Share

Bunuh

Author: AgamYupi02
last update Last Updated: 2025-12-16 11:49:41

Bruak!

Brian Won dilemparkan oleh petugas kereta cepat ke dalam sebuah ruangan yang sangat sempit. Ruangan itu berukuran satu kali satu meter dan sudah terasa sesak meskipun baru dimasuki oleh satu orang.

"…"

Brian Won terlihat tenang tanpa banyak bereaksi. Ia menatap petugas kereta cepat yang telah melemparkannya dengan tatapan datar, lalu berkata,

"Di mana dua pemuda itu?" tanya Brian Won dengan nada tenang.

"Huh! Mereka berdua adalah keponakan bos kami. Kamu telah membuat kesalahan besar dengan membuat mereka marah," ucap petugas kereta itu dengan nada dingin.

Mendengar penjelasan tersebut, Brian Won mulai merasa kesal.

Ia mengulurkan tangan dan mencengkeram gagang pintu dengan kuat.

"Hem? Apa yang mau kamu lakukan?" tanya petugas kereta itu dengan ekspresi dan nada aneh.

Krak!

Saat petugas kereta cepat itu mulai kebingungan, suara retakan keras tiba-tiba terdengar.

Petugas itu terkejut dan menatap pintu dengan ekspresi tidak percaya.

"Ini… bagaimana mungkin?!" ucapnya dengan nada terkejut.

Ia melihat gagang pintu yang kini rusak akibat cengkeraman tangan Brian Won.

Bruak!

Brian Won membuka pintu dan berjalan keluar dengan ekspresi tenang.

Ia menatap petugas kereta cepat itu dengan santai dan berkata,

"Di mana dua pemuda itu sekarang? Oh ya, katakan juga di mana bosmu berada saat ini."

"Anu… itu… mereka sedang berada di gerbong depan. A-apa yang mau kamu lakukan?" ucap petugas kereta cepat itu dengan nada gugup.

"Bukankah sudah jelas? Aku akan pergi membersihkan sampah negara," balas Brian Won dengan nada santai.

Brian Won berjalan melewati petugas kereta cepat itu dengan tenang.

Petugas kereta cepat tidak bereaksi sampai Brian Won benar-benar menghilang dari pandangannya.

---

Di salah satu gerbong, dua pemuda yang bermasalah dengan Brian Won sedang duduk panik di sofa yang tampak mahal.

"Paman, paman harus membalaskan dendam kami!" ucap pemuda berkacamata hitam dengan nada kesal.

Penampilannya terlihat aneh, dengan tangan dan kaki bengkok ke berbagai arah.

Pria paruh baya bertubuh gendut itu tampak gugup sambil menatap dua keponakannya dengan khawatir.

"Kalian berdua harus tenang. Aku sudah menyuruh bawahanku untuk menghajar orang yang membuat kalian menjadi seperti ini," jawab pria itu dengan nada serius.

"Huh! Jangan hanya dihajar! Kami ingin orang itu menjadi cacat seumur hidup dan tidak bisa dipulihkan lagi!" kata pemuda bertahi lalat hitam dengan ekspresi penuh kebencian.

Pria paruh baya gendut itu mengangguk beberapa kali dengan ekspresi serius.

"Tentu saja. Aku akan membuat pemuda itu menjadi seperti yang kalian inginkan. Kalian tunggu saja kabar baik dariku."

"He he… menarik. Kalian ingin aku menjadi cacat? Kalau begitu, coba lakukan sekarang."

"Aku tidak akan banyak melawan, jadi tenang saja."

Suara menggoda Brian Won tiba-tiba terdengar.

Pria paruh baya gendut dan dua pemuda itu tertegun.

Mereka bertiga menoleh perlahan dan melihat Brian Won berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan ekspresi main-main.

"Kamu… bagaimana bisa kamu datang kemari?!" teriak pria paruh baya gendut itu dengan nada terkejut.

