Share

BAB VII : Annoying

Penulis: Essenick
last update Tanggal publikasi: 2025-04-24 15:14:01

Kegiatan mengantar makanan kini terasa lebih menjengkelkan dari sebelumnya. Beberapa kali Dila datang ke ruang ORMAWA, ia selalu melihat gadis yang sama berada di dekat Vero—entah sedang mengobrol atau sekadar duduk bersama. Yang lebih menyebalkan, Vero sama sekali tak terlihat terganggu oleh kehadiran gadis itu.

Menyukai pria yang memiliki sikap acuh memang melelahkan. Tidak peduli seberapa sering Dila datang, tidak peduli seberapa banyak perhatian yang ia berikan, sepertinya Vero tetap saja bersikap sama—dingin, tenang, seolah tak ada sesuatu yang bisa benar-benar menyita perhatiannya.

Hari ini, saat ia kembali mengantar bekal, pemandangan yang sama kembali terulang. Vero dan gadis itu duduk berdampingan di depan ruang ORMAWA, masing-masing sibuk dengan gadget di tangan mereka tanpa banyak berbicara. Tapi justru keheningan itu yang terasa mengganggu bagi Dila.

Merasa tak bisa terus diam saja, Dila akhirnya memberanikan diri untuk mendekat dan menyapa. "Hai!" serunya dengan ceria, menyembunyikan kegelisahan di balik senyumnya.

Dua orang itu mengalihkan atensinya ke Dila. Dengan percaya diri, Dila mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. "Kenalin, namaku Ardila. Kamu bisa panggil aku Dila."

Gadis itu menatapnya sejenak dengan ekspresi yang sulit ditebak—dingin, tapi di baliknya ada sedikit senyuman tipis. Ia akhirnya menjabat tangan Dila dan memperkenalkan dirinya. "Aku Chelsea."

Dila tersenyum kecil, lalu dengan gerakan santai mengeluarkan bekal dari tasnya dan meletakkannya di meja. "Ini bekal buat Mas Vero," katanya sambil mendorong kotak makan ke arah Vero.

Tapi kemudian, ia mengeluarkan satu lagi dan menyodorkannya ke Chelsea. "Dan ini buat kamu."

Chelsea menaikkan alis. "Aku juga dapet?" tanyanya, sedikit terkejut.

Dila mengangguk santai.

Chelsea tertawa kecil sambil menerima bekalnya. "Sering-sering ya, Kak. Aku bisa hemat uang jajan kalau kayak gini terus," selorohnya dengan nada bercanda.

Dila tersenyum menanggapi. "Kamu anak fakultas mana sih? Kayaknya deket banget sama Mas Vero."

Chelsea menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi santai. "Gak tau nih! Dia gak bisa jauh dari aku," ujarnya dengan nada sedikit menyombong.

Dila tertawa kecil, meski di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa mengganjal. Tapi ia tetap berusaha terlihat santai. "Kayaknya kita bakal bersaing sih."

Chelsea mengerutkan dahi. "Bersaing? Gak mau ah, aku mager," katanya dengan ekspresi malas.

Dila hendak menanggapi lagi, tapi sebelum sempat berbicara, suara berat Vero tiba-tiba memotong pembicaraan mereka dengan kasar.

"Dila, bisa diem gak sih?! Berisik banget tahu nggak?!"

Suasana yang tadinya masih cukup santai seketika berubah hening.

Vero bahkan sampai berdiri dari kursinya, menatap Dila dengan sorot mata tajam yang membuat dadanya mencelos. Suaranya dingin, ketus, dan penuh kejengkelan—seolah kehadiran Dila memang benar-benar mengganggunya. “So annoying.”

Dila terdiam. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya sedikit menegang. Ia tidak menyangka Vero akan semarah itu, hanya karena ia mengobrol. Kenapa harus sekasar ini?

Tenggorokannya terasa kering, tapi ia tetap memaksakan diri untuk berbicara. "Maaf, Mas," ucapnya pelan.

