LOGIN"Am I your first, little flower?" the Alpha asks me. "Well, I won't be your last." He wears a crooked grin as he gestures to the bed. I bite my bottom lip and comply because I have no choice. My father has sold me to the king, and now, I must entertain the four candidates to become the next Alpha King. I am, after all, their breeder. As he climbs onto the bed, I hold my breath. He's unbelievably sexy, but he's just the first of the men I will be getting to know better, the first of four vying for the title of Alpha King. What if I fall in love with him? What if I fall in love with all four of them? *** Rose's parents insist she enter the contest to become the new Breeder because they need the money. They never thought she'd win. Because of her unique anatomy, Rose is the perfect candidate to take on the four Alphas. What Rose doesn't know is that the current Alpha King isn't really in this for the right reasons. In fact, he may not want a new heir at all. As she finds herself falling in love with all four of the men, she realizes not only is she in danger, but so are they. Will Rose and her four Alphas succeed in making babies and claiming the throne, or will the evil Alpha King prevail?
View MoreKuis kimia baru saja berakhir. Aku mendesah panjang sambil melepas semua kepenatan karena harus belajar berbagai unsur dan reaksi yang menjadi topik kuis hari ini. Rencananya, aku akan segera pulang jika saja temanku tidak menahanku. Dari semenjak masuk kelas, dia selalu mengatakan ada hal yang ingin dia sampaikan padaku.
“Ada apa sih, Sheryl?” tanyaku padanya. Tanganku masih sibuk memasukan buku-buku dan alat tulis ke dalam tas punggungku.
“Gue enggak tahan harus bilang ini sama lo.” Dia tersenyum lebar sambil menyatukan kedua telapak tangannya di dada.
“Bilang apa?”
Sheryl tidak langsung bicara. Dia menghentikan kegiatanku yang masih sibuk membereskan meja dan memintaku menghandap ke arahnya.
“Katy, gue jadian sama Jace.”
Aku terdiam, lalu mencoba mengkonfirmasi kembali apa yang sudah aku dengar tadi. “Apa? Jadian?”
Sheryl mengangguk dengan sangat bersemangat. Matanya berbinar dengan senyum yang mengembang di wajahnya
Seketika, ada pisau tak kasat mata yang menusuk dadaku. Empat kata yang temanku ucapkan tadi seolah telah mengambil kemampuanku dalam bernapas. Rasanya sakit dan sesak. Sampai aku tidak mampu lagi berbicara.
Aku ingat ketika cowok yang bernama Jace itu memperhatikanku saat malam api unggun. Malam di mana kami dinobatkan sebagai siswa baru di SMA. Tatapannya selalu mengarah ke arahku. Aku bisa pastikan itu.
Malam itu, aku terlalu terganggu dengan tatapannya. Aku merasa cowok itu sedang mempelajari gerak-gerikku. Sampai akhirnya, aku tidak tahan untuk tidak balik mencuri pandang padanya. Dia masih melihat ke arahku. Bahkan dia tersenyum kecil setelahnya.
“Katy, Lo liat cowok yang bawa gitar itu?” tanya Sheryl kala itu. Dia baru saja kembali dari warung dadakan yang digelar warga di sekitar area api unggun.
Aku menoleh ke tempat tangannya mengarah. Sheryl menunjuk Jace. Cowok yang baru saja melemparkan senyuman karena kami tidak sengaja saling beradu pandang sebelum Sheryl duduk di sampingku. Sekarang cowok itu sedang sibuk dengan gitar di pangkuannya.
“Kenapa?” Aku mencoba terlihat tidak acuh.
“Gila, ganteng banget,” puji Sheryl dengan mata yang berbinar-binar.
Aku tidak berkomentar. Aku memilih untuk pura-pura sibuk dengan handphone-ku. Lalu rasa penarasan menelisik masuk ke dalam hatiku. Siapa tahu dia punya informasi tentang cowok yang sedang kami bicarakan ini.
“Lo kenal?” tanyaku dengan nada yang dibuat sewajar mungkin.
“Enggak sih. Tapi nanti pasti gue dapetin nomornya.”
Aku tidak akan besar kepala kalau tidak ada bukti bahwa pandangan Jace memang selalu mengarah padaku. Saat Sheryl pergi ke kamar mandi, atau membeli jajanan ke warung warga, Jace akan selalu menaruh matanya padaku. Itu yang membuatku tidak terlalu menganggap serius ucapan Sheryl saat itu.
Sampai, acara api unggun selesai, tidak ada yang berani untuk menyapa satu sama lain. Dia hanya mengangguk ramah ketika pandangan kami tidak sengaja bertemu. Dia tersenyum ringan lalu menyugar rambut tebalnya dengan gaya paling keren. Seolah dia tahu bahwa dia sedang diperhatikan.
