Compartir

54. Kedatangan Audrey

Autor: rainaxdays
last update Fecha de publicación: 2026-10-26 00:01:31
“Ian sudah berusaha melupakan ayah. Sekarang Ian ingin ayah seperti... ”

Kian berhenti, tidak melanjutkan ucapannya. Tidak ingin Hayes sampai tahu bahwa ayah idamannya adalah pria itu sendiri.

Namun, Kian tidak bisa menyembunyikan harapan dan kesedihan yang terpancar jelas di mata cokelat madunya. Hayes mendadak merasa bersalah karena telah bertanya soal ayahnya.

Ia berdeham, berusaha mengalihkan pembicaraan, “Oh iya, apa Ian suka makan kue?”

Di TK Bintang waktu itu, anak-anak diberi mak
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   59. Merelakan

    Becca langsung menoleh dengan mata terbelalak. Dalam sekejap, wajahnya memucat melihat Hayes sudah berdiri di ambang pintu dapur. Tidak hanya sendiri, melainkan bersama Erwin dan kepala pelayan. Hayes sebelumnya sudah berniat untuk berangkat ke kantor. Namun, saat bicara dengan Bu Ines soal pesta penyambutannya, salah seorang pelayan tiba-tiba datang melapor. Dia mengatakan bahwa Becca kembali membuat masalah di dapur. Awalnya Hayes tidak peduli, tetapi ketika nama Mira ikut disebut, ia tidak bisa menahan diri untuk melihat secara langsung apa yang terjadi. Dan sekarang, darahnya terasa berdesir hebat melihat pemandangan yang tersaji. Hayes mengepalkan tangannya. Entah kenapa, ada sesuatu yang terasa menusuk dadanya melihat Kian menangis sesenggukan dalam pelukan Mira. Anak sekecil itu harus mendapat tamparan dari wanita tidak tahu diri bernama Becca itu. Amarah kembali mengambil alih. Hayes menatap sinis Becca yang bergeming di posisinya. “Keluar sekarang juga dari mansionku

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   58. Becca Diusir

    Pagi itu, suasana dapur belakang mansion sudah mulai sepi setelah para pelayan tingkat satu dan dua selesai sarapan. Mira membawa Kian masuk ke dalam saat Sari hendak membersihkan sisa makanan di meja.“Oh Mira, Kian, ayo kemari!” panggilnya, menyambut keduanya dengan senyum hangat. Sari dengan lembut menarik tangan Kian dan mendudukkannya di kursi. “Aku baru saja membuatkan susu hangat untuk Kian.”“Ah Sari, kau tidak perlu—”“Tidak apa-apa,” Sari menyela dengan lambaian tangan santai. “Anakmu masih harus minum susu 'kan? Lagi pula, Bu Ines tidak keberatan.”Mira tersenyum sungkan. “Terima kasih, Sari.”Sari mengangguk dengan senyum tipis. Dia mengisyaratkan Mira untuk duduk, sementara tangannya dengan cekatan menyiapkan sarapan. Tak lupa susu hangat untuk Kian.“Terima kasih, Bibi Sari,” kata Kian sopan.“Sama-sama, Sayang,” balas Sari, mengelus gemas puncak kepala Kian. Dia duduk di kursi samping Kian, menatap anak itu meminum susunya dengan senyum mengembang.Sari telah menikah da

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   57. Penyakit Hayes

    “Tuan!” Mira hendak mendekat, tetapi Hayes mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk tetap di tempat. Hayes menunduk, napasnya tersengal-sengal. “Tidak, lanjutkan. Lanjutkan senandungnya.” Mira merasa dilema. Hayes jelas tengah kesakitan, tetapi kenapa pria itu malah menyuruhnya bersenandung, alih-alih memanggil Erwin? “Tapi Tuan—” “Lanjutkan,” kata Hayes dengan suara serak. Ia menjauhkan tangannya dari kepalanya, tetapi wajahnya tampak masih berkerut kesakitan. Tangannya terkepal, berusaha menekan rasa sakit yang sudah terlalu akrab baginya. Mira duduk kembali dengan perasaan tak karuan. Ia tahu benar Hayes seharusnya mendapat penanganan, tetapi pria itu terlihat tidak ingin dibantah. Dengan suara sedikit bergetar, Mira kembali bersenandung. Seiring dengan lagu yang mengalun, ekspresi Hayes anehnya mulai terlihat rileks. Hayes beralih untuk berbaring di tempat tidur. Mira terus memperhatikan sampai Hayes akhirnya terlelap. Mira berdiri dan ragu-ragu mendekat. Waja