Tanpa menunggu tanggapan lagi, Dila langsung berbalik dan pergi, meninggalkan meja mereka begitu saja.

Langkahnya cepat, nyaris tergesa-gesa. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak, seperti tekanan kuat yang menghimpit paru-parunya. Perasaan itu kembali lagi. Menyebalkan.

Begitu keluar dari ruang ORMAWA, tangannya dengan cepat merogoh ponsel di saku. Jari-jarinya sedikit gemetar saat ia mencari kontak darurat yang sudah tersimpan apik sejak ia divonis memiliki panic attack.

Laura.

Dila menekan tombol panggil dengan tangan dingin. Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum akhirnya suara dari seberang menjawab.

"Halo?"

Dila berusaha menarik napas, tapi udara terasa begitu berat untuk masuk ke paru-parunya. Rasanya seperti tenggelam. Ia mencoba berbicara, suaranya putus-putus.

"Laura… Help… Please…"

Nada suaranya terdengar begitu panik, hampir seperti isakan tertahan.

"Lo di mana?" tanya Laura cepat, suaranya langsung berubah tegas.

Dila mencengkeram bajunya sendiri, mencoba meredam gemetar di tubuhnya. Tapi dadanya semakin sesak, napasnya semakin pendek, semakin tidak terkendali.

"Na… pas gue… pen… dek…"

Ia bisa mendengar Laura menarik napas dalam dari seberang telepon.

"Tunggu, diam di sana. Gue ke sana."

Panggilan terputus.

Dila berusaha mengatur napasnya, tapi semakin ia berusaha, semakin sulit rasanya. Tangannya menumpu dinding di dekatnya, tubuhnya mulai melemas, kepalanya sedikit berkunang-kunang. Pandangannya buram.

Sampai akhirnya…

"Dila!"

Suara itu terdengar seperti alarm di kepalanya. Napasnya masih tersengal, tapi di tengah kepanikannya, ia bisa melihat sosok Laura tergopoh-gopoh mendekat. Gadis itu tidak membuang waktu.

Tanpa bertanya lebih dulu, Laura dengan sigap membantu Dila mengatur napasnya. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan saat sahabatnya mengalami serangan seperti ini.

"Pelan-pelan, tarik napas," ujar Laura, suaranya lembut tapi tegas.

Dila menurut, meskipun tubuhnya masih gemetar. Udara perlahan mulai mengisi paru-parunya lagi, meskipun dada itu masih terasa berat.

Laura tetap berada di sisinya, mengawasi dengan cermat. Setelah beberapa saat, Dila akhirnya bisa bernapas lebih stabil—tapi begitu kesadarannya kembali, air mata yang tadi tertahan langsung jatuh begitu saja.

Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Laura…" panggilnya pelan, suaranya bergetar.

Laura tidak berkata apa-apa. Ia hanya merentangkan tangannya, memberi isyarat tanpa kata.

Dila langsung menyandarkan tubuhnya ke Laura, membenamkan wajahnya di bahu sahabatnya itu. Isaknya tertahan, tapi genggaman tangannya di lengan Laura begitu erat, seakan butuh pegangan agar tidak jatuh lebih dalam ke lubang kegelapan di dalam dirinya.

Laura mengusap punggungnya dengan lembut, memberikan waktu bagi Dila untuk menenangkan diri. "Ada apa? Ngomong ke gue," tanyanya pelan, masih dalam posisi yang sama. "Siapa yang bentak lo?"

Dila hanya menggeleng. Ia tidak ingin menjawab. Tidak ingin bercerita.

Karena jika ia mengatakan yang sebenarnya… itu akan terasa semakin menyakitkan.

Setelah cukup tenang, Dila dan Laura akhirnya pergi ke kantin. Laura memilih duduk di meja pojok yang sedikit sepi, sementara Dila langsung bergegas ke antrean makanan.

