Beranda / Romansa / Presiden BEM Itu Kekasihku / BAB IX : Awal Yang Baik

Share

BAB IX : Awal Yang Baik

Penulis: Essenick
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-14 15:14:34
Dila duduk dengan semangat di kursi seberang Vero, kedua tangannya sibuk dengan buku menu yang diberikan. Mereka memilih tempat makan yang cukup nyaman—tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi.

“Kita pesan apa?” tanya Dila sambil membolak balik halaman di buku menu itu.

Vero menyesap air putihnya sebelum menjawab, “Apa aja yang kamu mau.”

Dila menatapnya sebentar, lalu tersenyum puas. “Okey deal.”

Gadis itu tersenyum puas kemudian mengatakan pada pelayan pesanannya. Cukup banyak, dia memesan seporsi chicken katsu dengan saus keju, French fries, potato balls dan segelas jus alpukat. Vero sendiri memilih menu yang lebih simpel—nasi dengan ayam panggang dan teh tawar hangat.

Vero hanya mengangkat bahu santai. “Selama masih bisa dimakan, terserah.” Gumamnya.

Saat makanan tiba, Dila langsung menyerang dengan lahap, sementara Vero menikmati makanannya dengan tenang. Jarang-jarang Dila makan di luar, gadis itu harus benar-benar menghitung pengeluaran untuk mengamankan diri.

“Mas, mas,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIV : Sunyi yang Tidak Mencari Saksi

    Gedung sekretariat masih menyala ketika Dila tiba. Lampunya temaram, pintunya setengah terbuka. Dari dalam terdengar suara kursi digeser dan langkah kaki yang ia kenal.“Kok lama?” suara itu menyapa santai. “Gue kira gak jadi.”Dila mengangkat bahu. “Motoran macet.”Ia duduk tanpa diminta. Meletakkan tas di lantai. Gerakannya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang kepalanya sedang berisik.Ketua Himpunan menatapnya sekilas. Tidak lama. Tidak menusuk.“Tadi ada orang nyarin lo,” katanya sambil menuang air ke gelas plastik. “Ngaku dari luar kampus. Gayanya gak enak.”Dila mengangguk kecil. Tidak kaget. Tidak menyangkal.“Udah gue suruh balik,” lanjutnya. “Bilang urusan pribadi gak boleh dibawa ke sini.”“Thanks,” jawab Dila cepat. Terlalu cepat. Seolah takut topik itu berkembang.Ketua Himpunan tersenyum tipis. “Masalah lo apa sih?”“Bukan masalah,” potong Dila. “Cuma repot sebentar.”Selalu saja tak jauh dari alasan itu. Dila memang paling ahli menangani masalahnya sendiri, memendam s

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXIII : Silent Liability

    ‘Ardila, lo kejerat hutang apaan, La?! Ada orang hubungi ketua Himpunan nagih hutang lo.’ Sendok terlepas dari tangannya. Bunyinya kecil. Tapi di telinga Dila, itu terdengar seperti sesuatu yang runtuh. Nyaring. Memalukan. Dan tak bisa ditarik kembali. Dunia Dila berhenti. Kata hutang berputar-putar di kepalanya, saling menabrak, menghantam pelipisnya berkali-kali. Napasnya mendadak pendek, terputus-putus. Perutnya mengempis, jauh lebih kosong daripada sebelum ia makan. Ia kenal rasa ini. Rasa saat namanya dipakai tanpa izin. Rasa saat kesalahan orang lain mendarat tepat di dadanya. Vero menoleh cepat. “Kenapa?” Dila tersentak. Tangannya gemetar saat ia mengunci layar ponsel terlalu cepat, terlalu panik, seperti menutup luka dengan tangan kosong. “Mas…” suaranya pecah di tengah kata. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa dicekik dari dalam. “Mas bisa pulang dulu nggak?” Kalimat itu keluar dengan susah payah. Tipis. Rapuh. Kepalanya berputar liar. Hutang a