"He he, jangan pikir kamu bisa mengurungku dengan cara seperti itu. Tahukah kamu? Aku pernah ditangkap oleh salah satu negara superpower dan berhasil keluar dengan mudah dari penjara terbaik yang mereka miliki."

"Hanya kurungan di kereta cepat belaka, mustahil bisa mengurungku lama-lama," jelas Brian Won dengan nada santai.

Pria paruh baya gendut dan dua pemuda itu tentu saja tidak percaya.

Mereka bertiga tertawa dan mulai mengejek Brian Won tanpa ampun.

Brian Won hanya tersenyum tipis saat mendengar ejekan mereka.

Setelah cukup lama membiarkan mereka tertawa, ia akhirnya berbicara dengan nada santai.

"Kalian bertiga, apa kalian tidak ingin meminta maaf padaku?" ucap Brian Won pelan.

Pria paruh baya gendut itu sedikit terkejut, lalu menatap Brian dengan ekspresi mengejek.

"Minta maaf? Seharusnya kamu yang melakukannya, bocah! Cepat kembalikan keponakanku seperti semula."

"Jika kamu menolak, aku tidak akan ragu memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian!" ancamnya dengan nada dingin.

Brian Won terdiam.

Ia menunduk, lalu menyeringai kejam beberapa saat kemudian.

"Kalau begitu, kalian bertiga memang sampah yang perlu aku hilangkan dari muka bumi," ucap Brian Won dengan tenang.

"…"

Kali ini pria paruh baya gendut itu benar-benar terkejut.

Ekspresinya menjadi serius saat menatap Brian Won dengan curiga.

Sebelum ia sempat berbicara, Brian Won tiba-tiba menghilang dan muncul di belakangnya.

"Apa?! Sejak kapan?!" teriaknya sambil berbalik dengan ekspresi waspada.

Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah saat tubuhnya melemah secara tiba-tiba.

Bruk!

Pria paruh baya gendut itu jatuh dan tergeletak di lantai dengan ekspresi kosong.

Darah merah mengalir deras dari lubang di dadanya.

"…"

Dua pemuda yang menyaksikan kejadian itu terkejut, lalu kepanikan melanda pikiran mereka.

Brian Won berbalik, memperlihatkan tangannya yang bernoda darah, lalu berkata dengan senyum hangat,

"Kalian berdua, sekarang giliran kalian. Tenang saja, tidak akan sakit. Kalian akan mati tanpa merasakan sakit sedikit pun di tanganku."

"Tidak… pergi dari sini!!" teriak pemuda berkacamata hitam dengan panik.

Pemuda bertahi lalat hitam berusaha merangkak untuk melarikan diri.

"He he he… mana mungkin aku pergi sekarang. Sebelumnya aku sudah memberi kalian kesempatan. Salah sendiri kalian tidak memanfaatkannya dengan baik," ucap Brian Won dengan senyum lembut.

Brian Won melangkah maju perlahan ke arah mereka.

Kepanikan kedua pemuda itu semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian, terdengar dua teriakan keras yang berlangsung selama beberapa detik.

Setelah suara itu menghilang, Brian Won terlihat duduk tenang di atas sofa. Ia menatap tiga mayat di hadapannya, lalu mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan.

"Halo! Tuan Won, kenapa Anda menelepon saya? Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang pria di seberang telepon dengan nada antusias.

"Um, aku baru saja membunuh beberapa warga sipil. Bisakah kamu datang untuk mengurusnya?" jawab Brian Won dengan tenang.

"Oke… di mana Anda sekarang? Saya akan segera ke sana," jawab pria itu cepat.

"Aku berada di kereta cepat. Tunggu saja kereta yang akan tiba di Kota Bunga beberapa jam lagi. Aku ada di dalamnya," jelas Brian Won santai.

"Baik, Tuan Won. Saya akan segera menuju stasiun kereta cepat Kota Bunga," jawab pria itu antusias.

Brian Won menutup telepon dan merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.

Hem, dua bajingan itu sudah mati. Seharusnya Liu Wen bisa tenang beristirahat di kursinya, gumam Brian Won dalam hati.