Beberapa menit kemudian, Dila datang dengan nampan penuh makanan—lebih banyak dari porsi biasanya. Ada nasi, ayam goreng, tempe, sup, dan bahkan satu porsi mie goreng tambahan.

Laura, yang baru saja menyesap minumannya, langsung mengernyit. "Buset, lo mau makan atau buka warteg baru?" sindirnya.

Dila hanya nyengir santai sebelum mulai menyendok makanannya dengan lahap. "Gue butuh energi buat ngelupain hal yang gak penting," jawabnya sambil mengunyah.

Laura menghela napas sambil menatap tumpukan makanan itu dengan ekspresi tak percaya. "Habis tersedu-seduh tiba-tiba kaya orang gak makan dari lahir."

Dila mengangkat bahu, tak terganggu sedikit pun dengan komentar sahabatnya. "Diam lo, menyebarkan aib, kena pasal satu Undang-Undang Ardila," katanya dengan nada serius yang jelas bercanda.

"Bacot." Laura menyodorkan sendok ke arah Dila. "Buruann habisin, daripada lo ngomong makin gak jelas."

.

Laura melangkah masuk ke ruang ORMAWA dengan percaya diri, meskipun dalam hatinya ada sedikit ketidaknyamanan. Sebenarnya, dia sudah tahu siapa yang membentak sahabatnya. Tidak perlu menebak-nebak, pelakunya pasti Vero.

"Ada Mas Vero?" tanyanya begitu membuka pintu, suaranya terdengar tegas.

Beberapa orang di dalam ruangan menoleh, tapi suara lain yang menjawabnya datang dari sudut ruangan. "Ada apa?"

Vero, yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya, akhirnya mengangkat kepala. Ekspresinya tetap tenang seperti biasa, tapi ada sedikit sorot penasaran di matanya.

"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Laura tanpa basa-basi.

Vero tidak langsung menjawab, tapi setelah beberapa detik, dia mengangguk dan bangkit dari kursinya, mengikuti Laura keluar ruangan.

Begitu mereka sudah berada di luar dan cukup jauh dari keramaian, Laura langsung membuka pembicaraan. "Gue Laura, sahabatnya Dila," ujarnya, menatap Vero dengan tatapan serius. "Langsung ke intinya aja, ya. Gue tau lo gak suka sama dia. Gue juga tau kalau Dila kadang terlalu berlebihan ke lo. Tapi kalau memang lo gak suka, bicarakan baik-baik aja. Itu lebih baik daripada lo membentaknya."

Vero terdiam. Tatapannya tetap netral, tapi ada sesuatu dalam ekspresinya yang sulit ditebak.

Laura melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut tapi tetap tajam. "Dila bukan manusia sekuat yang lo lihat. Dia emang ceria, keliatannya kayak gak peduli, tapi lo gak tau apa-apa tentang dia."

Hening. Vero masih belum mengatakan apa pun, hanya menatap Laura seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.

Laura mendesah pelan, merasa percuma menunggu tanggapan yang sepertinya tidak akan datang. "Gue cuma mau ngomong itu. Lain kali, jangan bentak dia lagi, Mas," ucapnya sebelum berbalik pergi.

Bukan karena ingin ikut campur. Laura hanya tidak ingin ada sesuatu yang membahayakan Dila, dalam bentuk apa pun.

TO BE CONTINUED —

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXV : HOME 2

    Dila berdiri diam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kukunya menekan kulit sendiri, tapi rasa itu kalah jauh dari yang baru saja ia dengar. “Aku…” suaranya tertahan. Serak. “Aku kerja.” “Iya kan ngelayani cowok tadi, kan.” Ayahnya tertawa lagi. Pendek. Sinis. Dila menunduk. Kecewa dengan seluruh dugaan ayahnya. Dadanya semakin sesak tiap ayahnya melengkapi kalimat jahat itu. “Itu temen kampus.” “Teman?” ulangnya, kali ini lebih pelan tapi jauh lebih tajam. “Jangan naif, Dila.” Langkahnya mendekat. Satu. Dua. Jarak di antara mereka semakin sempit. “Cewek kalau udah biasa pulang sama cowok malam-malam, ujungnya ke mana gue juga tahu.” Kalimat itu diucapkan keras. Tanpa jeda. Dan cukup untuk menghancurkan. Dila menggeleng kuat. Napasnya berat, tapi kali ini ia tidak mundur. Dengan sisa keberanian yang entah datan