Seharusnya itu tidak menggangguku. Seharusnya aku melupakan cowok yang pasti akan menjadi cowok populer dan berpotensi menjadi playboy. Namun, ternyata tidak bisa. Mata tajamnya terlalu mengusik hari-hariku yang sederhana. Membuatku gelisah jika satu hari saja tidak bisa melihat wajahnya yang sempurna. Kemudian aku menyadari, aku menyukai cowok tampan itu.
Itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Aku dan Jace hanya menjadi dua orang yang tidak pernah saling menyapa. Sampai saat Sheryl bercerita kalau ada cowok yang sedang dia dekati dan ingin menjadi pacarnya. Aku yakin dia tidak akan pernah gagal. Dia pasti akan mendapatkan apa yang dia mau. Namun, aku tidak tahu kalau cowok itu adalah Jace. Cowok yang juga aku sukai.
“Kat? Katy?”
Suara Sheryl menarikku kembali pada masa kini. Aku mengerjap beberapa kali lalu sadar bahwa aku harus menyunggingkan senyuman untuk sahabatku ini.
“Selamat ya, Sheryl.” Aku mendengar kepalsuan pada suaraku.
Sheryl memandangku dengan wajah bingung. “Lo kenapa? Sakit?”
Aku kembali mengerjap. Entah karena aku gugup atau mengedip-kedipkan mata sudah menjadi hobiku sekarang.
“Gue? Enggak apa-apa.” Aku menarik tas punggungku dan bangkit dari kursi dengan tergesa-gesa. “Gue balik duluan ya.”
“Lo enggak tunggu Shafira dan Briya? Gue belum ngasi tahu mereka tentang ini,” bujuknya.
Aku menggigit bibir bawahku. Mencari alasan yang tepat supaya aku bisa segera pulang dan menyendiri. Aku sedang ingin sendirian dan meratapi apa pun yang sedang aku rasakan sekarang. Aku sedang kesakitan sekarang.
“Gue enggak bisa. Gue harus anter nyokap ke Saung Geulis,” kilahku. Itu cukup untuk membuat Sheryl diam. Dia tahu mengantar ibuku ke restoran sunda miliknya adalah adalah rutinitasku setiap hari jumat.
Aku sudah tidak mendengar lagi apa yang Sheryl katakan ketika dua temanku yang lain, Shafira dan Briya datang bergabung. Aku terlalu sibuk menekan air mata agar tidak keluar dari tempatnya. Yang aku pikirkan hanya kenyataan bahwa aku harus segera pulang, mengunci diri di kamar dan meluapkan apapun yang sedang menggelayuti dadaku saat ini.
Seharusnya aku tidak begini. Seharusnya aku ikut berbahagia untuk sahabat masa kecilku ini. Namun, ini terlalu sulit aku terima. Aku butuh waktu untuk meyakinkan diri bahwa Jace tidak akan menyukaiku. Dia memang hanya cocok untuk cewek seperti Sheryl. Cantik, lincah dan selalu ceria. Tidak sepertiku yang hanya memikirkan tugas sekolah setiap harinya.
Hari-hariku selanjutnya menjadi lebih berat. Jace menjadi sering berada di sekitarku. Susah payah aku bersikap wajar, tetapi aku tetap merasa matanya selalu mengikutiku. Bahkan ketika aku membelakanginya, aku merasa matanya seperti sedang melubangi punggungku. Sebut aku aneh. Namun, kalian tidak akan mengerti. Itu yang aku rasakan.
Suatu ketika Sheryl bertanya kenapa aku menjauhinya. Sebelumnya aku tidak sadar kalau aku sedang menjauh. Aku hanya meminimalkan interaksiku dengan Jace. Aku tidak mau sikapku yang canggung menyebabkan kecurigaan di mata teman-temanku.
“Gue enggak menjauh kok, Sher. Restoran nyokap gue lagi rame. Jadi enggak bisa selalu ikut kalian nongkrong,” jawabku saat itu.
“Lo enggak lagi ada masalah, ‘kan?” tanya Sheryl penuh dengan kekhawatiran. “Kalo lo perlu apa-apa bilang sama gue. Uang gue banyak. Gue anak yatim yang kaya raya. Ingat itu.”
Aku tersenyum geli mendengarnya. Jika bukan teman dekatnya, pasti menganggap itu hanya lelucon. Namun, Sheryl memang benar-benar anak yatim yang dilimpahi warisan yang banyak.
“Iya gue tahu lo kaya. Makanya gue betah temenan sama lo,” godaku sambil merangkul bahunya.