Setelah itu, Brian Won tertidur pulas.

Yang sedikit aneh, telapak tangannya masih bernoda darah, dan tampaknya ia tidak berniat membersihkannya sama sekali.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Tamat Yang Dipaksakan

    Clack!"Kakak Brian..."Panggilan malu-malu Yim Shu mengalihkan perhatian Brian Won.Brian Won menoleh, terkejut melihat Yim Shu mengenakan lingerie seksi yang menonjolkan dada dan pantatnya.Glek..."Yim Shu? Kenapa kamu berpakaian seperti itu?!"Yim Shu tersipu, berlari dan memeluk Brian Won.Punyu...Payudara Yim Shu menekan dada Brian Won, memberinya rasa nikmat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata."Kakak, aku mencintaimu, tolong terima dedikasiku."Deg-deg!"Kamu yakin? Setelah memulainya, aku tidak akan berhenti sampai puas."Yim Shu tersenyum tipis, berkata dengan nada lembut, "Itulah yang aku inginkan."Brian Won menelan ludah, mencium bibir Yim Shu, lalu membawanya ke tempat tidur.Apa yang terjadi selanjutnya cukup memalukan untuk dibicarakan, yang jelas mereka menjalin kasih selama beberapa jam di kamar Brian Won, lalu berhenti pada saat matahari mulai terbit dari ufuk timur.Brian Won terpaku merasakan kekuatannya yang mengalami peningkatan tidak masuk akal."Tingkat 3

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Reaksi

    Sekte Aliran Hitam.Setelah percobaan penculikan terakhir kali berakhir dengan kegagalan, kini mereka sedang mengatur strategi ulang."5 Prajurit Senior dikalahkan dengan mudah oleh pensiunan prajurit khusus, dapat dipastikan, lawan bukan prajurit khusus biasa.""Kemungkinan besar dia anggota Organisasi Naga.""Mungkin, tidak diragukan kekuatannya berada di tingkat Master atau di atasnya lagi.""Sekarang bagaimana? Haruskah kita bergerak?""Tidak, biarkan Master Besar yang bergerak lebih dulu. Master Hebat seperti kita tidak bisa seenaknya bergerak, apalagi pergi ke Negara Naga.""Benar juga, kirim semua Master Besar, jangan sisakan satu pun di markas.""Bukannya itu berlebihan? Kita tidak sedang mau melakukan invasi terhadap Negara Naga, kan?""Tidak, tujuan kita hanya mengambil kunci dari Negara Naga.""Lantas kenapa mengirim orang begitu banyak?""... Hanya untuk jaga-jaga, tidak lebih.""... Baiklah, akan segera aku siapkan."....Brian Won menghentikan latihannya, tersenyum puas

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Zhou Jiajia Hamil

    "Hee, buat apa kau menemuiku? Aku tidak punya hubungan dengan kekasihmu." Ekspresi Zhou Jiajia menjadi dingin, tatapannya tajam tanpa emosi. "Ugh, aku cuma ingin bicara denganmu, jadi tolong turunkan permusuhanmu," ucap Jeni Yan dengan lembut dan penuh kasih.Bahkan Zhou Jiajia tidak tahan dengan pernyataan Jeni Yan, dia berdehem lalu kembali bersikap seperti biasa."Baiklah, maafkan aku."Jeni Yan tersenyum penuh pengertian, menggelengkan kepalanya dengan tatapan hangat penuh cinta."Aku mengerti alasanmu marah, tidak perlu meminta maaf."Zhou Jiajia kembali menurunkan kewaspadaannya."Tidak nyaman bicara sambil berdiri, ayo duduk dulu," ucap Zhou Jiajia.Jeni Yan tersenyum getir, berkata dengan nada santai, "Aku juga berpikir begitu."Mereka duduk di sudut restoran, memesan makanan dan mulai bicara sambil menunggu pesanan datang."Kamu mau bicara apa?" tanya Zhou Jiajia.Jeni Yan menarik napas, berkata dengan nada lembut, "Kamu tidak mau memikirkan kembali soal hubunganmu dengan Br

