로그인RETURNING THE FAVOR! That's what happened, which Ruby didn't expect. Victor Anthony asked for something back that his parents had given him as a child. Not in the form of money, not in the form of property! Victor asks Ruby to give him a son. Ruby had to agree to a letter stating that she agreed to carry Victor's baby. "It's only a moment, Ruby! You only need to be pregnant for 9 months, after that, you are free to go anywhere."
더 보기[Sayang, aku jemput Rianti dulu ya. Setelah itu pulang]
[Say, maaf ya aku ngerepotin Ardi terus]
Riri menatap nanar pada layar ponselnya, kedua pesan yang dikirim dari orang yang berbeda itu selalu membuat hatinya tak karuan.
Ardi adalah suaminya, lelaki yang telah menikahinya dua tahun yang lalu. Mereka menikah setelah melalui proses perkenalan yang singkat, Ardi teman kakaknya Riri yang jatuh cinta lalu mantap menikahi Riri hingga kini dua tahun menikah tetap bahagia meski belum diberikan anak.
Rianti adalah sahabat Ardi, mereka konon bersahabat sejak SMP bahkan hingga kuliah pun di satu kampus yang sama hanya beda jurusan, saat proses perkenalan dengan Riri, Ardi pernah memperkenalkan Rianti pada Riri. Riri merasa semua biasa saja, apalagi setelah Rianti menikah Riri pikir semua akan berakhir.
Tapi Riri salah, persahabatan mereka tak ada bedanya. Tak ada sekat antara keduanya, baik Ardi atau Rianti merasa biasa saja. Mereka sering meminta izin pada Riri untuk sekedar jalan berdua meski Riri diajak tapi justru Riri selalu merasa menjadi orang ketiga di antara mereka berdua.
Riri merasa akhir-akhir ini suami dan sahabatnya itu semakin dekat, apalagi setelah suami Rianti dipindah tugaskan sementara Rianti belum bisa ikut pindah karena masih memiliki bayi kecil jadi alasan Rianti untuk menolak ikut dengan suaminya, suami Rianti justru menitipkan Rianti pada Ardi. Maka semakin sesak Riri merasakan semua ini.
"Mas, bisa kita bicara?" ajak Riri saat Ardi usai bersih-bersih.
"Ada apa sayang?"
Ya, Ardi memang selalu romantis dan tak pernah menyebut nama pada Riri, hampir setiap detik pun selalu berkirim pesan ketika sedang bekerja, harusnya Riri tak perlu curiga tapi tetap saja perempuan mana yang akan kuat melihat kedekatan suaminya dengan perempuan lain meski mereka bilang tak ada apa-apa dan biasa saja.
Riri duduk di samping suaminya itu, menatap serius lelaki itu.
"Sebetulnya bagaimana perasaan kamu pada Rianti?" tanya Riri.
Bukan menjawab, Ardi malah tertawa. Riri mengernyit, gelak tawa Ardi sama sekali tak lucu baginya, pertanyaan serius itu tak Ardi gubris dengan serius.
"Kamu mulai cemburu lagi ya?" tanyanya.
Riri terdiam, Ardi meraih tangan Riri dan memandang perempuan yang dipilihnya dua tahun yang lalu.
"Dengarkan aku, memegang amanah itu harus sungguh-sungguh. Rianti tak punya siapapun selain kita disini, suaminya sudah menitipkan dia padaku tepatnya pada kita iya kan? Jadi aku hanya sekedar menjalankan amanah, lagi pula kalau aku ada perasaan sama dia sudah sejak dulu aku pacari perempuan itu."
"Tapi mas…"
Ardi menutup mulut Riri dengan telunjuknya hingga Riri terdiam, rasanya ia tak bisa berbuat secara terang-terangan soal suami dan sahabatnya itu.
"Percayalah, Mas tetap akan menjaga pernikahan kita."
Didekap tubuh mungil istrinya itu, Ardi meyakinkan hati Riri tapi tetap saja sebagai seorang istri yang memiliki cinta di hatinya untuk Ardi, Riri tak rela ada perempuan lain dalam kehidupan mereka sekalipun itu hanya sekedar sahabat atau bahkan teman biasa sekalipun. Bukankah setiap perempuan hanya ingin menjadi satu-satunya di hati lelakinya?