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXII : Hidden Hurts

    Hari semakin siang. Matahari naik perlahan, cahayanya menembus cela jendela yang sudah lama jarang dibuka. Dila selesai membersihkan rumah. Lantainya bersih, meja rapi, seolah keadaan ini telah menutupi kehancurannya semalam.Di kamar mandi, ia duduk di lantai dingin. Kotak P3K terbuka di samping. Tangan Dila bergerak pelan, hampir tanpa suara, seperti takut mengganggu rumah itu sendiri. Kapas dibasahi, ditempelkan ke kulit yang memar. Rasa perih membuat rahangnya mengeras, tapi tidak ada keluar yang keluar. Ia terlalu terbiasa dengan perasaan itu.Perih yang dia rasa tak lebih ketimbang kesunyian sehari-hari.Rumah ini dulu penuh suara. Bahkan teriakan Bunda memanggilnya untuk bangun masih sering menjadi alarm paginya dalam mimpi. Tawa yang sesekali pecah. Nada marah yang cepat reda. Bau masakan Bunda di pagi hari.Sekarang, rumah ini hanya tinggal bangunan.Ayahnya punya hidup lain. Bundanya juga. Keluarga baru. Meja makan lain. Tawa lain. Dan tak sat

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XXI: DIA VERO

    “Mana wanita itu?” Suara itu datang dari kegelapan. Rendah. Tajam. Dingin. Senyum Dila langsung runtuh. Jantungnya jatuh, seakan ada tangan kasar yang meremasnya tiba-tiba. Hangat yang ia bawa dari luar rumah menguap seketika, digantikan rasa dingin yang merambat cepat ke tulang. Langkahnya terhenti. Udara terasa menipis. Malam yang tadi terasa ramah, kembali menunjukkan wajah aslinya. Dan Dila tahu ia baru saja kembali ke mimpi buruk yang selama ini selalu menunggunya di rumah. Lampu menyala. Cahaya kuning itu tidak memberi rasa aman. Justru memperjelas segalanya. Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depannya. Ayahnya. Tatapannya penuh amarah yang belum sempat reda, penuh dendam yang seolah hanya menunggu tubuh kecil di depannya untuk dilampiaskan. Dila menunduk. Ia tak sanggup menahan tatapan itu terlalu lama. Dadanya semakin sesak, napasnya tersendat, seperti ada tangan tak kasa

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XX: HAMPIR SAJA

    Malam semakin larut. Lampu-lampu hangat kafe mulai meredup, tanda waktu kerja hampir selesai. Dila duduk sendirian di sudut meja, laptop terbuka, tab-tab tugas berantakan. Matanya berat, hari ini ia harus mengerjakan tugas berpasangan dengan Daren, tapi pikirannya sudah terlalu penuh untuk fokus. Di luar, hujan turun pelan. Suara rintiknya mengenai kaca seperti ritme nina bobo yang justru membuat kelopak matanya semakin turun. Aroma kopi yang tersisa di udara membuat suasana makin tenang, terlalu tenang… sampai hampir membuatnya tertidur. Kemudian tiba-tiba bel pintu berbunyi. Menandakan ada pelanggan masuk sebelum jam kerjanya habis. Dia mengangkat kepala dengan malas, sedikit kaget karena jam layanan tinggal beberapa menit lagi. Ia menutup laptopnya separuh, menarik napas, lalu bangkit dari kursi. Ia melangkah menuju kasir sambil merapikan apron yang sejak tadi kusut. “Selamat malam, Kak. Mau pesan apa?” Dila tercengat.

  • Presiden BEM Itu Kekasihku   BAB XIX: SUNYI

    Hari itu berjalan seperti biasanya, meski dada Dila masih terasa sesak membawa sisa-sisa malam kemarin. Nada suara Ayahnya, tatapan tajam itu, tuduhan yang menusuk… semuanya masih menggantung seperti kabut yang enggan pergi. Kepalanya penuh. Bahkan saat rapat sekalipun, pikirannya masih sibuk memikirkan bagaimana ia harus menyampaikan maksud Ayah pada Bundanya. Ragu itu menggigit dari dalam. Di ruang BEM, semua anggota sie sponsor berkumpul. Berkas-berkas berserakan, suara diskusi memenuhi ruangan, dan Vero sibuk meninjau proposal. Dila mencoba fokus, padahal jantungnya berdetak tak karuan. “Dila udah makan?” suara Daren tiba-tiba terdengar dari pintu. Seisi ruangan sontak menoleh. Suara Daren memang cukup nyaring, tapi perhatian semua orang justru jatuh pada Dila—yang seketika membeku. Dila reflek menatap Vero. Bukan untuk izin sebenarnya… tapi karena entah kenapa, setiap kali namanya dan nama Daren disebut bersamaan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status