Masuk"Ya sudah, nanti Mas beli dua liter. Sisanya kirim lewat pesan saja, Mas sibuk," suara Handoko terdengar dingin sebelum sambungan telepon mendadak terputus.Pip.Begitu layar ponsel menggelap, Marissa langsung melempar benda itu ke sembarang arah. Dia menarik napas panjang yang tersengal-sengal, mencoba meredakan detak jantungnya yang berdegup kencang karena ketakutan yang luar biasa."Bara... kamu gila! Kalau sampai Bapakmu tahu, kita bisa—""Bisa apa, Tante?" potong Bara cepat, suaranya terdengar sangat rendah, berat, dan sarat akan amarah yang tertahan.Rasa kesal karena ucapan dingin bapaknya di telepon tadi, berbaur dengan ingatan masa lalu tentang bagaimana ibunya ditelantarkan di kampung, seketika membakar habis sisa akal sehat Bara. Keinginan untuk membalas dendam dan menginjak-injak harga diri Handoko melalui wanita di bawah kungkungannya ini membuat matanya berkilat gelap penuh gairah purba yang brutal."B-Bara... ssshh, jangan menatap Tante seperti itu," cicit Marissa, tubu
Drrt... Drrt... Drrt...Ponsel Marissa yang tergeletak di atas nakal kayu mendadak bergetar nyaring, memecah suara decapan basah di dalam kamar. Layar pintarnya menyala terang, menampilkan nama kontak: Suamiku.Marissa seketika menghentikan gerakan pinggulnya. Wajah matangnya yang tadi merona merah mendadak kaku. "Bara, gila... Bapakmu menelepon!" bisiknya panik dengan napas yang masih memburu pendek.Bara ikut menahan napas, rahang tegasnya mengetat keras. Kejantanan beruratnya yang basah kuyup masih menempel ketat di celah intim Marissa yang hangat. Mereka berdua mendadak tak berkutik, terpaku di posisi masing-masing seperti patung."Angkat, Tante. Biar tidak curiga," perintah Bara rendah dengan suara serak yang berbisik.Marissa buru-buru meraih ponselnya, berdehem beberapa kali untuk menetralkan suaranya yang parau, lalu menggeser tombol hijau. "I-iya, Pa? Ada apa?"Suara Handoko yang berat, sedingin es, dan berwibawa terdengar jelas dari pelantang suara, "Marissa, catat kebutuhan
"Ayo, Bara... balik badanmu. Masa dipijat punggungnya saja?" bisik Marissa, napasnya memburu hangat di tengkuk Bara."Tidak usah, Tante. Sudah cukup. Saya lelah," jawab Bara ketus. Rahang tegasnya mengetat menahan gejolak di perut bawahnya.Marissa terkekeh manja, tidak memedulikan penolakan itu. Kedua tangannya beralih mencengkeram pinggang kokoh Bara, memberikan remasan lembut yang membuat pria itu sedikit tersentak."Tante tahu kamu belum selesai, Sayang. Sini, terlentang. Tante mau pijat bagian depanmu juga biar seimbang," bujuk Marissa dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin."Saya bilang tidak perlu, Tante. Turun!" bentak Bara rendah. Dia mencengkeram kasur lecek di bawahnya. Dia malu jika harus berbalik sekarang, karena kejantanan di balik handuk putihnya sudah menegang maksimal dan berurat keras, menuntut ruang yang bebas.Marissa menyeringai tipis melihat kepanikan anak tirinya. Dia sengaja menekan kembali pusat kewanitaannya yang banjir pelumas langsung ke punggung Ba
Bara mengalah. Dia berbaring telungkup di atas kasur lecek. Punggung kokohnya yang lebar terekspos sepenuhnya, sementara handuk putih masih melilit pasrah di pinggangnya.Marissa tersenyum menang. Dia merangkak naik ke atas ranjang dengan gerakan telaten. Gaun tidur sutra merah marun tipisnya tersingkap tinggi, memamerkan paha mulusnya yang putih gembul.Tangan lentik Marissa yang penuh minyak mulai menekan otot pundak Bara."Bagaimana, Bara? Enak kan pijatan Tante?" bisik Marissa, merunduk dekat ke telinga Bara."Mhhss... iya," lenguh Bara, matanya terpejam."Makanya, jadi anak itu jangan keras kepala kalau ditawari kebaikan," goda Marissa. Jari-jarinya terus bergerak teratur, mengurut sepanjang tulang belikat hingga otot pinggang Bara.Pijatan itu benar-benar membuat Bara terlena. Tubuhnya yang tegap perlahan rileks di atas kasur."Tante, bagian kiri agak kaku," gumam Bara setengah sadar."Ooh, bagian sini ya? Sebentar, biar Tante maksimalkan tekanannya," jawab Marissa dengan nada m
Marissa meletakkan handuk kering ke atas kasur, lalu kembali membalikkan tubuh menghadap Bara. Gaun tidur sutra merah marunnya bergoyang ringan, memperlihatkan lekuk pinggulnya yang padat berisi."Kamu kelihatan lelah sekali, Bara. Pasti punggungmu pegal-pegal setelah seharian di luar," ucap Marissa dengan nada suara lembut penuh perhatian, layaknya seorang ibu tiri yang baik. Dia melangkah mendekat, matanya menatap otot bahu Bara yang kokoh. "Sini, duduk di kasur. Tante pijat sebentar biar badanmu enakan."Bara hanya diam bersandar pada pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Handuk yang melilit pinggangnya terasa longgar."Tidak usah, Tante. Saya cuma mau istirahat," jawab Bara ketus, menolak tawaran itu."Ih, jangan keras kepala begitu, Sayang. Tante tahu kamu pasti stres menghadapi sikap Bapakmu tadi pagi," cicit Marissa. Dia melangkah maju, memangkas jarak hingga dua gundukan montoknya yang padat hampir menyentuh dada bidang Bara. Aroma parfum melati yang pekat seketika menguar.
Motor tua Bara berhenti tepat di depan pagar besi kos khusus putri. Gembok besar yang semalam mengunci mati pagar sudah terbuka.Arum turun dari motor. Langkah kakinya kaku dan paha mulusnya yang lemas membuat gerakannya sedikit goyah. Rok plisket panjangnya bergoyang lambat. Wajah polosnya mendongak menatap Bara dengan mata sayu yang berkaca-kaca."Aku masuk dulu ya, Bar," bisik Arum lirih. Tangannya memegang ujung jaket Bara.Bara mematikan mesin motor. Ibu jarinya mengusap pipi merona Arum. "Iya, Rum. Hari ini libur, jangan ke mana-mana lagi. Langsung tidur dan istirahat."Bara merogoh saku jaket, mengeluarkan satu tablet pil kontrasepsi darurat, lalu memasukkannya ke tas kecil Arum."Jangan lupa pil yang ini diminum nanti malam jam setengah tujuh pas. Pasang alarm di ponselmu sekarang biar tidak lewat," kata Bara tegas.Arum mengangguk patuh. Bibir bengkaknya yang ranum tersenyum tipis. "Iya, Bara. Terima kasih buat yang tadi malam dan subuh tadi."Wajah Arum merah padam sampai ke