Ardi selalu berhasil membuat Riri kembali tenang dengan kegundahannya dan semua berjalan seperti biasa, tapi nyatanya tak serta merta membuat Riri tenang. Apalagi jika melihat status-status yang dipasang Rianti, belum pesan-pesan izin yang dikirim Rianti, Riri memiliki akses membuka handphone Ardi dan dia akan sangat merasa berbeda ketika membaca pesan antara Ardi dan Rianti yang bagi mereka lagi-lagi biasa tapi berbeda untuk Riri.
"Memang manggilnya masih harus bee?" tanya Riri kesal saat melihat isi pesan mereka.
"Sudah terbiasa mungkin, tapi aku nggak kan? Eh, meski kadang masih deh."
Riri merengut, suaminya itu seolah menganggap semua biasa saja. Panggilan Bee dan Hanhan seolah biasa bagi mereka, sahabatan tapi seperti berkasih, lalu mereka seolah merasa tak bersalah memperlihatkan semua itu di depan Riri bahkan setelah menikah sekalipun.
"Ini kalau suaminya Rianti baca gimana?" tanya Riri kembali.
"Ya aku gak tahu, tapi kayaknya dia gak bakal seterbuka aku deh."
Riri tertegun, pikirannya semakin dipenuhi rasa yang tak menentu. Oke, selama ini suaminya itu tak pernah menutupi apapun, semua ia ketahui, bahkan sikapnya pun tak ada yang berubah tapi kedekatan mereka? Argh, Riri mengacak rambutnya.
"Kenapa sayang?"
"Nggak, aku masuk dulu ya mas."
"Lho, mau kemana? Ini film nya belum beres lho."
"Tidur, capek."
Ardi hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu, lalu kembali fokus pada layar di depannya. Malam kian larut, Riri yang sudah tertidur menggeliat, lalu ia perlahan membuka matanya dan sedikit terkejut melihat sisi sampingnya masih kosong, tak ada Ardi di sampingnya. Lalu ia melirik jam di ponselnya sudah pukul dua malam, rasa penasaran menyerang pikirannya, dimana Ardi?
Perlahan Riri bangkit dan berjalan menuju ruang televisi dimana terakhir kalinya mereka bertemu sebelum akhirnya Riri pamit masuk ke kamar.
Tak ada sosok yang dicarinya, lalu Riri mencari di setiap sudut rumah dan yang ia temukan hanya secarik kertas yang ditempel di pintu lemari es.
'Sayang, maaf aku gak tega bangunin kamu. Rianti telepon minta tolong anaknya kejang, aku antar dia ke rumah sakit. Maaf ya sayang.'
Terduduk lemas, tangan meremas kertas itu. Riri tak bisa berkata apa-apa lagi, ia menggigit bibirnya, amarahnya kini tak bisa ia tahan lagi. Sejauh ini kah persahabatan itu? Hati Riri merasa hancur meski ia tahu mereka bersahabat sebelum Riri hadir tapi apa pantas jika masih selalu seperti ini saat keduanya sudah sama-sama memiliki pasangan?
Riri segera bangkit dari duduknya, tangannya ia sapu membersihkan buliran-buliran air bening yang tanpa sadar membuat anak sungai di pipinya, hatinya tak bisa berbohong lagi. Semua tingkah mereka yang seolah biasa saja itu semakin menyakitkan bagi Riri dan tak bisa ia menahan lagi.
Ia buka lemari baju Ardi, memasukan pakaian Ardi pada sebuah koper lalu mendorong koper itu dan menyimpannya di dekat pintu. Riri menunggu kedatangan lelaki yang sudah memporakporandakan jiwanya itu.
Samar-samar suara gemuruh mobil membuat Riri perlahan membuka matanya. Ia tertidur kembali karena menangis semalaman, matanya bengkak dan wajahnya kusut, jam menunjukkan pukul enam, Riri kehilangan waktu subuhnya hingga dia bergegas ke kamar mandi, mandi dan sholat subuh meski sudah siang.
Pintu kamar terbuka, sosok yang ia tunggu memberikan senyuman padanya, Riri dingin tak membalas senyuman itu, seketika Ardi heran melihat koper di dekat pintu kamar.
"Apa ini?" tanyanya.
"Yang kamu lihat?" tanya Riri kembali.
"Kamu mau kemana sayang? Kamu marah karena aku pergi, iya? Aku kan…."
"Stop!" Riri mengangkat tangannya membuat Ardi berhenti bicara.
Tatapannya tajam menatap kedua netra lelaki yang dicintainya, Ardi terlihat sangat terkejut mendengar teriakan Riri.
