Share

Bab 107

Author: Biee
last update publish date: 2026-03-05 20:34:27

Bara menarik napas panjang sebelum memutar daun pintu kayu jati yang besar itu. Begitu dia melangkah masuk, aroma cerutu mahal milik bapaknya langsung menyerbu indra penciumannya, bercampur dengan wangi parfum melati milik Marissa yang sudah sangat dia hafal.

Di ruang tamu yang luas dan terang benderang itu, sesosok pria paruh baya duduk dengan posisi sangat tegak di sofa kulit. Pak Handoko menatap Bara dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin. Di sampingnya, Marissa duduk dengan anggun samb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 227

    Bara mengendarai motor tuanya kembali menuju tempat gym dengan kecepatan tinggi. Suara knalpotnya yang bocor kembali meletup-letup di sepanjang jalanan Jakarta Selatan. Tepat pukul 14.50 WIB, Bara memarkirkan kembali kendaraannya di pojok area parkir, bersembunyi di balik keteduhan pohon pelindung.Asap hitam tipis menyembur dari knalpot bututnya saat mesin dimatikan. Bara merapikan kaos polo hitam ketatnya sebelum melangkah lebar memasuki lobi kaca ber-AC sejuk itu.Di balik konter resepsionis, Bang Jaka masih sibuk dengan beberapa lembar brosur keanggotaan baru. Begitu mendengar langkah sepatu bot Bara, instruktur senior itu mendongak dan menyeringai lebar."Waduh, cepet amat lu balik, Bar? Urusan lu udah kelar?" tanya Bang Jaka dengan logat Betawi cadasnya. Dia melipat kedua lengan tatonya di atas meja konter."Sudah, Bang. Urusan singkat saja," jawab Bara tenang. Wajah rahang tegasnya kembali ke mode kaku tanpa ekspresi."Bagus dah. Oh iya, entu si bos gede yang mukanya galak tadi

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 226

    Marissa tersentak mendengar permintaan itu. Langkah kakinya refleks mundur setengah undakan. Sepasang gundukan dadanya yang montok berguncang hebat di balik gaun hitam berpotongan rendahnya. Wajah matangnya yang tadi merah padam oleh gairah, mendadak berubah agak pucat."D-dokumen proyek HDK Group? Kamu gila, Bara? Itu dokumen rahasia perusahaan Mas Handoko. Kalau Mas Handoko sampai tahu dokumen itu hilang dari meja kerjanya, dia bisa mengamuk besar," cicit Marissa dengan suara parau yang bergetar.Bara tidak bergerak sedikit pun dari posisinya bersandar di pintu. Rahang tegasnya mengunci rapat, memberikan tatapan mata yang dingin dan menusuk lurus ke manik mata wanita matang di depannya."Tante takut?" tanya Bara datar, suara beratnya terdengar sangat dominan memenuhi ruangan remang itu."Bukan takut, Bara... tapi itu terlalu berisiko. Hubungan kita ini saja sudah sangat berbahaya kalau sampai tercium oleh Mas Handoko," cetus Marissa. Kedua tangan lentiknya bergerak memilin ujung gau

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 225

    Bara mengalihkan pandangannya dari lorong VIP kembali ke layar monitor komputer. Jari-jarinya yang besar kembali mengetuk papan ketik dengan ritme yang lambat dan teratur, menyelesaikan rekap data anggota baru."Buset dah, Bar. Lu kenal ama entu bos gede? Galak bener mukanya, mana anak ceweknya songong amat lagi nyindir-nyindir lu," celetuk Bang Jaka dari sebelah meja konter. Pria berotot itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil merapikan tumpukan handuk bersih.Bara tidak menoleh, wajah rahang tegasnya tetap tenang. "Tidak, Bang. Hanya pengunjung biasa yang kebetulan lewat.""Halah, orang kaya mah emang begitu, Bar. Sukanya mandang sebelah mata sama kita-kita yang nyari duit pakai keringat. Kagak usah lu masukin ke ati omongan cewek ingusan tadi," hibur Bang Jaka sambil menepuk bahu kokoh Bara sekilas sebelum melangkah masuk ke dalam ruang staf.Bara hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, sebuah skenario besar untuk menghancurkan harga diri Handoko dan membuat Keyla bertekuk lutut

