rumah keluarganya. Rumah bergaya klasik bernuansa kayu itu terasa begitu sepi saat Thalia melangkah melewati ruang tamu. Perjalanan hampir dua jam menggunakan travel dari Jakarta membuat tubuhnya terasa sedikit lelah, ditambah rasa cemas yang masih ia rasakan di dalam hatinya.Seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik melangkah keluar dari area ruang makan. Wajahnya yang tegas dan dipenuhi garis usia seketika menyunggingkan senyuman manis saat melihat sosok putri tunggalnya."Thalia! Akhirnya kamu sampai juga!" seru Papanya, Felix Effendy, melangkah lebar dan langsung merengkuh tubuh mungil Thalia ke dalam pelukan hangat.Thalia sempat terpaku sejenak, membalas pelukan papanya dengan rasa haru yang mengalir hangat di dalam hatinya. Sudah cukup lama ia tidak merasakan kasih sayang langsung dari papanya sejak konflik finansial men
Thalia memiringkan posisi duduknya, menatap dari samping wajah Zacky yang tampak begitu tampan dan sempurna di hadapannya "Zacky..." panggil Thalia pelan dan ragu. "HM?" sahut Zacky tanpa mengalihkan pandangannya dari lembaran kertas di tangannya. "Emm... Kalau... Kalau besok lusa aku izin tidak masuk kantor seharian... Boleh tidak?" cicit Thalia berhati-hati, menahan napasnya menunggu reaksi pria itu. Gerakan tangan Zacky yang hendak membalik halaman kertas seketika terhenti kaku. Pria itu perlahan memutar kepalanya, menatap Thalia dengan manik mata hitamnya yang dalam dan mengintimidasi. "Izin?" ulang Zacky dingin. "Untuk urusan apa, Thalia?" "I-itu... Ada urusan pribadi yang sangat penting..." jawab Thalia terbata-bata, pikirannya berputar cepat mencari alasan palsu yang masuk akal. "T-teman lama aku dari luar kota datang... Di