Do you believe in love?Then you must also believe in destiny.We will meet in a more beautiful place, as people often tell us in the land of heaven. Ruby exhaled repeatedly and clutched tightly the bouquet of roses in her hand.The wedding had arrived, and until this moment, Ruby still couldn't believe she was going to walk with the handsome man on her right side. Ruby's eyes met with Oliver's." From now on I will be with you, I will protect you. I promise." Ruby just smiled as Oliver said that with a serious face. "Why, don't you believe what I'm saying?" Oliver took one of Ruby's hands. "No, because I believe that you will always keep your word, more than anyone else." Oliver looked at Ruby's glassy eyes, if this time they had officially said their vows Oliver would no longer pretend to hold back his emotions. "The bride and groom are invited to enter the hall." The MC's voice started again, Ruby who didn't feel nervous anymore wrapped her hand around Oliver's wrist. The larg
Ruby smiled when she saw Oliver coming out of the dressing room in a black suit, and a maroon shirt, matching Ruby's knee-length dress which was also maroon. Ruby continued to stare at Oliver without letting go of his gaze. He was handsome, so much more handsome than usual. "Honey, do I look weird?" Oliver's hand that would try to touch her hair immediately Ruby held back. "Don't touch your hair, everything will fall apart. You look handsome now." Ruby looked deeply into Oliver's eyes, she smiled again when she received Oliver's brief peck on her cheek. "Really? What percentage of handsome is now in your eyes?" Oliver pulled Ruby's waist making Ruby even more helpless in Oliver's arms, both hands just resignedly perched on the surface of Oliver's shoulders. "You want me to measure it by percentages? I don't think good looks can be measured by any number." Ruby laughed at the look of embarrassment on Oliver's face at her compliment. "Hey, are you being shy right now?" R
Sometimes I regret that meeting... If there is a second life, then I will tell myself. "Live well from today."*****Athena was carrying a yellow helium balloon that she had just gotten when she could sing one song. Her face was already pouting waiting for mommy or daddy who hadn't picked her up yet. Suddenly, the balloon in her hand flew, making Athena run to catch the rope of the helium balloon.But when she ran suddenly, there was a truck speeding towards Athena who was still unaware because the little girl who had turned 5 years old today only cared about the balloon.Until his body was pushed hard and rolled among the grass, while the fate of someone who helped him at this time was thrown very far with blood splattering from his head wetting the road. Theo coughed a few times blood also came out of his mouth and nose, he was still conscious and saw a very clear sky today, cherry blossom petals fell on his face. Theo imagined Alexa's smiling face in front of him before his eye
"Theo, please focus!" The photographer was starting to feel fed up with Theo's attitude, which was very difficult to manage. Martin who was right behind the photographer just massaged his temples. He had reprimanded Theo from the spotlight of his eyes but still, Theo, posed as he pleased." Sajin Jagga Mianhae (a photographer I apologize) can Theo take a break for a few minutes, I think he is not focused enough due to fatigue. "Martin bowed his head and tried to seduce the photographer who was about to get bloodied to delay the time for a minute at least Martin needed to talk to Theo. There was no answer from the notoriously arrogant photographer, other than turning his body around and wagging his hand at Martin like a bug."Gae Saekki! (asshole)." Theo could only swear in his heart he was holding back too much so that Theo's work would no longer be lost. Because without them realizing it, the news of Theo and Alexa's breakup had spread around the world, because the upload of one of
Ben didn't know where to take Rosie home, because he also didn't know where Rosie lived. One thing that made Ben feel stupid was why he didn't ask Rosie's office colleagues earlier. "If I had asked, they would have been even more suspicious of me." Ben continued to talk to himself, glancing once a
''Alexa.'' Alexa's body stopped when she knew Oliver called out her name. Alexa was still frozen in place; she did not know how to react. She did not expect that she would meet Oliver when she was on the beach, which was not far from her apartment. Alexa had already realized that Oliver was not fa
What to do before parting... Let there be beautiful memoriesto spend comfortably... It's okay to stay alone; it's okay to leave, but your memories of me are the gift I receive right now.********On the other hand, Oliver keeps trying to convince Alexa to come back to him. By doing small things
Ben's hands pulled Rosie's body closer to his, continuing to kiss Rosie's lips and pulling the zipper of the maroon pencil skirt slowly down Rosie's legs. Ben twisted Rosie's body until it collided with the wooden door. Ben broke the kiss and moved slowly to Rosie's white neck. Rosie could only bi






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.