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXIV : HOME

    Malam turun lebih cepat dari yang Dila sadari. Lampu jalan memantul di kaca etalase, membentuk garis-garis panjang yang berlari bersama waktu. Ramainya pelanggan sepanjang hari menyita hampir seluruh tenaganya, sampai ia baru benar-benar sadar jam pulang sudah di depan mata. “Closing sekarang aja,” ujar Daren dari ujung ruangan. “Biar nggak terlalu telat pulang.” Dila mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara, ia mulai membereskan meja kasir, merapikan nota, dan menutup laci satu per satu. Sesekali matanya melirik ke arah laki-laki dengan secangkir kopi di meja pojok, tangannya sibuk dengan ponsel, tapi jelas menunggu. Beberapa menit kemudian, semua selesai. Dila menghela napas pelan, lalu menjatuhkan diri ke kursi di depan mesin kasir. “Capek?” tanya Daren singkat. Dila mengangkat alis. “Menurut lo?” Daren terkekeh pelan, “Ya kali gue nanya kalau lo kelihatan seger.” Tanpa menunggu

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXIII: Sisa Cahaya, Sisa Ragu

    Beberapa menit berlalu dalam hening yang nyaman. Hanya suara mesin dan lagu dari radio yang mengisi ruang di antara mereka. Dila mulai bisa bernapas lega sepertinya Vero sudah tidak menyinggung soal lukanya lagi. Begitu mobil memasuki area kampus, Vero memperlambat laju kendaraan. “Nanti makan siang pakai apa?” tanyanya tiba-tiba, nadanya santai tapi tetap penuh perhatian. Dila melirik, sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. “Gak tahu,” jawabnya singkat. Vero mengangkat alis, lalu tersenyum kecil mendengar jawaban ambigu itu. “Berarti saya harus pastiin kamu beneran makan,” ujarnya ringan. Dila terkekeh. Hubungannya dengan Vero memang sering diwarnai hal-hal kecil seperti ini—menggemaskan, sekaligus menenangkan. “Aku yang pastiin aku makan, Mas. Aku bisa,” katanya sambil menatapnya sekilas. Vero mengangguk pelan. “Iya, iya… yang bisa,” balasnya cepat. “Tapi kamu tuh sering lupa makan.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Nanti sore saya jemput, ya? Sekalian makan bareng.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXII: Still Standing

    Kampus sudah ramai bahkan sebelum jam pertama dimulai. Motor Daren berhenti di parkiran fakultas, berderet di antara kendaraan lain yang tampak sama lelahnya. Dila turun, melepas helm, lalu menghembuskan napas pelan, seolah baru sekarang paru-parunya benar-benar bekerja. “Jangan ngelamun,” kata Daren sambil mengunci stang. “Nanti ditabrak scopus.” Dila mendecak pelan, malas menanggapi tuturan tak penting Daren yang selalu berhasil menyebalkan. Ia melangkah menuju gedung fakultas, Daren menyusul di belakang dengan langkah santai. Baru beberapa meter, suara seseorang memanggil dari arah depan. “Dila?” Langkah Dila terhenti. Ia mendongak. Seorang laki-laki berdiri di bawah pohon ketapang, kemeja putih digulung sampai siku, tas selempang disampirkan rapi. “Oh,” ucap Dila ragu. “Kenapa Mas?” Vero mendekat beberapa langkah. “Gue mau minta tolong, kan lay out-nya udah jadi, nanti setelah matkul bisa kan kamu yang aturin?” Dila mengangguk kecil. "Bisa Mas, habis matkul aku langsung