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   56. Luka Sora dan Mira

    Mira menyisiri rambut Kian yang tertidur di pangkuannya dengan lembut. Setelah kekenyangan makan daging yang diberikan oleh Sari, Kian tidak bisa menahan kantuknya lagi.Wajah anaknya terlihat begitu damai dan bahagia. Mira tersenyum, merasa sangat bersyukur bisa tinggal di mansion selama dua minggu.Ia tidak perlu pusing memikirkan lauk apa yang harus dibeli untuk menghemat uang. Ia tidak lagi kedinginan di musim hujan seperti sekarang. Kamarnya memiliki penghangat ruangan dan Mira tidak lagi terbangun saat dini hari karena menggigil hebat.Semuanya karena Hayes.Terkadang Mira berpikir kenapa Hayes begitu baik padanya. Ia hanya pelayan rendahan yang baru bekerja untuk pria itu.Diingat-ingat, segala interaksinya dengan Hayes dimulai setelah pria itu mendapatinya bersenandung. Selanjutnya, Hayes terus menolongnya.Kejadian saat ia tenggelam di kolam, saat Kian sakit, saat ia menunggu sendirian di halte, saat Hayes mengobati tangannya yang terluka, sampai kejadian sore tadi saat Audre

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   55. Kecurigaan Audrey

    Hayes terdiam, tidak ingat kapan ia pernah meminta wanita itu untuk datang ke rumahnya.Selama bertemu, mereka hanya membahas rencana proyek kerja sama. Hayes tidak pernah membicarakan hal-hal di luar pekerjaan, apalagi sampai mengundang Audrey ke mansionnya.Itu berarti, Audrey sendiri yang mengambil inisiatif tanpa bertanya terlebih dahulu. Wanita itu sepertinya berpikir bahwa Hayes tidak serius dengan batasannya.Hayes menatap penjaga yang menunggu. “Tidak, jangan bukakan pintu, suruh dia pergi. Bilang padanya bahwa bisnis hanya dibicarakan di pertemuan yang terjadwal di perusahaanku. Di luar itu, aku tidak memiliki urusan dengannya.”Penjaga itu segera mengangguk patuh mendengar perintah dingin Hayes. Ia bergegas kembali ke gerbang, di mana Audrey menunggu di dalam mobilnya. Senyum wanita itu terbit, mengira bahwa Hayes akan membiarkannya masuk.Sore itu, Audrey menggunakan koneksinya untuk mencari alamat tempat Hayes tinggal. Setelah pertemuan mereka siang tadi, ia mendapati Haye

  • Presdir Yang Sakit Menginginkan Istrinya Kembali   54. Kedatangan Audrey

    “Ian sudah berusaha melupakan ayah. Sekarang Ian ingin ayah seperti... ” Kian berhenti, tidak melanjutkan ucapannya. Tidak ingin Hayes sampai tahu bahwa ayah idamannya adalah pria itu sendiri. Namun, Kian tidak bisa menyembunyikan harapan dan kesedihan yang terpancar jelas di mata cokelat madunya. Hayes mendadak merasa bersalah karena telah bertanya soal ayahnya. Ia berdeham, berusaha mengalihkan pembicaraan, “Oh iya, apa Ian suka makan kue?” Di TK Bintang waktu itu, anak-anak diberi makan kue dan susu setelah lomba selesai. Kian terlihat sangat lahap saat makan, jadi Hayes kira anak itu pasti suka makanan manis. “Suka!” jawab Kian, tersenyum lebar. “Ian sangat suka kue.” “Kalau begitu, paman belikan, ya?” Senyum di wajah Kian memudar. “Tapi Ibu bilang tidak boleh meminta pada orang lain.” “Ian 'kan tidak meminta, Paman yang berikan. Jadi tidak apa-apa 'kan?” bujuk Hayes, mengusap kepala Kian. “Paman yakin Ibu Ian tidak akan marah. Ya?” Kian akhirnya mengangguk, wajah

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status