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Jeni Yan Bertemu Zhou Jiajia

    Sejak insiden penyanderaan, Vivian jadi melekat dengan Brian Won.Mereka sangat lengket hingga membuat Yim Shu cemburu, kadang sampai harus ditegur langsung oleh Yim Shu.Brian Won hanya tertawa, meladeni dua wanita besar itu dengan sepenuh hati.Yu'er butuh lebih banyak perhatian daripada Vivian, Brian Won terpaksa membawanya ke mana-mana sampai dia melupakan insiden yang menimpanya.Apartemen Jeni Yan.Brian Won dan Jeni Yan berpelukan di tempat tidur, baru saja selesai bertarung dengan sengit setelah sekian lama.Kamar itu kacau balau, dipenuhi aroma ambigu yang merangsang."Aku mengerti, jadi itu alasanmu tidak bisa datang menemuiku." Jeni Yan menggambar lingkaran di dada Brian Won.Menggelitik Brian Won hingga membuatnya tidak bisa menahan tawa."Maafkan aku, aku akan berusaha agar bisa lebih sering menemanimu.""He he he, aku tidak keberatan menunggu, lagipula kamu selalu bisa memuaskanku, meski hasratku sudah menumpuk sedemikian rupa."Brian Won tersenyum bangga, merasa senang

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Vivian Disandera

    Brian Won berhasil melumpuhkan tiga penyusup dengan mudah.Sebelum dia sempat merayakan keberhasilannya, Brian Won tertegun, wajahnya menjadi pucat saat dia berlari dengan tergesa-gesa menuju ke kamar Vivian.Duar!Pintu didobrak hingga hancur oleh Brian Won.Brian Won mendarat di tengah kamar, terpaku melihat penyusup yang tengah menyandera Vivian."Berhenti! Jika kau bergerak, wanita ini akan mati!"Mendengar ancaman penyusup, Brian Won terpaku, mengangkat tangan ke atas sebagai tanda menyerah."Tidak... Lepaskan aku..."Vivian berteriak sedih, terlihat sangat putus asa dengan mata memerah dan berlinang air mata.Yim Shu berbaring di lantai tidak sadarkan diri, Yu'er meringkuk di pojokan dengan tubuh gemetaran serta ekspresi ketakutan yang terlihat depresi.Hati Brian Won dingin, rasanya ingin sekali menghajar penyusup di depannya tapi dia tidak bisa melakukannya karena terhalang sandera."Empat temanmu sudah tertangkap, lebih baik menyerah atau kau akan menyesal seumur hidup.""Huh

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Tingkat 9

    Hari - hari diabaikan terasa cukup sepi bagi Brian Won. Meski begitu dia tidak bisa berbuat apa - apa karena bahkan tidak diberi waktu untuk bicara dengan Yim Shu dan Vivian.Dibandingkan Vivian, Yim Shu lebih baik karena masih mau menanggapinya meski sedikit dingin.'Apa boleh buat, ini juga akibat dari sikap pengecutku.'(...).....Tiga orang duduk di aula Keluarga Wan dengan wajah serius.Mereka adalah Wan Liu, Wan Dahai dan Juli Ying."Ayah, kali ini ada masalah apa?" tanya Wan Dahai ragu.Juli Ying menatap penasaran ke arah Wan Liu.Wan Liu menarik napas dalam lalu berkata dengan sungguh - sungguh."Tidak salah lagi, yang mengincar Vivian adalah orang - orang itu."Wajah Wan Dahai langsung berubah pucat."Ayah yakin?"Wan Liu mengangguk serius."Kalau benar begitu, Brian saja tidak mungkin untuk melindungi Vivian," ucap Juli Ying ragu.Wan Dahai mengangguk setuju tapi Wan Liu menggelengkan kepalanya."Kalau Brian yang dulu mungkin tidak bisa, tapi dia yang sekarang pasti bisa."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status