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 224

    "Gimana Neng Sandra? Puas kagak dilatih sama si Bara? Kalo kurang mantep, entar gua suruh dia tambahin set-nya.""Tau ah, Bang Jaka! Tanya aja sendiri sama anak kampung itu! Gue mau balik, gerah di mari lama-lama!" pekik Sandra ketus dengan wajah merah padam sampai ke telinga.Sandra buru-buru melangkah lebar keluar dari lobi, mendorong pintu kaca otomatis dengan kasar tanpa menoleh lagi ke belakang.Bang Jaka tertawa renyah, menepuk bahu kokoh Bara dengan tangannya yang besar. "Gokil lu, Bar. Cewek sekota dan seangkuh si Sandra bisa lu bikin mati kutu begitu. Lu apain sih di atas tadi?"Bara hanya tersenyum tipis, merapikan letak kaos polo hitam ketatnya. "Hanya latihan biasa, Bang. Sandra saja yang terlalu banyak mengeluh.""Ya udah, Bar. Keperluannya lu cek dulu di komputer, ada rekap data member baru VIP dua," sahut Bang Jaka.Bara mengangguk sopan. "Baik, Bang. Saya periksa sekarang."Bara menggeser kursi di balik meja konter, lalu mulai fokus menatap layar monitor. Jari-jarinya

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 223

    "Bara, gue mau nanya satu hal lagi," ucap Sandra tiba-tiba. Logat kotanya terdengar agak berat, kehilangan nada tsundere yang biasanya."Tanya apa?" Bara berjalan mendekat, berdiri di samping Sandra.Sandra menoleh sedikit, sepasang mata sayunya menatap lekat rahang tegas Bara. "Lo... lo lagi deket ya sama cewek lain? Maksud gue, cewek yang beneran lo suka, bukan cuma buat main-main."Bara menoleh, menatap balik mata Sandra tanpa ekspresi. "Kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?""Ya... gue ngerasa aja. Belakangan ini lo sering senyum-senyum sendiri kalau liat ponsel. Terus tadi di lobi, lo dapet pesen kan? Muka lo langsung berubah beda," ceroscos Sandra, pipinya agak merona merah karena gengsi. "Cewek kota mana sih yang bisa bikin cowok kaku kayak lo kayak gitu?"Bara terdiam sesaat, lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Wajah polos Arum yang menemaninya subuh tadi mendadak melintas di kepalanya."Dia bukan cewek kota. Dia gadis kampung, namanya Arum," jawab Bara jujur. Su

  • Pria Desa Penakluk Wanita   Bab 222

    Bara menarik sebuah matras lipat berwarna hitam dari sudut ruangan, lalu membentangkannya di atas lantai kayu parket."Duduk di sini, Sandra. Luruskan kedua kakimu ke depan," perintah Bara sambil menunjuk matras dengan dagunya.Sandra menurut tanpa membantah lagi. Sikap ketusnya benar-benar melayang entah ke mana. Dia duduk di atas matras dengan kaku, meluruskan paha mulusnya yang berbalut legging abu-abu ke depan.Bara ikut berlutut di ujung matras, tepat di depan sepasang kaki Sandra. Tangan besarnya mencengkeram lembut pergelangan kaki kanan Sandra, lalu mengangkatnya sedikit ke atas."Eh, mau diapain?" tanya Sandra gugup. Tubuhnya refleks sedikit condong ke belakang, bertumpu pada kedua telapak tangannya di matras."Peregangan otot hamstring. Tarik napas yang dalam, lalu hembuskan perlahan saat aku mendorong kakimu," ucap Bara tenang.Bara mulai mendorong kaki kanan Sandra ke arah dada gadis itu dengan gerakan yang sangat lambat dan terukur."Aduhh... Bar, bentar, ssshh... agak ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status