共有

Kota Bunga

作者: AgamYupi02
last update 最終更新日: 2025-12-16 11:49:58

Begitu kereta cepat yang dinaiki Brian Won tiba di Stasiun Kota Bunga, terlihat sudah ada kerumunan polisi yang berjaga di sekitar stasiun.

Liu Wen menatap ke jendela kereta dengan ekspresi gugup.

“Apa yang terjadi?! Kenapa ada begitu banyak petugas polisi di sini?!” ucap Liu Wen dengan nada tidak wajar.

“Untuk para penumpang yang terhormat, karena saat ini sedang terjadi situasi darurat, maka kalian diharapkan untuk keluar mengikuti arahan dari saya,” ucap petugas wanita kereta cepat dengan lembut.

Semua orang menjadi panik. Mereka berdiri dan menatap gugup ke arah petugas kereta cepat wanita itu.

“Mohon tenang, tidak ada situasi berbahaya saat ini. Hanya ada sedikit situasi darurat yang menyangkut sebuah rahasia negara,” jelas petugas kereta cepat wanita itu dengan cepat.

Setelah mendengar penjelasan tersebut, semua orang tidak lagi merasa panik.

Mereka mengikuti arahan petugas kereta cepat wanita itu untuk keluar dari gerbong dengan membawa barang-barang milik mereka.

Liu Wen sengaja bertahan paling lama di kursinya. Hingga saat hanya tersisa dirinya seorang di dalam gerbong, seorang petugas polisi mendatanginya dan bertanya.

“Permisi, Nona. Anda juga harus keluar sekarang...” ucap petugas polisi itu dengan sopan.

“Tapi temanku...” jawab Liu Wen dengan ragu.

“Teman?”

Liu Wen mengangguk dan menjelaskan, “Temanku dibawa oleh petugas kereta cepat setelah berkelahi saat membela diri.”

“Jadi begitu. Nona tidak perlu khawatir. Saya jamin teman Nona baik-baik saja dan sudah keluar sekarang ini,” jelas petugas polisi itu dengan lembut.

“Begitu... lalu syukurlah...” ucap Liu Wen dengan ekspresi ragu.

Kemudian Liu Wen dibimbing keluar oleh petugas polisi tersebut.

Usai Liu Wen keluar, petugas polisi itu menerima panggilan untuk mengambil beberapa barang penting.

“Eh, tunggu. Bukankah tempat duduk ini adalah tempat duduk Nona itu?

Lalu bukankah itu berarti...”

Saat sedang memikirkan tebakan acaknya, petugas polisi itu mulai merasa ketakutan dan dengan cepat mengambil barang-barang milik Brian Won sebelum kemudian berangkat menuju tempat yang telah diberitahukan melalui telepon.

.....

“Salam, Komandan Won!” Seorang pria paruh baya tiba dan menyapa Brian Won dengan nada yang sangat hormat.

Brian Won mengangguk lembut dan melirik ke arah pria paruh baya itu dengan ekspresi aneh.

“Siapa namamu?”

“Li Juan. Saya adalah pemimpin tertinggi polisi Kota Bunga,” jawab Li Juan dengan nada hormat.

“Jadi, Petugas Li, apa kamu bisa mengurus mayat tiga orang ini?” tanya Brian Won dengan nada ragu.

Li Juan melirik ke arah tiga mayat tersebut dan terlihat ragu saat menatap Brian Won.

“Kalau boleh saya tahu, kenapa Komandan Won membunuh mereka?”

“...” Brian Won terdiam.

Melihat Brian Won tidak menjawab, Li Juan terkejut dan mulai merasa takut jika pertanyaannya telah menyinggung perasaan Brian Won.

“Maaf, Komandan Won! Anda tidak perlu menjelaskannya. Bahkan jika Komandan Won telah membunuh orang yang tidak bersalah, saya tidak akan melaporkan hal ini kepada atasan!” jelas Li Juan dengan panik.

“Kau terlalu banyak berpikir. Petugas Li, coba kamu nilai sendiri apakah tindakanku benar setelah mendengarkan ceritaku,” ucap Brian Won dengan nada serius.

Gulp...

Li Juan menelan ludah dan mengangguk dengan wajah serius.

Kemudian Brian Won mulai menjelaskan kronologi kejadian yang dialaminya. Li Juan terus mendengarkan dan mengangguk dari waktu ke waktu.

Usai Brian Won selesai bercerita, Li Juan langsung bergumam.

“Apa yang telah dilakukan Komandan Won sudah benar. Jika saya berada di posisi Komandan Won, saya pasti akan melakukan hal yang sama.”

“Baguslah kalau kamu memiliki pikiran yang sama denganku. Tolong urus mayat mereka untukku,” ucap Brian Won dengan ekspresi lega.