“Gue serius, Katy. Kalo ada apa-apa cerita sama gue. Gue pasti bantu. Gue sedih lihat lo jadi murung gini.”
Saat itu perasaan bersalah menyerangku. Sheryl tidak pernah meninggalkanku walau dia sudah bersama Jace. Dia selalu bertanya keberadaanku dan mencariku ketika aku menghilang di waktu istirahat sekolah atau ketika aku pulang tanpa pamit padanya, dan dia mengabari bahwa dia menungguku untuk pulang bersama. Sheryl membuatku bertahan dan membantuku berlapang dada untuk menerima bahwa, Jace tidak tercipta untukku.
Pagi itu di dalam kelas. Baru beberapa orang yang sudah duduk di kelas dengan rapih. Rata-rata mereka adalah orang yang selalu menyerahkan tugas, dan mendapat nilai tinggi di setiap kuis. Aku salah satu dari orang-orang tidak keren itu. Tidak seperti ketiga temanku yang selalu telat dan menyontek saat waktunya mengumpulkan tugas.
Aku mengatur tata letak alat tulisku di meja. Sedikit berkaca untuk memastikan penampilanku tidak ada yang salah. Memakai lipbalm untuk bibirku yang kering dan merapikan rambut ikal sebahuku.
“Ehem.”
Suara orang berdeham mengagetkanku. Aku menoleh ke sampingku dengan pelan. Sosok jangkung itu berdiri di sana. Seragamnya dibiarkan keluar dari sabuk. Seulas tato yang baru aku sadari menyembul dari lengan bagian atas. Tidak begitu jelas itu tato apa.
“Jace?” Aku mengerutkan dahi melihat pagi-pagi dia sudah ada di kelasku. “Sheryl belum dateng.”
“Gue enggak nyari Sheryl. Gue nyari lo,” ujarnya sambil menarik kursi di sampingku dan duduk dengan santai.
Dadaku tiba-tiba berdebar tanpa kendali. Makin lama semakin kencang seiring dengan segala pertanyaan yang keluar dari dalam otakku. Mau apa cowok ini mencariku di saat pacarnya sedang tidak ada?
Aku berdeham demi menutupi gugup yang tiba-tiba menyerangku. “Terus?”
Dia menghadapkan badannya ke padaku. Memandangku dengan matanya yang tajam dan penuh dengan intimidasi. Seolah matanya berkata, gue butuh perhatian penuh sekarang. Jangan abaikan gue!
Jace menarik napas dalam-dalam sebelum mengucapkan kalimatnya. “Ada yang mau gue sampaikan.”
Deg!
I look at Shelby. “Shelby… why?” She looks like she’s about to burst, and she finally spits it out. “Because I’m pregnant!” My eyes go wide, and I want to grab her and jump up and down, but I don’t want to squish Reeva, so I do a milder equivalent of that, which involves one arm and bouncing more
Rose It feels strange going back to Castle Dark Forest, and it’s going to feel even weirder being there again. It’s been so long since I first arrived there for the stupid contest… well, I guess without that contest, I would have never met my Alphas, so I suppose I won’t call it stupid anymore. I
Eli seems only half-convinced, and once Kelly and this guy are finally separated, he clears his throat.“I’m going to need the name of the guy who just sucked face with my sister,” he says firmly. “And I need to know where you’re from, and whether you have a criminal record, and—”Kelly slaps Eli’s
RoseI can’t believe how much the Goddess has blessed me. I remember all the times I was hunched over on the floor of the sewage plant trying to force myself to breathe through my mouth to avoid the stench. It didn’t work very well. I also remember all those lonely nights in my high school years whe
“Airport….” “The bunker was at the airport,” the man—Randolph—explains to me. I glance over and look him in the eye. He doesn’t look afraid of me, but he doesn’t look guilty or deceitful either. Since Kelly has already said he is trustworthy, I confine my questions to Kelly’s immediate situation.
Now, it is my time to laugh. “King Gene was here,” I tell her, watching the smile on her face waver slightly as she realizes I have used the past tense. “He sat upstairs for a long time, preparing to see you. That’s when Mark’s people told him you were no longer here, that you were in Tristan’s cast
“No, little flower,” says Tristan.The smile on his face and twinkle in his eye made my heart skip a beat.“He’s not allowed anywhere near our precious little pups,” he clarifies. “Just the diapers. Dirty diapers, all day long… that’s his new job! We’ll watch him every second.”“But you don’t have t
Mark It’s my turn to spend the night with Rose, and I can hardly wait. It is a little odd being in this position, sharing my mate with four other men, but now that we have our situation settled, I realize I wouldn’t want it any other way. I’m carrying flowers as I go into her room. I think she’s p






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore