Compartir

Bab 108

Autor: Biee
last update Fecha de publicación: 2026-03-06 21:23:06

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan itu terdengar berat dan sangat tegas. Bara yang baru saja hendak melepas kaosnya langsung terdiam di tempat. Jantungnya berdegup kencang karena dia tahu persis siapa yang punya ketukan seperti itu. Hanya Pak Handoko yang selalu mengetuk pintu dengan nada yang penuh wibawa dan tidak mau dibantah.

Bara segera membuka pintu kamarnya dan benar saja, Pak Handoko berdiri di sana dengan wajah kaku. Namun, yang membuat napas Bara mendadak sesak adalah sosok Marissa yang ber
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 187

    Bara melangkah keluar dari lobi utama gedung HDK Group. Dia memacu motor tuanya membelah jalanan Jakarta, lalu berhenti di depan sebuah ruko berlantai tiga bertuliskan Mega Gym.Begitu pintu kaca didorong, bau minyak otot dan suara dentum musik disko langsung menyengat. Di balik meja resepsionis, seorang pria berbadan seperti kulkas dua pintu dengan kaos kutang hitam sedang asyik mencabuti bulu ketiak menggunakan pinset. Bang Jaka."Bang," sapa Bara."Eh, kunyuk! Dari mana aja lo? Baru kelihatan batang hidungnya!" seru Bang Jaka. Pinsetnya terlepas, menjatuhkan sehelai bulu ke atas meja."Ada urusan, Bang," jawab Bara datar. "Mulai minggu ini, saya cuma bisa ambil jadwal kerja hari Sabtu dan Minggu saja."Bang Jaka melotot sampai matanya hampir keluar. Dia menggebrak meja hingga botol suplemen di dekatnya melompat. "Lah! Kagak bisa gitu dong, Bar! Gila lo ya? Jadwal lo padat begini mau lo pangkas?!""Saya ada kesibukan lain, Bang. Nggak bisa diganggu."Bang Jaka menjambak rambutnya se

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 186

    Bara menatap tepat ke manik mata Handoko. Dia tidak berkedip."Saya mau akses penuh," jawab Bara tegas."Akses penuh?" ulang Handoko pelan."Ke seluruh jaringan perusahaan. Saya mau lihat laporan keuangan pusat. Saya mau tahu rute distribusi dari semua pelabuhan yang dikuasai HDK Group. Saya mau tahu semua daftar anak perusahaan yang Bapak sembunyikan di luar negeri. Semuanya."Senyum di wajah Handoko perlahan memudar. Matanya menyipit. Hening menyelimuti ruangan besar itu. Hanya terdengar suara dengung halus dari pendingin ruangan.Handoko mengambil cerutunya kembali. Dia memutarnya perlahan dengan jari telunjuk dan ibu jari. Asap tipis masih keluar dari ujung cerutu yang menyala. Abu putih jatuh sedikit menodai celana kain mahalnya. Handoko tidak mempedulikannya."Kamu terlalu ambisius, Bara," kata Handoko pelan. Suaranya kini terdengar mengancam. "Kamu baru satu hari bekerja di cabang kecil. Kamu baru menangkap satu tikus gudang.""Tikus gudang itu bekerja untuk Anton. Dan Anton be

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 185

    "Bara?" suara Anton berubah tegang."Dengar baik-baik. Barang ilegal ini saya sita atas nama perusahaan. Kalau kamu mau barang ini kembali, silakan datang sendiri ke kantor dan ambil lewat meja resepsionis depan. Bawa juga polisi kalau kamu berani."Klik. Bara mematikan panggilan itu sepihak. Dia melemparkan ponsel itu kembali ke perut Pak Beni. Pak Beni menangkapnya dengan tergagap."Pak Heru!" teriak Bara. Suaranya menggema di seluruh gudang.Dari pintu atas, Pak Heru berlari menuruni tangga besi dengan napas tersengal. Dia sampai di depan Bara dalam waktu kurang dari semenit."Iya, Mas Bara. Eh, Tuan Muda," ucap Pak Heru sambil memegang lututnya, mencoba mengatur napas."Panggil keamanan internal. Bawa pak Beni ke ruang interogasi. Kunci pintu kontainer ini. Jangan ada yang berani mendekat satu meter pun dari area ini." Bara memberi instruksi cepat. Matanya tajam."Baik, Tuan Muda. Segera." Pak Heru menoleh ke arah Pak Beni. "Ayo, Pak Beni. Jangan bikin masalah lagi."Dua orang sa

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 184

    "Mana kuncinya, Beni," ulang Bara. Nada suaranya turun satu oktaf.Di belakang meja, ketiga sopir tadi perlahan berdiri. Mereka mengambil langkah mundur satu per satu. Sangat pelan. Sopir bertopi merah menutupi wajahnya dengan map plastik tipis, seolah map itu bisa membuatnya tidak terlihat. Mereka berjingkat menjauh menuju pintu keluar.Bara melirik ke arah mereka. "Mau ke mana kalian? Berdiri di situ."Ketiga sopir itu berhenti seketika. Tubuh mereka membeku. Sopir bertopi merah menurunkan map plastiknya dengan wajah memelas.Bara kembali menatap Pak Beni. "Kamu mau kasih kuncinya sendiri, atau saya harus robek saku celanamu?"Tangan Pak Beni gemetar hebat. Dia merogoh saku celananya. Bunyi gemerincing logam terdengar. Dia mengeluarkan sebundel kunci besar berkarat. Dia menyerahkannya ke tangan Bara."Bangun. Jalan ke kontainer nomor empat," perintah Bara.Bara berdiri. Pak Beni ikut berdiri dengan susah payah. Kakinya pincang sedikit akibat jatuh tadi. Dia berjalan di depan Bara.

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 183

    Bara bangkit dari kursi kulitnya. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Tangannya meraih ponsel di atas meja, memasukkannya ke dalam saku celana bahan berwarna hitam gelap. Dia melangkah menuju pintu ruangannya. Tangan kanannya memutar kenop pintu perlahan. Bunyi klik terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu.Bara melangkah keluar. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai keramik lorong. Suaranya menggema lambat. Satu langkah. Dua langkah. Dia tidak terburu-buru. Waktu adalah miliknya sekarang. Dia menyusuri lorong lantai dua, melewati kubikel para staf yang sibuk mengetik. Beberapa dari mereka menunduk, tidak berani menatap mata Bara.Dia sampai di ujung lorong. Ada pintu besi dengan kaca kecil buram yang menghubungkan area kantor dengan area gudang. Bara mendorong pintu besi itu.Hawa panas langsung menghantam wajahnya. Bau oli bekas, debu kardus, dan keringat bercampur menjadi satu. Suara deru mesin forklift terdengar bising dari ujung ruangan. Gudang ini sangat l

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 182

    "Salah input satu atau dua angka itu wajar. Tapi ini satu baris data hilang. Dan anehnya, barang yang hilang itu barang yang nilai jualnya paling tinggi," kata Bara. Dia memutar kursinya sedikit ke arah Intan. "Siapa yang suruh kamu?""Nggak ada yang suruh, Pak! Itu murni kesalahan saya," jawab Intan cepat. Suaranya sedikit bergetar.Bara mengambil pulpen di mejanya, memutar-mutarnya dengan santai. "Intan, saya baru di sini, tapi saya bukan orang bodoh. Kamu sudah kerja di sini tiga tahun. Rekam jejakmu bagus. Kenapa tiba-tiba hari ini, pas saya masuk, kamu buat kesalahan sekonyol ini?"Intan terdiam. Dia menunduk dalam-dalam."Kamu tahu kan konsekuensinya kalau saya lapor ke polisi? Ini penggelapan barang perusahaan. Hukumannya nggak main-main," tambah Bara dengan suara rendah yang mengancam."Tolong jangan lapor polisi, Pak," bisik Intan. Matanya mulai berkaca-kaca."Kalau gitu jujur. Siapa yang minta kamu hapus data itu dari sistem?"Intan ragu sejenak. Dia melirik ke arah pintu ru

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status