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXXI : D-DAY

    Matahari meninggi seperti seharusnya.Dila bangun sebelum alarm, lebih karena suara langkah kaki seseorang di dapur daripada kesiapan tubuhnya sendiri. Rumah yang biasanya sepi menjadi sedikit menakutkan jika laki-laki itu menemukannya.Benar. Dia seharusnya tidak pernah pulang. Ia tidak langsung bangun. Napasnya ditahan, telinga menangkap suara gelas diletakkan terlalu keras, kursi yang ditarik tanpa sabar. Bau kopi pahit merayap masuk ke kamar, membawa serta perasaan yang tidak pernah benar-benar pergi.Ponselnya bergetar di atas kasur.Pesan dari nama kontak Daren. “Kelas jam berapa?”Alih alih membalas, Dila justru meletakkan ponsel itu kembali. Ia bergeser pelan, meringkuk di sisi ranjang dekat nakas, menahan suara apa pun yang bisa mengkhianatinya. Seolah dengan diam, ia bisa membuat dirinya tak terlihat.Langkah kaki itu mendekat.Berhenti tepat di depan pintu kamarnya.Dila menutup mata.Beberapa detik terasa seperti menit. Pegan

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXX : NEW

    “Kamu udah pulang? Saya pengen ketemu sebentar.”Dila menatap layar ponsel itu lama, sampai lampunya meredup sendiri. Ia menghela napas pendek, lalu bangkit berdiri.“Iya Mas, udah di rumah” balasnya akhirnya.Dila berakhir duduk di ruang tamu menunggu suara mobil yang menyenangkan. Tak sampai lima menit, bunyi mobil yang familiar berhenti di depan pagar. Dila meraih jaket tipis, menyampirkan asal, lalu keluar rumah tanpa benar-benar menyiapkan diri.Vero berdiri di luar pagar dengan senyum yang selalu berhasil membuat Dila lupa setengah dari masalahnya. Rambutnya rapi, kemeja sampai siku, wangi sabun bercampur tipis menyapa sebelum kata apapun keluar.“Ganggu istirahat kamu ya?” tanyanya, nada suaranya lembut, nyaris hati-hati.Dila menggeleng. “Enggak. Masuk aja.”Mereka duduk di teras. Jaraknya cukup dekat untuk saling dengar napas, cukup jauh untuk pura-pura aman. Vero memainkan kunci motornya, memutar-mutarnya di jari, seolah sedang mencari

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB V : Semakin Dekat

    "Vero, gue nanti harus ke Bandung sama Bunda." Seorang laki-laki berkata dengan nada sedikit berteriak sambil berjalan cepat menghampiri Vero. "Harus hari ini?" tanya Vero tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Laki-laki itu mengangguk sambil membereskan barang-barangnya dengan terburu-buru. "Iya, Ka

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB IV : Who's She?

    Dila duduk di salah satu bangku panjang dekat kantin setelah kelasnya selesai. Makanan yang dia pesan mulai mendingin, tapi perhatiannya masih terpaku pada ponsel. Sesekali, alisnya mengernyit, lalu berubah jadi senyum, kemudian kembali serius—seakan-akan sedang membaca sesuatu yang penting. Akhir

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB III : Saingan

    “Sekian rapat hari ini, ada yang mau ditanyakan?” Galen, sang ketua umum, bersuara sambil merapikan beberapa kertas di tangannya. Matanya menyapu seluruh ruangan, berharap semua anggota sudah cukup jelas dengan hasil diskusi mereka. Belum sempat keheningan menyelimuti, Dila dengan percaya diri m

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB II : Untuk Pandangan Pertama

    Malam pun tiba. Dila berjalan gontai pulang ke rumah, tubuhnya terasa lelah setelah seharian berjaga di stand bazar ditambah pulangnya dia juga harus bekerja di kafe dan bersama Daren lagi. Ia mendesah pelan, menyesali kesempatan yang terlewat begitu saja. Seharian ini, ia tidak sempat berbicara lag

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status