LOGINIvy tersenyum tipis, sebuah senyum yang menunjukkan keberanian yang sempat ia bicarakan dengan Isla semalam. “Hanya duduk, Ethan. Tidak akan merusak suasana hatiku. Aku baik-baik saja.”Ada ragu dan enggan yang terlihat jelas dari bahasa tubuh Ethan. Ivy menyadari itu. Ia tahu suaminya lebih memilih dirinya, daripada sang ibu. Meski masih ada sisa rasa hormat Ethan terhadap Anastasia. Itulah yang Ivy ingin tetap Ethan pertahankan. Bagaimana pun, wanita itu adalah orang yang melahirkan Ethan.“Ayo, Sayang. Tidak apa-apa, sungguh.” Ivy menarik lengan suaminya yang akhirnya menuruti ajakannya.Begitu mereka duduk, ekspresi tanpa minat Anastasia berubah perlahan. Seperti ada binar ketertarikan di matanya, tapi rautnya datar, terutama saat tatapannya bertemu dengan Ivy.Ivy melirik suaminya. Ethan rupanya sedang menatap Anastasia sekilas. Tatapan yang langsung memberi isyarat agar tidak menimbulkan kekacauan. Sebegitu tidak nyamannya Ethan terhadap sang ibu, jika mereka bertiga berada dala
Isla terkekeh pelan. Rasa penasaran Ivy, terasa sampai ke tempatnya berada. “Keberanianmu. Aku iri pada keberanianmu.”Ivy terdiam sejenak. Kata keberanian itu terasa berat di telinganya. Isla tidak tahu bahwa keberanian yang ia miliki sekarang adalah hasil dari luka-luka yang ia jahit sendiri selama bertahun-tahun. Atau mungkin, adik kembarnya tahu, tapi tetap menganggapnya kuat sehingga menggeser makna kuat itu menjadi ‘berani’ yang ditempa seiring waktu.“Keberanian bukan berarti kau tidak punya rasa takut, Isla,” sahut Ivy dengan nada lebih rendah, matanya menatap pantulan dirinya di jendela yang mulai menggelap. “Keberanian adalah saat kau tetap melangkah meski kakimu gemetar hebat. Dan lusa, kau akan melakukannya. Kau akan berdiri di samping Kairos, dan kau akan melihat mereka semua sebagai orang-orang yang tidak lagi bisa menyentuhmu.”Isla menghela napas pelan. “Aku harap begitu. Ivy, terima kasih sudah memeriksa daftar itu. Aku merasa lebih tenang sekarang.”“Sama-sama. Istir
Wajah Ethan yang tadinya penuh sisa tawa langsung menegang. Seluruh otot tubuhnya mengeras dalam sekejap. Ia segera menarik dirinya sedikit menjauh untuk melihat wajah Ivy, matanya memindai dengan panik.“Apa? Sakit? Kaku?” Ethan bertanya dengan suara yang tiba-tiba parau karena cemas. Tangannya yang besar kini menangkup perut Ivy dengan gerakan protektif, seolah ingin melindungi isinya dari apa pun. “Katakan padaku, Ivy. Kutelepon dokter sekarang.”Ivy tetap memejamkan mata, namun sudut bibirnya mulai berkedut menahan senyum sekaligus sigap menahan suaminya. Ia bisa merasakan jantung Ethan berdegup sangat kencang di balik punggung yang ia peluk.“Rasanya ... seperti ada yang memanggil-manggil nama ayahnya dari dalam sini,” gumam Ivy pelan, nyaris berbisik dengan nada yang sangat serius. “Dia bilang ... ayahnya terlalu tampan sore ini, sampai-sampai ibunya tidak mau melepaskannya sama sekali.”Ethan mematung. Tangannya yang tadi gemetar karena panik mendadak berhenti bergerak. Ia mena
Masih bergairah begitu besar, Ivy membalas dengan mendaratkan bibir serta gigitannya di leher Ethan.Tidak terkejut, Ethan malah tertawa. Seakan ia sudah menduga akan mendapatkan sisi liar istrinya lagi dalam momen yang sama. “Masih ingin menghukumku, Sayang?” Sambil tangannya memainkan puting Ivy yang terus menegang.“Aaaah—mmh, aku tidak sedang menghukummu, aku sedang menandaimu,” balas Ivy sambil menggigit bibir bawahnya. “Ethan, hisap jari kakiku … lakukan semuanya. Aku ingin kau melakukan hal paling gila dan paling intim yang belum pernah kau lakukan pada siapa pun.”Permintaan Ivy yang tidak biasa itu justru membuat Ethan semakin terhibur. Ia sama sekali tidak merasa direndahkan. Justru sebaliknya, ia merasa sangat diinginkan.Ethan meraih kaki Ivy yang kecil, mengangkat, dan mulai mengecup jemari kaki istrinya satu per satu dengan penuh pengabdian, sesekali menyesapnya dengan cara yang membuat Ivy merinding kegirangan.Sambil terus memuja jari-jari kaki Ivy dengan hisapan dan j
Kecemburuan masih terpancar dari mata Ivy, meski perlahan ia luluh dalam semua pengakuan Ethan. Suaminya bukan pembohong. Suaminya pria yang paling ia percaya. Dan dengan segala kecemburuannya yang anggun di mata Ethan, rupanya telah berhasil membakar habis sisa kendali diri pria itu. Ethan tidak butuh waktu lama untuk membuktikan siapa pemilik hatinya. Ia mengangkat tubuh Ivy, mendudukkan di atas meja kerja mahogani yang luas, menyingkirkan tumpukan berkas penting tanpa rasa bersalah. Julian atau petugas kebersihan bisa membereskannya nanti. “Katakan lagi, Ivy,” bisik Ethan, suaranya parau dan dalam. Tangannya menyelinap di balik gaun satin Ivy, menyentuh kulit halus yang selalu berhasil membuatnya gila. “Katakan kalau kau hanya menginginkanku. Aku tidak pernah bosan mendengarnya, Sayang.” Ivy melingkarkan kakinya di pinggang Ethan, menarik pria itu semakin rapat. “Aku membencinya, Ethan. Aku benci fakta bahwa dia merasa mengenalmu lebih baik dariku—meski itu dusta sekalip
Wanita itu berbalik.Dia ... Helena Davenport.Mata mereka bertemu. Tidak ada gerakan melangkah terburu-buru palsu dan senyum dibuat-buat seperti saat Stella melihatnya atau menyambut kedatangannya.Helena justru tersenyum. Senyuman yang bisa dipastikan sangat terkontrol dan sopan, seolah memang sudah memperkirakan pertemuan mereka ini.“Nyonya Winchester,” sapa Helena. Suaranya ramah dan santun, namun ada nada ‘kepemilikan’ yang halus saat ia menyebut nama belakang itu. “Luar biasa bisa bertemu denganmu di sini. Aku baru saja menyelesaikan pertemuan singkat dengan tim hukum Ethan.”Ivy merasakan jantungnya berdebar. Bukan. Jelas bukan debar karena takut, ini adalah debar kewaspadaan.Ia menyadari Helena tidak memanggil Ethan dengan sebutan Tuan Winchester atau Presdir, melainkan hanya Ethan saja.“Nona Davenport,” balas Ivy dengan dagu terangkat, mempertahankan martabatnya bahkan menyebut nama belakang keluarga wanita itu. “Aku tidak tahu kau punya urusan bisnis di sini sore ini.”He