“Baik, Komandan Won. Selain itu, apakah Komandan Won memiliki permintaan lain?” tanya Li Juan dengan nada ragu.

Brian Won ragu sejenak lalu mengangguk lembut. “Aku harus pergi ke rumah besar keluarga Wan. Apa kamu bisa mengantarku ke sana?”

“Tentu saja bisa! Mari ikuti saya!” ucap Li Juan dengan nada bersemangat.

......

Setelah itu, Brian Won keluar dari stasiun dan memasuki mobil hitam milik Li Juan.

Baru saja menaruh kopernya di bagasi, Li Juan tanpa sengaja melihat Liu Wen yang masih berdiri dengan ekspresi khawatir di trotoar.

‘Gadis ini...’

“Petugas Li, aku akan menyapa seseorang sebentar.”

“Ashiap...” jawab Petugas Li dengan nada terbuka.

Brian Won kemudian berjalan menghampiri Liu Wen. Ia tiba di belakang Liu Wen tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

“Di mana Brian? Kenapa aku belum melihatnya keluar dari stasiun sampai sekarang?” gumam Liu Wen dengan nada panik.

Ehem!

Tersentak!

Liu Wen tersentak hingga dirinya melompat mundur.

Begitu melihat siapa orang yang telah mengejutkannya, Liu Wen langsung merasa kesal sekaligus bahagia.

“Brian! Kamu baik-baik saja? Syukurlah...” ucap Liu Wen dengan perasaan lega.

“Tapi bukankah tidak baik jika kamu mengejutkanku seperti ini? Aku sangat terkejut sampai hampir jantungan!” lanjut Liu Wen dengan ekspresi kesal.

“He he he...” Brian tertawa pelan melihat ekspresi Liu Wen saat ini.

Liu Wen membeku. Wajahnya memerah dan ia menunduk dengan ekspresi malu-malu.

“Hem? Kenapa? Apa ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Brian Won dengan nada ragu.

“Ah, tidak... tapi aku berpikir kalau kamu terlihat sangat tampan!” balas Liu Wen dengan cepat.

“...” Brian Won tertegun. Ia baru mengingat bahwa penampilannya memang sedikit berada di atas lelaki rata-rata.

Bahkan bukan sedikit, karena ketampanannya melebihi aktor tampan yang biasanya tampil di film bioskop.

“Ehem... terima kasih atas pujiannya. Liu Wen, kalau boleh tahu, kamu akan pergi ke mana?

Bagaimana jika bareng denganku?” ucap Brian Won dengan nada lembut.

Liu Wen terdiam lalu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi ragu.

“Maaf, tapi aku akan dijemput oleh pamanku.”

“Ah, tidak perlu meminta maaf.

Oh ya, ngomong-ngomong, di mana pamanmu sekarang? Apakah ia sudah tiba?” tanya Brian dengan nada ragu.

Liu Wen mengangguk lembut dan menunjuk ke satu arah, di mana sebuah mobil merah terparkir.

Mobil merah itu tidak termasuk dalam kategori mobil mewah. Harganya paling berkisar seratus ribu atau lebih. (Mata uang di sini 1 = 5000 rupiah)

“Brian, bolehkah aku meminta nomormu?” tanya Liu Wen dengan nada ragu.

“Hem? Tentu saja boleh...” Brian Won sedikit heran sebelum kemudian mengangguk lembut.

Ia menunjukkan kode QR di ponselnya dan membiarkan Liu Wen memindainya.

Setelah mendapatkan kontak Brian, Liu Wen tertawa bahagia dan berkata,

“Brian, aku akan pergi sekarang. Aku tidak enak membiarkan paman menunggu terlalu lama.

Aku akan menghubungimu nanti. Tolong jangan acuhkan panggilanku saat itu.”

Setelah itu, Liu Wen berlari menuju mobil pamannya.

Brian Won menatap punggung Liu Wen sejenak sebelum menggelengkan kepala dengan ekspresi tak berdaya.

“Gadis ini... entah kenapa aku merasa tidak bisa mengacuhkannya.

Hem, aneh... terakhir kali aku merasa seperti ini adalah saat aku bertemu wanita samurai itu.

Itu adalah kenangan yang cukup indah untuk diingat, meskipun aku hampir mati untuk mendapatkannya,” ucap Brian Won dengan ekspresi kerinduan.

Setelah selesai mengenang masa lalunya, ekspresi Brian Won mendadak berubah dingin. Ia berjalan kembali dan masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara.

....

Sementara itu, dunia bawah tanah Kota Bunga.

Ini adalah tempat di mana para mafia berkuasa. Mafia bawah tanah Kota Bunga sangat kejam dan tidak mengenal ampun.

Mereka sudah sangat terbiasa dengan hal seperti pembunuhan dan pembantaian.

Salah satu bos mafia bernama Harin baru saja mendapatkan kabar tentang pergerakan besar polisi menuju stasiun kereta.

Ia menonton video di ponselnya dengan ekspresi serius, lalu menjedanya.

“Tuan Harin?” gumam wanita di sampingnya dengan nada ragu.

Harin mengabaikan wanita itu dan tetap fokus menatap orang di dalam video.

“Orang ini... sepertinya aku pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi di mana?” gumam Harin dengan ekspresi ragu.

Glegah!!

Harin tiba-tiba berdiri. Ekspresinya berubah sangat gugup, dan keringat dingin mengalir deras di wajahnya.

“Mustahil... bagaimana bisa? Kenapa orang sekuat itu tiba-tiba datang ke kota?!” teriak Harin dengan panik.

“Tuan Harin?! Apa yang terjadi? Kenapa Anda terlihat sangat panik?!” tanya wanita itu dengan gugup.

Harin menatap wanita tersebut dengan ekspresi serius, lalu berkata cepat,

“Cepat suruh semua anggota menghentikan operasional. Kita akan pergi dari Kota Bunga sekarang juga!!”

“Hah?! Kenapa tiba-tiba?! Lalu bagaimana dengan barang dagangan kita? Kita tidak bisa membawanya ke kota lain begitu saja!

Polisi pasti tidak akan tinggal diam jika kita melakukan pergerakan sebesar itu!!” balas wanita itu dengan marah.

Plak!!

Harin menampar wanita itu dengan keras.

“Turuti saja perintahku. Lepaskan budak perempuan itu dan bawa saja barang dagangan yang berupa benda mati!”

“Tapi...” Wanita itu ingin memprotes, namun langsung terdiam setelah melihat ekspresi Harin.

“Baiklah... aku akan mengaturnya secepat mungkin,” ucapnya dengan suara lemah.

Kemudian wanita itu pergi dengan cepat, meninggalkan Harin untuk memulai pekerjaannya.

Harin menatap kepergiannya sejenak sebelum menarik napas panjang.

“Kota Bunga yang telah damai selama bertahun-tahun, sebentar lagi akan menjadi kacau karena kedatangan seekor monster!”

---

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Hacker Pupu

    Usai menyantap sup buatan Brian Won, semua orang kembali melanjutkan tidur mereka.Vivian dan Yim Shu memutuskan tidur bersama Yu Er agar dapat memberinya rasa aman dan nyaman.Sementara itu, Brian Won menerima kiriman beberapa dokumen dari orang suruhannya.Begitu membuka dokumen-dokumen tersebut, amarah dan kekesalan langsung menyelimuti dirinya. Suhu ruangan di sekitarnya pun seketika turun drastis, hampir mendekati nol derajat Celsius.“Hem? Jadi mereka akan melakukan transaksi ilegal itu nanti siang. Kalau begitu, aku akan menangkap mereka saat itu juga!” ucap Brian Won dengan nada dingin.……Sekitar pukul sembilan pagi, Brian Won terbangun akibat suara gedoran keras di pintu kamarnya.Ia terkejut, lalu segera mengecek waktu melalui ponselnya sebelum akhirnya menghela napas lega.“Masih belum waktunya, ya. Aku sempat mengira sudah kelewat,” gumamnya dengan ekspresi lega.Setelah menenangkan diri, Brian Won segera berjalan menuju pintu kamar.Saat pintu dibuka, ia melihat Yim Shu

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Bekas Luka

    "Aaahh!!"Baru beberapa saat yang lalu, Yim Shu pergi sambil membawa Yu Er.Teriakannya tiba-tiba terdengar sangat keras dan menggema hingga ke beberapa ruangan.Brian Won segera bereaksi dan menyusul Yim Shu ke kamar mandi.Yim Shu berdiri dengan ekspresi gugup, menatap serius ke arah bak mandi.Brian Won tiba dan melihat Yim Shu dengan raut wajah tak berdaya."Bukankah aku sudah bilang agar tidak terkejut?Kenapa kamu malah berteriak keras seperti itu? Vivi dan para pelayan pasti terbangun karena teriakanmu..." kata Brian Won dengan nada lelah."Kakak Brian, lihatlah! Ini benar-benar keterlaluan!!" kata Yim Shu dengan nada serius."Hah? Keterlaluan? Apa maksudmu?" Brian Won merasa aneh dan segera melangkah mendekati Yim Shu.Ia menengok ke arah bak mandi dan seketika membeku di tempat."Ini... siapa yang tega melakukan hal seperti ini pada anak sekecil Yu Er..." ucap Brian Won tanpa sadar dengan ekspresi geram.Tangannya mengepal, tubuhnya mulai gemetar karena harus menahan amarah.

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Yu Er

    Sepuluh menit berlalu.Pintu bangunan dibuka, dan polwan itu terlihat berjalan keluar dengan langkah yang sedikit tertatih-tatih.Polisi berpakaian preman terkejut dan segera menghampiri pemimpin mereka.“Nona Zhou, apa yang terjadi pada Anda? Di mana Komandan Brian?!” tanya salah satu polisi berpakaian preman dengan gugup.“....” Zhou Jia-Jia tidak langsung menjawab pertanyaan bawahannya.“Hahhh... Orang itu masih berada di dalam. Dia kelelahan karena baru saja selesai bertarung dengan semua orang.Segera hubungi markas dan minta bantuan. Ada banyak kriminal yang harus dibawa ke kantor,” jelas Zhou Jia-Jia setelah menghela napas.Polisi berpakaian preman itu segera pergi untuk melaksanakan perintah Zhou Jia-Jia.Melihat kepergian bawahannya, Zhou Jia-Jia berbalik dan menatap ke arah bangunan dengan ekspresi rumit.Setelah cukup lama menatap bangunan itu dalam keheningan, Zhou Jia-Jia menggelengkan kepala, lalu berbalik dan segera menuju mobil polisi.......Buka?!Mata Brian Won terb

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Tanpa Judul

    Di sebuah ruangan remang-remang, terdapat seorang perempuan yang mengenakan gaun biru, terikat pada kedua lengan dan kakinya.Wajah perempuan itu memerah, sementara napasnya terdengar sangat tidak teratur.“Ck… ck… ck… Tidak kusangka aku bisa mendapatkan barang sebagus ini hari ini. Baiklah, sepertinya sudah waktunya menikmati malam ini sepenuh hati,” ucap seorang pria kekar berambut pirang sambil melepaskan jas dan pakaiannya.“Bajingan, apa yang sudah kau lakukan padaku?!” perempuan itu berbicara dengan nada dingin.“He he he, tidak ada yang istimewa. Aku hanya memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu,” jawab pria kekar itu dengan nada santai.“Apa?!” Perempuan itu terkejut dan terlihat panik.Pria kekar tersebut tersenyum puas saat melihat rasa takut dan kepanikan yang tergambar jelas di mata perempuan itu.“Jangan macam-macam! Aku seorang polisi!” ucap perempuan itu dengan nada tegas.“Polisi? Huu… aku takut…” ujar pria kekar itu dengan ekspresi ketakutan yang dibuat-buat.Ia

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Misi Mendadak

    Brian Won berjalan keluar dari ruangan Wan Dahai dengan sangat santai.Saat melihat Lili Cen yang tampak putus asa, Brian Won menghela napas pelan."Apa ada masalah?" tanya Brian Won dengan nada ragu."Anu... Tuan Muda, apa yang Tuan Muda bicarakan dengan Tuan Wan? Apakah Tuan Muda membicarakan kejelekan saya di depan Tuan Wan?" Lili Cen bertanya dengan panik.Brian Won terdiam sejenak dan merasa sedikit tertarik ketika melihat ekspresi gugup Lili Cen saat bertanya."Hem? Memangnya kenapa kamu menanyakan hal ini?" tanya Brian Won dengan nada main-main."Tuan Muda, apa Tuan Muda benar-benar membicarakan keburukan saya kepada Tuan Wan?" Lili Cen kembali bertanya dengan ekspresi putus asa."Ya atau tidak, jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kamu menanyakan hal ini?" desak Brian Won dengan nada serius."Itu... saya sebenarnya merupakan tulang punggung keluarga. Jika saya sampai dipecat, maka keluarga saya pasti akan terkena dampaknya," jelas Lili Cen dengan ekspresi sedih."...."Brian Won te

  • Prajurit Khusus Terkuat Di Dunia    Wan Dahai

    Setelah melalui situasi yang tidak menyenangkan di dalam lift, Brian Won akhirnya tiba di depan ruangan Wan Dahai.Tanpa menunggu arahan lebih lanjut dari Lili Cen, Brian Won segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Wan Dahai.“Ehhh, Anda tidak boleh langsung masuk!!” seru Lili Cen terkejut melihat tindakan Brian Won, lalu segera berusaha menghentikannya.Namun, semuanya sudah terlambat. Brian Won telah masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu tanpa memberi kesempatan kepada Lili Cen untuk menyusul.Bruak!Pintu tertutup dengan keras. Lili Cen langsung membeku, menatap pintu ruangan dengan raut ragu.“Apa yang harus aku lakukan? Aku bisa dipecat jika Tuan Wan Dahai marah karena tindakan tidak sopan pemuda tadi,” gumam Lili Cen panik.Meski dilanda kepanikan, Lili Cen tidak berani masuk. Ia hanya bisa menunggu di depan pintu sambil menguping pembicaraan yang terjadi di dalam ruangan......Seorang pria paruh baya berwajah ramah terlihat duduk berdampingan dengan seorang wanita b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status